Since I Meet You

Since I Meet You
Pulang


__ADS_3

"Aku temanmu juga kan!? Harusnya kamu memberi tahuku juga, bukan hanya Rita"


Aku tertohok mendengar pertanyaan Kak Ryan. Aku tidak tahu bagaimana menjawab ucapan Kak Ryan yang seakan menyindirku.


"Kenapa? Apa aku bukan temanmu?", pertanyaan Kak Ryan semakin menyudutkanku.


"Te-tentu saja kakak temanku juga"


"Bagus, kalau begitu kamu harus memberi tahu kesulitanmu juga padaku", Kak Ryan tersenyum cerah.


"Ah iya, ini ada sedikit makanan yang saya bawa untuk Ardi, om", Kak Ryan menyerahkan parcel berisi buah-buahan pada ayah.


"Ya ampun, terima kasih nak Ryan. Padahal kamu tidak perlu membawa ini sekalipun sudah cukup, kan jadi merepotkan nak Ryan"


Kak Ryan hanya menggeleng, "sama sekali tidak om"


"Saya harap Ardi cepat sembuh dan segera pulih seperti sedia kala", harapnya tulus.


"Aamiin, nak"


Mama Risa, Rita dan Kak Ryan pulang setelah jam menunjukkan 14.30 waktu setempat. Aku pun meminta Ardi kembali istirahat dan aku juga meminta ayah bergantian menjaga Ardi agar beliau bisa makan dan mandi lebih dulu karena belum makan siang.


Aku menemani Ardi hingga dia benar-benar tidur, dan tanpa tearasa kantuk juga menyerangku. Aku pun tertidur di kursi dengan posisi menyandarkan kepalaku di ranjang Ardi.


...♡♡♡...


Ayah membangunkanku setibanya di ruangan inap Ardi dan ketika aku terbangun, ternyata sudah sore.


"Ayah baru sampai?", adalah kalimat pertama yang aku ucapkan ketika sudah membuka mata.


"Sudah dari tadi kok, Nduk"


"Kenapa ayah tidak membangunkanku?"


"Sepertinya kamu lelah, jadi ayah biarkan kamu istirahat. Lagi pula kamu baru pulang sekolah malah langsung merawat Ardi, kamu pasti capek"


"Nggak apa-apa kok yah, Tika nggak capek. Tadi cuma ngantuk karena ngeliat Ardi tidur, jadi ikut ketiduran deh", aku menyengir menunjukkan barisan gigiku yang rapi.


Ayah hanya tersenyum sambil mengelus kepalaku. "Malam ini ayah antar kamu pulang, ya, nduk? Biar kamu istirahat di rumah sekalian ngejaga rumah karena ngga ada siapa-siapa".

__ADS_1


Aku menggeleng, "Nggak yah, Tika mau nemenin Ardi di sini sampai sembuh".


"Tika juga mau ngebantu ayah biar ayah ngga kerepotan sendirian di sini. Tolong biarkan Tika sekali ini aja yah", aku memelas meminta persetujuan ayah.


Aku sangat tahu karakter ayah yang tidak suka menyusahkan orang lain. Beliau juga tidak mau anak-anaknya kesusahan dan sedih. Aku dan Ardi adalah hal paling berharga yang ibu tinggalkan baginya.


Ayah pasti punya alasan tersendiri untuk menyuruhku pulang daripada berada di sini. Mungkin ayah mengkhawatirkan kesehatan dan sekolahku. Ayah sepertinya takut jika aku sampai kelelahan dan jatuh sakit juga.


Tapi aku tidak akan membiarkan kekhawatiran ayah berlangsung lama. Sebisa mungkin aku akan mengusahakan agar aku tetap sehat dan tetap bisa membantu ayah.


Aku masih bisa menangkap keraguan di mata ayah. "Jangan khawatirkan apapun tentang Tika, Tika hanya ingin selalu berada di samping ayah agar ayah tidak merasa sendiri. Bagilah kesedihan ayah dengan Tika, Tika juga ingin selalu berada di samping ayah seperti yang ayah lakukan pada Tika dan Ardi"


"Baiklah, kali ini ayah akan mengikuti kemauan Tika. Tapi ayah khawatir kamu lelah dan sakit, ayah tidak mau anak-anak ayah jadi tidak berdaya seperti itu", akhirnya ayah yakin dengan ucapanku.


Aku memeluk ayah, kemudian Ardi pun bangun.


"Kakak, ayah, kenapa kalian berpelukan?"


"Adek sudah bangun? Nggak kok, kami cuma sedang ingin berpelukan saja. Adek mau minum?"


"Kenapa hanya kalian yang ingin berpelukan? Aku juga ingin"


...♡♡♡...


Hari ini aku bisa sedikit lega karena akhirnya Ardi diperbolehkan pulang. Aku meminta ayah untuk membawa Ardi pulang setelah aku pulang sekolah agar aku bisa ikut menjemput Ardi juga.


Sepulang sekolah aku bergegas keluar kelas dan pulang dengan naik angkot agar lebih cepat sampai. Aku terpaksa mengambil sedikit uang tabungan di celengan untuk aku gunakan sebagai ongkos.


Tunggu! Bukankah aku sudah meminta ayah untuk mengambil uang dari celengan ini? Tapi kenapa bobot celengan ini tidak berkurang sama sekali seperti terakhir aku sentuh? Aku pun mempercepat langkah untuk mencari angkot dan untung saja aku segera menemukan angkot yang cukup lega dan searah menuju puskesmas.


Begitu sampai di puskesmas, aku melihat ayah sedang berada di depan bagian administrasi dengan raut kebingungan. Ayah menoleh dan segera menyadari keberadaanku.


"Nduk, kamu yang sudah bayar semua perawatan Ardi?", spontan ayah bertanya begitu berada di depanku.


"Justru Tika ingin bertanya pada ayah, apa ayah tidak mengambil uang sepeserpun di celengan Tika?"


"Nggak, Nduk. Ayah nggak ngambil, itu kan tabungan kamu"


"Tika juga nggak membayar uang perawatan Ardi, kan Tika udah minta ayah buat ngambil di tabungan Tika"

__ADS_1


"Terus siapa yang bayar uang perawatan Ardi, Nduk? Tadi waktu ayah mau membayar, kata pihak administrasi perawatan Ardi sudah lunas. Tapi pihak sini tidak mau memberi tahu karena ini privasi instansi katanya"


Aku mulai berpikir. Yang tahu bahwa Ardi sedang sakit dan dirawat adalah Mama Risa, Tika dan juga Kak Ryan. Tapi siapa yang membayar perawatan Ardi? Aku tidak mungkin bertanya langsung sekarang karena Ardi harus pulang dan aku tidak punya nomor mereka untuk aku hubungi.


"Tika juga tidak tahu yah. Sekarang Ardi bagaimana?"


"Ardi sudah siap mau pulang, ayah tadi ninggalin dia di ruangannya karena ayah mau menyelesaikan administrasi dulu"


"Ya sudah, kita pulang dulu yah. Kasihan Ardi yang pasti sangat tidak sabar untuk pulang. Masalah ini nanti kita pikirkan di rumah", usulku pada ayah.


"Kamu ada benarnya, nduk. Tapi ayah masih sangat penasaran, karena pihak puskesmas tidak mau memberi tahu identitas orang yang membayar perawatan Ardi"


"Tidak usah ayah pikirkan, sepertinya Tika tahu siapa yang membantu kita".


"Beneran, nduk? Siapa orang baik itu?", ayah mulai tidak sabar.


"Kita bicarakan di rumah saja, ya, yah!? Ardi pasti kangen istirahat di rumah".


"Baiklah, ayo nduk!"


Kami pun memasuki ruangan Ardi. Aku lihat Ardi sudah duduk di atas brankar dengan baju yang sudah berganti lebih rapi dan bersih daripada kemarin. Aku tersenyum menatap keadaannya yang sudah jauh lebih baik.


Aku masih ingat betul bagaimana Ardi begitu sakit panas dan menggigil sekaligus. Aku tidak tega melihatnya seperti itu lagi. Mulai sekarang aku harus lebih memperhatikan kesehatan orang-orang yang aku sayangi.


Ardi menoleh ke arah datangnya kami, "adik kakak sudah siap pulang?".


"Sangat siap kak. Ardi kangen banget sama rumah", jawabnya dengan nada yang masih agak lemah.


Keadaannya memang sudah membaik, tapi masih belum sembuh betul. Dia masih sedikit lemas dan butuh istirahat lagi di rumah. Dia bahkan sudah mengajak pulang sejak kemarin sore, tapi baru ayah iyakan hari ini demi memastikan keadaannya.


...♡♡♡...


Halooo, selamat datang di karya author!


Maaf jika masih banyak typo bertebaran dan alur yang monoton 🙏🏼


Author masih belajar di karya perdana ini 😅


Beri author dukungan dengan memberi masukan untuk kelanjutan kisah Tika dan Ryan 🤗

__ADS_1


Terima kasih 😊🙏🏼


__ADS_2