Since I Meet You

Since I Meet You
Pacar


__ADS_3

"Senyummu cantik".


Blush!


Ucapan spontan Kak Ryan kembali membuatku terpaku. Aku merasa wajahku memanas dan ingin kabur dari hadapannya. Bahkan aku baru menyadari jika sejak tadi menggenggam tangan Kak Ryan.


Aku menarik cekalan tangan kemudian memalingkan wajahku. Kak Ryan tertawa renyah melihat tingkahku yang merasa sangat malu saat ini. Mungkin Kak Ryan menganggapku lucu.


"Ayo, aku akan mengantarmu pulang!", ajak Kak Ryan.


Aku kembali tercekat. Aku mungkin bisa berkilah di hadapan Kak Ryan, tapi aku tidak bisa mencari alasan pada ayah nanti. Aku tidak bisa mengatakan baik-baik saja dengan kondisi seragamku yang basah juga kotor begini.


Ayah pasti akan menanyaiku macam-macam. Aku juga tidak mau membuat ayah khawatir dengan sekolahku.


"Tunggu apa lagi? Ayo aku antar", Kak Ryan kembali menginterupsi lamunanku.


"Tidak usah kak, aku pakai sepeda. Kakak pasti sudah dijemput", tolakku halus. "Untuk jaketnya akan aku kembalikan jika sudah aku cuci", tambahku lagi.


"Hari ini aku bawa motor, sepedamu bisa kamu bawa dengan memegang setirnya dan kamu akan aku bonceng", Kak Ryan menjelaskan.


"Tapi kak.."


"Tidak ada tapi-tapian, aku khawatir kamu kenapa-napa lagi di jalan. Ayo!", Kak Ryan kemudian menarik tanganku dan beranjak menuju parkiran.


Aku menatap tangan Kak Ryan yang menggenggam tanganku seolah tak ingin aku jauh darinya. Begitu tiba di parkiran, keadaan sudah sangat sepi dan hanya tersisa sepedaku dan sebuah motor sport berwarna merah milik Kak Ryan.


Kak Ryan menarik tanganku lagi hingga mencapai tempat parkir motornya. Dia memakai helm full face yang juga berwarna merah sesuai dengan warna motornya.


"Aku tahu, aku memang sangat tampan", Kak Ryan mengerlingkan matanya padaku saat aku tak berhenti menatapnya tanpa sadar.


Aku kelabakan dan tak bisa membalasnya. Aku hanya bisa memalingkan wajah berharap Kak Ryan tidak akan menatapku lagi. Dia hanya tertawa renyah melihat kegugupanku.


"Sudah, jangan malu-malu begitu. Ayo bawa sepedamu ke luar, dan jangan berusaha pulang sendiri karena aku pasti bisa menyusulmu", Kak Ryan memperingatiku.


Aku pun menghampiri sepedaku kemudian menuntunnya ke luar. Kak Ryan pun menuntun motornya juga karena aturan sekolah mengharuskan siswa untuk menaiki sepeda dan motornya di luar gerbang. Tapi beberapa kesempatan ada pula siswa bandel yang menaiki motornya dari parkiran.


Aku pikir karena sudah sepi, Kak Ryan akan menaiki motornya dari parkiran, tapi ternyata dia tetap patuh aturan. Aku sungguh salut padanya. Sepertinya dia tipe anak yang disiplin dalam hal apapun.


Sesampainya di luar gerbang, Kak Ryan memintaku naik ke atas motornya sembari dia memegang sepedaku agar tidak roboh. Aku pun bingung, sebab aku memakai rok sedangkan motor Kak Ryan sangat tinggi.

__ADS_1


Dengan motor sport, tidak mungkin aku berboncengan dengan posisi layaknya perempuan. Pasti akan sulit, pikirku. Tanpa diduga, Kak Ryan mengulurkan tangan kirinya untuk membantuku untuk bisa naik, sedangkan tangan kanannya berusaha menyangga sepedaku.


Aku pun segera naik, dan terkaanku benar. Aku cukup kesulitan untuk memposisikan rokku agar bisa duduk dengan nyaman. Namun aku sadar, tangan kanan Kak Ryan pasti capek menyangga sepedaku karena posisinya bukanlah kategori nyaman.


Aku cukup canggung begitu naik ke atas motor Kak Ryan dan sedikit menjaga jarak agar bau yang berasal dari tubuhku tidak menempel di badannya. Akupun segera meraih setir sepedaku menggantikan tangan Kak Ryan, sedangkan dia mulai menghidupkan mesin motor.


"Pegangan, nanti kamu jatuh", Kak Ryan menarik tangan kananku agar berpegangan di tubuhnya yang membuatku sedikit mencondongkan tubuh.


"Aku tidak membawa helm lebih untuk bisa menjamin kamu selamat"


Dari dekat aku bisa mencium bau wangi menguar dari tubuhnya. Aku jadi sedikit malu dengan kondisiku saat ini yang berbanding terbalik dengannya. Aku pun dan Kak Ryan pulang.


Selama perjalanan, Kak Ryan tidak mengatakan apapun dan fokus pada jalan yang kami lewati. Mungkin dia tidak mau fokusnya terpecah dan bisa menyebabkan celaka.


Hal tak terduga lainnya yang dilakukan Kak Ryan adalah dia sudah tahu jalan menuju rumahku. Padahal Kak Ryan tidak pernah bertanya dan tidak pernah mengantarku ke rumah


"Rumahmu dimana?", kalimat itu yang pertama kali keluar begitu kami berbelok ke gang menuju rumah.


"Disana, kak", aku menunjuk arah menuju rumah.


Kak Ryan mengantar aku sampai ke depan rumah. Ayah yang mendengar suara motor yang lumayan bising segera keluar.


Aku menatap ayah dan Kak Ryan bergantian.


"Begini pak, tadi sepulang sekolah saya tidak sengaja mendorong Tika di lorong sekolah sampai jatuh dan menabrak ember bekas pel. Saya tidak menyadari keberadaan Tika karena saat itu saya sedang bercanda dengan teman. Dan untuk bertanggung jawab, jadi saya mengantar Tika ke rumah", dengan lancarnya Kak Ryan berbohong untuk menutupi kegugupanku dan membuatku melongo.


"Sekali lagi saya minta maaf", Kak Ryan menunduk hormat.


"Oh begitu, bapak kira kenapa", ayah manggut-manggut paham tanpa menaruh curiga sekalipun.


"Mari masuk dulu nak, mampir ke rumah kami. Jarang-jarang ada teman Tika yang datang ke sini. Dan kamu masuk duluan nduk, mandi sama ganti baju. Seragammu taruh di ember cuci. Temenmu biar bapak temani", ayah mempersilakan Kak Ryan masuk dan dia hanya menjawabnya dengan mengangguk.


"Iya yah. Aku masuk dulu yah, kak", aku berpamitan pada kedua orang itu.


Aku pun masuk ke kamar untuk menaruh tas kemudian mengambil baju ganti yang bersih dan membawanya ke kamar mandi. Aku mandi dengan segera agar Kak Ryan tidak menunggu lama.


Begitu selesai mandi, aku segera menuju kamar dan merapikan rambutku yang habis keramas karena air kotor yang Winda siramkan padaku mengenai rambut. Aku keluar dan melihat ayah sedang duduk dan mengobrol dengan Kak Ryan.


Mereka berdua menoleh ke arahku, kemudian ayah berpamitan untuk ke belakang. Di atas meja sudah ada teh yang ayah siapkan untuk Kak Ryan dan ada sedikit camilan.

__ADS_1


"Maaf lama kak", ucapku begitu sampai di dekatnya.


"Gapapa, toh tadi ada ayahmu yang menemani. Oh iya, ini rumah kamu?", Kak Ryan menatap sekeliling.


"Iya kak, maaf ya berantakan gini. Lebih tepatnya bukan milik kami sih, kami hanya mengontrak di sini", ucapku dengan senyum getir dan dijawab anggukan kepala olehnya.


"Kata ayahmu juga kamu jarang banget bawa temen ke sini ya!? Memangnya kenapa?", Kak Ryan seperti sedang menginterogasiku.


"Kasian aja kalau ngajak temen ke sini kak, di sini adanya cuma ini", sebenarnya aku tidak cukup nyaman membahas ini, tapi menghargai Kak Ryan yang selalu bersedia menolongku.


Aku menangkap raut wajah Kak Ryan yang terlihat bersimpati dengan keadaan kami.


"Oh iya kak, sekali lagi aku mau ngucapin terima kasih karena kakak rela melakukan hal ini padaku", ucapku sambil menunduk mengingat perbuatan Kak Ryan yang rela berbohong untuk membantuku agar ayah tidak bertanya macam-macam dan mengkhawatirkanku.


"Sudah aku bilang, jangan berterima kasih padaku. Aku hanya ingin melihat kamu tersenyum dan bahagia", Kak Ryan kembali tersenyum dan menampilkan lesung pipinya.


"Di antara teman tidak ada kata terima kasih", lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.


"Kalau begitu, aku permisi mau pulang dulu", Kak Ryan bangkit dari duduknya.


"Loh, sudah mau pulang?", tanyaku dan dijawab dengan kedipan dan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Ayah sepertinya masih sibuk di belakang", aku mengingat bahwa ayah sempat berbisik ingin memasak untuk makan siang kami di dapur.


"Kalau begitu aku pulang dulu", Kak Ryan mulai berpamitan.


"Tolong bilangin ke ayah, makasih udah repot-repot nyiapin ini untuk pacar anaknya yang tampan"


...β™‘β™‘β™‘...


Halooo!


Selamat datang di karya pertama author 😊


Maaf jika ada banyak salah ejaan, tanda baca dan cerita yang agak monoton πŸ™πŸΌ


Author sedang belajar dan perlu dukungan kalian agar bisa mengembangkan kemampuan author πŸ™‚


Author juga akan mengusahakan agar up tiap hari.

__ADS_1


Terima kasih!πŸ™πŸΌπŸ˜Š


__ADS_2