Since I Meet You

Since I Meet You
Aku Suka


__ADS_3

"Kamu ngga suka sama Kak Ryan?"


"uhuukk uhhuuk", aku tersedak ludahku sendiri karena pertanyaan Rita tadi.


"A-apa sih Rit, kamu ngagetin aja", aku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ayo jawab Tik! Jangan ngalihin pembicaraan", Rita menyadari usahaku.


"Aku suka"


"Beneran?"


"Iya, sebagai teman"


Ada perasaan aneh saat aku mengatakannya. Seperti sesak tapi bukan asma. Atau mungkin ini gejala serangan jantung. Entahlah, aku tidak mau memikirkannya lagi.


"Ah Tika, aku hampir aja teriak. Masak perasaan kamu sebatas itu aja?"


"I-iya mau gimana lagi. Kak Ryan pasti menganggapku juga begitu"


"Tapi kan dia perhatian sama cewek cuma ke kamu aja. Kamu ngga baper sedikitpun gitu?"


"Baper itu apa Rit?", aku sungguh tidak tahu istilah yang Rita gunakan.


"Baper itu bawa perasaan Tik. Kayak waktu kamu diperhatiin sama Kak Ryan, apa kamu ngga merasa dispesialkan sama dia? Kalo iya, berarti kamu baper Tik", nada bicara Rita terdengar gemas dengan kepolosanku.


Mau bagaimana pun, aku bukan orang yang mengetahui hal-hal yang anak muda zaman sekarang lakukan. Istilah-istilahnya pun terdengar aneh di telingaku. Rita kadang mengatai aku kebanyakan nongkrong sama bapak-bapak, makanya tidak tahu istilah-istilah baru yang anak muda ciptakan.


Pada dasarnya aku memang polos dan gaptek. Hape saja aku tidak punya dan tidak tahu cara kerjanya. Mungkin jika diajari sedikit bisa. Tapi kalau dipikirkan ulang untuk apa aku punya hape? Keluargaku hanya tersisa ayah dan Ardi. Kakek dan nenek di kampung juga sudah meninggal, hanya ada paman dan bibi yang sama-sama gapteknya denganku. Jika aku ingin berbicara dengan mereka, aku harus menelpon ke rumah kepala desa karena mereka juga tidak punya hape ataupun telpon rumah.


Mungkin suatu saat aku juga akan membeli hape jika dibutuhkan dan uang tabunganku cukup untuk membelinya. Tapi untuk saat ini, sepertinya aku tidak terlalu butuh.


"Ngga tuh, aku ngga baper", balasku.


"Ah sudahlah, kamu memang manusia spesies tidak peka"


"Hei! Apa maksudmu? Aku peka kok"

__ADS_1


"Buktinya kamu ngga sadar sama perhatian yang Kak Ryan kasih ke kamu"


''Sudah aku bilang itu hanya bentuk peduli pada sesama teman''


"Terserah kamu aja Tik, aku mau ke kantin dulu sebelum bel''


Rita pun beranjak pergi menuju kantin sekolah. Aku tetap terpaku di bangkuku sambil memikirkan ulang ucapan Rita. Sebenarnya aku tidak terlalu sungguh-sungguh saat menjawabnya tadi. Itu hanya bentuk refleks yang spontanitas aku ucapkan ketika tersudut seperti tadi.


Rita yang terus mendesakku memaksa untuk segera menjawab pertanyaannya membuatku ingin segera mengakhiri perdebatan kami dengan jawaban yang aku berikan. Dan ternyata siasatku berhasil, namun berakhir pada perasaanku yang tidak bisa tenang.


Lagi pula, Rita bilang dia menyukai Kak Ryan. Jadi tidak mungkin jika aku juga mengatakan bahwa aku menyukai Kak Ryan juga. Itu akan menyakiti hati Rita, dan membuatnya terluka.


Aku tidak ingin egois dengan perasaanku sendiri. Biarkan aku mengalah demi kebahagiaan Rita. Aku ingin membuatnya bahagia meski hanya sekali dan menurutku ini tidak seberapa dibandingkan dengan kebaikan yang aku terima darinya.


Rita terlalu baik, dan tidak pantas rasanya jika aku dengan sengaja mengatakan aku menyukai Kak Ryan agar Rita menjauh dan menciptakan jarak antara kami. Yang kulakukan saat ini hanyalah demi kebahagiaan Rita semata, aku berharap Kak Ryan juga membalas perasaan Rita padanya.


Aku ingin melindungi, menyayangi dan juga membahagiakannya walau usahaku tak seberapa.


...♡♡♡...


Hari Minggu begini adalah hari yang menyenangkan bagi sebagian orang, tapi tidak bagiku. Setiap Minggu aku akan pergi dari satu rumah ke rumah yang lain untuk mengambil pekerjaan sebagai buruh cuci.


Aku tidak ingin memaksakan diri agar ayah juga tidak terlalu khawatir. Aku pun menghabiskan waktu dengan membereskan dan juga bersih-bersih rumah.


Saat jam menunjukkan angka 8, terdengar suara mobil yang parkir di depan rumah. Aku pikir tetangga sebelah yang hendak keluar dan sedang mengunci pagarnya, tetapi beberapa saat kemudian terdengar orang yang memanggilku. Aku pun keluar karena posisiku saat itu sedang berada di kamar mandi untuk mencuci baju.


Ternyata ada Kak Ryan yang datang bertamu. Aku mempersilakannya masuk kemudian membuatkannya teh ke dapur sekaligus membereskan pekerjaanku sebentar.


Aku membawa teh yang sudah aku buat menuju ruang tamu yang kini ditempati oleh Kak Ryan.


''Silakan diminum tehnya kak. Tumben kakak kemari, ada apa ya!?'', tanyaku begitu sampai di ruang tamu.


''Aku minum ya!?", pamit Kak Ryan kemudian menyeruput tehnya perlahan.


''Begini Tik, teman-temanku mengajak untuk mengadakan acara perpisahan gitu, tapi tempatnya di cafe. Mereka nyuruh aku buat ngajak kamu sama Rita juga karena mereka bilang boleh ngundang temen terdekat gitu''


''Sekarang kak!?", aku refleks bertanya karena aku belum bersiap.

__ADS_1


''Nggak juga, nanti agak sorean. Aku udah chat Rita, katanya dia sih bisa. Makanya aku dateng kemari buat mastiin kamu bisa apa ngga!?'', jelas Kak Ryan.


''Hemm, gimana ya kak!? Kayaknya aku ngga bisa deh'', tolakku.


''Yah, masak ngga bisa sih. Padahal aku ngarep kamu bisa, kasian tuh Rita kalo kamu ngga ikut Tik''


Aku mempertimbangkan ulang ajakan Kak Ryan. Ucapannya benar, Rita pasti canggung jika aku tidak ikut.


''Tapi aku ngga punya baju bagus kak''


''Tenang aja, kalo kamu kepikiran itu biar aku yang urus. Sekarang keputusan kamu mau ikut atau ngga!?'', dia memastikan kembali.


''Tempatnya jauh atau ngga!?'', aku balik nanya.


''Jangan kamu pikirin, ntar aku yang urus semua. Aku yang bakal nganter sama ngejemput kamu juga'', Kak Ryan meyakinkanku.


''Hmm, iya deh'', aku memutuskan untuk ikut.


''Yes, jadi sekarang kamu siap-siap, kita cari baju buat kamu. Aku yang bayar, kamu cuma tinggal milih mana yang kamu suka'', matanya terlihat berbinar-binar mendengar jawabanku.


''Harus sekarang banget!?'', aku menatap ragu


''Iya dong, kalo ntar sore nyarinya kita bakalan buru-buru''


''Ya udah, aku mau mandi sama siap-siap dulu kak. Kakak ngga apa-apa kalau aku tinggal?'', aku tidak nyaman meninggalkannya sendiri.


''Iya, ngga usah khawatir. Aku kan cuma nunggu kamu mandi, bukan nunggu kamu perang''


...♡♡♡...


Haloooo, selamat datang di karya author!


Maaf jika masih banyak typo bertebaran dan alur yang agak monoton 🙏🏼


Author sedang mengusahakan yang terbaik untuk novel ini 🙂


Dukung terus author dengan memberikan saran untuk kelanjutan kisah Tika dan Ryan yaa!? 😊🤗

__ADS_1


Terima kasih 😊🙏🏼


__ADS_2