
"Nduk, bisa ikut ayah sebentar!?"
Ayah tiba-tiba saja memanggilku keluar dari ruang rawat Ardi.
"Nduk, ayah titip adikmu dulu, ya!? Ayah mau ambil uang buat nebus obat adikmu sama baju ganti untuk kamu sama ayah juga nanti. Ayah juga mohon izin untuk menggadaikan sepedamu dulu untuk tambahan uang buat perawatan adikmu", ayah memegang pundakku seraya mengucapkannya pelan agar aku tidak tersinggung.
"Lakukan saja yah. Aku rela sepedaku juga dijual agar Ardi bisa sembuh. Tolong ambil juga di celengan punya Tika untuk tambahan perawatan Ardi", aku memegang tangan ayah untuk menyalurkan keyakinan dan ketulusan yang aku miliki saat ini.
Tidak apa-apa uang tabunganku habis asal Ardi bisa sembuh. Hanya itu yang terlintas di pikiranku saat ini. Ayah pun segera pulang untuk mengambil uang dan baju ganti untukku. Karena sejak aku bangun, aku tidak sempat berganti baju dan membersihkan diri.
Aku menemani Ardi sambil memegang dahinya. Kini demamnya sudah agak turun dan tidak menggigil lagi. Menurut hasil pemeriksaan dokter tadi pagi, Ardi sakit demam berdarah dan harus di rawat minimal 3 hari.
Di saat seperti ini, aku jadi teringat ibu. Saat aku atau Ardi sakit, ibu akan mememani kami semalaman dengan mengompres dan memeluk saat tidur. Ah, aku benar-benar sangat merindukannya sekarang.
Aku ingin menceritakan semua keluh kesahku pada ibu. Bagaimana perasaanku, keseharianku, aku ingin menceritakan segalanya. Air mata mulai menggenang seiring aku mengenang ibu. Tapi saat ini aku harus kuat dan tidak boleh mengeluh demi Ardi dan ayah.
Ayah sedang sedih dan susah, dan aku tidak mau menambah bebannya lagi untuk memikirkan aku. Aku tidak suka melihat ayah sedih. Setidaknya aku harus lebih kuat untuk menyemangati dan menghiburnya.
Aku melihat pergerakan Ardi kemudian segera bangkit dan menanyakan keadaan dan apa yang diperlukannya. Ardi hanya bergumam dan mengeluh sakit di kepalanya. Aku pun memberikannya minum agar dia tidak kekurangan cairan meski sudah dibantu oleh infus. Pasti tenggorokannya juga perlu dialiri air supaya tidak kekeringan.
Ardi kembali tidur setelah aku beri minum. Sebelumnya sudah aku tawari makan, tapi dia menolak. Aku pun membiarkannya istirahat sambil aku menunggu ayah tiba.
Ayah tiba setelah jam menunjukkan angka 9. Sepertinya ayah masih mengerjakan pekerjaan di rumah seperti beres-beres rumah. Kami memang belum sempat beres-beres sebelum berangkat karena sudah panik dengan keadaan Ardi.
Aku segera mandi dan berganti baju bersih yang sudah ayah bawakan di kamar mandi puskesmas tempat Ardi dirawat.
...♡♡♡...
"Kamu kemana kemaren ih? Ngga ada kabar apa-apa. Sampe Kak Ryan ke sini nyariin kamu terus pulangnya ngajak ke rumahmu takut kamu kenapa-napa"
Di sinilah aku saat ini yang dihujani pertanyaan oleh Rita begitu dia tiba di kelas. Kemarin waktu aku membawa Ardi ke puskesmas tidak sempat membuat surat izin dan tidak punya hape untuk menelpon Rita. Jadi sehari kemarin absen tidak mengabari siapapun.
"Kemarin aku sama Kak Ryan juga ke rumahmu, tapi ngga ada orang. Kami nanya ke tetangga, katanya kamu pergi pagi-pagi banget sama ayah dan adikmu. Kak Ryan khawatir banget loh"
__ADS_1
Rita menjelaskan dengan detail apa yang dia lakukan kemarin dengan Kak Ryan. Aku jadi teringat waktu Kak Ryan bertanya apakah Rita punya pacar atau tidak. Mungkin Kak Ryan ingin mendekati Rita. Aku pun tersenyum samar.
"Aku juga denger dari dia, kalo kemarin lusa kamu ketemu sama Kak Ryan dalam keadaan basah dan kotor. Apa kamu dibully waktu pulang sekolah?"
Rita tak memberikan jeda untukku sehingga aku tak bisa menjelaskan apapun. Dan kabar pembullyan ini akhirnya sampai juga ke telinga Rita. Padahal aku ingin menyimpannya sendiri tanpa menceritakannya pada siapapun.
"Apa ini kelakuan Winda? Ayo cerita, Tik. Aku tuh ngga suka kamu diem gini. Jangan menyimpannya sendiri", desak Rita.
"Aku ngga papa kok Rit. Kamu ngga usah khawatirin aku", elakku.
"Jujur aja sama aku Tik, aku udah nganggep kamu sahabat aku. Kalo nenek sihir itu mengganggumu bilang aja, aku ngga bisa ngebiarin dia berlaku seenaknya padamu", aku hanya tersenyum kecut dengan sedikit mengangguk.
"Jangan cuma ngangguk aja, ayo ceritain sama aku. Terus apanya yang baik-baik aja? Kamu aja lesu kayak gini, ngga mungkin kamu baik-baik aja", Rita terus menceramahiku.
"Aku beneran ngga papa Rit, aku cuma khawatir sama keadaan Ardi. Kemarin dia demam tinggi sampe menggigil, jadi kami bawa ke puskesmas. Aku sibuk nemenin Ardi, jadi kemarin ngga masuk", ucapku untuk meyakinkan Rita.
"Beneran? Ardi sakit apa? kok sampe di rawat di puskesmas!?", Rita mulai melunak dan mendengarkanku.
Karena ayah memang memaksaku untuk masuk sekolah dengan berbagai cara. Akhirnya aku terpaksa masuk sekolah karena ayah memberikanku pilihan. Jika aku masuk, aku akan tetap melanjutkan sekolah. Tapi jika aku izin, maka ayah akan memintaku untuk putus sekolah.
Ini pilihan yang berat. Dan keinginanku yang paling utama adalah membuat ayahku bangga dengan prestasiku, jadi aku harus tetap sekolah.
"Sekarang keadaan adikmu bagaimana? sudah mendingan?", Rita terlihat masih mengkhawatirkanku.
"Sekarang sih sudah lebih baik, demamnya udah turun terus sedang pemulihan", aku menjelaskan.
"Syukurlah, nanti kamu langsung pulang atau ke rumah sakit dulu?", Rita kembali bertanya.
"Aku akan pulang dulu untuk ganti baju, habis itu mau ke puskesmas"
"Jadi tadi pagi kamu pulang dulu?"
"Iya, Ardi dititipkan ke perawat dulu karena ayah mengantarku ke rumah dan ke sini"
__ADS_1
"Loh, sepedamu kemana?", Rita keheranan.
Tiba-tiba saja suara Pak Sukri menginterupsi masuk dan memutus obrolan kami.
Kami mengikuti pelajaran dengan diam. Tapi pikiranku benar-benar tidak bisa fokus karena kepikiran pada Ardi. Aku khawatir dia akan mencariku dan membutuhkan sesuatu.
Di sana memang ada ayah, tapi ayah pasti juga kelelahan karena harus bolak-balik puskesmas dan rumah karena tidak ada siapapun di rumah. Jadi hanya aku yang bisa ayah andalkan untuk membantunya.
Aku mungkin tidak bisa membantu banyak, tapi setidaknya ayah tidak akan kelelahan untuk menemani Ardi seharian dan bisa sedikit beristirahat ketika aku menjaga Ardi. Jika ayah terlalu kelelahan, aku khawatir beliau akan sakit.
Aku harus fokus, agar impianku dapat terwujud!
Aku berbicara pada diriku sendiri untuk tetap semangat demi ayah dan Ardi. Waktu pun berlalu, kini tiba waktu istirahat yang siswa-siswi harapkan. Aku menelungkupkan tanganku di meja kemudian kepalaku juga seperti sedang mengantuk.
"Kamu lelah?"
Suara Rita kembali terdengar untuk memastikan keadaanku.
"Ngga papa, aku cuma lagi pengen gini aja", balasku.
Aku memejamkan mataku sejenak, sebenarnya aku lelah. Tapi aku menahannya karena kondisi yang tidak memungkinkan.
"Heh cupu!"
...♡♡♡...
Halooo! Selamat datang di karya author 🤗
Maaf jika masih banyak typo dan alur yang membosankan 🙂
Author sedang belajar mengusahakan yang terbaik.
Terima kasih 😊🙏🏼
__ADS_1