Since I Meet You

Since I Meet You
Boleh kupacari ngga sih!?


__ADS_3

''Iya, ngga usah khawatir. Aku kan cuma nunggu kamu mandi, bukan nunggu kamu perang''


Wajahku terasa panas mendengar ucapan Kak Ryan. Aku bergegas meninggalkannya sendiri di ruang tamu agar tidak semakin menjahiliku. Tapi, kenapa aku harus malu mendengar ucapan Kak Ryan? Apakah aku baper?.


Aku menggelengkan kepalaku menolak pikiranku tadi. Bagaimanapun Kak Ryan hanya suka menjahiliku, tidak lebih!. Bahkan jika iya sekalipun, aku akan berusaha untuk menolak perasaan yang hadir demi kelancaran hubungan Kak Ryan dengan Rita.


Rita menyukainya, dan tidak mungkin aku juga menyukai orang yang sama. Siapa tahu Kak Ryan juga menyukai Rita. Jika tidak, mana mungkin dia mau mengundang Rita juga di acara perpisahan antar teman Kak Ryan. Mereka kan baru kenal kemarin.


Jangan mudah terbawa perasaan Tik, pikirkan perasaan Rita. Aku membatin meyakinkan diri.


Aku menyelesaikan mandiku dengan cepat dan segera berganti baju bersih dan terbaik menurutku. Begitu selesai, aku menghampiri Kak Ryan yang telah menungguku sejak tadi.


''Maaf jika terlalu lama kak'', aku merasa tidak nyaman membuatnya menunggu.


''Bukannya ini terlalu cepat untuk kategori seorang wanita!?'', sambil melirik jam tangannya


''Maksudnya!?'', aku merasa linglung mendengar pernyataan.


''Biasanya kan seorang wanita akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk bebersih diri dan juga berdandan'', sekarang aku paham.


''Haha.. Aku bukan tipe orang yang suka berdandan kak'', aku tertawa garing.


''Yah, aku bisa menebaknya dengan penampilan sehari-harimu. Meskipun gitu, kamu tetap manis di mataku'', senyum Kak Ryan seakan membiusku.


Dia mengatakan hal yang menurutku sangat canggung secara langsung dan gamblang seperti tidak ada beban. Aku tersipu malu mendengarnya.


Aku pun segera mengajak Kak Ryan berangkat agar dia tidak membahasnya lagi. Kami berangkat dengan menggunakan mobil Kak Ryan. Aku jadi bertanya-tanya, mengapa dia lebih memilih menyetir sendiri jika punya supir? Bukankah dia juga belum pantas untuk menyetir mobil sendiri!?


Jika menggunakan motor masih wajar karena anak-anak seumuran kami kebanyakan memakai motor untuk pergi ke tempat terdekat. Di sekolah juga masih cukup jarang anak-anak yang memakai motor, karena mayoritas siswa sekolahku anak orang kaya yang biasa diantar.


...♡♡♡...


Kak Ryan membawaku ke sebuah mall yang lumayan jauh dari rumahku. Aku diajak menuju toko pakaian wanita yang menyediakan dress, setelan, dan aksesoris wanita lainnya. Dilihat dari tokonya saja, bisa aku tebak di sini bukanlah jangkauanku.


''E-em kak, bisa tidak kita cari di tempat lain!?''

__ADS_1


''Memangnya kenapa? Di sini ngga ada yang kamu suka?'', alis Kak Ryan berkerut seraya menoleh ke kanan dan kiri.


''Ngga kok kak, di sini bagus banget malah''


''Lantas!?''


Aku mendekatkan wajahku ke telinga Kak Ryan, ''Di sini kemahalan buatku''.


Ragu-ragu aku mengatakannya, sedangkan yang mendengar hanya cekikikan.


''Sudah ku bilang, aku yang akan menanggung semua akomodasimu hari ini. Kamu bebas memilih yang mana saja''


''Tapi aku kurang suka membeli barang yang terlalu mahal, lebih baik uangnya ditabung saja''


''Sudahlah, kamu pilih saja sana!'', Kak Ryan mendorongku semakin masuk ke area koleksi dress.


Aku menatap Kak Ryan mencari keyakinan. Dari pancaran matanya aku bisa menangkap bahwa dia tidak berbohong memintaku untuk memilih yang aku suka.


Aku pun mulai mencari baju yang sesuai seleraku. Tak begitu lama, sebuah gaun lengan pendek selutut berwarna coklat muda dengan sedikit motif bordir bunga-bunga kecil berwarna putih yang timbul di seluruh bahannya.


Aku kembali mencari dress atau pakaian lain yang lebih murah dari harga gaun yang aku sukai tadi. Semakin aku berkeliling mencari, aku semakin kesulitan mendapatkan yang sesuai. Apalagi jika aku melihat harga yang ditawarkan, seketika aku minder.


Aku pun segera mencari harga yang paling murah meski aku tidak terlalu suka demi menghargai Kak Ryan. Aku pun segera membawa pilihanku pada Kak Ryan dan menyelesaikan semuanya dengan cepat.


''Kamu sudah selesai?'', begitu aku berada di sampingnya dengan membawa sepasang atasan dan bawahan yang sudah aku pilih paling murah.


Aku mengangguk mengiyakan, kemudian Kak Ryan mengajakku membawanya menuju kasir.


"Kamu hanya beli ini? Sepatunya? atau aksesoris lainnya?''


''Tidak perlu kak, aku hanya butuh ini''


"Baiklah, aku akan membayarnya dulu. Kamu boleh tunggu di sana dulu'', Kak Ryan menunjuk kursi yang berada agak dekat dengan pintu.


Aku duduk sembari menunggu Kak Ryan menyelesaikan pembayaran. Kami pun keluar bersama dengan Kak Ryan menenteng satu buah paper bag yang berukuran agak besar bertuliskan brand butik yang kami datangi tadi.

__ADS_1


Aku tidak pernah membeli baju ataupun benda-benda yang branded, dan mungkin paper bag besar identik dengan pakaian atau benda-benda yang branded meski yang aku beli hanya dua barang saja.


Kak Ryan menjadi pusat perhatian orang-orang yang kami lalui, terutama para gadis. Aku bisa melihat dengan ekor mataku, mereka sesekali menatap Kak Ryan yang terus melangkah dengan menenteng paper bag berisi belanjaanku.


''K-kak, bolehkah aku yang memegang paper bag itu!?''


''Tidak usah, biar aku saja. Ini tidak berat'', ucapnya dengan tersenyum.


''Tapi kakak jadi pusat perhatian gini'', ucapku tidak nyaman berjalan bersama orang yang jadi pusat perhatian.


''Memangnya kenapa? Kamu cemburu aku diperhatikan para gadis!?", aku salah menawarinya bantuan. Harusnya aku diam saja tadi karena sekarang dia sedang tersenyum jahil padaku.


''Ti-tidak, aku hanya merasa tidak nyaman jika membuat kakak membawakan belanjaanku. Padahal kakak sudah membayarkannya tadi'', tuturku beralasan.


''Bukankah kesannya aku sekarang jadi sosok pacar idaman!? Para gadis yang suka belanja biasanya menginginkan pacarnya menemaninya belanja dan membayarnya kemudian membantu membawakannya'', Kak Ryan mode jahil sedang on.


''Aku kan bukannya ingin begini, Kak Ryan yang memaksaku dan sekarang aku ngga dibolehin megang sendiri'', aku membalas ucapannya sambil memikirkan apa yang akan dia ucapkan selanjutnya.


''Iya sih, padahal aku hanya ingin menyenangkan hati tuan putri, tapi ternyata tuan putrinya kurang suka aku giniin. Jadi, tuan putri mau bagaimana?'', ucapnya seraya menatapku.


''Ap-apaan sih kak, jangan ngejahilin aku terus ih'', wajahku panas mendengar ucapannya.


''Uhh gemesnya kalo gini. Kamu, boleh kupacari ngga sih!?''


...♡♡♡...


Haloooo, selamat datang di karya author!


Maaf jika masih banyak typo bertebaran dan alur yang agak monoton 🙏🏼


Author sedang mengusahakan yang terbaik untuk novel ini 🙂


Dukung terus author dengan memberikan saran untuk kelanjutan kisah Tika dan Ryan yaa!? 😊🤗


Terima kasih 😊🙏🏼

__ADS_1


__ADS_2