
Saat aku dan Rita berada di luar UKS, tiba-tiba saja kakak kelas tersebut mengejar dan memanggil kami.
"Tunggu..!", dengan sedikit berlari dari dalam dia membuat langkah kami terhenti dan menoleh ke arahnya.
Aku saling pandang dengan Rita menunjukkan rasa bingung kami.
"Bawalah ini, gunakan untuk mengobati lukamu hingga sembuh. Di situ juga ada obat yang bisa mempercepat lukanya kering, jangan lupa di minum", dia menyodorkan sekantung plastik putih bening yang berisi kapas, alkohol, kasa, betadin, obat, dan juga segulung plester ke arahku.
Sekilas aku menoleh pada Rita, dan dia hanya mengangguk. Dengan ragu aku raih kantung plastik tersebut.
"Te-terima kasih, kak!", meski canggung aku menerima obat tersebut dan tersenyum malu.
"Baiklah, jangan lupa minum obatnya! Semoga cepat sembuh dan lain kali hati-hati", aku lihat dia tersenyum lagi. Senyum khasnya yang bisa membuat orang lain dapat mengingatnya walau hanya sekali lihat.
"Sekali lagi terima kasih kak. Kalau begitu, kami permisi dulu mau ke kelas", aku tersenyum lagi kemudian mengajak Rita kembali ke kelas.
Setelah dari UKS tadi, lengan seragamku tidak ku turunkan lagi karena Rita memberikan betadin cukup banyak dan khawatir akan merembes di seragamku. Sebelum ke kelas, Rita mengajakku untuk membeli roti dan camilan lainnya sebagai pengganjal laparnya.
Rita yang terbiasa ke kantin saat jam istirahat jadi merelakan jam makannya untuk mengobatiku. Aku merasa semakin tidak enak kepadanya. Sekarang kantin sudah tidak terlalu ramai karena kebanyakan siswa sudah makan dan sebentar lagi akan masuk.
Rita memintaku menunggu di kursi terdekat agar tidak perlu berjalan lebih jauh mengingat kakiku yang masih agak pincang. Rita segera menuju ke bagian makanan ringan dan roti dan mengambil beberapa kemudian beralih ke lemari pendingin dan mengambil 2 kotak susu. Setelah di rasa cukup, dia membayarnya dan kembali ke arahku dan mengajak kembali ke kelas.
...♡♡♡...
Sesampainya di kelas, aku perhatikan hampir seluruh teman kelasku telah berada di dalam. Hanya beberapa yang masih berada di teras atau mungkin masih di kantin juga. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing seperti mengobrol, membaca buku dan ada pula yang sedang makan snack seperti yang sedang Rita lakukan saat ini.
Tadi dia menyodorkan sebungkus roti dan juga susu yang telah dibelinya padaku. Aku sempat menolak, tapi Rita benar-benar tidak ingin mendengar penolakan apapun dariku hari ini. Aku tidak bisa kesal karena ini bentuk perhatiannya padaku, dan aku bersyukur mendapatkan teman sepertinya.
Aku mulai melahap rotiku dan sesekali meminum susu yang diberikan oleh Rita. Saat sedang mengunyah roti dengan sedikit melamun, tanpa aku sadari salah satu temanku yang bernama Naufal menghampiriku.
"Tika..", Naufal memecah lamunanku.
"Iya? Ada apa, Fal?", aku mendongak karena posisi Naufal sedang berdiri di depanku.
"Tadi aku nggak sengaja ngeliat lenganmu yang diperban, boleh aku tahu itu kenapa?", tanpa basa-basi dia bertanya di hadapan semua teman kelasku, dan membuat beberapa mengalihkan pandangannya padaku.
"Benarkah? Memangnya kamu kenapa Tika?", Arin yang duduk di depanku ikut menoleh karena ucapan Naufal.
"Oh ini, lusa kemarin aku nggak hati-hati, jadi nggak sengaja keserempet orang", aku menoleh ke arah lukaku kemudian menatap Naufal dan Arin bergantian.
"Apa? Keserempet?", Arin kaget mendengar penuturanku.
"Jadi kamu nggak masuk kemarin gara-gara itu?", timpal Naufal.
Aku hanya mengangguk.
"Tapi kenapa kamu sudah masuk hari ini? kan kamu bisa nunggu sampai lukamu sembuh dulu, Tik", Arin menyarankan.
"Aku bosan jika harus berdiam diri di rumah", dengan senyum canggung ku tatap Arin.
"Ya ampun Tika, aku lihat kamu juga masih agak pincang. Harusnya kamu istirahat aja di rumah, jangan masuk sekolah dulu", Naufal mengingatkan
"Guys, kalian itu lupa ya!? Kalo Tika itu 5 besar di kelas, jadi jangan heran betapa rajinnya dia sama urusan sekolah. Beda sama aku dan kalian", Rita mulai mengompori teman-teman untuk menggodaku.
"Oh iya, ya, bener juga kamu, Rit", Naufal manggut-manggut termakan godaan Rita
"Tapi tetep aja Rit, kalo sakit ya sakit aja. Nggak usah ditahan dan dipaksain gini, kasian Tika juga", Jordan sang ketua kelas ikut nimbrung obrolan kami.
Dan tiba-tiba saja Pak Herman selaku guru mata pelajaran biologi yang merupakan pelajaran selanjutnya masuk dan membubarkan pembicaraan kami.
__ADS_1
Aku sangat bersyukur dapat terbebas dari cercaan pertanyaan teman-temanku. Jika ingin aku katakan dengan jujur, aku sungguh tidak suka jadi pusat perhatian orang lain.
Aku lebih memilih jadi yang terbelakang atau bahkan tidak nampak bagi orang lain agar aku tidak perlu tersandung masalah. Begitulah kira-kira isi otakku saat ini, yang hanya menginginkan sekolah dan belajar dengan tenang hingga lulus.
...♡♡♡...
Kini aku sedang berada di depan kelas, menunggu para siswa lainnya pulang melewati gerbang agar aku tidak berdesakan karena kakiku belum benar-benar sembuh untuk saling dorong dengan siswa lainnya. Aku mulai berdiri karena para siswa mulai berkurang. Aku melangkah perlahan menuju gerbang karena khawatir ayah telah menungguku di depan gerbang.
Motor dan mobil para orang tua siswa datang berseliweran silih berganti untuk menjemput anaknya. Aku hanya duduk di atas tembok kecil yang menyatukan satu sama lain deretan pagar besi sekolah sambil menunggu ayah datang.
Aku menyandarkan punggungku yang agak lelah pada pagar sekolah dengan mendongak sambil mata terpejam. Aku menikmati dinginnya angin yang berhembus pelan menerpa wajahku.
"Hai! Kita bertemu lagi", suara seseorang terdengar menyapa di sebelahku, membuatku menormalkan kembali posisiku.
Aku menoleh, dan tampaklah kakak kelas yang tadi pagi aku temui di UKS. Dia tersenyum menampakkan lesung pipi dan lengkung bibirnya yang membentuk bulan sabit saat tersenyum lebar seperti ini. Senyum yang sangat khas, pikirku.
"Boleh aku duduk!?", dengan konyolnya dia bertanya sedangkan dirinya sudah duduk sejak tadi. Aku hanya tersenyum dan mengangguk kemudian mengalihkan pandanganku ke depan agar tidak canggung.
"Apa yang kamu lakukan di sini dan k**enapa kamu belum pulang?", dia bertanya seolah kami sangat dekat, padahal aku baru bertemu pagi ini dan aku merasa malu karena ketahuan menatapnya tadi.
"Aku sedang menunggu ayah menjemputku, kak", aku menjawab dengan kepala sedikit menunduk. "Kakak sendiri sedang apa?", lanjutku.
"Aku juga sedang menunggu jemputan, sepertinya sedikit terlambat", dia menatap arlojinya kemudian menatap ke arah depan.
"Oh iya, kita tidak sempat berkenalan tadi. Ryan, Ryan Prasetya", dapat kutangkap dari ekor mataku dia mencondongkan arah duduknya padaku seraya mengulurkan tangan.
"Ti-Tika, Anne Rahmatika", aku sambut uluran tangannya dengan ragu.
"Nama yang bagus. Jadi, kapan ayahmu akan datang?", tetap dengan senyumnya yang khas itu.
"Aku tidak tahu, kak", aku menoleh.
Dengan gelengan kepala aku menjawab pertanyaannya.
"Kenapa? Ini, gunakan hapeku untuk menelponnya", Ryan menyodorkan hapenya yang berlogo apel kearahku dan ku lihat alisnya mulai berkerut menandakan dia tengah memikirkan alasan apa yang mungkin akan aku katakan padanya.
"Baik aku maupun ayah, tidak memiliki hape", kepalaku tertunduk malu saat mengatakannya.
"Oh, maaf. Aku tidak bermaksud untuk..",
"Tidak apa-apa, kak. Kak Ryan kan baru tau", potongku menghentikan ucapannya yang merasa bersalah.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarkanmu saja ke rumah, sebentar lagi jemputanku sampai. Dimana alamatmu?", dia kembali menyimpan hapenya ke dalam saku.
"Tidak usah, kak. Aku tidak ingin membuat ayah khawatir tidak menemukanku di sini karena tiba-tiba pulang begitu saja", Kak Ryan hanya manggut-manggut mengerti.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu sampai ayahmu datang, di sini bersamamu", dia benar-benar seenaknya memutuskan begitu saja tanpa memikirkan panjang.
"Jangan kak, kakak harus pulang. Pasti ibu kakak sudah menunggu kakak di rumah", aku menolak keputusannya karena aku tidak ingin merasa canggung berduaan dengannya.
"Tidak juga, mamaku sedang bekerja. Biasanya dia hanya menanyakannya pada supirku", dia mengangkat bahunya.
Aku tidak mengerti apa yang sedang dipikirkannya ketika mengatakan bahwa akan menemaniku sampai ayah datang.
"Kakak pasti ditunggu oleh saudara atau keluarga kakak yang lain", aku kembali mengatakan hal yang ada dipikiranku begitu saja.
"Hmm, mungkin saja hanya nenek yang akan menungguku mengunjunginya di pemakaman", dia melirik ke arah depan sejenak kemudian kembali menatapku dan tentunya tetap dengan senyum khasnya yang menurutku kini sedang mengejekku.
"A-apa? Kenapa Kak Ryan berkata begitu?", aku semakin heran padanya karena dengan lugasnya berkata begitu.
__ADS_1
"Entahlah, aku hanya merasa hanya nenek yang bisa memahamiku dan sangat menyayangiku", raut wajahnya mulai berubah sendu.
"Memangnya orang tua dan saudara kakak kemana? Apa kakak tidak punya teman di rumah?", dengan ragu aku bertanya.
"Sejak aku kecil, mereka hanya sibuk bekerja. Dan aku hanya tinggal di rumah bersama kakak, tapi sekarang kakak juga sudah bekerja. Jadi aku tidak terlalu suka berada di rumah", dia tetap tersenyum, tapi aku dapat melihat ada kegetiran di matanya.
"Ah, maaf jika pertanyaanku menyinggung kakak", aku merasa tidak nyaman karena mengingatkannya pada hal yang membuatnya kesepian.
"Gapapa, sekarang kan aku punya kamu sebagai temanku", senyumnya kembali riang dan aku pun ikut tersenyum mendengarnya.
"Di sekitar rumah, kakak tidak punya teman?", aku kembali bertanya karena masih ragu dengan pendeglarasian teman yang dia utarakan tadi padaku.
"Tidak, satu-satunya temanku hanya Catty, kucing peliharaanku", pandangannya menerawang ke depan seakan membayangkan hal yang dia lakukan bersama kucingnya.
"Kakak suka kucing?", dia menoleh ke arahku. Aku benar-benar merasa seperti sedang melakukan wawancara dengan melemparkan pertanyaan dan Kak Ryan hanya perlu menjawabnya.
"Ya, apa kau suka kucing?", dia menatapku intens.
"Iya, aku juga suka kucing. Hanya saja aku tidak bisa menghabiskan waktuku untuk bermain di rumah", aku merasa malu jika harus jujur tentang keadaan keluargaku.
"Kenapa? Bukankah waktumu akan luang sepulang sekolah", Kak Ryan menatapku heran.
"Sepulang sekolah aku akan mengerjakan banyak hal, jadi aku jarang bermain", aku pikir tidak perlu untuk menceritakan kehidupan keluargaku pada kak Ryan.
"Ayolah, kamu masih berusia 14 tahun. Kenapa kamu berkata seolah sudah dewasa dan melakukan pekerjaan rumah layaknya seorang ibu!?", dengan senyum jahilnya dia berkata begitu.
"Aku memang harus melakukan pekerjaan rumah seperti itu, karena ibuku sudah tiada", aku menunduk sedih bila mengingatnya.
"Ya ampun, maaf. Aku hanya ingin menggodamu saja tadi", Kak Ryan seperti khawatir aku akan tersinggung dan bersedih.
"Tidak apa, aku sudah ikhlas melepas ibu. Ibu sudah tidak sakit lagi sekarang", senyum kegetiran aku tampakkan.
"Maaf, kalo boleh tahu, ibumu sakit apa?", Kak Ryan terdengar lebih berhati-hati sekarang.
"Ibu punya riwayat penyakit jantung, dan aku harap sekarang ibu sudah bahagia dan tidak merasakan sakit lagi", aku mendogakkan kepala menatap langit seolah ibu akan melihatku dari atas sana.
Tidak berselang lama, ayah tiba dengan helm yang masih melekat di kepalanya. Bisa ku tebak bahwa ayah baru selesai mengantar penumpangnya dan bergegas kemari untuk menjemputku.
"Kamu sudah lama menunggu, nduk!?", perlahan aku bangkit.
"Tidak, yah. Ayo kita pulang!", aku tersenyum untuk menghilangkan kekhawatiran ayah.
"Kak, Tika pulang duluan, ya!?", aku berpamitan sambil menatapnya yang sudah berdiri di hadapanku.
"Iya, aku juga akan pulang. Hati-hati, ya!? Obat yang aku kasih jangan lupa dipake dan diminum", Kak Ryan mengingatkan.
"Iya, kak. Terima kasih"
"Ya sudah, kamu pulang sana. Ayahmu sudah menunggumu, kamu harus sembuh agar kita bisa bertemu lagi. Dahhh!", ucapnya seraya meninggalkanku menuju mobil yang sudah terparkir untuk menjemputnya sejak tadi.
Aku mematung mendengar ucapannya. Bertemu? lagi?
...♡♡♡...
Halooo...!
Ini karya perdana author, maaf jika terdapat kesalahan pengetikan dan ceritanya terkesan lamban 🤭
Dukung author dengan memberikan kritikan dan saran agar kisah Tika dan Ryan dapat menjadi lebih baik 😁
__ADS_1
Terima kasih 🙏🏼