Since I Meet You

Since I Meet You
Menurutmu gimana?


__ADS_3

"Jadi, hubungan kalian sudah sampai mana?"


Kak Arkan kembali menimpaliku pertanyaan dan pandangan mereka otomatis mengarah padaku dan Kak Ryan. Pandangan mereka menyiratkan bahwa mereka menagih jawaban dari kami berdua.


"Hah! Kalian mengatakan omong kosong lagi. Sudah gue bilang kita cuma temen, ya kan Tik!?"


Kini Kak Ryan yang menagih jawabanku.


"I-iya bener kak. Lagi pula kami tidak begitu dekat seperti yang kalian kira"


Sambil aku lirik Kak Ryan. Dia menatapku dan aku tidak mengerti arti tatapannya saat ini.


"Ah, kalian ngga seru. Masak sekalinya Ryan nyapa cewek kek gini, malah ngga pacaran", Kak Tomi mengompori.


"Bener tuh, padahal jarang loh Ryan perhatian gini ke cewek", Kak Luki menimpali.


"Bukan cuma jarang bro, malah ngga pernah", Kak Ergi kembali angkat bicara.


"Winda yang udah lama ngejar-ngejar Ryan aja dia cuekin parah", Kak Zacky kini mengungkit nama Winda.


"Lah iya, padahal Winda yang paling cantik dan kesemsem parah sama ini bocah aja dianggurin", Kak Angga mulai ikut menyimak karena sejak tadi dia sempat sibuk dengan hapenya.


"Alah, lo mah kalo ngebahas Winda aja baru nyaut, dari tadi sok sibuk lo sama si game sialan itu", Kak Tomi menjitak Kak Angga.


"Gue heran aja sama si Ryan bego ini, masak cewek kek Winda dianggurin. Kan bisa dibikin ATM berjalan", jelas Kak Angga.


"Udahlah, gue cabut duluan. Kasian Tika ngedenger bacot kalian yang ngga manfaat itu"


"Ciyeee.. Takut salah paham terus bertengkar nih yeee", Kak Ergi meledek Kak Ryan.


"Lo budek apa amnesia? Udah dibilang kita cuma temen. Lagian ngapain juga lama-lama di sini kalo cuma buat dengerin cerita tentang badut Ancol itu", Kak Ryan mengelak.


"Wah gila lo bro, sekelas Winda aja lo tolak. Emang lo nyari yang kek gimana?", Kak Luki mulai memancing jawaban atas pertanyaanku selama ini.


"Ada, lah, rahasia! Kalo salah satu kalian suka sama Winda, ambil aja. Dia bukan tipe gue", Kak Ryan mengatakannya seakan memberikan barang.


"Yakin nih? Kalo gitu Winda buat gue aja", Kak Ergi nyeletuk.


"Terserah lo pada deh. Yuk Tik, kita pulang", ucap Kak Ryan sambil menarik lenganku.


"Kalau gitu, saya pulang dulu ya kak!?", pamitku.


"Iya, ngga usah formal gitu lah Tik, santai aja kayak temen lo sendiri", Kak Tomi menyahutiku.

__ADS_1


"Tauk nih, kayak lo ngomong sama Pak Sukri aja", timpal Kak Angga


"Hahahahaha..", mereka pun tertawa bersama.


Aku dan Kak Ryan pun pergi meninggalkan teman-temannya, dan tak lupa sebelum pulang aku mengambil sisa jualanku di kantin Bu Ida. Ternyata teman-teman Kak Ryan menyenangkan, dan dia terlihat nyaman bersama mereka. Aku yang baru kenal pun jadi merasa cepat akrab. Aku juga jadi melihat sisi lain dari Kak Ryan.


Mereka semua tipe orang yang suka mengobrol dan bercanda. Hanya saja Kak Arkan dan Kak Zacky yang tidak terlalu ikut nyeletuk seperti Kak Tomi dan Kak Ergi. Tapi mereka seakan tidak peduli itu, dan hanya mementingkan kebersamaan mereka.


...♡♡♡...


Di jalan.


"Jangan dengerin mereka, mereka emang suka ngomong sembarangan", Kak Ryan menasehati dengan sedikit berteriak karena kami di atas motor.


"Ngga apa-apa kok kak. Mereka menyenangkan, berasa jadi punya banyak teman", aku menjawabnya.


"Apa?", Kak Ryan tidak mendengar jawabanku, aku pun mencondongkan wajahku agak mendekat ke telinga Kak Ryan dan mengulang jawabanku tadi dengan mengeraskan suara.


"Oh, mereka memang begitu", kini dia menjawabku.


Kami pun melanjutkan perjalanan pulang dengan diam. Aku menikmati perjalanan dengan melihat sekelilingku yang tidak terlalu ramai karena belum masuk jam makan siang. Jadi orang yang bekerja belum istirahat.


Sangat menyenangkan seperti ini sesaat, karena aku jarang menikmati waktuku untuk sekedar memperhatikan jalanan seperti saat ini. Aku pun diantar hingga depan rumah oleh Kak Ryan.


"Terima kasih ya, kak!?", ucapku begitu sampai sambil merapikan rambutku yang tadi tertiup angin di jalan.


"Kalau gitu Tika mau masuk dulu ya, kak!?", pamitku sambil mulai berbalik tanpa ingin mendengar jawaban Kak Ryan.


"Tika!"


"Iya!? Ada apa kak?", aku kembali berbalik saat Kak Ryan memanggilku.


"Ah tidak, kamu boleh masuk", ucapnya lagi.


...♡♡♡...


"Tik, sepi ya sekarang!? Kelas IX udah lulus. Pasti mereka enak-enakan liburan di rumah, rebahan, ngga usah mikir ujian lagi", Rita mengoceh iri karena ingin libur.


"Kita kan pasti lulus juga nanti, kamu sabar dikit. Lagi pula kita harus mikirin ujian dulu sebelum libur. Mereka kan juga udah kayak gini kemaren", aku menghibur sekaligus mengingatkan.


"Tapi masih lama lulusnya, kurang setahun lagi. Aku jadi penasaran, kalo kayak Kak Ryan waktu liburan bakal malas-malasan juga ngga ya!?", Rita menghitung jarinya.


"Coba aja kamu tanyain, kamu kan punya nomornya", aku menyarankan.

__ADS_1


"Iya emang punya sih, tapi aku canggung. Masak baru ngechat terus nanya gitu. Yang ada aku diceramahin"


"Yaudah jangan mikir yang aneh-aneh. Sekarang kita fokus belajar biar bisa dapet nilai bagus pas ujian"


"Ih Tika mikir belajar mulu. Aku tuh udah belajar di sekolah sama di rumah, masak istirahat kayak sekarang ngga boleh males-malesan dikit", Rita memanyunkan bibirnya.


"Hahahaha.. Habis kamu tuh pikirannya mau libur terus"


"Ya gimana lagi, sekarang aku lagi ngga semangat nih. Apa aku harus cari pacar biar semangat belajar?"


"Hemm.. Bicara soal pacar, emang kriteria kamu kayak apa?", ini kesempatanku untuk mencari tahu perasaan Rita pada Kak Ryan.


"Kayak apa ya!? yang perhatian, pengertian, baik, ganteng. Eh tapi kenapa kamu nanya kayak gitu? tumben amat", Rita mengucapkannya sambil tersenyum sendiri.


"Ngga ada sih, penasaran aja. Kalo kayak Kak Ryan, kamu ngga suka?", tanyaku.


"Kalo kayak Kak Ryan mana bisa aku ngga suka. Tunggu! Kamu cemburu ya!?", kini Rita menggodaku.


"Ngga lah, kita kan cuma temen", elakku.


Kini aku tahu bagaimana perasaan Rita pada Kak Ryan. Menurutku mereka cocok, dan mungkin saja mereka bisa pacaran.


"Eh Tik, kalo Kak Ryan itu menurutmu gimana?", Rita berbalik menanyakan pendapatku tentang Kak Ryan.


"Ya kayak gitu. Kayak penilaian kamu juga", singkatku.


"Tika ngga peka! Maksudku tuh bukan gitu", Rita menekuk alisnya kesal.


"Terus gimana", karena aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan Rita.


"Maksudku itu perasaan kamu. Masak kamu ngga punya penilaian tentang perlakuan Kak Ryan sama kamu"


"Kan Kak Ryan emang baik. Jadi ngga mungkin cuma baik sama aku, sama orang lain pasti juga gitu"


"Kamu ngga suka sama Kak Ryan?"


...♡♡♡...


Haloooo, selamat datang di karya author!


Maaf jika masih banyak typo bertebaran dan alur yang agak monoton 🙏🏼


Author sedang mengusahakan yang terbaik untuk novel ini 🙂

__ADS_1


Dukung terus author dengan memberikan saran untuk kelanjutan kisah Tika dan Ryan yaa!? 😊🤗


Terima kasih 😊🙏🏼


__ADS_2