Since I Meet You

Since I Meet You
Memergoki


__ADS_3

"Ehhemm... Ciyeee, yang langsung disamperin gebetan pas nyampe di kantin".


Rita mulai menggodaku lagi, dan membuyarkan lamunanku.


"Apaan ih, gebetan apanya. Kak Ryan itu menyapa karena menganggapku teman" kilahku.


"Tika, kamu bodoh apa cuma pura-pura sih!? Kalo Kak Ryan memang menganggap teman, untuk apa juga dia repot-repot nyamperin kita cuma buat nyapa doang. Manggil dari tempat duduknya kan juga bisa", Rita bersikukuh.


"Siapa tahu kak Ryan nyamperin bukan cuma mau nyapa, tapi mau pesen sesuatu sama Bu Ida", aku terus mengelak menolak argumen Rita.


"Aku nggak lupa loh Tik, tadi Kak Ryan langsung balik ke tempatnya habis nyapa kita berdua. Artinya dia emang berniat buat nyapa kita doang", Rita mengingatkan kenyataan yang terjadi.


"Udahlah Rit, aku nggak mau ngebahas tentang Kak Ryan lagi. Bagiku dia cuma temen dan aku masih sadar diri buat baper sama Kak Ryan", peringatku sembari melangkah lebih cepat meninggalkan Rita.


"Hei, Tik! Tunggu aku dong", Rita ikut bergegas dengan sedikit berlari kecil.


...♡♡♡...


Di kelas aku sengaja tidak mengajak Rita mengobrol dan berpura-pura marah. Sebenarnya aku sedikit kesal, tapi tetap tidak bisa benar-benar marah padanya. Saat aku sedang mencoba menyibukkan diri dengan belajar, tiba-tiba saja Winda dan teman-temannya masuk dan menggebrak mejaku.


Brak!


Aku tersentak kaget dan segera mendongakkan kepalaku.


"Heh! Lo itu budeg apa gimana sih? Udah gue peringatin buat nggak macem-macem dan sadar diri, masih aja kegatelan ngedeketin Mas Ryan", Winda to the point mengungkapkan kekesalannya.


"Ngapain sih lo? Jangan lo pikir, gue takut sama lo. Lo dibiarin sedikit makin berulah aja", Rita mulai angkat bicara.


"Lo juga. Nggak lo, nggak temen lo, kalian sama-sama caper sama Mas Ryan", Winda menyeringai.


"Kebanyakan bergaul sama gembel, makanya suka kecentilan ngegodain pacar orang", tambah winda.

__ADS_1


"Maksud lo apa? Lo nggak berhak ngehina orang cuma karena derajat lo. Lo pikir dong, mana mau Kak Ryan deket-deket sama ulat bulu", aku terpukau karena Rita berani memaki Winda tepat di depan orangnya.


"Gue? Ulat bulu? Terus lo apaan? Gue aja lebih cantik daripada lo, dan seluruh sekolah mengakuinya", Winda menyombongkan diri.


"Harusnya lo yang sadar diri, lo pikir Kak Ryan nggak tahu sama kelakuan lo yang kayak gini? Kalo dia tahu lo ngebully Tika lagi, jangan harap Kak Ryan mau deket-deket sama lo lagi", tantang Rita.


"Wah, hebat! Si anak baru mulai belagu karena gue biarin sedikit", Winda memutar bola matanya dengan malas.


"Apa lo? Mau gue aduin ke Kak Ryan lo?", Rita mengancam Winda.


"Dih, beraninya cuma ngadu doang. Kalo lo berani lawan gue lah", Winda tetap tak mau kalah.


"Eh, Kak Ryan!", Rita spontan menoleh ke arah pintu membuat Winda panik dan ingin segera kabur.


Tapi saat itu Kak Ryan sedang tidak ada dan Winda menyadari itu. Aku tahu ini hanya akal-akalan Rita untuk mengelabui Winda. Aku hanya tertawa dalam hati sambil memikirkan ide Rita yang nyeleneh.


Bisa-bisanya dia mendapat ide begini untuk menakuti Winda. Winda yang ketahuan sempat panik segera pergi dari kelas meninggalkan kami berdua di tempat.


Selepas kepergian Winda, aku dan Rita cekikikan mengingat wajah panik Winda tadi. Bahkan Rita bilang dia ingin mengulangnya dan mendokumentasikannya untuk memperlihatkan kelakuan Winda yang menurutnya terlalu menjijikkan.


Seluruh siswa yang sempat melihat percekcokan antara Rita dan Winda langsung mengerubungi meja kami untuk menanyakan masalah yang sebenarnya terjadi. Bisa dipastikan percekcokan ini pasti akan segera menyebar di kalangan siswa sekolah kami dan lambat laun Kak Ryan pasti akan mendengarnya.


Rita dan aku tidak mau menceritakan apapun dan menjawab pertanyaan teman-teman dengan random. Ini kami lakukan agar tidak ada simpang siur kabar yang menyebar, sehingga kami bisa tahu apa yang akan diceritakan oleh Winda dan teman-temannya pada siswa lain.


Menurut Rita, biarkan saja jika Winda mengatakan apapun pada siswa lainnya. Toh, tidak semua siswa mau mempercayai Winda mengingat kelakuan Winda yang butuh bimbingan karena terlalu buruk.


Beruntung tadi Rita sedang bersamaku, jadi aku tidak terlalu malu jika perhatian siswa lainnya mengarah ke meja kami. Selain itu Rita juga membelaku dan mewakilkanku untuk mengutarakan unek-unek yang aku rasakan sejak dulu pada Winda.


...♡♡♡...


Sepulang sekolah, aku kembali menunggu sampai seluruh siswa pulang. Aku berjalan dengan santai sendirian di koridor sekolah karena Rita sudah pasti ditunggu oleh Mama Risa sambil menyusuri lorong yang mulai sepi. Saat aku hampir mencapai parkiran sekolah, tiba-tiba saja ada yang menarik tanganku dan membuatku segera menoleh.

__ADS_1


Aku lihat Winda menyeringai sambil memerintahkan teman-temannya untuk menyeretku ke belakang sekolah. Aku dipaksa mengikuti mereka dengan kedua tanganku yang dipegangi oleh mereka, khawatir aku kabur. Aku yang saat ini sedang sendirian tidak bisa melawan dan hanya bisa berontak agar kekangan di tanganku terlepas.


Begitu sampai di belakang sekolah mereka mendorongku hingga aku terjerembab di atas rerumputan yang meninggi karena di sini jarang sekali di datangi orang dan dibersihkan. Aku meringis kesakitan sebab mereka mendorongku dengan keras.


Winda kembali mengintruksikan tangannya pada temannya, kemudian salah satu dari mereka menyiramku dengan air yang kotor dan berbau. Sepertinya mereka menyiramkan air got padaku. Aku pun kaget dan menangis karena seragamku basah dan kotor terkena guyuran air got.


Winda menunduk memandangiku dengan jijik,"Ini peringatan buat lo, biar lo belajar dengan bener gimana caranya menunduk dan lo sadar dimana posisi lo yang sebenernya".


"Lo juga harus inget, lo nggak boleh deket-deket sama Mas Ryan! Dia itu pacar gue".


Winda dan gengnya pun pergi begitu saja setelah mengatakan itu meninggalkan aku yang terisak sendiri. Sekarang aku bingung bagaimana caranya pulang dan menjelaskan kekacauan ini jika ayah melihatnya. Aku pun segera bangkit untuk pulang dengan lelehan air mata yang masih membekas.


Aku harap seluruh siswa sudah pulang, dan tidak ada yang melihat penampilanku yang kotor dan bau. Aku menghapus sisa air mata dengan tanganku sambil berjalan. Di dekat gedung, aku melihat kran air yang biasa digunakan tukang kebun sekolah dan aku mempercepat langkah untuk membersihkan wajah dan tanganku dari air kotor ini.


Aku memutar kran sambil menengadahkan tangan dibawah kucuran air yang keluar dan mulai membasuh tanganku bergantian. Kemudian aku berganti membasuh wajahku dengan air bersih dari kran tersebut. Ketika aku sedang membasuh wajahku, Kak Ryan memergokiku.


"Tika? Kamu kenapa?"


Deg!


...♡♡♡...


Halooo ini karya perdana author!


Mohon maaf sekali jika masih banyak ejaan yang keliru dan kisahnya terkesan membosankan 😓


Author sedang berusaha untuk melakukan yang terbaik dan berusaha untuk up tiap hari 😊


Dukung author terus dengan menekan like kemudian beri author masukan agar lebih semangat untuk melanjutkan kisah Tika dan Ryan!


Terima kasih! 🙏🏼😊

__ADS_1


__ADS_2