
Kamu harus menceritakannya nanti di jam istirahat, aku tidak mau melewatkan satu ceritapun tentang Kak Ryan darimu
Rita menuliskan pesan di atas kertas memo kecil kemudian menyodorkannya ke arahku agar aku membacanya.
Aku hanya melirik pesan itu dan dengan sekejap kembali memperhatikan penjelasan Pak Darmono. Aku hanya bisa berharap Rita akan melupakannya nanti setelah jam istirahat.
Aku tidak mau mengingat apapun yang berkaitan dengan Kak Ryan, terutama pertanyaan bodohku yang akhirnya membuatku terjebak. Itu memalukan bagiku. Lagi pula aku merasa tidak cocok berteman terlalu dekat dengan Kak Ryan.
...♡♡♡...
Jam istirahat telah tiba, seluruh siswa mulai berhamburan keluar kelas untuk mengistirahatkan otak mereka setelah menghabiskan waktu untuk belajar. Aku kira Rita akan ke kantin untuk membeli makanan dan lupa pertanyaannya tadi, tapi ternyata dia langsung membelokkan badannya ke samping yang menghadapku langsung sambil kepalanya ditumpu dengan tangan kirinya yang bersandar ke bangku.
Aku hanya menoleh, dan Rita mulai menaik-turunkan alisnya memberikan kode tidak sabar menunggu aku bercerita.
"Kamu kenapa?", aku berpura-pura bodoh dan menganggap tidak mengerti.
"Ayolah, Tik! Jangan berpura-pura lupa, aku tahu kamu hanya akting", Rita sedikit menyeringai.
Aku menghela nafas karena tidak bisa mengecoh Rita.
"Sudahlah, sana kamu pergi makan ke kantin saja", ucapku.
"Aku akan ke kantin setelah mendengar ceritamu", Rita tetap tidak bergeming dari posisinya.
Akhirnya aku menceritakan dengan singkat pertemuanku dengan Kak Ryan. Rita cukup kesal saat aku bercerita bahwa Winda sengaja memutar balikkan fakta dan menuduhku tepat di hadapan Kak Ryan.
Aku juga tahu bahwa Rita sangat tidak suka keberadaan Winda, menurutnya Winda tak lebih dari parasit. Rita mulai tidak menyukai Winda, sejak pertama kali dia pindah.
Dari cerita yang aku dengar, Winda dengan sengaja membentak dan mengancam akan membuat Rita tidak betah sekolah bila posisinya sebagai perempuan cantik yang digilai seluruh siswa tergantikan oleh Rita. Sebenarnya, tanpa harus bertanya pun aku sudah menyadari bahwa Rita jauh lebih cantik. Hanya saja Rita tidak terlalu mempedulikan penampilan dan riasan wajah.
Dalam kesehariannya, Rita bilang dia hanya memakai sunscreen dan sedikit rangkaian skincare tanpa menggunakan make up apapun lagi. Berbeda jauh dengan Winda yang kebanyakan memakai make up. Bahkan rasanya seperti bukan pergi ke sekolah, tapi ingin adu make up.
Sejak itu Rita malas sekali membahas hal-hal tentang Winda, karena dia menganggap Winda hanya anak manja yang suka cari perhatian saja. Selain itu Winda juga suka membully anak yang terlihat lemah, jadi sebisa mungkin aku dan Rita menghindari sesuatu yang berhubungan dengan Winda.
Bukannya Rita takut, hanya saja Rita malas meladeni Winda yang menurutnya terlalu lebay. Kepribadian Winda yang buruk juga menjadi alasan beberapa siswa tidak mau berteman dengannya karena dia seringkali menyuruh temannya dengan sesuka hati.
__ADS_1
Aku heran sekali, bagaimana bisa guru-guru di sekolah tidak menegurnya. Sepertinya dia menggunakan kekuasaan ayahnya untuk melakukan hal semacam ini. Bukankah ini hal yang mudah dilakukan oleh seseorang yang punya kekuasaan dan harta!?.
Aku segera menyelesaikan ceritaku, agar Rita segera pergi dan tidak menggodaku lagi.
"Ceritaku sudah selesai, sekarang pergilah ke kantin!", aku sedikit mengusir Rita.
"Hei! Kenapa kau mengusirku? Aku kan tidak menghalangimu", Rita sewot.
"Kau berisik!", aku membungkam telingaku dengan kedua tangan.
"Hei! Kau tidak bisa begini padaku. Ah, aku punya ide. Ayo kau ikut aku saja ke kantin", Rita menarik tanganku untuk ikut bangun dan berdiri.
"Tidak mau, aku mau ke perpus saja", aku beralasan.
"Aku tidak menerima penolakan", Rita kembali menarik tanganku agar aku mengikuti langkahnya.
Aku memutar bola mataku ke atas dengan malas. Aku tidak ingin ke kantin karena ingin berhemat untuk mengumpulkan modal untuk berjualan lagi. Karena sejak aku terserempet kemarin, modalku sudah habis dan tabunganku sedang aku kumpulkan untuk membantu ayah membayar kontrakan.
Akupun mengiyakan untuk menemani Rita. Harus diingat, hanya menemani!. Aku tidak berniat untuk membeli makanan di kantin hari ini. Aku mengingat betul ayah membutuhkan uang untuk membayar kontrakan kami, dan aku menabung untuk mengumpulkan modal sekaligus membantu ayah.
Aku segera melenggang pergi mengikuti langkah Rita. Sekarang aku terjebak bersama rengekan Rita yang memaksaku untuk memilih makanan yang aku inginkan. Dia jadi seperti anak kucing yang merengek kelaparan pada induknya. Awalnya menggemaskan, tapi lama-lama aku tidak tahan dan memilih satu saja untuk menghentikan rengekannya.
"Hai!", tiba-tiba saja Kak Ryan menghampiri dan sudah berada di sampingku kemudian menyapaku dengan senyumnya.
"Ha-hai juga kak!?", jawabku canggung mengingat Kak Ryan adalah siswa yang populer dan mungkin segala gerak-geriknya jadi perhatian siswa.
"Hai, emmm!?", Kak Ryan juga menyapa Rita, tapi sepertinya mereka belum mengenal satu sama lain karena Kak Ryan terlihat berpikir bagaimana cara memanggil Rita.
"Rita, kak", Rita memahami kebingungan Kak Ryan.
"Aaa benar, Rita. Aku Ryan", Kak Ryan memperkenalkan diri.
Rita hanya mengangguk dan tersenyum.
"Kalian sedang membeli apa?", Kak Ryan kembali bertanya padaku.
__ADS_1
"Aku hanya ikut Rita membeli snack, kak", jawabku dan Kak Ryan hanya manggut-manggut.
"Kenapa kamu tidak membeli sesuatu juga?", sekarang jadi terkesan seperti adegan wawancara.
"Ah, aku sedang malas saja", aku ingin segera mengakhiri moment ini agar tidak semakin jadi perhatian siswa.
"Ehhemm.. Aku permisi mau bayar ini dulu kak", Rita berniat kabur dan meninggalkanku bersama Kak Ryan.
"Kalau begitu kami permisi dulu langsung mau ke kelas, kak", aku memelototi Rita yang sengaja ingin meninggalkanku.
"Ya sudah, lain kali kita bertemu lagi", lagi-lagi Kak Ryan mengucapkan kalimat ambigu seperti itu seakan berencana bertemu denganku lagi.
"Tentu kak, tentu", balas Rita antusias.
Kami pun segera membayar makanan yang sudah dipilih kemudian aku menarik Rita agar segera pergi dari kantin. Aku merasa tidak nyaman dengan keadaan ramai seperti ini.
Bahkan aku malas berbasa-basi untuk sekedar menanyakan ujian Kak Ryan karena merasa canggung. Semua ini karena aku kepikiran kalimat Rita kemarin dan juga pertanyaan yang pernah Kak Ryan lontarkan padaku.
Sekarang aku jadi penasaran, apakah Kak Ryan juga akan melakukan hal serupa jika ada siswi lain yang berada di posisi yang sama denganku saat itu? Apakah orang yang populer bisa berkata segala hal sesuka hatinya?
Aku berjalan menuju ke kelas sambil melamun dan juga bergandengan dengan Rita.
"Ehhemm... Ciyeee, yang langsung disamperin gebetan pas nyampe di kantin".
...♡♡♡...
Halooo ini karya perdana author!
Mohon maaf sekali jika masih banyak ejaan yang keliru dan kisahnya terkesan membosankan 😓
Author sedang berusaha untuk melakukan yang terbaik dan berusaha untuk up tiap hari 😊
Dukung author terus dengan menekan like kemudian beri author masukan agar lebih semangat untuk melanjutkan kisah Tika dan Ryan!
Terima kasih! 🙏🏼😊
__ADS_1