
''Tidak apa-apa, aku suka'', kalimat dan nadanya terdengar ambigu.
Aku memiringkan kepalaku menatapnya sambil mengernyitkan alis.
''Hei, apa-apaan raut wajahmu itu'', Kak Ryan terkekeh sambil memijat-mijat alisku menggunakan dua jempolnya seperti sedang meluruskannya.
''Kakak itu yang apa-apaan. Maksudnya apa juga giniin aku'', aku menghempaskan tangannya dengan sedikit kasar kemudian menutupi alisku.
''Habis kamu lucu kalo gitu'', kekehannya masih terdengar.
''Apanya yang lucu? Padahal aku nanya loh ini''
''Kamu mulai bawel ya sekarang!?''
Deg!
Aku tak bisa membuka mulutku lagi. Ucapan Kak Ryan seakan menamparku dengan kenyataan yang harus membuatku sadar posisiku saat ini.
''A-aku minta maaf kalau membuat kakak merasa tidak nyaman'', sesalku.
''Kamu ngomong apa sih!? Padahal aku seneng kalo bareng kamu'', dia mengatakannya tanpa melihatku karena harus fokus menyetir.
''Aku cuma khawatir kakak merasa ngga nyaman kalo aku terlalu banyak ngomong''
''Justru aku suka kalo kamu makin cerewet, itu artinya kamu nyaman temenan sama aku. Lagian aku kurang suka terlalu senyap, berasa lagi uji nyali'', aku membulatkan mata mendengar penuturan Kak Ryan.
Dia menebak kepribadianku semudah itu, tapi Kak Ryan ada benarnya. Aku memang jarang mengobrol panjang lebar selain dengan keluarga dan Rita selama ini. Aku akui bukan tipe orang yang mudah membuka obrolan dengan orang lain, tapi ketika bersama dengan orang terdekat, secara alami aku akan mengatakan apapun yang aku rasakan.
Aku baru mengenal Kak Ryan, tapi dia sudah begitu mengenalku. Aku bahkan tidak tahu apa-apa tentangnya, dan ini membuatku tidak nyaman. Aku ingin tahu banyak hal tentangnya, tapi aku khawatir akan menyinggung perasaannya.
''Kakak tahu darimana kalau aku seperti itu?", ah lupakan aku yang berpikir ingin tahu lebih banyak hal tentangnya. Aku bingung harus menanyakan apa pertama kali.
''Kamu itu pura-pura atau emang polos sih?", aku kembali mengernyitkan dahi.
''Siapapun pasti mudah menebak dirimu begini. Ah tidak, kecuali dirimu sendiri'', Kak Ryan mengatakannya sambil mengacak rambutku.
Jantungku seakan ingin meledak karena perlakuan Kak Ryan padaku dan detakannya terasa begitu keras, aku khawatir Kak Ryan akan mendengarnya. Padahal aku hanya mendapatkan perlakuan kecil begini.
Aku harus segera sampai agar terbebas dari perasaan ini, tapi waktu seakan melambat sehingga aku memutuskan untuk menatap jalanan lewat jendela saja. Ini lebih baik daripada bertatapan dengan Kak Ryan terus menerus.
...♡♡♡...
Mobil yang kami naiki pun berhenti tepat di depan rumahku. Aku segera melepas seatbelt dan bersiap keluar dari mobil Kak Ryan.
__ADS_1
"Ah iya kak, terima kasih ya atas tumpangan dan makanannya", ucapku sambil menoleh padanya yang masih membuka seatbelt-nya.
''Bukan apa-apa kok Tik. Justru aku yang makasih karena kamu udah mau ngumpul sama temen-temenku yang rada gesrek itu''
''Ngga apa-apa kok kak, mereka semua asik kok. Aku juga nyaman sama mereka, ngga kayak sama orang baru''
''Oh, mereka memang gitu. Tapi maaf nih kalo kamu jadi dipojokin mulu sama mereka, mereka kalo ngeledek orang emang susah dikontrol''
''Ngga usah dipikirin kak, kadang Rita juga gitu. Kalo gitu, aku pamit dulu ya kak!?'', seraya bersiap membuka pintu mobil.
''Tunggu, Tik!'', cegahnya. Aku mengernyitkan alis seakan menanyakan apa yang kurang. ''Boleh kita foto bareng!?''
''Hah!?'', pikiranku kosong seketika.
''Iya, kita, foto bareng'', Kak Ryan bergantian menunjuk dirinya sendiri kemudian diriku.
Wajahku memanas ''tapi aku malu kak''.
''Kenapa malu? kan cuma ada aku'', Kak Ryan seakan menegaskan keberadaan kami yang sebenarnya telah aku sadari dan ini ingin aku hindari.
''Buat kenang-kenangan, karena mulai besok kita tidak bisa bertemu di sekolah lagi''
''Satu aja ya!?'', aku menunjukkan telunjukku.
Kami pun mulai memposisikan diri dan Kak Ryan telah mengeluarkan hp yang sejak tadi berada di kantung celananya.
''Siap ya!? 1, 2, 3!'', Kak Ryan seperti memerankan fotografer.
''Ah, aku kurang pas nih. Ulang lagi, ya!?'', aku hanya mengangguk dengan pelan karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Kami pun kembali mengambil gambar sekali lagi, tapi lagi-lagi Kak Ryan protes karena ekspresiku yang menurutnya terlihat seperti orang yang terpaksa. Akhirnya kami mengulang hingga empat kali.
''Nah, ini baru bagus'', ucapnya bangga karena posisi yang dia inginkan tercapai.
''Kak Ryan ini sengaja atau memang posenya yang kurang pas?'', celetukku seketika yang membuat senyumnya sedikit memudar.
''Ngga ya Tik, posenya emang kurang pas makanya aku minta take ulang'', dia membela diri.
''Udah ah. Aku mau masuk dulu, khawatir ayah nyariin"
''Iya udah, makasih ya Tik'', balasnya. ''Kakak ngga mau mampir dulu!?''
''Ngga deh, salam aja buat ayah. Bilang makasih dan maaf kalo minjem kamunya kelamaan'', dia tertawa nyengir.
__ADS_1
''Apaan deh, ya udah aku mau masuk dulu kak''
Aku pun keluar dari mobil dengan mendekap dua tas milikku yang diberi olehnya dan juga yang aku bawa dari rumah. Aku lihat Kak Ryan melambaikan tangannya sambil memundurkan mobilnya.
Setelah Kak Ryan berbelok, aku pun masuk ke rumah di sambut oleh Ardi yang sedang belajar bersama ayah di ruang tamu.
''Eh, sudah pulang nduk!? Nak Ryan sudah pulang?", tanya beliau begitu aku masuk rumah.
''Iya, Yah. Dia cuma titip salam dan bilang maaf'', singkatku.
''Maar? untuk apa?'', nampak jelas raut wajah keheranan ayah.
''Karena minjem akunya kelamaan'', aku tak berani menatap wajah untuk membaca ekspresinya.
''Ya ampun, ayah kira apa toh, nduk. Ya sudah, kamu mandi dulu habis itu istirahat", titah beliau.
"Siap, yah! Laksanakan!", sembari berpose hormat seperti di upacara bendera.
Ayah tertawa melihat tingkahku. Senang rasanya melihat ayah tertawa seperti ini, dan sepertinya aku telah lama tidak melihat ayah tertawa begini. Aku jadi bertekad untuk membuat ayah bahagia dan terus tertawa begini.
...♡♡♡...
Hari terus berlanjut, dan kini aku telah memasuki masa-masa ujian kenaikan kelas. Jangan ditanya bagaimana sibuknya aku belajar, karena aku benar-benar ingin memfokuskan diriku di ujian kali ini.
Aku ingin nilaiku semakin tinggi daripada ujian semester ganjil kemarin agar ayah senang. Sebenarnya nilaiku tidak terlalu buruk, hanya saja aku tetap ingin membuatnya sedikit naik atau minimal mempertahankannya.
Rita yang biasanya bermain-main pun kini tengah berjuang dengan sungguh-sungguh. Katanya dia tidak mau nilainya kalah denganku. Aku tertawa menanggapinya, karena sebenarnya aku tidak pernah mengajaknya berkompetisi mendapatkan nilai tertinggi.
Ketika aku sedang latihan soal, tiba-tiba saja Rita menepuk lengan kiriku yang berada di atas meja. Aku menoleh kemudian menatapnya seakan memberikan isyarat "ada apa?''
Rita terdiam sambil menatap pintu. Aku pun mengekori arah pandang Rita dan aku lihat seseorang berdiri di sana. Seseorang yang telah lama tidak aku temui dan aku tak berusaha menemuinya. Bukannya aku tidak suka ataupun menghindarinya, tapi aku tidak punya waktu dan juga tidak punya akses apapun untuk menghubunginya. Aku kehilangan kontak dengannya.
Dia melangkah perlahan ke arah bangku kami seraya memamerkan senyumnya yang khas seakan menyapa kami "hai!''.
...♡♡♡...
Haloooo, selamat datang di karya author!
Maaf jika masih banyak typo bertebaran dan alur yang agak monoton 🙏🏼
Author sedang mengusahakan yang terbaik untuk novel ini 🙂
Dukung terus author dengan memberikan saran untuk kelanjutan kisah Tika dan Ryan yaa!? 😊🤗
__ADS_1
Terima kasih 😊🙏🏼