
"Eh tapi, kamu nggak ada hubungan sama Kak Ryan tanpa sepengetahuanku kan, Tik!?", goda Rita.
"Eh, apa?"
"Kamu nggak pacaran diem-diem sama Kak Ryan di belakangku kan!?", Rita mencondongkan tubuhnya padaku.
"Jangan aneh-aneh deh Rit, baru juga kemaren yang ketemu dan kenal. Mana bisa aku pacaran sama Kak Ryan diam-diam", aku menyanggah tuduhan Rita.
"Syukurlah kalo gitu, aku khawatir kamu pacaran tanpa sepengetahuanku dan ngerahasiain sendirian. Aku kan juga pengen kenal sama orang yang bakal jadi pacarmu, biar aku nilai dulu dia pantes atau nggak buat kamu dan aku juga mau mastiin kalo orang yang jadi pacarmu kelak nggak bakal nyakitin kamu", cerocos Rita.
Aku menghela nafas panjang. Heran dengan pemikiran satu orang ini, aku saja cukup menjaga jarak sama teman laki-laki sekelasku. Mana bisa langsung dapat pacar kalau aku tidak mengizinkan laki-laki mendekat.
Selain itu, prioritasku saat ini bukan tentang pacaran. Aku hanya ingin mementingkan keluarga dan pendidikanku saat ini untuk masa depanku kelak. Aku akan berusaha untuk membuat ayah dan almarhumah ibuku bangga dengan pencapaianku.
Aku ingin, suatu saat ayah akan jadi orang yang bisa mengatakan dengan lantang pada orang lain bahwa aku putri kebanggaannya. Tidak hanya itu, aku juga akan berusaha untuk membahagiakan adikku dengan kerja kerasku agar segala hal yang diinginkannya dapat aku wujudkan.
Aku yang telah selesai memakan bekal pemberian Kak Ryan segera memasukkan kotak bekalnya ke dalam tasku dan ingin mengembalikannya nanti siang setelah pulang sekolah. Rita yang ikut makan roti isi dari bekal yang sama, tidak hentinya memuji Kak Ryan dengan mengatakan bahwa makanan ala orang kaya memang berbeda.
Aku jadi ikut bertanya-tanya, apakah Rita tidak sadar dengan keadaan keluarganya yang juga kaya? Rasanya aku cukup tertampar mendengar kalimat yang Rita katakan.
Jika sekelas Rita saja masih mengeluhkan makanan yang dia makan, bagaimana jika Rita berada sekelas dengan posisiku? Apakah dia tetap begini atau lebih parah? Hatiku sedikit tertusuk mengingat keadaan keluargaku.
Aku tidak ingin mengeluh, tapi memang begitulah keadaanku yang sebenarnya.
"Ah, lupakan tentang pacaran. Aku hanya ingin fokus pada keluarga dan sekolah saja", aku tak ingin memikirkan terlalu jauh tentang tuduhan pacaran Rita.
"Yakin nggak mau pacaran? Kata temen-temen yang punya, kalo pacaran itu bisa bikin semangat loh", Rita mengompori lagi.
"Rita, ada banyak hal yang harus aku lakukan. Aku tidak punya waktu untuk bersantai dan memikirkan pacaran. Lagi pula, kenapa kamu tidak pacaran juga seperti temanmu yang lain?", aku membalikkan opini Rita.
"O-oh itu, aku males aja gitu. Lagipula aku punya alasan lain yang membuatku tidak pacaran", Rita gelagapan saat aku membalas ucapannya.
"Nah, itu yang ingin aku katakan padamu. Makanya lain kali jangan menjebakku", peringatku pada Rita.
__ADS_1
"Ya, ya, terserah kamu saja. Tapi awas kau kalo ketahuan pacaran diam-diam. Aku nggak mau temenan sama kamu lagi", Rita mulai mengancam.
"Tenang saja, aku tidak akan pacaran!", aku meyakinkan Rita lagi.
"Baiklah, baiklah", ucap Rita sambil memelukku.
...♡♡♡...
Siang ini aku menunggu Kak Ryan di depan gerbang dengan memegang kotak bekal miliknya untuk aku kembalikan lagi. Awalnya aku ingin mengantarkannya ke kelas langsung, tapi aku lupa untuk menanyakan kelas Kak Ryan padanya langsung maupun pada Rita.
Siswa-siswi sudah mulai sepi, aku tidak yakin akan bertemu dengan Kak Ryan saat ini. Aku berpikir tidak apa-apa jika aku tidak bertemu dengannya, toh aku juga masih harus menunggu ayah menjemputku. Dan besok aku tidak akan mau lagi diantar dan dijemput ayah, agar ayah tidak kelimpungan begini.
Beberapa menit berlalu, aku masih setia menunggu sendiri. Aku sudah tidak berharap akan bertemu dengan Kak Ryan karena aku yakin dia sudah pulang. Akupun duduk di trotoar yang teduh karena dinaungi pohon mangga.
"Hai! Kamu menungguku?", Kak Ryan menepuk bahuku membuatku tersentak kaget kemudian ikut duduk bersamaku.
"Eh, Kak Ryan mengagetkanku saja. Aku sedang menunggu ayah menjemputku", ucapku sambil memegangi dadaku karena kaget.
"Wah, kamu benar-benar tidak bisa basa-basi ya, memangnya kamu tidak merindukanku?", Kak Ryan terkekeh sambil tersenyum jahil.
Deg!
"Tika, kamu tidak sedang terpesona padaku kan!?", Kak Ryan membuyarkan lamunanku sembari menyentuh lenganku.
"Kak Ryan jangan aneh-aneh deh. Mana mungkin aku terpesona pada kakak", aku tidak berani menatap wajahnya karena aku merasa wajahku kepanasan saat ini.
"Tapi kamu menatapku beberapa detik tadi, artinya kau terpesona padaku. Satu sekolah saja mengakui pesonaku", dengan pedenya dia mengatakan hal seperti itu di hadapanku dan aku semakin jengkel karenanya.
"A-apa? Kenapa Kak Ryan pede sekali? Ah, sudahlah, sana kakak pulang saja. Aku tahu, pasti jemputan kakak sudah tiba. Dan ini kotak bekal kakak, aku ucapkan terima kasih", aku mengeluarkan kotak bekal tersebut dari dalam tas kemudian menyodorkannya ke tangan Kak Ryan.
Saat ini aku berharap Kak Ryan tidak mendengar degupan jantungku yang begitu keras. Aku ingin segera pergi dari hadapannya agar detak jantungku dapat kembali normal. Aku tahu betul bahwa anak laki-laki di sampingku ini cukup tampan, tapi entah kenapa jantungku seakan baru menyadarinya sekarang.
"Hahahaha.. Ayolah jangan galak begitu! Aku hanya bercanda", Dia tertawa lepas dan aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Tapi sebisa mungkin aku segera mengalihkan pandanganku untuk menutupi kegugupanku.
__ADS_1
"Sudahlah, pulang sana! Aku kesal pada kakak yang mengerjaiku seperti ini", aku melipat tanganku di depan dada seakan aku marah. Padahal aku sedang mencoba menetralisirkan detak jantungku agar tidak terdengar olehnya.
"Hei! Kau tidak bisa mengusirku begitu saja, ini tempat umum. Dan aku sedang menunggu ayah menjemput", Kak Ryan protes karena aku mengusirnya pergi.
"Ya sudah, cari saja tempat lainnya. Kenapa kakak malah duduk di sini juga", ucapku sewot dengan posisi membelakanginya.
Aku dengar tawa Kak Ryan semakin kencang melihat tingkahku. Sepertinya dia menganggap aku hanya sebuah lelucon.
"Kenapa kakak tertawa? Kakak pikir aku ini lelucon? ", mukaku tertekuk kesal karena ditertawakan olehnya.
"Tidak, tidak, kamu sangat lucu saat ngambek begitu. Mukamu seperti ini", Kak Ryan memajukan bibirnya dan menekuk alisnya tajam seperti meniru mimik ngambekku.
Aku tertawa melihat Kak Ryan dan melupakan rasa kesalku. Sungguh dia sangat jahil, dan membuatku terhibur. Tidak heran jika dia populer di sekolah. Dia benar-benar sosok yang mudah beradaptasi dengan siapapun dan dimanapun.
Dihatiku terbersit rasa penasaran untuk bertanya tentang kehidupan pribadinya. Mengingat kemarin dia hanya menceritakan sedikit bahwa dia amat kesepian di rumah. Padahal dia populer, bagaimana bisa dia kesepian? Bukannya dia bisa mengajak temannya bermain ke rumahnya?
"Kak, boleh aku bertanya?", dengan ragu aku bertanya karena aku tidak bisa menekan rasa penasaranku.
"Tentu, tanyakan saja", Kak Ryan tersenyum lebar menampilkan lesung pipinya.
"Kenapa kakak tidak mencari pacar saja jika kakak kesepian di rumah?"
"Apa? Memangnya kamu mau jadi pacarku?"
Deg!
...♡♡♡...
Halooo, selamat datang di karya perdana author!
Klik favorit, like dan beri komentar untuk mendukung author ya!?
Saran reader sekalian juga dapat membantu untuk membuat kisah Tika dan Ryan lebih baik ke depannya 🥰
__ADS_1
Terima kasih 🙏🏼