Since I Meet You

Since I Meet You
Sampai Mana?


__ADS_3

Mataku tak bisa lepas dari Kak Ryan. Dia benar-benar hebat dan aku berharap bisa bertemu dengannya sekali saja untuk memberikan ucapan selamat. Aku juga berharap suatu saat bisa mengikuti jejaknya dan bisa membuat ayah bangga dengan prestasiku.


Rasanya sayang sekali ketika tahu salah satu teman terbaik akan menjauh. Tapi takdir memang seringkali begini, dipertemukan dengan yang baik tapi cepat sekali berpisahnya. Perasaan kehilangan melingkupi hatiku, seakan berat untuk melepas orang yang sangat peduli padaku walau pertemuan kami terbilang baru.


Rangkaian acara class meeting sudah selesai, semua siswa mulai keluar dan pulang ke rumah masing-masing. Aku berjalan gontai menuju kantin untuk mengambil hasil jualanku hari ini. Mungkin akan tersisa banyak karena biasanya gorengan lebih banyak pembeli saat jam istirahat, sedangkan sekarang seluruh siswa sudah pulang.


Letak kantin sudah dekat, dan aku lihat masih ada beberapa siswa yang masih duduk di bangku kantin sambil bercanda. Aku melewati satu kerumunan yang cukup ramai, namun tiba-tiba seseorang memanggilku.


Aku spontan menoleh, ternyata mereka adalah Kak Ryan dan teman-temannya sedang berkumpul. Kak Ryan menghampiriku dengan senyum yang merekah. Senyum khasnya yang selalu aku ingat.


"Tika, kamu belum pulang?", Kak Ryan langsung menanyaiku begitu berada di hadapanku.


Aku pun mengangguk. "Iya kak, mau ngambil sisa jualan habis itu pulang. Oh iya, selamat ya kak!?"


"Terima kasih, aku harap kamu bisa seperti ini juga tahun depan", Kak Ryan menerima uluran tanganku dan menggenggamnya.


Kami berjabat tangan sambil melemparkan senyum masing-masing.


"Berarti kakak udah punya rencana melanjutkan kemana dong", aku cukup penasaran.


"Sebenarnya ada sih beberapa yang udah nawarin kemarin, tapi masih belum aku putuskan mau melanjutkan dimana", aku cukup kecewa karena tidak tahu kemana Kak Ryan akan melanjutkan sekolah siapa tahu suatu saat kami bertemu lagi.


Tunggu dulu, apa yang aku pikirkan? Mana mungkin aku bisa menyamai Kak Ryan. Aku seakan egois apabila menginginkannya tetap berteman denganku dan menahannya untuk tetap bersamaku.


Harusnya aku sadar diri, sedari awal pertemuan kami hanya sebatas tolong-menolong dan aku hanya berperan sebagai orang yang menerima pertolongannya. Berteman dengannya adalah bonus dari pertemuan kami.


"Wah, orang berprestasi memang beda kelasnya ya!?", ledekku.


Dia hanya terkekeh, "kamu bisa saja, padahal aku tidak begitu".


Lihatlah! bahkan dalam keadaan begini dia masih rendah hati.


"Hehe.. Kalau begitu aku permisi dulu kak, Tika mau pulang duluan".


"Tunggu! Kamu pulang pake apa?"


"Hemm, aku pulang jalan kaki kak"


"Kalo gitu aku antar, hitung-hitung buat hadiah perpisahan", Kak Ryan mengerlingkan matanya.


"Ih apa sih kak, masak nganter doang jadi hadiah"

__ADS_1


Aku tertawa karena ucapannya. Ada-ada saja isi pikiran Kak Ryan yang tidak bisa aku tebak. Aku jadi ingat pada Rita, hubungan mereka berdua bagaimana ya?


Aku sangat penasaran, tapi tak punya cukup nyali untuk bertanya langsunga pada Kak Ryan. Mungkin akan aku tanyakan besok pada Rita saja. Harusnya jika mereka sudah punya nomor hape masing-masing pasti akan saling berkirim pesan atau juga bisa dengan bertelepon.


Ah, aku benar-benar penasaran sekarang, batinku bergulat akan kemungkinan-kemungkinan jawaban yang akan aku terima dari Rita.


Tapi entah mengapa, rasanya seperti tidak rela jika aku mendengar bahwa mereka jauh lebih dekat dari sebelumnya. Mereka memiliki sedikit kecocokan, dan aku hanya seperti patung batu biasa yang berada di antara patung porselen. Tidak ada harganya. Satu-satunya hal yang membuatku tetap berada di antara mereka yaitu sebagai balas budi atas kebaikan-kebaikan mereka yang selalu membantuku.


"Aku izin dulu sama temen-temen ya!? kamu tunggu di sini sebentar. Kita ke parkiran bareng-bareng".


Aku hanya diam memandangi Kak Ryan yang bergegas menuju meja teman-temannya. Ada perasaan hangat melingkupi hatiku yang tidak aku tahu penyebabnya.


"Bro, gue balik duluan ya!? Nih uang buat bayar yang kalian ambil tadi", Kak Ryan terdengar akrab dengan temannya.


"Yah, mana asik kalo lo pulang bro. Kita ini ngumpul kan buat ngerayain keberhasilan lo sekaligus salam perpisahan buat sekolah ini"


"Bener tuh, kalo lo balik duluan jadi gagal asik dong", tambah salah satu teman Kak Ryan.


"Eh betewe, kalo ninggalin kita cuma buat nge-date sih, asal jangan lupa pj aja", tiba-tiba saja salah satu teman Kak Ryan menoleh padaku dengan sedikit menyeringai.


Satu per satu tatapan teman Kak Ryan mengarah padaku. Aku bergidik karena mereka menatapku aneh. Kak Ryan pun menepuk wajah temannya satu per satu.


"Huss.. Asal nyablak aja lo. Udah ngga usah didengerin mereka Tik", Kak Ryan membelaku.


"Ngga ada, ngga ada. Lagian dia cuma temen gue kok"


"Wah, kalo gitu kenalin ke gue dong Yan, siapa tahu dia jodoh gue"


Aku semakin tidak nyaman dengan obrolan teman-teman Kak Ryan. Aku ingin segera pergi tapi Kak Ryan telah memintaku menunggunya.


"Cuma kenalan aja ya!? Ngga boleh lebih"


"Widiiihhh.. Katanya temen, tapi kok posesif"


"Hahahahaha.." teman-teman Kak Ryan menertawakannya.


"Gue gamau aja kalo temen gue jadi korban lo-lo pada. Ngga rela gue kalo temen gue yang baik-baik aja dibikin nangis sama buaya kek kalian"


"Wiihh.. Jadi superhero nih ceritanya", teman Kak Ryan kembali nyeletuk.


"Jadi, mau kenalan ato ngga? Gue mau nganterin dia pulang nih, kasian dia nunggu lama"

__ADS_1


"Iye, iye, posesif amat sih"


Kak Ryan melambaikan tangannya memintaku mendekat. Aku hanya melongo dengan tatapan tak percaya. Kak Ryan membalas tatapanku dengan anggukan kepala. Begitu aku mendekat, tatapan mereka kembali berpusat padaku.


"Kenalin nih, temenku namanya Tika", Kak Ryan memulai perkenalan kami.


Teman-teman Kak Ryan yang berjumlah 6 orang pun ikut memperkenalkan diri.


"Tika, Anne Rahmatika", aku menjabat satu per satu tangan teman Kak Ryan.


"Rangga ato Angga juga boleh", Kak Angga orang yang paling dekat dengan posisiku saat ini. Penampilannya masih cukup rapi dibanding lainnya, dengan rambut klimis dan ketika aku perhatikan ada tahi lalat kecil di atas alisnya.


"Tomi, bisa dipanggil mas atau sayang", Kak Tomi mengerlingkan matanya, membuatku membuang muka karena malu. Wajahnya cukup tampan dan penampilannya agak berantakan dengan baju seragam yang sudah dia keluarkan dari celananya.


"Ishh.. Jangan ngegodain dia mulu Tom, dia tuh pemalu", Kak Ryan mengambil ancang-ancang ingin meninju Kak Tomi.


Semua temannya kembali meledek kami. Aku tak tahan ingin segera kabur karena wajahku terasa panas.


"Zacky atau Jack", Kak Zacky mengulurkan tangan melanjutkan perkenalan. Dia tersenyum sambil menatapku. Dia satu-satunya teman Kak Ryan yang memakai topi meski dipakai terbalik.


"Arkan"


"Luki", penampilan Kak Luki yang telah melepas seluruh kancing seragam dan memakai kaos hitam di dalamnya


"Enak aja Luki, Lukman", Kak Tomi mencibir. Aku hanya tersenyum mendengarnya.


"Elah, gaul dikit kenapa sih?", Kak Luki memasang muka masam.


"Ergi. Udah jangan dengerin mereka, yang paling baik di sini tuh cuma gue", Kak Ergi dengan percaya diri.


Mereka pun bersama-sama menyoraki kepercayaan diri Kak Ergi. Aku ikut tertawa melihat interaksi mereka.


"Jadi, hubungan kalian sudah sampai mana?".


...โ™กโ™กโ™ก...


Haloooo, selamat datang di karya author!


Maaf jika masih banyak typo bertebaran dan alur yang agak monoton ๐Ÿ™๐Ÿผ


Author sedang mengusahakan yang terbaik untuk novel ini ๐Ÿ™‚

__ADS_1


Dukung terus author dengan memberikan saran untuk kelanjutan kisah Tika dan Ryan yaa!? ๐Ÿ˜Š๐Ÿค—


Terima kasih ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿผ


__ADS_2