
"Tolong bilangin ke ayah, makasih udah repot-repot nyiapin ini untuk pacar anaknya yang tampan".
Kak Ryan mengucapkannya dengan suara yang agak lirih namun masih jelas di telingaku. Dia juga sempat mengerlingkan matanya menandakan dia tengah menggodaku. Aku pun refleks memukul lengannya cukup keras.
"Aw, kamu kok jahat sih. Padahal aku udah baik sama kamu loh", aku mulai malas meladeni drama Kak Ryan lagi.
Sepertinya dia cukup berbakat untuk berakting dan menjadi aktor hebat. Lihat saja dia sedang memasang muka tengil saat ini di hadapanku.
Dia bahkan tidak merasa malu ataupun canggung saat menyebut dirinya sendiri tampan. Aku lah yang justru malu mendengarnya. Lupakan! dia memang suka sekali menjahiliku begini.
"Pulang saja sana! Aku malas melihatmu berkeliaran di depanku", aku pura-pura mengusirnya.
"Kau mengusirku? Wah, kamu sungguh jahat sekarang", dengan menyeringai dia berakting menyedihkan.
"Hentikan, kak! Kalau mau akting, lebih baik ikut audisi saja", aku memutar mataku malas.
"Hahahaha.. Aku akan melakukannya jika kamu mau. Aku kan penurut, apalagi sama pacar", Kak Ryan dengan sengaja menyenggolkan bahunya padaku untuk semakin menggodaku.
Aku semakin malu mendengarnya, sedangkan orang yang mengucapkannya tampak biasa saja. Aku sungguh ingin menaboknya sekarang. Lupakan tentang kesan pertamaku yang menganggap senyumnya menawan, sekarang aku sudah berubah pikiran. Bagiku senyumnya itu menyiratkan ketengilan yang sedang dia tunjukkan sekarang.
"Ya sudah, aku akan pulang. Aku juga pasti ditunggu oleh Catty di rumah", Kak Ryan menghentikan tawanya.
"Ya, ya, cepat pulanglah! Dia pasti kesepian", ucapku sambil mendorong Kak Ryan keluar.
Dia hanya terkekeh. Aku tidak tahu kenapa Kak Ryan mau bersikap baik begini padaku, padahal aku tidak punya apapun untuk membalasnya.
"Oh iya, ada satu hal yang mau aku tanyakan", Kak Ryan berhenti seketika.
Aku mendongak memberikan tatapan seolah mengatakan "apa?"
"Apakah temanmu yang bernama Rita itu punya pacar?", Kak Ryan tidak menatapku, jadi aku tidak bisa membaca ekspresinya saat itu.
"Tidak, kenapa kak?", singkat kata aku membalasnya.
"Ah, gapapa. Apa kamu punya nomornya?", dia kembali bertanya.
__ADS_1
"Tidak, aku kan tidak punya handphone atau telpon untuk menelponnya", tuturku dengan jelas dan jujur.
"Aaahh.. Aku mengerti. Kamu tahu alamatnya?", kami masih tetap dalam posisi aku berada di belakangnya yang bersiap mendorong sedangkan Kak Ryan tetap bersikap tegak tidak mau melangkah sebelum aku menjawabnya.
"Sudahlah, ini sudah 3 pertanyaan. Kamu bilang hanya satu", ucapku sambil mendorong Kak Ryan.
"Wah, apa kamu cemburu jika aku bertanya tentang temanmu?", orang di depanku ini sungguh sangat pintar untuk membungkamku.
"Tentu saja tidak, untuk apa pula aku cemburu. Kau dan Rita sama-sama temanku", aku segera mengelak.
"Ya sudah, aku akan pulang", Kak Ryan kini benar-benar akan pulang.
Jauh dari dalam lubuk hatiku aku merasa berat untuk membiarkannya pulang. Tapi aku sadar tidak bisa menahannya lebih lama di sini. Dia harus pulang untuk merawat kucingnya dan bertemu dengan keluarganya juga.
Kak Ryan sudah siap berangkat dengan memakai helmnya dan naik ke motornya. Dengan tubuh yang tinggi, bahkan dia tidak cocok menggunakan seragam SMP sambil menyetir motor sport seperti ini. Mungkin jika lebih casual, dia akan lebih cocok dan semakin menawan.
Aku tidak bisa membayangkan jika dia beranjak dewasa nanti, bagaimana rupa dan bentuk tubuhnya kelak? Sekarang saja dia sudah tinggi sekali dan badannya juga bagus. Mungkin akan cocok jika menjadi polisi atau tentara.
Dia bisa mendapat bentuk tubuh yang tinggi dan ideal mungkin karena semua gizinya terpenuhi. Makan makanan sehat, minum vitamin, susu, istirahat yang cukup dan juga berolahraga. Berbeda sekali denganku yang hanya bisa makan tahu dan tempe, atau kadang hanya nasi dan garam. Jadi tidak heran jika tubuhku pendek dan kurus begini.
Ya, aku jadi makin sadar akan perbedaan kasta yang kami miliki. Aku mengantar Kak Ryan sampai dia benar-benar menghilang dari pandanganku. Kini tinggal aku sendiri di luar.
"Nduk, temanmu sudah pulang?", tanya ayah begitu aku berada di ambang pintu.
"Iya, yah. Baru aja dia pulang", jawabku.
"Tolong bangunkan Ardi di kamar, nduk. Dia sejak tadi tidur, sepertinya belum makan siang. Bapak mau menyelesaikan ini dulu", ayah memintaku untuk memanggil Ardi untuk ikut makan siang.
"Baik, yah"
Aku pun berangkat menuju kamar Ayah. Ardi memang tidur dengan ayah sejak ibu meninggal, karena Ardi tidak bisa tidur jika tidak dipeluk. Aku lihat Ardi tidur meringkuk membelakangiku di atas kasur kapuk tanpa ranjang.
"Dek, ayo bangun. Ayah ngajak makan siang bareng", aku memanggilnya pelan.
Namun Ardi tidak bergerak ataupun menyahutiku. Tumben sekali Ardi susah dibangunkan, biasanya dengan sekali panggil dia akan segera bangun.
__ADS_1
"Dek, ayo makan!", aku mencobanya sekali lagi namun tetap tidak ada pergerakan dari Ardi.
Aku pun memutuskan untuk mendekatinya. Aku lihat dia menutup mata dengan bulir keringat yang terdapat di dahinya. Aku duduk di sampingnya kemudian memegang tangannya untuk memastikan nadinya.
Aku tahu Ardi bukanlah anak yang suka jahil. Maka dari itu lebih baik jika memastikan secara langsung. Dengan sekali sentuh, dapat aku rasakan kulitnya sangat panas. Ardi demam.
Aku segera keluar menemui ayah dan mengatakan jika Ardi sakit. Ayah segera menghampiri Ardi dan mengecek keadaannya.
"Ardi demam tinggi, kamu makan duluan ya, nduk!? gantian sama ayah. Ayah mau ngompres adikmu dulu. Nanti gantian kamu yang nemenin dia selagi ayah masak bubur buat adikmu", ucap ayah.
"Iya, yah", aku segera kembali keluar kamar menuju dapur untuk mengambil air dan mencari kain atau handuk kecil untuk mengompres Ardi.
Setelah mengambilnya, aku segera menyerahkannya pada ayah. Ayah mengompres dahi Ardi dengan perlahan, ayah juga telah menyelimuti Ardi agar tidak kedinginan. Aku pun segera makan supaya bisa bergantian menjaga Ardi.
...♡♡♡...
Ini sudah jam 8 pagi, tapi aku masih berada di puskesmas. Ya, pagi tadi ayah mengajakku untuk membawa Ardi ke puskesmas karena demamnya tak kunjung reda sejak kemarin siang. Semalam aku dan ayah telah memberikan Ardi obat setelah dipaksa untuk makan bubur yang telah ayah buat.
Aku juga sudah bergantian dengan ayah untuk merawatnya semalaman hingga jam 12 kemudian ayah memintaku untuk tidur lebih dulu karena harus pergi ke sekolah. Tapi siapa tahu, ketika jam 4 subuh ayah segera membangunkan aku karena Ardi semakin menggigil dan panasnya semakin meningkat.
Aku pun terbangun dan panik. Ardi tidak pernah sakit parah begini. Bahkan Ardi tidak bisa merespon ucapanku ataupun ayah karena demamnya yang semakin parah. Kami terpaksa membawanya ke puskesmas terdekat untuk dirawat dengan dibonceng sepeda motor.
Raut khawatir tercetak jelas di wajah ayah. Orang tua mana pun pasti akan mengkhawatirkan anaknya yang sakit. Aku pun juga akan khawatir jika ayah ataupun Ardi juga sakit.
"Nduk, bisa ikut ayah sebentar!?"
...♡♡♡...
Halooo!
Terima kasih sudah mampir di karya author 😊
Maaf jika masih banyak typo dan alurnya terkesan membosankan 🙏🏼
Author sedang belajar serta mengusahakan yang terbaik agar kisah Tika dan Ryan berlanjut dan bisa up setiap hari 🙂😊😍
__ADS_1
Jangan lupa dukung author juga yaaa!?
Terima kasih 🙏🏼😊