
Jalan menuju rumahku hanya gang sempit yang bisa muat 1 mobil, tapi di jalan ini juga cukup ramai dengan sepeda motor yang lewat. Saat aku berbelok menuju gang, tiba-tiba saja brakkk!
Seorang pria tak sengaja menyerempetku dari arah depan menggunakan sepeda motornya. Belanjaanku pun bertebaran di jalan sedangkan aku terjatuh berguling di atas aspal. Sekujur tubuhku sakit dan yang lebih menyakitkan, aku melihat beras dan tepung yang aku beli sudah berceceran. Seketika aku menangis, karena uang yang aku gunakan untuk membeli barang-barang tersebut sudah menghabiskan lebih dari separuh uang daganganku.
Aku melupakan rasa sakit di sekujur tubuhku dan segera bangkit untuk memungut beras yang berceceran. Dengan tangis yang berderai aku memungut biji demi biji beras yang bisa aku ambil. Orang yang menyerempetku tampak bingung dengan tingkahku yang lebih memilih untuk menyelamatkan beras-beras yang sudah kotor daripada menyelamatkan diriku sendiri.
Pria tersebut mencoba membantuku berdiri, tapi aku enggan karena tidak rela beras yang aku beli terbuang percuma. Pria yang menyerempetku pun membujukku dan mengatakan akan mengganti uang untuk barang-barang yang telah bertebaran tersebut. Aku masih menangis karena aku tak bisa memasak untuk makan siang ayah dan adikku.
Tiba-tiba saja ayahku lewat dan melihat aku yang menangis di pinggir jalan dengan penampilan yang kotor dan berdebu. Ayah menghampiriku, kemudian mulai membantu aku berdiri. Ayah terlihat khawatir dan bertanya alasan aku menangis seperti ini.
"kamu kenapa, ndu**k? kok menangis seperti ini!?", tanya ayah sambil mengusap lelehan air mataku.
Aku masih tak kuasa menjawab pertanyaan ayah, kemudian memeluk ayah dengan tangis yang semakin jadi.
"mohon maaf, Pak. Saya tadi tidak sengaja menyerempet putri bapak", pria tersebut terlihat merasa bersalah karena membuat aku menangis
"Saya sedang terburu-buru karena majikan saya menelepon dan menyuruh saya segera ke sana", jelas pria itu lagi.
"oh iya pak, tidak apa-apa. Lain kali hati-hati, pak!?", ayahku mengingatkan orang tersebut dengan sopan.
"Tadi saya sudah mencoba membantu putri bapak, tapi putri bapak tetap menangis sambil memungut beras-beras yang berceceran ini", pria tersebut menunjuk beras yang telah bertebaran bebas.
"Dan ini sebagai permintaan maaf saya karena telah membuat belajaan putri bapak jadi begini", ucapnya dengan mengeluarkan 3 lembar uang 100 ribuan kemudian menyodorkannya ke tangan ayah.
"Ah, tidak usah, pak. Biar saya beli lagi nanti bahan-bahan itu, bapak simpan saja uangnya", ayah dengan kerendahan hatinya mendorong uang tersebut kembali.
"Saya mohon, terimalah! sekalian periksakan luka putri bapak ke puskesmas atau rumah sakit", pria tersebut memaksa.
"Baiklah, akan saya terima jika bapak memaksa. Sekali lagi terima kasih dan maaf merepotkan", ayah tersenyum canggung sambil menerima uang tersebut.
"Saya yang seharusnya meminta maaf karena telah membuat putri bapak terluka", pria tersebut tetap merasa bersalah. "Sekali lagi maaf, kalau begitu saya permisi karena harus pergi ke rumah majikan saya", lanjut pria tersebut.
__ADS_1
"iya, hati-hati pak!", peringat ayah.
Ayah mulai menatapku yang masih sesegukan habis menangis. Aku lihat ayah bersedih melihat keadaanku. Aku semakin merasa bersalah dan memeluk ayah karena tidak sanggup menatap ayah yang bersedih.
"Tidak apa-apa, nduk. Sekarang kita pulang, ya!? Ayah mau membersihkan lukamu", dengan tangannya yang mulai keriput ayah mengelus rambutku.
"Tapi, yah. Belanjaanku gimana?", aku mendongak meminta penjelasan.
"Tidak apa-apa, nduk. Nanti biar ayah yang belanja lagi", ayah membujukku.
"Tapi, yah. Itu bahan untuk makan siang kita", aku tetap keukeuh dengan belanjaan yang sudah kotor itu.
"Jangan dipikirkan, nduk. Nanti ayah belikan yang baru", aku pun mengangguk setuju untuk pulang.
...♡♡♡...
Sesampainya di rumah, aku segera membersihkan diri dan mengganti bajuku. Sekujur tubuhku terasa sakit dan ku lihat ada luka lecet di lutut dan sikuku. pergelangan kaki pun mulai membengkak karena terkilir. Saat di pinggir jalan tadi memang tidak terasa karena aku merasa tertekan, tapi ketika sampai di rumah semua begitu sakit. Bahkan sekarang aku kesulitan berjalan karena pergelangan kakiku yang teramat sakit.
"aww.. sakit, yah!", seruku
"sepertinya kakimu terkilir, nduk. Nanti ayah panggilkan tukang urut, dan besok kamu tidak perlu ke sekolah", ucap ayah lagi.
Aku kaget mendengar ucapan ayah.
"Tika mau sekolah, yah!", protesku.
"Kakimu terkilir, nduk. Kamu akan kesulitan mengayuh sepeda dan berjalan di sekolah", bujuk ayah.
Ku pikirkan kembali ucapan ayah. Tapi jika aku tidak sekolah, aku tidak akan punya penghasilan. Aku dilema. Sekarang saja badanku terasa remuk karena sempat berguling di aspal, belum lagi kakiku yang membengkak begini tidak bisa menggunakan sepatu dan sulit bergerak.
"Baiklah, yah. Besok Tika akan izin", dengan berat hati aku pun menuruti permintaan ayah.
__ADS_1
Ayah pun tersenyum mendengarnya, seakan satu bebannya menghilang. Aku merasa semakin tidak berguna saat ini karena menambah beban pikiran ayah. Saat itu adikku baru saja datang bermain dan melihatku yang duduk di kursi ruang tamu bersama ayah.
"Kakak kenapa?", adikku melihat ke arah kakiku yang bengkak. Adikku ini sangat perhatian padaku dan ayah, sehingga dia pasti akan segera menyadari perubahan atau hal-hal yang terjadi padaku.
"kakak tidak apa-apa dek, hanya terjatuh tadi", elakku. Padahal kakiku benar-benar sakit dan butuh tindakan segera sebelum semakin parah.
"Kalau tidak apa-apa, kenapa kaki kakak seperti itu?", ini susahnya mempunyai adik yang terlalu cerdas. Aku bahkan kebingungan untuk menjawab pertanyaannya.
"Kakak hanya terkilir saja, nanti biar Nenek Sami yang ngurut kaki kakak supaya cepat sembuh", ayah mewakiliku untuk menjawab pertanyaan adikku.
"Baiklah, kalau begitu. Kakak, aku lapar. Kita makan apa hari ini?", adikku bertanya.
Aku hanya melirik ayah dengan ekspresi sedih.
"Ar, ikut ayah, yuk!? kita beli makanan enak untuk makan siang kita", ayah mengajak Ardi adikku untuk mengalihkan kesedihanku.
"Yeay.. makan enak", seru adikku sambil jingkrak-jingkrak kegirangan.
Kami sekeluarga memang jarang makan enak. Makanan paling enak yang ayah belikan itu adalah pecel lele dan lalapan, sedangkan untuk hari biasa kami hanya makan nasi, tahu dan tempe saja. Aku menunduk sedih, karena tidak bisa melakukan apa-apa. Dengan keadaanku yang begini, akan menambah beban ayah yang harus mengerjakan pekerjaan rumah yang biasa aku kerjakan.
"Ayo, yah! Ardi sudah tidak sabar makan makanan enak karena lapar", adikku terburu-buru menarik tangan ayah untuk segera berangkat.
"iya, iya sabar, nduk. Kita pasti akan tetap makan", ayah menahan tangan Ardi agar tidak berlari.
Aku tersenyum kecut saat ini. Aku memang bermimpi suatu saat bisa makan enak bersama ayah dan Ardi, tapi bukan dengan keadaan begini. Dengan keadaan begini, sama saja aku menambah beban biaya yang harus ayah keluarkan. Aku ingin menangis, namun air mataku rasanya sudah habis. Saat ayah dan Ardi bersiap untuk keluar, tiba-tiba saja dari arah luar ada yang mengetuk pintu.
Tok, tok, tok
"Permisi!", diikuti suara yang aku kenal.
...♡♡♡...
__ADS_1