
"Heh cupu"
Ah, suara ini lagi.
Aku malas sekali untuk meladeni satu makhluk bernama Winda ini. Aku ingin sekolah dengan tenang, tapi kenapa dia tidak pernah lelah menggangguku?
Aku belum mengangkat kepalaku hingga Rita menyenggolku.
Aku menoleh ke arah Rita dan kami saling bertatapan seakan dia memberi kode untuk melihat apa yang ada di hadapanku. Aku pun bangun meluruskan posisi selayaknya duduk.
Aku lihat ada Winda yang berdiri di hadapanku, dan Kak Ryan berada di belakangnya. Tunggu! kenapa Kak Ryan berada disampingnya? Aku melongo bingung dengan kejadian ini.
"Tunggu apa lagi? cepat ngomong!", titah Kak Ryan.
Winda berekspresi masam saat mendengar perintah Kak Ryan. Aku tahu dia sedang kesal setengah mati padaku.
Dia merotasikan matanya malas, "sorry, udah bikin lo kayak kemaren".
Dengan ekspresi menyebalkan dia mengatakan itu. Sedangkan Kak Ryan hanya tersenyum manis seakan semuanya baik-baik saja.
"Aku udah bilang, mas. Tuh dianya yang ngga ngebales. Udah aku bilang ini cuma akal-akalannya dia buat ngejauhin kita", Winda merengek.
"Mana mau dia maafin kamu kalo kamu ngga tulus gitu, cepet minta maaf yang bener", perintah Kak Ryan.
Winda terlihat ogah-ogahan untuk meminta maaf padaku. Mungkin dia sangat terpaksa dan ini hanya rencananya untuk tetap berdekatan dengan Kak Ryan.
"Tika, aku minta maaf ya!? aku janji ngga bakal gitu lagi ke kamu", hatiku tertawa melihat senyum Winda yang begitu dipaksakan agar drama ini cepat selesai.
Ku lihat Rita hanya tersenyum mengejek. Sudah pasti dia kesal sekali dengan kelakuan Winda dan ini kesempatan bagus untuk mengejeknya karena dia akan berpura-pura jadi anak penurut di hadapan Kak Ryan.
"Jadi, kamu mau minta maaf? Kalo gitu sekalian aja minta maaf sama semua yang udah kamu bully", Rita bersidekap dengan senyum menyeringai.
"Apa maksudmu? Aku ngga pernah gangguin orang lain kok", kini muka Winda sedikit panik dan aku menangkap kegugupan dari ucapannya.
Kak Ryan hanya diam tak mengeluarkan ekspresi apapun. Winda melirik Kak Ryan seperti takut, gugup dan ingin segera mengakhiri semua ini.
"Mana mungkin aku percaya, bukannya waktu aku baru pindah kamu sudah mengancamku? Pasti di sekolah ini juga banyak yang kamu perlakukan begitu", mana mungkin Rita mau melepaskan Winda begitu saja.
"Sembarangan kamu, kamu pikir Mas Ryan akan percaya? Aku tidak pernah begitu. Ah sudahlah, yang penting aku sudah meminta maaf", ujarnya kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
"Ah ngga seru, harusnya Kak Ryan bantuin aku tadi biar dia kapok", Rita memprotes Kak Ryan yang diam saja.
"Biar dia cepat pergi. Oh iya, gimana kabarmu Tik? Kamu ngga sakit kan? Aku baru tahu dari Rita kalo kamu masuk hari ini", sekarang gantian Kak Ryan yang memberondongiku dengan pertanyaan.
Aku menggeleng, "Aku nggak apa-apa kok kak".
"Lalu, kenapa kemarin kamu tidak masuk? Aku tanya Rita, dia juga tidak tahu", Kak Ryan sungguh tidak sabaran.
"Hah, tenanglah kak. Kemarin aku ada keperluan mendadak", alibiku.
"Adiknya..", aku segera memotong ucapan Rita dengan membungkam mulutnya.
"Ah Rita, ayo ke kantin. Aku sedang lapar saat ini. Kalo gitu aku mau ke kantin dulu sama Rita", aku mengelak dan berniat kabur agar Kak Ryan tidak bertanya terlalu jauh.
"Kalian menyembunyikan sesuatu ya!?", selidiknya.
Aku melambaikan tangan kananku selagi tangan kiriku membungkam mulut Rita. Sedangkan Rita sedikit memberontak ingin melepaskan tanganku dari mulutnya.
"Tidak, tidak, aku hanya lapar dan ingin segera ke kantin. Tadi pagi belum sempat sarapan", aku mengalihkan pembicaraan. Tapi memang begitu yang sedang aku rasakan saat ini.
"Ya sudah, kalau begitu kalian cepat ke kantin sebelum bel masuk", ucap Kak Ryan.
Kak Ryan hanya mengangguk. Aku segera menarik Rita ke tempat lain agar dia tidak sempat membuka mulutnya.
Begitu di luar, Rita memasang wajah cemberut. Dia kesal karena aku tidak mengizinkannya mengatakan apapun pada Kak Ryan.
"Kamu kenapa nutupin mulutku gitu sih", dia mulai protes seperti biasanya.
Aku hanya mengedikan bahu, "entahlah, aku refleks menutup mulutmu agar tidak terlalu panjang bercerita. Lagipula aku juga khawatir kalo kamu memberi tahu masalahku pada Kak Ryan".
"Memangnya kenapa? Bukankah dengan bercerita kamu akan lebih lega!?"
"Sebagian orang memang begitu, tapi aku tidak. Aku khawatir jika aku menceritakan masalahku, orang lain akan menganggapnya sebagai hal yang tak penting karena masalah orang itu beda-beda"
Rita hanya menatapku, aku tidak tahu dia akan paham penjelasanku atau tidak.
Rita mengerjapkan mata sejenak, "tapi kan itu lebih baik daripada di simpan sendiri".
Sepertinya Rita mencerna ucapanku lebih dulu dan memikirkan apa yang akan diucapkannya tadi.
__ADS_1
"Iya memang, tapi entah kenapa aku tidak terlalu suka mengumbar masalahku pada orang lain", balasku.
"Sudahlah, yang penting kamu harus menceritakannya padaku. Tidak masalah jika kamu mau menyimpannya dari orang lain, asalkan jangan dariku"
Aku hanya mengangguk mengiyakan permintaan Rita. Itu tidak terlalu sulit untukku, dan yakin bisa melakukannya.
...♡♡♡...
Sepulang sekolah aku pulang lebih dulu ke rumah dengan diantar Rita dan Mama Risa tentunya. Rita yang tahu bahwa aku diantarkan oleh ayah memaksa untuk mengantarku kemudian ingin menjenguk Ardi di puskesmas.
Kami sampai di puskesmas ketika jam menunjukkan angka 2. Di sana sudah ada ayah yang menemani Ardi, tengah menyuapi Ardi makan. Aku lega melihat keadaan Ardi yang sudah lebih baik.
Aku mempersilakan Rita dan Mama Risa masuk ke dalam ruangan luas yang telah dihuni beberapa orang termasuk dengan Ardi. Aku tidak mempermasalahkan jika fasilitasnya tidak terlalu bagus asal pelayanannya bagus dan keadaan Ardi membaik.
Mama Risa menanyakan keadaan Ardi pada ayah sambil memberikan roti dan susu yang sempat beliau beli di mini market tadi. Aku duduk di samping kanan brankar yang ditempati Ardi.
Beberapa menit berlalu, tiba-tiba saja Kak Ryan masuk dan menghampiri kami.
"Kak Ryan tahu darimana kalau kami di sini?", aku spontan berdiri dari posisiku.
Kak Ryan hanya tersenyum sambil melirik Rita. Yang dilirik hanya menyengir seakan tak bersalah.
"Kak Ryan memaksaku untuk jujur Tik".
Aku menghela napas tak habis pikir dengannya, "memangnya kapan kalian ketemu? bukannya kamu bareng aku terus?".
"Aku tanya dia lewat chat".
Sekarang gantian Kak Ryan yang menjawab dengan tersenyum. Aku jadi mengerti sekarang. Mungkin mereka bertukar nomor telpon saat mencariku kemarin.
"Aku temanmu juga kan!? Harusnya kamu memberi tahuku juga, bukan hanya Rita"
...♡♡♡...
Halooo! Selamat datang di karya author 🤗
Maaf jika masih banyak typo dan alur yang membosankan 🙂
Author sedang belajar mengusahakan yang terbaik.
__ADS_1
Terima kasih 😊🙏🏼