Since I Meet You

Since I Meet You
Memori


__ADS_3

"Tika!", Pak Syarif tersenyum hangat dan memunculkan kerutan-kerutan di sekitar pipi, mulut dan hidungnya.


"ya, pak! ada apa bapak memanggil saya?", aku menghampiri Pak Syarif yang sedang duduk di tempatnya.


"ini untukmu, jangan lupa semangat belajar", Pak Syarif menyodorkan sebungkus roti cokelat seperti yang biasa aku beli di kantin.


"ah bapak pasti dengar suara perut saya yang nyanyi, kan!?", aku melirik Pak Syarif yang terkekeh.


"itu tidak penting, sekarang kamu makan roti itu lalu masuk ke kelasmu. Biar bapak yang izinin telat kalo kamu sedang bantuin bapak beresin buku perpus", beliau beranjak dari duduknya seraya mengambil telpon genggamnya.


"beneran, pak!? wah makasih banget, ya, pak!?", ucapku yang berbinar mendengar pernyataan Pak Syarif.


"Jam nya siapa kamu hari ini?", lanjutnya tanpa menjawabku


"Jamnya pak Hendri, pak!", jawabku antusias.


"santai saja dan nikmati makananmu dulu, aku akan menemui pak Hendri untuk meminjam waktumu 10 menit", Pak Syarif menepuk bahuku seraya berlalu mencari Pak Hendri untuk memohonkan izin terlambat untukku.


Aku pun membuka bungkus roti yang Pak Syarif berikan dengan senang kemudian melahapnya. Aku benar-benar berhutang budi pada beliau karena beliau rela berbohong demi aku yang kelaparan ini.


Suatu saat aku akan membalas jasamu, pak!, batinku


Setelah sebungkus roti sudah aku habiskan, aku meminum segelas air mineral yang Pak Syarif berikan sebelum keluar tadi. Karena aku bosan, aku pun bangkit sambil memungut beberapa buku yang ditinggalkan para siswa di atas meja untuk aku kembalikan ke rak bersama koleksi lainnya. Aku terbiasa melakukan ini bersama Pak Syarif ketika sekolah sedang dalam masa ujian dan classmeeting, sehingga aku lumayan hafal letak koleksi perpus sekolah.


5 menit berlalu, Pak Syarif pun kembali dan terkejut karena pekerjaannya telah aku selesaikan. Ya, biasanya Pak Syarif akan membereskan buku-buku tadi sendirian, dan sekarang aku melakukannya karena aku merasa tidak nyaman jika melihat sesuatu yang berantakan. Pak Syarif menghampiriku yang tengah duduk menunggu kedatangan beliau.

__ADS_1


"bagaimana, Pak?", aku spontan bertanya


"ternyata Pak Hendri sedang ada keperluan di luar, jadi kamu boleh kembali ke kelasmu. Takutnya kamu ketinggalan tugas yang diberikan oleh beliau", tutur beliau.


Aku pun manggut-manggut paham.


"baiklah, pak. Saya permisi dulu, dan juga terima kasih atas rotinya", aku tersenyum lebar ke arah Pak Syarif.


"sudahlah, aku sudah menganggapmu seperti anakku. Pergilah, dan kerjakan tugasmu dengan giat", pesan beliau. Aku pun mengangguk dan segera meninggalkan perpustakaan. Aku segera berlari mengingat letak kelasku yang cukup jauh.


Sesampainya di kelas, aku segera duduk di sebelah teman sebangkuku yang bernama Rita. Rita menatapku aneh karena aku terlambat masuk dari biasanya.


"kamu kemana Tik? tumben telat!?", Rita kembali mengalihkan pandangannya ke arah bukunya karena saat aku tiba Rita sedang mengerjakan tugas.


"oh, tadi dari perpus. Habis bantuin Pak Syarif ngeberesin buku. Katanya Pak Hendri ngga ada, ya!?", aku mengalihkan pembicaraan.


"hahaha.. bukannya kamu memang selalu malas!? kecuali kalo ngegosipin do'i sih", godaku.


"hehee.. kamu tau aja deh Tik. Oh iya, kamu udah tau tugasnya?", Rita mengingatkan


"belum. Halaman berapa memangnya?", ucapku sambil melihat LKS Rita.


"emmm.. Halaman 29, Tik", jawabnya sambil menggigit ujung bolpoinnya.


"Sepertinya udah aku kerjain, deh", setelah aku cek LKSku telah terisi.

__ADS_1


"wah, yang benar? ngga heran sih kalo kamu masuk 10 besar. Tugasnya blom di kasih, tapi udah dikerjain. Wah, wah, hebat!", Rita berseru lumayan kencang yang membuat perhatian siswa beralih ke arah kami berdua.


"psstt.. kamu bisa nggak sih ngomongnya pelan-pelan aja!?", aku menegur Rita yang sering kali lepas kendali suaranya.


"iya, iya.. maaf", Rita terkekeh.


Kami pun kembali disibukkan dengan tugas masing-masing. Aku mengerjakan halaman lain yang belum aku kerjakan, dan Rita melanjutkan tugas yang diberikan.


...♡♡♡...


Waktu pun berlalu, dan tibalah waktu untuk pulang. Semua siswa sibuk membereskan buku-bukunya kemudian menghambur keluar kelas setelah membaca doa dan berpamitan pada guru. Ketika siswa lain pulang sekolah, mereka akan segera menuju parkiran untuk mengambil sepeda yang mereka gunakan atau menunggu jemputan di luar gerbang sekolah. Aku yang saat ini tak membawa sepeda hanya berjalan santai setelah mengambil keranjang dan hasil penjualan gorengan hari ini dari Bu Ida. Aku menyimpan uang yang ku peroleh di dalam saku sambil berjalan menuju jalan raya tempat biasanya angkutan umum lewat.


Aku menoleh ke kanan-kiri jalan sambil memikirkan apa yang akan aku masak untuk aku makan dengan ayah dan adikku. Beras dan bahan makanan di rumah sudah habis. Jadi, aku memutuskan untuk pergi ke pasar terlebih dahulu untuk belanja kemudian akan pulang dengan berjalan kaki untuk menghemat. Jalan menuju rumah sekitar 20 menit dan untuk pergi ke pasar sepertinya akan membutuhkan waktu lebih dari ini.


Aku terus melangkah dengan semangat untuk segera pulang sambil bersenandung. Ku lihat pasar yang aku tuju mulai terlihat di seberang sana, dan aku hanya perlu menyeberang jalan. Ku lajukan langkah lebih cepat, dan tanpa sengaja ku lihat tali sepatuku yang sudah jelek terlepas. Aku memang hanya punya satu sepatu, dan ini sudah aku pakai sekitar 3 tahun. Jadi tak heran jika sepatuku berdebu dan terdapat tambalan di atasnya.


Aku segera berjongkok untuk memperbaiki tali sepatuku, dan mengikatnya kembali dengan rapi. Aku masih ingat betul usaha ayah dan ibuku untuk membelikan sepatu ini untukku. Ayah bahkan rela pulang malam selama beberapa hari dan ibu menambah pekerjaan sebagai art dari rumah ke rumah untuk menambah penghasilan kemudian hasilnya untuk disimpan agar bisa membelikanku tas dan sepatu baru di hari ulang tahunku.


Aku tersenyum lebar mengingat memori betapa sayangnya ayah dan ibu kepadaku dan adikku. Sekarang tugasku adalah berbakti pada ayah dan belajar dengan baik agar bisa membuat ayah bangga kelak dengan prestasiku. Aku juga mengingatkan adikku untuk selalu belajar dengan rajin agar usaha ayah untuk menyekolahkan kami tidak sia-sia dan suatu saat membuat ayah bangga.


Setelah ku ikat dengan rapi aku kembali berdiri dan melanjutkan perjalanan menuju pasar. Begitu sudah dekat, aku mulai menengok ke arah kiri dan kanan untuk menyeberang jalan. Dan pada saat itu jalanan memang cukup ramai, sehingga aku menunggu hingga agak lengang untuk bisa menyeberang.


Aku mulai menyeberang dengan hati-hati saat kendaraan yang berlalu-lalang sedikit berkurang. Aku menghampiri toko sayur kemudian membeli sedikit sayur yang akan aku masak untuk makan siang keluargaku. Tak lupa juga aku pergi ke toko kelontong untuk membeli beras dan keperluan jualanku besok. Aku pun membayar semua kemudian melanjutkan perjalanan pulang.


Aku kembali menyeberang jalan. Karena letak pasar yang berlawanan arah dengan jalan menuju sekolah, aku harus melewati gang yang akan membawaku ke rumah. Dan untuk pulang, aku harus kembali berjalan untuk sampai di gang menuju rumah. Dengan menenteng kantung plastik di kedua tangan, aku berjalan dengan perasaan bahagia karena akan segera sampai di rumah.

__ADS_1


Jalan menuju rumahku hanya gang sempit yang bisa muat 1 mobil, tapi di jalan ini juga cukup ramai dengan sepeda motor yang lewat. Saat aku berbelok menuju gang, tiba-tiba saja brakkk!


...♡♡♡...


__ADS_2