Since I Meet You

Since I Meet You
Cantik


__ADS_3

Aku memutar kran sambil menengadahkan tangan dibawah kucuran air yang keluar dan mulai membasuh tanganku bergantian. Kemudian aku berganti membasuh wajahku dengan air bersih dari kran tersebut. Ketika aku sedang membasuh wajahku, Kak Ryan memergokiku.


"Tika!? Kamu kenapa?"


Deg!


Rasanya saat ini aku akan menangis lagi karena keadaanku yang menyedihkan. Baju seragamku yang basah, kotor dan bau membuatku tidak kuat untuk tersenyum di hadapan Kak Ryan.


Mataku memburam karena ledakan air mata yang tertahan di pelupuk mata. Sekali saja aku berkedip, maka mereka akan terjun bebas dari tempatnya. Aku tertegun tak mampu menggerakkan bibirku untuk sekedar menyebutkan nama Kak Ryan.


Mataku semakin panas, dan jatuhlah air mata yang aku tahan sejak tadi. Tanpa aku sadari Kak Ryan segera menghampiriku dan mengeluarkan jaket hitam dari dalam tasnya kemudian disampirkan ke bahuku.


Kak Ryan memelukku sambil menghiburku yang sedang menangis. Bukannya berhenti, aku semakin menangis sesegukan di dalam dekapannya. Ku rasakan tangan Kak Ryan membelai punggungku yang masih terhalangi tas dan juga jaketnya.


Aku bisa merasakan ketulusan Kak Ryan yang mengkhawatirkanku melalui sentuhannya. Tapi aku kembali disadarkan oleh peringatan Winda tadi. Aku segera melepas dekapan Kak Ryan dan berniat pergi.


Tapi dengan sekejap mata Kak Ryan meraih tanganku dan menariknya lagi. Aku didekapnya lagi sambil menepuk punggungku.


"Tidak apa-apa, menangislah! Aku tidak akan bertanya apapun sampai kau mau menceritakannya"


Seusai mengatakan hal tersebut, aku kembali menangis dengan suara yang semakin keras. Aku tidak peduli lagi bagaimana pandangan Kak Ryan terhadapku.


"Menangislah! Aku akan selalu ada di sisimu", hiburnya lagi.


Aku hanya bisa menangis sampai sesak di dadaku berkurang. Setelah menangis sambil berpelukan selama beberapa menit, tangisku mulai reda.


Sekarang akal sehatku kembali, dan aku tak bisa mengangkat wajahku untuk sekedar melihat raut wajah Kak Ryan. Aku sangat malu untuk sekedar mengucapkan terima kasih padanya karena telah menemaniku menangis dan memelukku meski keadaanku sedang sangat buruk.


"M-maaf..", cicitku.


Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku saat ini karena aku tak bisa berpikir akan mengatakan apa pada Kak Ryan. Sepertinya kata-kata Winda benar, aku harus sadar diri dengan derajatku. Aku bahkan tidak cukup pantas untuk berteman dengan Kak Ryan.


"Hei, kenapa meminta maaf? Kamu sudah lebih baik sekarang?", Kak Ryan menangkupkan tangannya di pipiku dan memaksaku menatap wajahnya.


Aku menjawabnya dengan anggukan kepala karena belum punya nyali untuk mengeluarkan suara. Kemudian Kak Ryan mengajakku berjalan mencari tempat duduk yang nyaman.

__ADS_1


"Dengarkan aku, siapa yang membuatmu jadi begini?", sambil berjongkok di hadapanku begitu menemukan tempat yang menurutnya cocok.


Aku tidak berani membuka mulut, khawatir Kak Ryan akan melabrak Winda dan aku akan kembali dibully olehnya. Aku hanya menatapnya sendu kemudian menunduk lagi.


"Oke, oke, kalau kamu belum mau bercerita, sekarang kita pulang, ya!? Biar kamu nggak sakit", Kak Ryan mengalihkan pembicaraan dengan posisi Kak Ryan masih berlutut.


"Aku akan siap mendengarkan kapanpun saat kamu ingin menceritakannya. Aku akan mengantarmu", Kak Ryan mulai bangkit berdiri.


Aku segera meraih tangannya, sebelum Kak Ryan benar-benar berbalik. Kak Ryan terdiam tanpa aku tahu bagaimana ekspresinya saat ini.


"Ada apa?"


"Kenapa kakak memperlakukanku seperti ini? Bukankah aku tidak pantas berteman dengan kakak?", tanpa aku sadari aku meneteskan air mata lagi dengan perlahan.


"Apa yang kamu bicarakan? Berhenti mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Kita itu teman, jangan pernah berpikir bahwa kamu atau siapapun tidak pantas untuk berteman. Kita itu sama", Kak Ryan mengatakannya dengan penuh kelembutan.


"Tapi kenapa? Kakak itu populer, kenapa mau berteman denganku yang miskin dan tidak populer ini? Bukankah banyak siswa lain yang lebih baik daripada aku?", perkataan Winda benar-benar merasuki pikiranku.


"Lihat aku! Aku tidak peduli statusmu, kamu populer atau tidak, aku berteman dengan siapapun yang tulus berteman denganku tanpa memandang siapa diriku", Kak Ryan menarik daguku membuatku harus menengadah menatapnya yang kini sedang tersenyum padaku.


"Tapi dengan kondisi begini, kakak pasti jijik melihatku. Aku kotor dan bau", aku menegaskan keadaan sekaligus kondisiku.


"Apa yang kamu pikirkan? Aku tidak merasa jijik padamu. Kalau aku jijik, aku sudah pasti pulang lebih dulu dan tidak mau memelukmu", Kak Ryan mengingatkanku kejadian yang baru saja terjadi.


"Jangan terlalu banyak berpikir, aku tidak suka kamu bersedih dan menangis seperti tadi. Katakan padaku jika kamu kesulitan, jangan merasa segan atau bahkan malu untuk mengatakannya. Kita itu teman", hiburnya lagi


"Ah, sepertinya aku tahu siapa yang membuatmu jadi begini", Kak Ryan menyisir surai hitam di kepalanya ke belakang yang menambah ketampanannya.


"Ini pasti ulah Winda kan!? Hahhh.. Biar aku yang mengurusnya", Kak Ryan menghela nafas.


Deg!


Aku khawatir Kak Ryan akan menghukum Winda, dan Winda akan membullyku lagi.


"Kakak jangan apa-apakan dia", cegahku.

__ADS_1


"Tenang saja, aku tidak akan menghukumnya. Akan aku serahkan ini pada mamanya", dia tersenyum untuk meyakinkanku.


"Jangan! Biarkan aku yang menyelesaikannya sendiri. Tika nggak mau dibilang berlindung di bawah kakak", ucapku seketika.


Kak Ryan menatap mataku bergantian seakan mencari kebenaran dari ucapanku. Akhirnya Kak Ryan mengalah dan mau mengikuti permintaanku untuk tidak melakukan apapun pada Winda.


"Baiklah, aku ikuti kemauanmu. Tapi kalau sampai ini terjadi lagi, jangan harap aku mau mengabulkannya lagi. Aku hanya tidak suka teman-temanku disakiti begini. Apalagi kamu tidak mau bercerita sedikitpun padaku. Bagaimana bisa aku diam saja kalau terus begini? Pokoknya lain kali aku akan memaksamu untuk bercerita padaku", dia terus mendesakku untuk mau terbuka dengannya.


Aku hanya mengangguk paham sambil tersenyum. Aku beruntung bertemu dengan Kak Ryan, aku jadi menemukan sisi lain dari dirinya yang sangat memperhatikan temannya. Dan tanpa sadar aku terkekeh sendirian mengingat Kak Ryan yang cerewet seperti tadi.


Dengan alisnya yang berkerut Kak Ryan terlihat kebingungan,"kenapa?".


"Terima kasih", aku tulus mengucapkannya dengan tersenyum menatap wajah tampan Kak Ryan yang masih saja mengerutkan dahi.


"Untuk apa? Aku justru senang jika kamu tersenyum begini daripada melihatmu sedih dan menangis seperti tadi", kerutan di dahinya hilang seiring dengan lesung pipi yang kini ditunjukkannya.


"Kakak sangat baik padaku, aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa", aku kembali menunduk.


"Sudah aku bilang, kita itu teman. Jangan berterima kasih hanya untuk sesuatu yang memang harus aku lakukan. Jika kamu mau membalasnya, balas saja dengan senyumanmu", aku memperhatikan Kak Ryan dengan seksama.


"Senyummu cantik".


Blush!


...โ™กโ™กโ™ก...


Halooo!


Hari ini author double up karena kemarin ngga sempet up ๐Ÿ™๐Ÿผ


Terima kasih sudah mampir di kisah Tika dan Ryan.


Dukung author dengan memberi masukan dan saran yaa!?


Terima kasih ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿผ

__ADS_1


__ADS_2