
"Tika, apa yang kamu lakukan, nak!?", beliau memergokiku yang hampir duduk di depan tungku untuk melihat air di dalam panci.
"Mama, kenapa mama ke sini?", aku spontan menoleh karena kaget mendengar suara Mama Risa.
"Mama ke sini karena khawatir kamu merepotkan diri membuatkan sesuatu untuk mama", beliau mendekatiku.
"Sudahlah, kamu tidak perlu membuat ini untuk mama dan Rita. Kamu kan capek baru pulang sekolah", beliau memindahkan gelas yang sudah aku isi gula dan segera mengajakku ke depan.
"Maaf ya, mama lancang masuk ke dapur tadi", Mama Risa merasa bersalah karena menerobos masuk rumahku.
"Seharusnya Tika yang minta maaf ma, karena Tika sudah meninggalkan mama dan Rita terlalu lama", aku juga menyesal karena tidak bisa membuat segalanya lebih cepat, sehingga hanya bisa menyediakan air putih untuk mereka.
"Nggak usah ngerasa bersalah Tik, lagian kami ke sini cuma pengen tahu rumah dan keluargamu saja. Jangan terlalu repot menyediakan sesuatu, karena aku hanya ingin kamu di sini menemani kami", Rita menghiburku.
"Eh, tadi kayaknya ada yang lagi ngedeketin Tika deh, ma", Rita memecah kecanggungan dengan mengalihkan pembicaraan.
"Ngedeketin gimana maksudmu, sayang? Tika punya gebetan, gitu!?", Mama Risa terpancing ucapan Rita.
"Nggak ma, Rita bohong! Siapa juga yang mau ngedeketin Tika", sanggahku.
"Itu tadi kak..", aku segera membungkam mulut Rita.
Rita segera menarik tanganku, "namanya Kak Ryan, ma".
Kini mukaku terasa panas dan aku sangat malu pada Mama Risa.
"Rita bohong ma, Tika sama Kak Ryan cuma temen", aku mengelak karena antara kami berdua memang tidak ada hubungan apapun.
"Apanya yang bohong!? Mana ada cowok yang menjauhi banyak cewek tapi menolong Tika dua kali sehari", Rita keukeuh dengan argumennya, sedangkan Mama Risa terkekeh melihat tingkah kami.
"*Beneran ma, Tika nggak ada hubungan apa-apa sama Kak Ryan"
"Iya karena kamu nggak peka, makanya kamu anggap temen. Emangnya kamu tahu apa yang dipikirin Kak Ryan*?", Rita kembali berargumen seenaknya dan bersembunyi di belakang Mama Risa.
Aku ingin mengejarnya, tapi Rita selalu kabur dan meminta Mama Risa melindunginya. Beliau hanya menertawakan kami sambil mencoba menenangkan kami agar duduk lagi.
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau Tika punya gebetan? Tika malu?", Mama Risa ikut menggodaku.
Aku rasa wajahku sudah memerah karena sangat malu saat ini. Aku tengah asyik bercanda, tiba-tiba ayah sudah pulang.
"Nduk, di luar mobil siapa?", begitu membuka pintu ayah sedikit mengeraskan suaranya, mungkin ayah berpikir aku berada di kamar atau dapur.
"Loh, ada tamu toh. Maaf saya tidak lihat tadi", ayah tersenyum canggung.
"Ini ayahnya Tika, ya!?", Mama Risa menyapa ayah.
Aku lihat ayah hanya mengangguk sambil tersenyum canggung.
"Saya Risa, mamanya Rita, teman kelas Tika pak", Mama Risa memperkenalkan diri.
"Saya Rahmat, nyonya. Ayahnya Tika", ucap ayah sopan.
"Kalau boleh saya tahu, nyonya ada keperluan apa kemari? Apa ada masalah?", sepertinya ayah khawatir aku punya masalah di sekolah.
"Tentu saja tidak pak! Tika anak yang baik, justru saya mau berterima kasih karena Tika sudah mengurus Rita di sekolah tadi", tutur Mama Risa lembut. "Dan lagi, tolong jangan panggil saya nyonya. Saya merasa tidak enak hati mendengarnya", Beliau menambahkan.
"Baik, bu. Oh iya nduk, kenapa tidak buatkan teh untuk Bu Risa dan temanmu", ayah beralih melihat ke arahku.
"Ah, ibu bisa saja. Saya jadi malu mendengarnya", ayah sedikit menunduk.
Sekarang aku paham bahwa kebiasaanku menunduk ketika malu berasal darimana. Tiba-tiba saja Mama Risa pamit keluar untuk mengambil sesuatu yang tertinggal dari mobil.
Mama Risa segera kembali dengan menenteng kantong plastik hitam di kedua tangannya. Sepertinya itu kantung plastik yang beliau beli di warung pinggir jalan tadi.
"Ini ada sedikit rejeki untuk bapak dan sekeluarga, semoga saja bisa membantu bapak dan sekeluarga", Mama Risa menaruh kantung plastik itu di atas meja.
"Kenapa mama repot-repot membawa ini untuk kami?", aku sedikit protes pada Mama Risa.
"Tolong diterima ya, Tik!? Mama nggak menerima penolakan", Mama Risa memaksaku menerimanya.
"Terima kasih, bu. Padahal saya tidak bisa menjamu ibu dan putri ibu dengan baik, tapi ibu malah repot-repot membawa banyak barang ke sini", dengan perasaan campur aduk antara senang dan sedih aku tersenyum.
__ADS_1
Aku mengerti apa yang ayah rasakan. Dari awal aku memang tidak mengajak temanku ke rumah karena aku tidak nyaman jika tidak bisa menjamu temanku dengan baik mengingat kondisi keluargaku.
Setelah saling memaksa selesai, Rita dan Mama Risa mohon pamit untuk pulang. Aku dan ayah mengantar mereka berdua sampai keluar. Aku menunggu sampai mobil Mama Risa pergi, kemudian aku masuk ke dalam rumah.
"Nduk, coba kemari", ayah melambaikan tangannya.
Aku lihat ayah membuka kantung plastik pemberian Mama Risa. Ternyata di dalamnya terdapat bahan makanan seperti gula, teh, tepung, telur dan mie instan. Aku bersyukur sekali karena bertemu dengan orang-orang baik seperti mereka.
Aku lihat lagi kantung plastik satunya berisi snack untuk anak-anak dan camilan. Sepertinya Ardi akan senang jika melihat semua snack ini.
...♡♡♡...
Esok harinya, di sekolah aku bertemu dengan Rita yang sudah sembuh dan ceria seperti biasanya. Aku senang akhirnya Rita tidak izin hari ini. Karena bisa aku pastikan, aku akan kesepian tanpa seorang Rita di sampingku.
"Tik, kamu berhutang sesuatu padaku", tutur Rita tanpa menoleh karena masih jam pelajaran.
"Aku? Hutang apaan emang?", aku dibuat penasaran olehnya.
"Kamu kemarin bilang ditolong oleh Kak Ryan 2 kali. Dan sekarang kamu berhutang cerita itu", dengan suara yang pelan namun masih bisa didengar olehku, Rita mengingatkan dengan pertemuan tidak sengaja antara aku dan Kak Ryan.
Aku menepuk dahiku pelan. Aku tidak mengira Rita akan memintaku untuk menceritakan ini, dan melupakannya sejak dia pulang kemarin. Padahal sebelum masuk tadi, dia sepertinya tidak ingat ataupun menggodaku lagi seperti kemarin.
Aku pun mengabaikan ucapan Rita karena aku masih harus fokus pada pelajaran Pak Darmono yang sedang menjelaskan materi di depan kelas.
Kamu harus menceritakannya nanti di jam istirahat, aku tidak mau melewatkan satu ceritapun tentang Kak Ryan darimu
Rita menuliskan pesan di atas kertas memo kecil kemudian menyodorkannya ke arahku agar aku membacanya.
...♡♡♡...
Halooo, selamat datang di karya perdana author!
Klik favorit, like dan beri komentar untuk mendukung author ya!?
Maaf bila terdapat banyak typo dan tanda baca yang keliru 🙏🏼
__ADS_1
Saran reader sekalian juga dapat membantu untuk membuat kisah Tika dan Ryan lebih baik ke depannya 🥰
Terima kasih 🙏🏼