Since I Meet You

Since I Meet You
Kedua Kali


__ADS_3

"Aku lagi dapet"


Aku kaget saat mendengarnya dan bergegas mengambil tas Rita. Sepertinya Rita sudah terbiasa dan selalu siaga untuk keperluan semacam ini. Hal seperti ini sudah biasa dialami oleh perempuan dan Rita seperti perempuan pada umumnya yang seakan sudah berulang kali menghadapinya.


Berdasarkan dari pelajaran biologi yang aku pelajari, datang bulan menjadi salah satu tanda pubertas bagi perempuan. Dan semua perempuan pasti mengalaminya. Setahuku Rita mulai datang bulan sejak menginjak kelas VII karena dia pernah menceritakan pengalamannya denganku.


Aku tertawa terpingkal-pingkal bersama Rita, karena Rita berkata bahwa dia membuat seisi penghuni rumahnya kaget dan khawatir dengan mengatakan dia punya penyakit kronis sampai mengeluarkan darah. Hingga akhirnya Mama Rita meminta penjelasan atas pernyataan Rita dan memahami apa yang sebenarnya dialami oleh Rita.


Setelah Rita menceritakan itu, Rita memintaku untuk merahasiakannya pada siapapun. Menurutnya itu sangat memalukan karena dia jadi terlihat sangat bodoh. Selain itu, bagi sebagian anak gadis sebayaku hal itu termasuk memalukan jika sampai ada anak laki-laki sebaya yang mengetahuinya.


Terkadang hal tersebut menjadi bahan ledekan mereka dan mereka akan mulai memperhatikan fisik para anak gadis. Bayangkan saja jika bagian sensitifmu jadi bahan perhatian dan olokan orang lain, itu tidak lucu dan sangat menjengkelkan!


...♡♡♡...


Aku segera kembali menuju toilet dengan berlari dan membawa tas Rita di tangan kananku. Saat aku hampir mencapai toilet, kakiku tersandung kemudian aku terjatuh. Aku hendak berdiri, tapi tiba-tiba ada yang membantuku.


Aku mendongakkan kepalaku dan melihat Kak Ryan tersenyum lebar ke arahku.


"Hei! hati-hati dong, aku kan nggak mau kamu terluka lagi", Kak Ryan mulai menggodaku lagi.


"Ah, maaf. Tadi aku buru-buru kak", ucapku sambil melepaskan tangan Kak Ryan dari lenganku.


"Mau kemana sih buru-buru begitu!?", Kak Ryan memungut tas Rita kemudian menyerahkannya padaku.


"Te-terima kasih, Kak. Aku pamit dulu mau ke toilet, sekali lagi terima kasih", ucapku sambil meninggalkan Kak Ryan.


Aku sempat menoleh padanya, dan dia masih saja diam di tempatnya. Aku merasa tidak nyaman jika harus berlama-lama bersamanya, sehingga aku putuskan untuk segera pergi. Aku juga khawatir Rita menungguku.


Begitu sampai di toilet, aku mengetuk pintu yang Rita masuki tadi. Rita mengintip dari celah pintu kemudian mengeluarkan tangannya untuk meraih tasnya yang sudah aku sodorkan ke arahnya.


Aku menunggu Rita di luar sambil memperhatikan taman sekolah. Aku lihat beberapa kelas begitu ramai seperti di kelasku. Sepertinya mereka menikmati waktu seperti ini.


Beberapa menit berlalu, Rita pun sudah keluar dengan membawa tasnya. Aku lihat dia sedikit meringis kesakitan sambil memegang perutnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa?", sambil aku sentuh lengan Rita.


"Perutku kram, efek baru datang bulan", ucap Rita sambil memegang perutnya.


"Kita ke UKS, ya!? Kamu bisa beristirahat di sana sampai nyerinya hilang. Toh, hari ini sepertinya pelajaran tidak terlalu banyak", bujukku.


"Ntar kalo ditanyain sama Jordan gimana?", Rita agak ragu.


"Tenang aja, aku yang bakal izinin kamu ke Jordan. Dia pasti ngerti kok", aku meyakinkan Rita agar mau istirahat sampai kramnya sembuh.


Rita hanya mengangguk, kemudian aku mengantarnya ke UKS. Sesampainya di UKS, pandanganku tidak lepas dari kursi dan meja yang pernah Kak Ryan duduki saat aku pertama kali ke sini. Aku jadi teringat pertemuan pertama kami yang canggung, sama seperti hari ini.


Aku akan merasa canggung jika bertemu dengan Kak Ryan lagi. Aku segera menghilangkan lamunanku, dan membantu Rita naik ke atas ranjang. Rita meringkuk sambil memegangi perutnya, sepertinya dia sangat kesakitan.


Aku berpamitan pada Rita untuk kembali ke kelas dan akan mengizinkannya pada Jordan. Sebelum aku pergi, aku sempat mengelus kepala Rita dan mendo'akan kesembuhan untuknya. Tak lupa pula aku mengatakan bahwa akan menjemputnya kemari saat jam pulang sekolah. Rita hanya mengangguk.


Sesampainya di kelas, Jordan menanyakan keberadaan Rita karena aku sudah 2 kali kembali ke kelas tanpa Rita. Aku menjelaskan bahwa Rita sakit perut dan sedang istirahat di UKS. Jordan pun memahaminya dan kembali berseda gurau dengan yang lainnya.


...♡♡♡...


Malas sekali jika harus bertemu dengannya lagi.


"Lo punya mata nggak, sih? Hobi banget nabrak orang", Winda mendorongku tapi aku berusaha untuk seimbang agar tidak jatuh.


"M-maaf, aku bener-bener nggak sengaja. Aku buru-buru mau ke UKS", ucapku sambil hendak berlalu.


"Enak ya! Habis nabrak orang mau pergi gitu aja, rasain nih", Winda kembali mendorongku sampai jatuh ke lantai.


"Tika!", aku seperti mendengar suara Kak Ryan memanggilku, akupun menoleh.


"Kamu apa-apaan sih, Win? Tika salah apa?", Kak Ryan membantuku lagi untuk yang kedua kalinya di hari ini.


"E-eh Mas Ryan, ini nih. Tadi Tika sengaja nabrak aku mas", Winda membalikkan omongannya membuatku ternganga kaget.

__ADS_1


"J**angan bohong kamu! Aku tadi liat sendiri kamu ngedorong Tika sampai jatuh", Kak Ryan membelaku.


"Aku mendorongnya karena dia duluan yang mendorongku mas", kilah Winda.


"Sudahlah! Aku tidak mau mendengar alasanmu lagi. Jangan sampai aku tahu kalau kamu ganggu Tika lagi. Kalau aku sampai tahu, jangan salahkan aku jika mami kamu akan menghukummu", Kak Ryan memperingati Winda.


"Jangan, mas! Aku akan pergi dan nggak akan ganggu gembel ini lagi", sungguh aku tidak bisa mempercayai ucapan Winda begitu saja karena bisa aku tebak dia sangat marah saat ini padaku.


"Pergilah! Dan ingat janjimu itu", Kak Ryan sangat tegas dan terlihat berkharisma jika seperti ini.


Winda pun pergi bersama teman-temannya meninggalkanku dengan Kak Ryan. Kak Ryan menanyakan keadaanku sambil memutari badanku. Aku terkekeh melihatnya seperti sedang memutari patung pameran di museum.


Aku mengatakan bahwa aku baik-baik saja dan mengucapkan terima kasih karena Kak Ryan membelaku dan tidak percaya atas tuduhan Winda tadi. Kak Ryan hanya tersenyum penuh arti, tapi aku tidak bisa memahami senyumannya itu. Dan keheningan terjadi di antara kami.


"Ehhem!", Rita memecah keheningan dan menyadarkanku pada tujuan awalku.


"Rita! Kenapa kamu sudah keluar?", aku segera mendekat pada Rita.


"Tidak apa-apa, sepertinya aku mengganggu waktu kalian", kebiasaan Rita menggodaku mulai kambuh, sepertinya kram perutnya sudah sembuh.


"Ah, nggak kok. Tadi aku sedikit ada masalah dan Kak Ryan nggak sengaja lewat dan membantuku lagi", aku menjelaskan agar Rita tidak mengatakan sesuatu yang bisa membuatku malu di hadapan Kak Ryan.


"Membantumu? lagi?", Rita membeo sambil melirikku dan Kak Ryan bergantian dengan seringainya.


...♡♡♡...


Halooo, selamat datang di karya perdana author!


Klik favorit, like dan beri komentar untuk mendukung author ya!?


Maaf bila terdapat banyak typo dan tanda baca yang keliru 🙏🏼


Saran reader sekalian juga dapat membantu untuk membuat kisah Tika dan Ryan lebih baik ke depannya 🥰

__ADS_1


Terima kasih 🙏🏼


__ADS_2