Since I Meet You

Since I Meet You
Menemani


__ADS_3

Sesampainya di rumah, pikiranku kembali terngiang-ngiang dengan ucapan Kak Ryan tadi. Sepertinya dia sangat senang saat mendapat teman baru dan ingin bertemu lagi denganku. Tapi sepertinya aku tidak akan cukup nyaman bersamanya, karena bisa dilihat dari ponsel yang disodorkannya tadi padaku telah menjelaskan perbedaan kami.


Dia masih SMP, tapi sudah memiliki ponsel yang baru launching minggu lalu dan aku telah melihat iklannya di sepanjang jalan. Sepertinya dia jauh lebih kaya dari Tika. Aku yang berteman dengan Tika hampir setahun saja masih agak canggung, apalagi jika harus berteman dengan yang lebih dari itu. Rasa percaya diriku seakan menguap begitu saja.


Aku bukan tipe orang yang suka memilih teman. Tapi jika temanku terlalu keren, aku merasa tidak pantas untuk berteman dengannya. Bukannya tidak suka, aku hanya khawatir orang akan menganggapku hanya ingin memanfaatkan temanku jika terlalu dekat.


Ah, sudahlah! Aku tidak mungkin selalu bertemu dengan Kak Ryan. Dia sudah kelas IX, dan pasti akan segera melanjutkan SMA. Jadi aku tidak terlalu khawatir jika bertemu dengannya.


...♡♡♡...


Esok paginya, aku masih berangkat dengan diantar oleh ayah. Ayah bersikeras untuk mengantarku karena ayah menganggapku pura-pura sembuh. Padahal aku benar-benar merasa sehat dan bugar hari ini.


Sesampainya di sekolah, ayah menurunkanku tidak jauh dari pintu gerbang sekolah. Aku berpamitan dan segera berjalan menuju kelas. Hari ini aku juga belum membawa dagangan karena ayah masih membatasi ruang gerakku.


Sedari pagi ayah melarangku melakukan banyak hal seperti menimba air, mencuci baju dan menyapu. Ayah hanya memperbolehkanku memasak, itupun untuk sarapan kami saja. Aku akan diperbolehkan membuat gorengan yang akan aku titipkan di sekolah saat ayah benar-benar yakin bahwa aku baik-baik saja.


Sikap ayah sungguh terlalu berlebihan menurutku. Aku melangkahkan kaki perlahan karena suasana masih cukup pagi. Ayah mengantarkanku lebih dulu karena jarak sekolahku berbanding terbalik dengan sekolah Ardi dan juga pangkalan ojek ayah.


"Hei! Kau sudah sampai?", seseorang menyapaku dari belakang dan aku mengenali suara yang tidak asing.


"Eh, selamat pagi, kak! Iya, tadi ayah mengantar Tika lebih pagi", aku balik menyapa Kak Ryan yang sudah mensejajarkan langkah denganku.


"Selamat pagi juga, TIka! Kamu sudah sarapan?", Kak Ryan menatapku diikuti senyumnya yang mengembang menampilkan lesung pipinya.


"Sudah, kak"


"Hmmm.. Padahal aku ingin mengajakmu sarapan bersama di kantin. Tapi tidak apa, boleh aku minta tolong?", senyumnya sedikit memudar menunjukkan sedikit kekecewaan.


"Minta tolong apa, kak?", aku bertanya sebelum menyetujui permintaannya.


"Tolong temani aku sarapan, aku belum sarapan dari rumah"


"Kenapa kakak belum sarapan? Bukankah sarapan itu penting", aku dengan pedenya mengatakan itu.


"Ya, memang benar. Tapi aku tidak suka makan sendiri. Tadi pagi seluruh keluargaku tidak ada, dan aku terpaksa harus sarapan sendiri. Karena sendirian, aku tidak mood dan meminta simbok untuk membungkusnya untuk aku makan di sini", aku pikir dia akan membelinya di kantin, ternyata Kak Ryan membawa bekal.


"Apa tidak apa-apa jika aku menemani kakak?", aku merasa tidak nyaman jika sedang makan diperhatikan oleh orang lain selain keluarga, makanya aku bertanya seperti itu.


"Oh, ayolah! Hanya menemani sarapan", Kak Ryan segera menarik tanganku menuju kantin.


...♡♡♡...


Aku yang awalnya diminta untuk menemani Kak Ryan sarapan, berakhir saat dia mulai memaksaku untuk ikut makan. Dia membawa 6 potong roti isi yang ukurannya cukup besar dan memaksaku untuk mencicipinya. Alasannya, dia tidak suka makan sendiri.


Awalnya aku tidak curiga saat Kak Ryan memesan 2 gelas susu hangat ke Bu Ida. Aku pikir nafsu makannya besar. Ternyata dengan sengaja dia memesan 2 gelas untukku juga.


Flashback on


"Aku akan memesan minum dulu", ucapnya setelah menaruh kotak bekal makan nya di atas meja.


Aku hanya mengangguk.


Tak berselang lama, dia kembali dan diikuti Bu Ida yang membawa 2 gelas susu.


"Nak Tika, kamu apa kabar? Ibu dengar kemarin, katanya sakit", tanya Bu Ida saat menyadari aku berada di meja yang sama dengan Kak Ryan.

__ADS_1


"Ah, iya benar bu. Saya sempat sakit dan tidak masuk sehari", aku menjelaskan.


"*Pantas saja, kok nggak ada ke sini buat titip gorengan. Ibu kira kemana. Emang sakit apa nak?"


"Itu bu, saya nggak hati-hati waktu pulang. Jadi keserempet orang*", aku tersenyum mengingat kelakuanku yang memikirkan beras dan belanjaan lainnya daripada luka-lukaku.


"Ya ampun, sampai parah nggak lukanya?", Bu Ida tersentak kaget sambil menutup mulutnya.


"Tenang saja, bu. Saya sudah mengobatinya", Kak Ryan segera menjawabnya.


"Wah, anak bu dokter memang yang terbaik", Bu Ida terkekeh. "Kalau begitu saya mau ke belakang untuk beres-beres lagi", seraya berbalik dan membawa nampan.


Aku dan Kak Ryan serempak mengangguk. Selepas bincang singkat dengan Bu Ida, aku jadi tahu kalau mama Kak Ryan seorang dokter, pantas saja kemarin Kak Ryan mengambil obat seperti sudah tahu obat apa yang harus dia berikan padaku.


Tanpa aku sadari, Kak Ryan sudah meletakkan satu gelas susu hangat yang dia pesan di hadapanku. Aku menatap Kak Ryan meminta penjelasan, dan dia hanya tersenyum.


"Minumlah, aku tak suka makan sendirian", ujarnya sambil mengambil roti isi dan mulai menggigitnya.


"Tapi, aku sudah sarapan di rumah, kak", aku merasa tak enak untuk menerimanya karena aku masih agak kenyang dan juga agak malu untuk menyentuhnya mengingat perbedaan kami.


"Ayolah, anggap ini sebagai ucapan terima kasihku karena telah menemaniku sarapan", Kak Ryan tidak menerima penolakanku.


"T-terima kasih, kak", ucapku sambil mulai menyeruput susu hangatku sedikit demi sedikit.


"Jangan berterima kasih, itu bagianku", ucapnya lagi sambil mengunyah roti isi dan tersenyum lebar ke arahku.


"Ayo, cicipi roti ini. Kau kan butuh tenaga untuk belajar di kelas nanti", lanjutnya sambil menyodorkan kotak makannya.


"T-tapi aku masih kenyang, kak" elakku.


Aku terpaksa mengambilnya dan mulai memakannya hingga habis.


Flashback off


"Aku sudah kenyang. Bawalah ini, makan nanti ketika jam istirahat", ucapnya lagi saat aku lihat Kak Ryan telah menghabiskan 3 potong roti isi dan segelas susunya.


Aku semakin heran, apa benar dia telah kenyang dengan makan itu saja. Tapi aku akui jika potongan roti isi ini cukup besar, dan aku hampir kenyang.


Sebenarnya aku tidak benar-benar sarapan tadi di rumah, aku hanya berbasa-basi karena khawatir Kak Ryan akan membelikanku makanan di kantin seperti yang Rita lakukan kemarin. Tapi sekarang, aku berakhir dengan makan dari bekal yang Kak Ryan bawa. Sungguh aku semakin merasa segan untuk bertemu dengan Kak Ryan yang sangat baik begini.


Bukannya aku tak bersyukur memiliki teman seperti Kak Ryan, hanya saja aku tidak bisa terlalu sering menerima kebaikannya. Hal semacam ini jadi semakin menegaskan perbedaan kami. Dan aku tidak suka jika aku akan jadi pihak yang selalu menerima dari teman-temanku.


Kak Ryan terus mendesakku untuk membawa sisa bekalnya untuk aku makan jam istirahat nanti. Aku pun kembali terpaksa membawanya karena Kak Ryan mengancam tidak akan mau berteman dan bertemu lagi denganku jika aku menolaknya dengan muka memberengut.


Tapi begitu aku menerimanya, air mukanya langsung kembali ceria saat aku menerima kotak itu dan memasukkannya ke dalam tas. Dasar, Kak Ryan licik. Dia sungguh menjahiliku, batinku.


Aku benar-benar terhibur dengan tingkahnya, dan tidak menyangka dia bisa bertingkah konyol seperti ini.


...♡♡♡...


Aku mengeluarkan kotak bekal milik Kak Ryan ke atas mejaku. Rita yang melihatku mengeluarkan bekal keheranan.


"Tumben kamu bawa bekal", tuturnya begitu aku mengeluarkan kotak bekal berwarna biru dengan tutupnya yang memiliki corak burung.


"Oh, ini sisa tadi pagi", mengingat ini sisa sarapan Kak Ryan.

__ADS_1


"Oh, kalo gitu aku mau ke kantin dulu, ya!?, aku laper", pamit Rita.


"Makan bareng aja, ini ada 2 loh", ucapku sambil menunjukkan 2 potong roti isi pada Rita. "Aku nggak mungkin ngabisin ini sendirian", lanjutku sambil menyodorkan bekal milik Kak Ryan.


Rita mengernyitkan dahi. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya dan menatapku seperti orang aneh.


"Kenapa?"


"Eh, nggak. Yaudah, kamu tunggu dulu di sini. Aku mau beli minum sama roti lagi biar tambah kenyang", Rita nyengir sambil beranjak dari bangkunya. Aku hanya mengangguk.


Setelah Rita pergi, aku menutup kembali bekal Kak Ryan dan meletakkannya di atas bangku Rita. Aku menunggu sambil membaca buku yang aku pinjam minggu lalu dan belum selesai aku baca sebelum mengembalikannya besok.


Beberapa menit berlalu, Rita telah kembali dengan menenteng kantung plastik putih bening yang bisa ku lihat berisi susu, beberapa air mineral gelas dan juga roti yang biasa dijual di kantin.


Selama aku kenal, Rita memang anak yang suka mengemil dan sering mengeluh lapar saat jam pelajaran. Jadi aku tidak heran jika dia membeli banyak makanan ringan dan roti saat jam istirahat beserta minumnya.


Saat aku tanya kenapa tidak membawa bekal saja? Jawabannya begitu menggelitikku, katanya uang jajannya akan dikurangi dan tasnya jadi makin berat. Meski dia sering boros, dia juga menabung sisa uang jajannya di sekolah untuk keperluan lainnya.


Aku begitu salut pada Rita yang masih ingat untuk menabung meski dari keluarga kaya.


"Oh iya Tik, ini kamu bikin sendiri apa beli?" Rita bertanya bekal Kak Ryan yang dia gigit.


"Ini sisa Kak Ryan sarapan tadi pagi", ucapku sambil mengunyah roti isi.


"Loh, kok bisa?", Rita mulai penasaran.


"Tadi pagi aku diantar ayah sekolah terlalu pagi, dan ngga sengaja ketemu Kak Ryan. Karena dia belum sarapan, jadi dia bawa bekal dan minta aku nemenin dia", aku menjelaskan tapi tak menatap wajah Rita.


"Tunggu, jadi kamu nemenin Kak Ryan sarapan tadi pagi?", Rita kembali memastikan penjelasanku. Aku hanya mengangguk.


"Siap-siap deh kamu bakalan jadi topik satu sekolah kalo sampe ketahuan", Rita mengatakannya sambil menggigit roti isinya lagi.


"Maksud kamu?", aku bertanya karena tak mengerti ucapan Rita.


"Ya, kalo misalkan nanti ada yang cerita kalo ngeliat Kak Ryan sarapan berdua bareng kamu, mungkin semua anak akan penasaran sama kamu. Kan Kak Ryan populer banget, terus dia tuh katanya ngga pernah keliatan berduaan sama cewek. Paling sedikit tuh 3 orang, itu yang pernah aku denger sih", ucap Rita sambil tangan kirinya menumpu dagunya seperti sedang berpikir.


"Kamu denger dari siapa? Emang kamu kenal sama Kak Ryan? Nama Ryan kan banyak" , tanyaku memastikan kalau Rita tidak salah orang.


"Dari temen yang lain lah, aku pernah denger waktu makan di kantin sama yang lain. Iya, aku tahu lah. Ryan Prasetya, kan!? Kakak kelas yang kemarin kita temuin di UKS", Rita meyakinkan.


"Emang Kak Ryan se populer itu ya!?"


"Ya ampun, ternyata kamu lebih ketinggalan info dariku, ya, Tik!?" Rita menepuk dahi.


"Eh tapi, kamu nggak ada hubungan sama Kak Ryan tanpa sepengetahuanku kan, Tik!?", goda Rita.


"Eh, apa?"


...♡♡♡...


Halooo!


Terima kasih telah mampir di karya pertama author 😊


Jangan lupa tinggalkan saran untuk mensupport author agar kisah Tika dan Ryan jadi lebih baik 🙏🏼

__ADS_1


__ADS_2