
'Ah, sepertinya aku menabrak sesuatu!', batinku
"heh lo kalo jalan pake mata dong!", hardik Winda
Ya, aku tak sengaja menabrak gadis bernama Winda Septi Mahendra. Gadis ini adalah anak dari pengusaha sukses di kotaku, yaitu Ferdian Mahendra. Gadis ini cukup arogan, mengingat perlakuannya terhadap orang lain yang terkesan meremehkan. Dia salah satu dari beberapa siswa yang sering kali menghinaku.
"Ma-maafkan aku, aku tidak sengaja", aku tergagap menghadapi gadis angkuh ini.
Sebenarnya aku tidak takut, mengingat ini bukan sepenuhnya salahku karena dia juga tiba-tiba berbelok ke arahku ketika arah pandangku ke samping melihat para siswa yang berlalu lalang di lorong. Aku tidak mau berurusan dengan gadis ini ataupun keluarganya karena aku ingin bersekolah dan lulus dengan tenang dari sekolah ini.
"nggak sengaja lo bilang? lo pikir gue nggak tau, lo sengaja nabrak gue biar lo pura-pura jatuh terus lo minta uang dari gue gitu!?", dengan lantangnya dia mengatakan hal itu.
Seluruh arah pandangan siswa pun mengarah pada kami. Aku benar-benar tidak nyaman dengan keadaan ini, dan ingin segera mengakhirinya. Aku ingin berlari, dan kabur dari situasi ini, tapi winda seakan tidak pernah lelah mencari masalah denganku.
"Apa? ah, sekali lagi maaf. Aku tidak bermaksud untuk menabrakmu karena aku sungguh tidak melihatmu tadi", aku tetap bersikap sopan kemudian hendak berlalu. Tapi tangan Winda segera menangkap pergelangan tanganku kemudian mencengkramnya kuat-kuat.
"eits, tidak semudah itu", Winda kemudian menarik tanganku, sehingga membuatku terjungkal ke belakang. Aku terjerembab di atas lantai dan semua orang hanya memandang ke arahku. Dengan seringainya, Winda menatapku remeh seakan Aku hanyalah sampah. Aku sangat malu, dan semakin ingin pergi.
Mereka yang melihatku hanya terdiam, tidak ada yang berinisiatif untuk membantuku berdiri. Aku tahu, mereka takut Winda akan membully mereka jika ikut campur masalahku dengan Winda.
"makanya lo sadar diri, nggak usah sok pinter di sini. Lo itu cuma anak miskin yang bermimpi jadi kaya", Winda menghinaku di hadapan semua orang kemudian perlahan meninggalkanku yang masih terduduk di atas lantai. Aku sangat kesal terhadap kelakuan Winda yang tiada hentinya mengganggu kehidupan sekolahku.
Salahku sekolah di sini apa sih? batinku.
Ketika Winda telah pergi, teman-teman yang memperhatikanku tadi pun sebagian ikut bubar. Aku berdiri sendiri sambil menepuk-nepuk rokku yang kotor terkena debu. Akupun melanjutkan perjalananku menuju perpustakaan sekolah dengan hati yang gusar.
__ADS_1
......♡♡♡......
Aku berjalan gontai melewati koridor sekolah dengan hati yang kesal. Aku ingin marah dan mengatakan semua perlakuan yang aku dapatkan pada ayah, tapi aku tidak bisa. Ini hanya akan menambah beban ayah dan membuatnya semakin khawatir kepadaku. Aku tipikal orang yang menceritakan segalanya pada ayah, kecuali masalah perlakuan yang aku dapat dari temanku. Aku selalu mengatakan pada ayah jika teman-temanku baik dan semua orang aku temui juga.
Sebenarnya aku tidak nyaman jika harus berbohong pada ayah. Tapi melihat perjuangan ayah yang bekerja sepanjang waktu untuk menafkahi aku dan adikku, aku merasa bahwa masalahku akan menambah beban ayah juga jika aku ceritakan.
"tidak apa-apa Tika, kamu pasti bisa melewatinya", begitulah aku menyemangati diriku sendiri ketika sedang sedih dan marah.
Aku terus melangkah dan tibalah di dalam perpustakaan. Aku bertemu dengan Pak Syarif yang biasanya menjaga perpustakaan. Aku cukup mengenal beliau karena aku juga sering mengunjungi perpus ketika istirahat.
"halo, Pak Syarif! bagaimana kabar bapak?", seraya tersenyum aku menyapanya.
"eh, Tika! Selamat datang lagi! alhamdulillah bapak baik-baik saja. bagaimana pelajaranmu pagi ini?", Pak Syarif adalah ayah keduaku di sekolah, jadi tidak heran jika dia juga mengetahui kelemahanku dalam pelajaran karena aku sering bertukar cerita dengan beliau kala perpus sedang sepi.
"seperti biasa pak, saya tidak bisa mengingat seluruh tanggal, kejadian dan tokoh yang dijelaskan Pak Sukri", aku terkekeh mengingat pelajaran tadi pagi yang cukup menguras otakku.
"tetap saja pak. jika saya bisa memilih, saya hanya akan mengikuti pelajaran Bu Stefani dan Pak Darmono", belaku sambil tertawa. Bu Stefani adalah guru mata pelajaran fisika yang masih muda sedangkan Pak Darmono adalah guru matematika.
"haha.. dasar kamu Tik", Pak Syarif pun kembali tertawa.
"ya sudah, pak. Saya mau cari buku untuk dibaca dulu", aku menghentikan tawaku dan berpamitan.
"eh, saya kira kamu ke sini mau menemani saya mengobrol", tawa Pak Syarif kembali.
"lain kali deh pak, kalau begitu saya pamit dulu sebelum jam istirahat berakhir", pamitku lagi.
__ADS_1
"jangan lupa dikembalikan lagi ke tempatnya ya, Tik!?", pinta beliau
"siap, pak!", tanpa menoleh aku menjawabnya diikuti jempol tanganku yang ku arah kan ke Pak Syarif.
Senang rasanya bertemu dan berbagi cerita dengan Pak Syarif. Aku pun sedikit terlupa pada kejadian tadi, meski tidak sepenuhnya. Aku pun berkeliling mencari buku yang ingin aku baca hari ini. Sebenarnya hampir separuh koleksi di perpustakaan ini sudah aku baca, sehingga aku cukup kesusahan mencari koleksi yang ingin aku baca. Ini dikarenakan koleksi yang belum aku baca kebanyakan berada di rak paling atas. Aku yang tinggi badannya hanya sekitar 150 cm cukup kesusahan untuk menjangkaunya. Karena tak kunjung dapat, akhirnya aku mengambil sembarang buku yang akan ku baca kemudian membacanya di bangku yang telah di sediakan.
Aku mulai membuka buku lembar demi lembar. Baru beberapa menit aku membaca, tiba-tiba perutku berbunyi "krucuuukkk" lumayan nyaring.
Dan sialnya, situasi perpus tengah hening, dan kemudian perutku berbunyi lagi. Aku malu untuk sekedar menengadahkan wajahku, karena sudah aku pastikan semua perhatian orang tertuju padaku. Rasanya aku ingin bersembunyi saja dan tak ingin mengangkat buku yang aku pegang dari wajahku. Di sebelahku ada beberapa siswa yang ikut membaca buku dan mereka pasti mendengar suara perutku yang keroncongan.
"ah iya, aku kan mau ke perpus biar ngga merasa lapar", batinku.
Dengan bodohnya aku melupakan tujuanku ke perpus karena insiden dengan Winda tadi.
"Harusnya aku mencari tempat yang sepi untuk mengantisipasi hal seperti ini", aku merutuk kebodohanku sendiri yang memilih tempat duduk yang cukup ramai untuk mengalihkan perhatianku pada perutku yang minta diisi.
"hari ini kenapa sih? kok kesialan terus yang menimpaku", aku bertanya-tanya dalam hati.
Bel pertanda masuk pun berbunyi
Kriiiiingggg
Dengan berat hati aku bangkit dan menutup buku yang belum selesai aku baca karena terus kepikiran dengan kejadian memalukan tadi. Aku berniat untuk menunggu seluruh siswa keluar, kemudian aku akan keluar terakhir.
Aku meletakkan kembali buku di rak dan hendak keluar. Tetapi tiba-tiba Pak Syarif memanggilku
__ADS_1
"Tika!", Pak Syarif tersenyum hangat dan memunculkan kerutan-kerutan di sekitar pipi, mulut dan hidungnya.
...♡♡♡...