
"Ayah..", dengan suara lirih aku memecah suasana saat acara makan kami selesai.
"Iya, ada apa, nduk?", ayah mengalihkan pandangannya padaku.
"Anu yah, Tika boleh tidak...!?", dengan ragu aku mengucapkannya. "I-itu, Tika ingin masuk sekolah besok", akhirnya aku bisa mengatakannya.
"Kamu kan masih belum sembuh, nduk. Nanti kalau kamu kesulitan dan tidak ada yang membantu, bagaimana?", ayah masih terlihat mengkhawatirkanku.
"Semua teman Tika baik kok, yah. Tika yakin mereka akan membantu Tika di sekolah nanti", aku mencoba bernegosiasi dengan ayah.
"Jangan dulu ya, nduk? Kalau lusa ayah pasti akan izinkan Tika masuk", ayah menolak permintaanku dengan lembut.
"Tapi, Tika bosan di rumah sendirian, yah. Tidak ada yang bisa Tika lakukan di sini", aku mengerti ayah sangat memikirkan keadaanku tapi aku benar-benar tidak bisa diam seharian di rumah.
"Nduk, ayah tahu kamu tidak biasa berdiam diri seperti ini, karena ayah telah memperhatikanmu sejak ibumu meninggal. Kamu jadi harus terbiasa dengan semua pekerjaan yang dulu ibumu kerjakan dan menjadi anak yang tidak bisa menikmati waktumu seperti teman sebayamu", ayah mengutarakan isi hatinya juga.
"Jadi ayah ingin kamu istirahat dulu sekarang, ayah tidak bisa menyuruhmu diam ketika kamu sehat karena ayah sadar tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Maafkan ayah", lanjut ayah seraya memelukku.
Aku mengerti perasaan ayah saat ini, tapi meski begitu aku tidak akan menyerah untuk membujuk ayah agar mengizinkanku pergi sekolah besok.
...♡♡♡...
Waktu terus berlalu, pagi ini aku sudah siap dengan seragam sekolahku. Kemarin malam, aku tidak hentinya membujuk ayah untuk mengizinkanku sekolah. Akhirnya aku mencapai kesepakatan dengan ayah. Ayah akan mengizinkanku sekolah dengan syarat aku akan diantar dan dijemput oleh ayah. Meski dengan berat hati, aku pun mengiyakannya demi bisa berangkat sekolah.
Aku pun merasa hari ini kaki dan badanku sudah jauh lebih baik daripada kemarin. Aku jadi yakin bahwa aku tidak akan kesulitan sama sekali saat di sekolah. Ayah mengantar Ardi lebih dulu, baru kemudian mengantarku hingga ke depan gerbang sekolah.
Sesampainya di depan gerbang, aku turun dari sepeda motor ayah kemudian mencium tangan sambil berpamitan. Ayah membelokkan sepeda motornya kemudian berlalu meninggalkanku sendirian. Aku melangkah perlahan dengan kaki yang sedikit pincang menuju gerbang sekolah, karena kakiku memang belum benar-benar sembuh.
Semalam setelah aku bernegosiasi lama dengan ayah, ayah memanggil Nenek Sarmi yang seorang tukang pijat tradisional untuk mengurut kakiku yang keseleo.Setelah diurut, bengkak di kakiku mulai mengecil dan tidak terlalu sakit. Nenek Sarmi bilang, mungkin besok sudah tidak sakit lagi. Dan benar saja, sekarang aku merasa jauh lebih baik.
Aku bertemu Pak Tomo di depan gerbang. Beliau melihatku yang berjalan pincang segera menghampiriku.
"Neng Tika katanya sakit, kenapa sudah masuk?", dari nadanya beliau terlihat mengkhawatirkanku.
"Saya sudah sembuh kok, cuma tinggal ini saja", seraya nyengir aku menunjuk kakiku.
"Kok bisa begini sih neng? Bapak kaget banget loh, waktu bapak dititipi surat izin neng yang katanya sakit. Tapi bapak belum sempat bertanya si neng sakit apa", Pak Tomo menjelaskan kekhawatirannya panjang lebar. Aku tersenyum karena beliau begitu memperhatikanku yang hanya anak biasa.
"Tidak apa-apa kok, Bung. Hanya kecelakaan kecil karena Tika kurang hati-hati", aku menghibur beliau agar tidak terlalu mengkhawatirkanku diikuti kekehanku yang merasa lucu dengan Bung Tomo.
"Kamu itu, sudah tahu begini masih saja bisa ketawa", Bung Tomo merasa kesal karena aku menertawainya.
"Iya, iya, lain kali saya akan berhati-hati", aku mengalah untuk menghormati beliau yang telah mengkhawatirkan keadaanku.
"Yo wis, kamu masuknya hati-hati. Maaf bapak tidak bisa mengantar ke kelas karena harus bertugas dulu. Tidak apa-apa, kan!?", dengan logat Jawanya Pak Tomo memintaku untuk masuk dan berhati-hati.
"Siap, Bung!,", seraya mengangkat tanganku ke dahi seperti posisi hormat saat upacara bendera.
Pak Tomo tertawa melihat tingkahku. Aku pun ikut tertawa, kemudian pamit undur diri. Aku pun melanjutkan perjalananku menuju kelas. Aku sangat bersemangat untuk segera masuk ke kelas dan bertemu dengan Rita.
...♡♡♡...
__ADS_1
Di kelas.
"Tikaaa..!", Rita berteriak saat berada di pintu kelas dan melihatku tengah duduk dengan membaca buku kemudian dia berlari-lari kecil untuk menghampiriku.
"Kamu bisa nggak sih, kalo nggak pake teriak!?", kesalku saat Rita berada di sampingku dan mulai memelukku dengan keras.
"Kamu kemana sih? Sakit apa? Aku khawatir loh waktu aku tahu kamu sakit. Mau dihubungin pun kamu nggak punya hape, mau aku jenguk tapi belum tahu alamatmu", Rita mulai menginterogasiku dengan pertanyaannya.
"Aku nggak apa-apa kok, cuma kecelakaan sedikit", tanpa menoleh dari buku aku menjawabnya.
"What? kecelakaan? Kecelakaan apa? Kok bisa bikin kamu nggak masuk. Kamu demam aja masih maksa masuk, lah ini kecelakaan apa?", Rita menarik wajahku agar menatapnya meminta penjelasan.
"Nggak usah lebay deh, cuma kesempet dikit", dengan gemas aku mencubit pipi Rita yang mengembung karena aku mengabaikannya tadi.
"Keserempet? Sakit nggak? Mana yang luka? Aku mau liat", Rita membolak-balikkan badanku ke samping dan tidak sengaja menyentuh luka di lenganku yang tertutupi seragam.
"Aw.. Sakit, Ta!", aku mengaduh sambil menarik lenganku karena luka di lenganku memang belum kering dan paling parah daripada lecet di lututku.
"Ah, maaf. Sini coba aku liat!? Udah dikasih obat belum? ", Rita merasa bersalah sambil menarik lenganku dengan lembut.
"Tapi jangan lama-lama, ya!?", ucapku ragu untuk memperlihatkannya karena takut Rita kembali membuat gaduh dengan suara cemprengnya.
"Iya, iya, sebentar aja. Aku cuma pengen tahu", Rita menganguk-angguk mengerti.
Aku mulai menaikkan lengan seragamku untuk memperlihatkan luka yang ada di lenganku. Rita begitu kaget saat melihat lukaku masih merah dan sedikit basah. Dia hampir saja berteriak sebelum aku menutup mulutnya yang sangat bawel itu. Aku menaruh telunjukku untuk memberi isyarat pada Rita untuk tidak berteriak. Rita menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Ini yang katamu nggak apa-apa!? Mana lagi lukamu yang lain, ayo kita obati di UKS", Rita mulai berdiri untuk mengajakku ke UKS.
Aku mendengar dia yang bercerita bahwa di sekolah sebelumnya, dia tidak terlalu punya banyak teman dan ini adalah kepindahannya dari kota lain untuk yang keempat kalinya. Setiap 2 atau 1 tahun sekali Rita akan pindah sekolah karena pekerjaan ayahnya. Ayahnya seorang arsitek yang bekerja di salah satu perusahaan besar dan selalu mendapat proyek besar yang harus ditangani beliau. Dan mau tidak mau Rita dan mamanya akan ikut ayahnya agar merasa lebih tenang dan lebih dekat dengan keluarga.
Rita juga memiliki seorang kakak yang saat ini sudah kuliah di kota yang sama. Dahulu waktu ayahnya harus sering berpindah, kakak Rita memilih tinggal bersama neneknya di kota sebelah karena tidak ingin mengikuti keluarganya yang sering berpindah tempat dan harus beradaptasi dengan tempat baru. Kata Rita, kakaknya sangat jengkel jika harus mencari teman baru di tempat baru karena belum tentu mereka akan punya kesamaan. Dan aku cukup terhibur saat mendengar ceritanya.
Rita yang sudah melihat lukaku tadi, terus merengek sepanjang pelajaran untuk membujukku agar mau dibawa ke UKS. Aku tetap menolak karena aku merasa baik-baik saja selama luka tersebut tidak tersenggol apapun. Rita benar-benar bawel, pikirku. Tapi aku senang karena bawelnya Rita menunjukkan betapa perhatiannya dia kepadaku.
Akhirnya aku mengalah dengan segala macam bujuk rayu Rita yang mengatakan bahwa dia akan lebih nekat dengan melaporkan pada guru bahwa aku sakit dan perlu diantar ke rumah. Rita membawaku ke UKS dengan menuntunku karena melihat aku sedikit pincang.
Ketika pertama kali melihatku pincang, dia hampir saja memanggil seluruh siswa laki-laki yang ada di kelas untuk membopongku ke UKS. Rita benar-benar gila dengan segala isi pikirannya. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa dia punya pikiran semacam itu dengan posisinya yang seorang putri arsitek. Sungguh pemikiran yang sangat konyol menurutku.
...♡♡♡...
Kami berjalan menuju UKS dengan sedikit candaan Rita yang menceritakan tentang kakaknya yang kemarin bertengkar dengannya karena menuduh Rita menyembunyikan celana training kesayangannya. Aku benar-benar tertawa saat Rita mengatakan bahwa celana training kesayangan kakaknya sudah dijadikan kain pel oleh mama mereka.
Menurut Mama Rita, celana training tersebut sudah jelek dan harus beli yang baru. Tapi kakak rita yang bernama Riko itu tetap ngotot memakainya, hingga suatu hari saat mamanya sedang mencuci baju milik keluarganya tidak sengaja melihat celana training yang menurutnya jelek dan memisahkannya dari kantung cuci baju. Bahkan dengan sengaja Mama Rita mencucinya terpisah dengan baju-baju keluarga dan menyatukanya dengan lap-lap kotor.
Sungguh cerita keluarga Rita sangat menghiburku hari ini, sampai tak terasa kami pun tiba di ruang UKS. UKS adalah tempat yang sering kali dikunjungi oleh anak-anak yang suka bolos dan paling jarang aku singgahi. Atau bisa dikatakan bahwa ini kali pertama aku menginjakkan kaki di UKS.
Rita mengajakku ke dalam dan aku hanya bisa celingukan melihat kondisi UKS yang bersih dan rapi. Lebih rapi dari rumahku, pikirku. Aku merasa sangat minder saat memasuki ruangan ini karena merasa tidak pantas dan tidak perlu datang ke sini.
"Rit, aku nggak usah ke sini aja deh", sambil ku hentikan langkahku.
"Loh, kenapa? Kita udah sampai, jadi kamu nggak boleh menolak dan pergi gitu aja", Rita bersidekap menunjukkan keras kepala.
__ADS_1
"Tapi aku nggak apa-apa", tolakku dengan suara lirih berharap tidak ada yang mendengar kami.
"No! Kamu harus ke UKS dan mengobati lukamu. Sudahlah, ayo!", tegas Rita sambil mendorongku perlahan masuk.
Aku lihat 2 ranjang UKS yang berjejer tengah kosong. Di pojokan sana, terdapat seorang siswa yang sedang membaca buku mulai memperhatikan kami saat Rita memintaku duduk di sebuah kursi.
Seingatku, yang biasanya menjaga UKS saat istirahat sekolah adalah anggota osis, tapi aku tidak terlalu ingat berapa jumlahnya. Siswa tersebut mulai mendekati kami sambil tersenyum.
"Ada yang bisa ku bantu?", dia menyapa kami dengan senyum ramah khasnya.
Ku lihat badge di lengannya berwarna hijau, menandakan bahwa dia kakak kelas kami.
"Begini kak, teman saya terluka. Apakah saya bisa meminta alkohol, betadin, kasa dan kapas?", dengan lugas Rita mengatakan daftar permintaannya.
"Baiklah, tunggu sebentar! Aku akan mengambilkannya di lemari", tuturnya seraya meninggalkan kami.
Aku dan Rita kompak mengangguk mengiyakan. Rita mulai menarik lenganku yang terluka kemudian melipat bagian lengan untuk memudahkannya mengobati lukaku.
Kakak kelasku tadi pun segera kembali dengan membawa kotak P3K di tangan kanannya lalu meletakkannya di samping Rita. Dia mulai menarik sebuah kursi plastik yang ada di pojok ruangan dan meletakkannya di hadapan kami. Aku pun kaget karena dia duduk tepat di hadapanku. Aku merasa tidak nyaman jika harus diperhatikan olehnya.
"Kakak kenapa duduk di situ?", aku spontan bertanya.
"Aku hanya ingin melihat lukanya, agar aku bisa memprediksi apakah luka itu perlu penanganan khusus atau tidak", dengan santai dia tersenyum dan menjawab pertanyaanku.
"Ah, tidak apa-apa, kak. Aku yang akan mengobatinya, kakak bisa melanjutkan kegiatan kakak lagi", Rita sepertinya mengerti perasaanku yang merasa tidak nyaman ditatap olehnya.
"Tidak, aku hanya sebentar dan akan kembali setelah melihat lukanya saja", dia masih duduk. Rita hanya menghela nafas kemudian melanjutkan kegiatan untuk mengobatiku.
Kakak kelas itu terkejut melihat lukaku yang cukup parah dan mulai menanyaiku seperti Rita tadi pagi. Sebenarnya aku malas sekali harus menjelaskannya ulang, tapi ku jelaskan dengan singkat dan jelas agar dia menjauhi kami. Setelah mendengarnya, dia pun kembali ke tempatnya. Aku sesekali mencuri pandangan padanya, dan tertangkap basah memperhatikannya.
Untung saja saat itu Rita sudah selesai mengobati lukaku dan kami akan segera ke kantin sebelum bel masuk karena Rita mengeluh lapar. Rita mulai membereskan kotak tersebut dan hendak mengembalikannya pada kakak kelas itu. Aku ikut bangkit mengikuti langkah Rita dan ingin segera keluar karena malu.
Rita meletakkan kotak tersebut di meja tepat dihadapan kakak tersebut duduk. Dia kemudian mendongak dari bukunya sambil tersenyum. Dia segera bangkit menuju lemari penyimpanan obat dan terlihat memasukkan sesuatu. Rita kemudian berbalik dan hendak pergi. Aku mencolek lengan Rita untuk menyadarkannya agar mengucapkan terima kasih.
"Ah, iya kak hampir saja aku lupa, terima kasih untuk obatnya", Rita menoleh lalu berbalik lagi untuk pergi sambil mengucapkannya.
Saat aku dan Rita berada di luar UKS, tiba-tiba saja kakak kelas tersebut mengejar dan memanggil kami.
"Tunggu..!", dengan sedikit berlari dari dalam dia membuat langkah kami terhenti dan menoleh ke arahnya.
Aku saling pandang dengan Rita menunjukkan rasa bingung kami.
...♡♡♡...
Halooo...!
Ini karya perdana author, maaf jika terdapat kesalahan pengetikan dan ceritanya terkesan lamban 🤭
Dukung author dengan memberikan kritikan dan saran agar kisah Tika dan Ryan dapat menjadi lebih baik 😁
Terima kasih 🙏🏼
__ADS_1