
'Ah, senyum itu'
Senyum itu yang benar-aku rindukan. Tapi, apakah aku pantas mengatakannya!? Aku sadar bukan siapa-siapa baginya, aku ingin sekali mengatakannya.
''Mau diem aja nih!?'', Kak Ryan memutus lamunanku
''Kak Ryan! Gimana kabar kakak?'', Rita terdengar antusias sekali dengan pertemuan ini.
''Seperti yang kalian lihat. Sibuk belajar aja nih?'', aku akui interpersonal Kak Ryan bagus sekali.
"Iya nih kak, Tika ngga ngebiarin aku istirahat bentar. Dia ambisius banget! kayaknya mau nyaingin kakak", Rita seakan mengadu pada kakaknya.
"Baguslah kalau gitu. Kakak lebih senang kalau prestasi kakak malah bikin orang lain termotivasi terus jadi rajin deh''
''Kak Ryan sama Tika sebelas-dua belas deh, ngga suka liat aku seneng dikit'', Rita membuat mimik marah.
''Jangan marah dong, adikku yang manis. Kakak minta maaf ya!?'', Kak Ryan merayu.
''Tambahin cantik dong, baru mau aku maafin'', Rita memasang tampang menggemaskan dan membuatku tersenyum tanpa sadar saat menonton interaksi dua orang di depanku ini.
''Maafin kakak, ya, Rita yang cantik dan manis!? Kakak kan ke sini pengen ketemu kalian sekaligus nyembuhin kangen, masak baru dateng diambekin sih''
''Iya, iya, sekarang aku maafin. Aku juga kangen sama kakak dan yang lain. Pengen ngumpul kayak dulu itu, sesekali aku juga ketemu Kak Ergi kalo dia lagi sepedaan di komplek. Katanya liburan aja ngga enak, buru-buru pengen masuk sekolah dia''.
''Hahahaha'', mereka tertawa bersama.
''Tapi ngga asik nih, masak cuma kakak doang yang kangen'', aku kenal sekali Kak Ryan kalau sedang memberi kode seperti ini.
''Ngga tau tuh. Hobi banget nontonin orang ngomong''
Ah, mereka kembali menggodaku. Antara kesal dan juga rindu, aku tak bisa memungkiri perasaan senangku saat moment seperti ini terulang kembali.
''Ka-kalian ngomong apa sih'', aku jadi tidak bisa merespon sesuai keinginanku.
"Kalau tau bakal dicuekin begini, pasti aku ngga bakal mampir ke sini'', Kak Ryan kembali berakting.
"Kalau begitu kakak pulang saja sana'', sebenarnya berat mengucapkan ini, tapi aku tidak punya cara lain agar tidak semakin salah tingkah.
__ADS_1
''Wah, kakak diusir nih Rit, beneran nih yang kakak denger!?''
''Mulutnya aja yang nyuruh pergi itu kak, kalau dalam hati udah pasti lompat-lompat kegirangan ngeliat kakak di sini''
Aku tak dapat menjawab, ucapan Rita seakan pedang yang tiba-tiba menusuk. Aku hanya menunduk sambil melihat sekitar dengan ujung mata untuk memastikan perhatian seluruh teman kelasku tidak mengarah pada kami.
''Tuh, tuh, aku bilang apa kak. Ngga bakal berani dia ngusir kakak''
''Hahahahaha'', Kak Ryan tertawa mendengar celoteh Rita.
Kedua orang ini benar-benar membuatku mati kutu. Kak Ryan dan Rita adalah kesatuan yang tidak bisa dibiarkan. Bisa jadi setelah pertemuan ini ada banyak gosip yang menyebar di sekolah.
Aku tidak mau punya masalah hanya karena hal sepele lagi. Cukup sekali saja aku bermasalah dengan Winda hanya karena rumor yang dibuat anak-anak lainnya.
''Kok diem aja sih neng!? ngelamunin abangnya ya!?'', Rita menyikut lenganku.
''Apa? Ngga kok, mau ngelamunin apaan?'', sanggahku.
''Ngga usah ngelak, keliatan banget tadi'', rasanya pipiku sudah memerah seperti kepiting rebus gara-gara Rita, sedangkan pihak satunya hanya tersenyum geli menonton kami berdua.
''Eh, kok tau!? kamu dukun, ya!?'', salah besar aku memilihnya. Yang ada hanya tawa Rita yang semakin meledak karena Kak Ryan bisa membungkamku kembali.
''K-ka-karena biasanya orang mau kesurupan suka begitu'', tidak ada kata lain yang muncul di otakku selain ini.
''Kalo kamu tau, berarti kamu dukun dong'', Rita kembali terpingkal-pingkal karena obrolan absurd kami.
Begitulah waktu kami habiskan hingga bel masuk tiba dan Kak Ryan keluar dari ruang kelas kami. Aku menatap punggungnya yang pergi menjauh dari posisiku. Ada rasa sedih dan berat hati aku melepasnya, tapi aku harus tetap mewanti-wanti diri untuk sadar bahwa aku bukan siapa-siapa baginya.
''Ehem, kayaknya ada yang ngga rela pangerannya pergi nih'', Rita mulai mengompori lagi.
''Lanjutin latihan soal'', ujarku jutek.
''Ck, mulai deh otoriternya'', Rita memanyunkan bibir.
...♡♡♡...
Sejak pertemuan hari itu, tak pernah lagi aku bertemu dengan Kak Ryan. Aku tidak masalah meski tak bisa bertemu dengannya, tapi terkadang tanpa sadar dalam hati aku merindukan senyumannya.
__ADS_1
Aku sadar bahwa perbedaan antara kami berdua sangat jauh, tapi tetap saja aku tidak bisa mengontrol perasaan yang tiba-tiba muncul begitu saja. Aku hanya bisa mencoba mengalihkannya dengan tetap menyibukkan diri untuk belajar dan berjualan untuk tetap bertahan hidup bersama keluargaku.
Belajar dan bekerja terus aku jalani sepanjang hari hingga aku lupa untuk memikirkan hal lain di luar rutinitas prioritasku. Kenaikan kelas juga telah aku lewati dan nilaiku masuk 5 besar satu angkatanku. Aku berhasil meningkatkan nilaiku dan membuat ayah bangga karena aku telah berjanji tidak akan lalai belajar dan meraih nilai bagus demi bisa berjualan untuk tambahan penghasilan keluarga.
Sayang sekali tahun ini aku tidak satu kelas dengan Rita lagi, tapi kami berdua tetap menjalin persahabatan dan Rita sering menghampiriku ke kelas untuk mengajak makan siang di kantin.
Baik Rita ataupun aku juga mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, meski tidak sejago Kak Ryan. Ah, nama itu kembali teringat.
Aku mengingatnya bukan karena ingin, tapi karena tidak sengaja mendengar salah satu siswa bercerita tentang saudaranya yang satu sekolah sekaligus satu kelas dengan Kak Ryan di SMA favorit kota ini.
'Pasti dia sudah memiliki banyak teman di sekolah barunya' gumamku tanpa sadar.
Apa yang aku pikirkan? Sudah pasti dia mudah mendapatkan teman dengan karakternya yang begitu. Dia juga baik dan berprestasi, mana mungkin ada orang yang dengan tega memusuhi orang sepertinya.
Rasanya aku tercekat mengingat betapa dia diidolakan saat masih satu sekolah denganku, dan sialnya aku yang bukan siapa-siapa ini bisa berteman dekat dengannya. Apakah ini sebuah ironi atau keberuntungan bagiku?
Huft
Aku tak bisa menjabarkannya dengan jelas, tapi aku harus tetap sadar diri. Mana mungkin seorang pangeran berteman dengan upik abu begitu saja!? Diluar sana banyak yang lebih cocok menjadi temannya, dan lambat laun dia akan melupakanku.
Dan sejak saat ini aku bertekad untuk menjadi lebih baik demi ayah dan adikku. Mereka yang aku miliki tak akan kubuat menyesal dengan apa yang aku capai.
Dua tahun kemudian.
"Tika, ke kantin yuk!"
...♡♡♡...
Haloooo, author balik lagi nih!
Maaf baru nongol lagi, karena kesibukan di rl sungguh tidak bisa dihindari.
Author sedang mengusahakan yang terbaik untuk novel ini 🙂
Dukung terus author dengan memberikan saran untuk kelanjutan kisah Tika dan Ryan yaa!? 😊🤗
Terima kasih 😊🙏🏼
__ADS_1