
''Ada apa? Apa aku terlihat aneh?"
''Ti-tidak! Penampilanmu bagus. Tapi..''
''Tapi?'', aku membeo.
''Sepertinya ada yang kurang'', ucap Kak Ryan sambil memposisikan tangannya di depan wajahnya dengan membentuk persegi menggunakan jarinya seakan sedang mencoba mencari kekuranganku.
''Apa?'', padahal aku kira penampilanku sudah cukup.
''Ah iya, tunggu sebentar'', dia memutari mobilnya menuju kursi kemudi dan mengambil sesuatu dari dalam.
''Ini dia yang kurang'', Kak Ryan menyerahkan kotak yang berukuran agak besar.
''Apa ini?'', aku memandang kotak yang dia sodorkan.
''Coba lihat sendiri'', Kak Ryan memainkan alisnya ke atas dan ke bawah.
Aku pun mengambil kotak itu dan membukanya dengan ragu karena takut dikerjai olehnya. Aku kembali dikejutkan karena dia menyiapkan sebuah tas kecil berwarna putih yang terlihat sederhana namun elegan.
''Apa ini kak?'', aku mempertanyakan maksudnya.
''Pakailah! Aku rasa itu cocok dengan dress yang kamu pakai''
''Tapi ini tidak perlu kak. Aku juga tidak membawa apapun untuk dibawa dengan tas''
''Ayolah! Ini permintaanku yang terakhir'', dia memohon.
''Ngomong apa sih? Kayak mau mati aja'', aku memukul pelan Kak Ryan menggunakan kotak yang aku pegang.
''Pokoknya dipakai ya, ya!?''
''Iya, iya. Ayo cepat berangkat biar ngga kemaleman''
Kak Ryan berjingkrak kesenangan kemudian berjalan memutar untuk mengemudikan mobil ini menuju tempat yang kami tuju. Sepanjang jalan cukup ramai dan membuat jalanan macet. Ini hari Minggu, dari pagi orang-orang yang bekerja dari Senin-Sabtu akan berlibur di hari ini.
Sekarang adalah puncaknya mereka pulang ke rumah masing-masing setelah puas menghibur diri seharian. Kak Ryan memutar lagu dari ponselnya yang terkoneksi dengan dashboard mobil.
Memperhatikan jalanan ditemani dengan lagu-lagu yang terdengar membuatku mengantuk. Aku pun tertidur dengan menyandarkan kepalaku di jendela mobil.
''Tika, ayo bangun! Kita sudah sampai'', Kak Ryan membangunkanku perlahan.
__ADS_1
''Kita sudah sampai!? Kenapa kakak baru membangunkanku?''
''Kita baru sampai kok. Ayo, kita sudah ditunggu di dalam'', sahutnya lagi sambil melepas seat belt.
Akupun ikut melepaskan seat belt kemudian turun mengekori langkah Kak Ryan. Begitu masuk, aku disuguhkan pemandangan restoran yang megah dan elegan. Untung saja penampilanku saat ini tidak terlalu buruk, itu penilaianku.
Kak Ryan mengajakku menuju meja resepsionis yang berada cukup dengan dengan posisi kami berdiri.
''Ada yang bisa saya bantu tuan!?'', sapa resepsionis ber-name tag Kalisa menyapa kami dengan ramah.
''Reservasi atas nama Ergi'', jawab Kak Ryan
''Tolong tunggu sebentar'', resepsionis tersebut kemudian memanggil salah satu rekan kerjanya.
''Tuan dan nona, silakan ikuti rekan saya. Dia akan mengantar anda ke meja anda''
''Terima kasih'', Kak Ryan berucap sambil melangkah pergi dengan menarik lenganku perlahan agar tidak tertinggal.
''Mari tuan, nona. Saya akan mengantar kalian'', seorang waitress laki-laki ber-name tag Hadi menunjukkan arah meja yang akan kami tempati.
Kami berdua mengikuti arahan waitress tadi. Aku yang awalnya berjalan di belakang Kak Ryan, tiba-tiba tanganku ditarik olehnya. Katanya jika aku berjalan di belakangnya jadi seperti pelayannya. Jadi aku terpaksa melebarkan langkah demi mensejajarkan diri dengannya.
Kami diarahkan ke sebuah ruangan yang agak terpisah dari tempat orang pada umumnya. Ruangan yang kami masuki cukup luas dan di dalamnya sudah ada Kak Luki, Kak Arkan, Kak Ergi, Kak Zacki dan juga Rita. Ternyata anak ini sudah sampai dari tadi.
''Tikaaa! Sini, sini, duduk di sebelahku!'', Rita membuyarkan pandangan mereka dengan memanggilku sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahnya yang masih kosong.
Aku melangkah menuju kursi yang ditunjuk Rita. Aku duduk di sebelah Rita, diikuti Kak Ryan yang spontan juga duduk di kursi sebelahku.
''Kamu cantik banget tau, Tik!!? Aku jadi pangling kalo penampilan kamu gini'', Rita dengan tidak tahu malunya mengatakan ini di depan Kak Ryan dan teman-temannya.
''Nah itu dek, pantes aja si Ryan posesif banget sama dia'', Kak Ergi mengompori.
''Tauk tuh, masak mau deket aja ngga dibolehin'', Kak Zacki menimpali. ''Dia sampe rela ngebuang Winda demi terus deket sama Tika''
Sekarang aku benar-benar malu karena Rita si tukang nyablak, ditambah teman-teman Kak Ryan yang sama usilnya. Aku tidak tahu mau ditaruh dimana mukaku ini saking malunya.
''Apa sih!? Bahas-bahas nenek lampir itu mulu, kalo lo naksir ambil aja'', Kak Ryan terlihat kesal.
''Ngga ah, gue maunya yang kek Tika aja, boleh gue ambil ngga?'', kali ini Kak Arkan benar-benar membuatku menunduk malu.
''Apaan? Ngga, ngga, gue ngga mau salah satu dari kalian ntar nyakitin dia'', balas Kak Ryan tak kalah cepat.
__ADS_1
''Baru digodain doang, belom juga gue deketin udah dilarang. Gimana kalo mau gue rebut!?'', giliran Kak Luki yang meledek Kak Ryan.
Aku menunduk sambil memegangi tangan Rita, aku lihat mata Rita berbinar-binar dengan sedikit senyum mencurigakan.
''Udah, udah, kasian tuh Tika nya digodain mulu sama kalian. Terus, mana nih si Tomi sama Angga? kok belom nyampek tuh kunyuk'', Kak Ryan mengalihkan pembicaraan.
''Biasalah, paling-paling Angga masih dijemput sama si Tom Jerry'', tutur Kak Zacki.
''Kayak lo ngga tau kelakuan Angga aja, palingan molor dulu dia'', timpal Kak Ergi.
Aku bisa sedikit mengangkat wajahku sekarang. ''Eh tapi, beneran loh sekarang Tika cantik banget, ya kan, Rit!?'', Kak Ergi tidak ada habisnya menggodaku.
''Iya bener kak. Aku yang biasa ngeliat dia pake seragam jadi merasa kalo cantiknya dia tuh sengaja disembunyiin biar ngga ada yang deketin'', balas Rita sambil memandang wajahku dari samping.
''Loh, kalian berdua udah kenal!?'', tanya Kak Ryan keheranan.
''Baru kenal tadi, ternyata kita satu komplek. Tapi baru tau kalo Rita satu sekolah sama gue''
''Hehee, iya kak. Pantesan tadi pas ketemu di luar kayak ngga asing. Eh, ternyata aku sering ngeliat Kak Ergi sepedaan lewat depan rumah''
''Hah, nyesel gue baru kenal sekarang. Coba aja kenal dari dulu, udah pasti gue punya temen main di komplek''
''Alah, bilang aja lo mau ngapelin dia buat minta restu bonyoknya'', Kak Luki menjitak kepala Kak Ergi.
''Ya, itu bonus lah. Hahahahaha'', kami tertawa bersama.
''Eh gue penasaran nih. Kalo si Ergi sama Rita tetanggaan, kenapa baru tau sekarang?'', rasa penasaran Kak Zacki meningkat.
''Oh, dulu aku pindah-pindah kak. Rumah yang aku tinggalin sekarang itu baru setahunan, makanya baru ketahuan kalo tetanggaan sama Kak Ergi'', Rita menjelaskan
Semua orang menyimak cerita Rita tentang kepindahannya sambil bergurau sesekali. Aku pun menikmati waktu berkumpul ini dan berharap kesenangan seperti ini tidak cepat berakhir. Aku merasa lebih hidup saat bersama mereka, sehingga ingin terus menjalin persahabatan yang baru pertama kali ku rasakan.
...โกโกโก...
Haloooo, selamat datang di karya author!
Maaf jika masih banyak typo bertebaran dan alur yang agak monoton ๐๐ผ
Author sedang mengusahakan yang terbaik untuk novel ini ๐
Dukung terus author dengan memberikan saran untuk kelanjutan kisah Tika dan Ryan yaa!? ๐๐ค
__ADS_1
Terima kasih ๐๐๐ผ