Since I Meet You

Since I Meet You
Hutang


__ADS_3

"Permisi!", diikuti suara yang aku kenal.


"Ya, sebentar", ayah bersuara agak keras menyahuti panggilan dari luar.


Ayah pun mulai membuka pintu rumah dan tampaklah seorang ibu paruh baya yang berusia sekitar 40 an. Ibu tersebut tak lain adalah Bu Mirna, pemilik rumah kontrakan yang aku tempati bersama ayah dan Ardi. Aku cukup kaget karena tidak biasanya Bu Mirna datang kemari.


"eh, Bu Mirna. Mari silakan masuk, bu!?", ayah semakin melebarkan pintu untuk Bu Mirna.


"Iya, pak. Terima kasih!", Bu Mirna masuk kemudian duduk di kursi yang sama denganku, sedangkan ayah duduk di kursi lainnya.


Aku dan Ardi menyalami tangan Bu Mirna, sebagai wujud hormatku pada beliau. Bu Mirna hanya tersenyum.


"Mohon maaf, bu. Tumbenan sekali ibu datang kemari, ada keperluan apa ya!?", aku bertanya sopan.


"oh iya, saya langsung ke intinya saja. Saya kemari untuk mengingatkan bahwa bapak belum membayar kontrakan selama 3 bulan. Saya pikir perlu mengingatkan, karena saya kira bapak lupa akan hal ini", Bu Mirna langsung mengutarakan maksud kedatangannya.


"Apa? belum bayar? 3 bulan?", aku kaget karena ayah tidak mengatakan hal apapun tentang ini. Aku melihat ke arah ayah dan pandanganku seakan meminta penjelasan.


"Mohon maaf ibu, untuk uang kontrakan insya Allah saya cicil kalau sudah ada. Saya bukannya lupa, tapi hasil saya mengojek setiap hari hanya cukup untuk uang saku anak dan bensin saja, dan memang penumpang saya akhir-akhir ini sedang sepi", ayah menjelaskan dengan kepala menunduk.


Aku semakin kaget dengan jawaban ayah tadi. Jadi selama ini ayah menyimpan hal seperti ini dari kami. Aku sungguh menyesal karena dalam keadaan seperti ini harusnya aku bisa membantu ayah untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Kasihan sekali ayah yang menyimpan semua ini sendirian. Sepertinya ayah tidak menceritakan hal ini karena tidak ingin membuatku dan Ardi khawatir.


"Baiklah kalau begitu, tidak perlu tergesa-gesa kalau penumpang bapak memang sedang sepi. Dan lagi pula, sepertinya Tika juga lebih membutuhkan perawatan dan obat", Bu Mirna mengelus rambutku seraya mengatakan hal tersebut.

__ADS_1


Senyum canggung aku tampakkan pada beliau. Aku tidak berani menatap ayah dan Bu Mirna. Aku benar-benar kesal karena merasa tidak berguna saat ini. Tiba-tiba saja aku mengingat almarhumah ibu yang semangat sekali bekerja untuk membantu ayah mencari nafkah. Apa yang akan ibu lakukan jika keadaan seperti ini terjadi? Air mataku tiba-tiba saja menggenang membuyarkan penglihatan. Sedikit saja berkedip, maka ia akan jatuh begitu saja.


Aku tetap menunduk, kemudian bertanya tentang keadaanku untuk memecah keheningan yang terjadi.


"Jadi Tika ini kenapa? kok bisa luka-luka begini!?", Bu Mirna meraih lenganku yang terdapat luka.


"Oh, ini tidak sengaja diserempet orang di depan gang tadi, bu", ayah menjelaskan.


Aku tahu ayah pasti tengah khawatir dan sedih karena anak-anaknya tahu permasalahannya. Aku sedikit mendongak untuk melihat ekspresi ayah. Tersirat raut wajah sedih ayah dengan tatapannya yang sendu. Adikku hanya diam mendengarkan semua hal ini tanpa bertanya.


Sejak ibu meninggal, aku yang merawat Ardi dan membuatnya tidak merasa kehilangan siapapun. Walaupun begitu, aku yakin dia pasti merasakan betapa kehilangannya sosok ibu dalam hidupnya. Ibu adalah sosok yang paling pengertian dan juga perhatian pada Ardi. Aku bisa saja meniru cara ibu untuk memperlakukan Ardi begitu. Tapi saat aku coba, ini sangat sulit.


Biarkan saja Ardi merasakan kasih sayang versi lain dariku, begitu pikirku.


Ibu tetaplah sosok yang tidak bisa aku gantikan di hati Ardi. Bu Mirna yang kala itu melihat keadaan kami begitu canggung pun memohon pamit pulang. Tak lupa aku dan Ardi mencium tangan Bu Mirna lagi. Ayah mengantar Bu Mirna hingga ke luar teras dengan sopan, kemudian masuk lagi ke ruang tamu menemui aku dan Ardi.


Aku mendongak kemudian bangkit dan memeluk bapak seraya menangis.


"Nggak pak, ini bukan salah bapak. Harusnya bapak bilang ke Tika, biar Tika bisa bantu bapak. Tapi sekarang Tika justru menambah beban untuk bapak", aku menangis di pelukan bapak.


Ardi pun ikut menangis dan kami saling berpelukan di ruang tamu. Ku dengar tangis Ardi begitu kencang hingga sesegukan. Ardi adalah anak yang ceria dan jarang menangis, tapi kali ini tangisannya benar-benar membuatku sakit. Bahkan saat ibu meninggal, dia tidak menangis sekencang ini.


Aku benar-benar sedih melihat Ardi yang biasanya terlihat ceria dan masih kecil dapat memahami kesulitan ayah dan ikut menangis bersama. Kini aku benar-benar bertekad untuk membuat keluargaku bangga dengan prestasiku. Dengan begitu, aku bisa membantu ayah dengan meringankan biaya pendidikanku jika aku terus mendapatkan beasiswa.

__ADS_1


"Ayah, tidak apa-apa jika Ardi tidak makan enak hari ini agar ayah bisa berhemat untuk mencicil bayaran kontrakan", aku terenyuh mendengar ucapan adikku yang terkesan lebih dewasa dari usianya.


"Tidak, nduk. Ayah sudah berjanji mengajak Ardi makan enak, dan ayah akan mewujudkannya", ayah mencoba menghibur Ardi agar tidak terlalu memikirkan ekonomi keluarga kami.


"Tidak, ayah. Ardi tidak mau makan enak. Ardi mau makan roti saja", Ardi menatap wajah ayah untuk meyakinkan. Aku terkejut karena Ardi begitu memikirkan ayah sampai begini.


"Begini saja, ayah beli nasi bungkus 2 lalu bawa pulang kemari. Kita makan bersama-sama", usulku menengahi.


Bagaimanapun, aku tidak tega membuat adikku memakan roti saja karena dia akan cepat kelaparan nanti. Tadi pun saat ayah bilang akan membelikan makanan enak, dia terlihat antusias dan sangat senang karena makanan kami sehari-hari hanya tahu dan tempe. Aku tidak ingin menghancurkan kesenangannya dan membuat dia kepikiran pada masalah keluarga kami. Dia terlalu kecil untuk memikirkan hal ini, dan sekarang adalah waktunya untuk belajar dan bermain saja. Bukan memikirkan perekonomian keluarga.


"Itu ide bagus. Jadi kita bisa makan enak bersama-sama di sini", ayah menyetujui usulku.


"Baiklah, aku akan menunggu di sini bersama kakak saja", ucap Ardi lagi.


"Loh, tadi bukannya kamu mau ikut bersama ayah?", ayahku mengajak Ardi. Mungkin ayah mengajak Ardi bermaksud untuk memberikan Ardi kebebasan untuk memilih menu yang diinginkannya.


"Tidak, ayah. Ardi akan menemani kakak dan akan mengompres kaki kakak dengan air hangat", Ardi menjelaskan lagi.


Hatiku tersentuh mendengarnya. Ardi benar-benar memikirkanku. Ayah pun pamit pergi untuk membeli makan siang kami. Sepeninggal ayah, Ardi segera ke dapur dan menghidupkan kompor untuk memasak air hangat yang akan digunakan untuk mengompres pergelangan kakiku yang bengkak.


Dengan kesulitan Ardi membawa baskom berisi air hangat ke depan ruang tamu. Aku kasihan sekali pada adik kecilku. Di usia yang masih kecil, dia harus hidup serba kesulitan seperti ini. Aku sungguh ingin membuatnya merasakan indahnya masa kecil meskipun tanpa ibu. Aku tidak ingin dia menahan segala sesuatu sendirian, ada aku dan ayah yang akan menjaga dan menyayanginya. Aku ingin dia membagikan segala perasaannya denganku.


Ku perhatikan dia perlahan mengambil kain kecil yang dicelupkan pada air hangat, kemudian mengarahkan kain tersebut pada kakiku yang semakin memerah dan membengkak.

__ADS_1


Tess!. Butiran air jatuh dari pelupuk mataku tanpa aku sadari.


...♡♡♡...


__ADS_2