SINGLE MAMA.

SINGLE MAMA.
chapter 12


__ADS_3

...Author point of view....


Troy masih diam di tempatnya, dia mengepalkan kedua tangannya. Jessie berdiri tegap dengan dada yang sedikit membusung, menunjukkan bahwa ia benar-benar sedang menantang Troy untuk mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.


Troy memejamkan matanya sekilas, ia melayangkan kepalan tangannya yang sedikit demi sedikit mulai terbuka, Jessie meneguk ludahnya kasar, saat telapak tangan Troy mencangkup pergelangan tangannya yang kecil.


“Aku bisa menjelaskannya. Tapi tidak dengan dirimu yang sedang emosi, Jessie...” ujar Troy sangat pelan, dengan nada yang berat.


Jessie menarik lepas pergelangan tangannya, ia membawa tubuhnya mundur, guna memisahkan jarak di antara dirinya dan Troy yang sangat dekat, tadi. Jessie membuang pandangannya, lalu ia bergerak ber balik, dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Bajunya yang lembap, membuat Jessie merasa kedinginan, Troy menghela nafas berat, ia gerakkan kedua otot tangannya untuk melepaskan jas yang ia kenakan.


Troy menggerakkan tangannya, membawa kedua belah jas yang terbuka di sisi tengahnya, siap untuk mencangkup pundak Jessie. Namun, Jessie segera menghindar. Ia berbalik arah, dan..


“Kedinginan ini tidak berarti apa-apa di bandingkan rasa sakit akan kehadiran dirimu Troy.” Jessie menahan nafasnya yang tercekat


“Demi tuhan, bahkan jika aku bisa memiliki permintaan sekarang, aku akan berdoa pada tuhan, agar segera mencabut nyawamu sekarang.” ucap Jessie tajam, berhasil membuat dada Troy sesak seketika. Seperti ada ribuan jarum yang menusuknya hingga ulu hati.


Perkataan dari wanita yang masih ia sangat cintai sampai saat ini membuatnya sakit. Wanita yang berhasil membuatnya menyakiti mantan istrinya sendiri, Efsun. Wanita yang telah memporak-porandakan hatinya, jiwanya, batinnya. Lima tahun awal adalah jalan yang sangat sulit untuk Troy. Merawat bayinya sendirian, tanpa Efsun yang palada saat itu masih membenci dirinya.


Jessie menggigit bibir bawahnya dalam-dalam, matanya saat ini tak sanggup untuk menerima kenyataan, bahwa ia gagal menjadi seorang ibu untuk anaknya yang bahkan sudah berumur tahunan.


“Untuk melihatmu saja aku enggan Troy.” dadanya sangat sesak, benar-benar sangat sesak. Tolong siapapun, berikanlah udara yang bangak untuk Jessie hirup kuat-kuat.


Jessie benar-benar kehilangan setengah hidupnya, Jessie menertawakan takdir yang terlalu mempermainkan hidupnya. Jessie terlalu lugu untuk menatap kebelakang, bahwa di masa lalunya, ia sendiri pernah menggugurkan janinnya.


Apakah ini sebuah hukuman untukku?'

__ADS_1


Telinganya berdengung, Jessie bertanya sesak dalam batinnya, Jessie mengerutkan keningnya yang sedang berpikir keras. Jessie benar-benar lemas. Sangat lemas. Ingin mati, dalam waktu itu juga.


“Lebih baik aku melihat neraka sekalipun, dibandingkan harus melihat keparat seperti dirimu Troy.” gemetar bibir Jessie mengucapkan hal tersebut. Terdengar sangat kelam, jahat, dan berat di waktu yang bersamaan.


Troy membuka bibirnya ingin memanggil nama Jessie, namun baru terbuka sesaat, Jessie langsung mengucapkan sebuah kalimat, yang lagi-lagi membuat Troy diam membisu.


“Mulutmu tak pantas menyebut namaku. Nama Ibu dari Lauryn dan Nessi yang telah merawat dan mengandungnya sendirian, ketika ia di asingkan dari keluarganya sendiri dan di cap seorang jalang yang sangat agresif. Bahkan ketika mereka menganggapku sebagai pembawa sial, dan sebagai aib dari keluarga sendiri pun aku terima. Itu karena keberadaan anak yang sedang aku kandung.” ujar Jessie sesak dan mulai tersendat.


Air matanya jatuh, tak bisa tertahan.


Harga dirinya hancur.


Hatinya kacau.


Pikirannya kosong.


Ia hanya tahu bahwa hanya satu anak yang ia miliki.


“Jes—”


Bruk.


gelap.


Tubuh Jessie ambruk, meluruh ke atas lantai yang dingin, lantai yang sudah bisa Troy injak ketika dirinya sudah menjadi sukses dan kaya raya. Troy mengingat banyak kenangan di masa lalu, yang tidak sepatutnya ia ingat.


Banyak hal yang telah ia dapatkan, banyak kerja keras yang telah ia lalui, banyak orang yang telah mengenalnya dengan pandangan kagum dan berkharisma, namun Troy akan tetap menjadi seorang bajingan.

__ADS_1


Di mata Jessie.


Mata dari ibu kandung kedua buah anaknya.


...★★★...


Tubuh Jessie terangkat ringan, seolah tak memiliki beban apa-apa, Troy langsung menurunkannya di sebuah kasur, dengan ruangan yang berbeda. Troy meremas telapak tangan Jessie yang dingin, lalu ia beralih mengusap pipi Jessie yang sangat pucat.


Troy duduk di pinggir kasur hotel yang sama, dimana anaknya juga tengah istirahat sekarang. Troy membawa tangan Jessie menuju bibirnya, namun saat ingin mengecupnya, ucapan Jessie kembali terngiang di dalam telinganya.


“Mulutmu tak pantas menyebut namaku, nama Ibu dari Lauryn dan Nessie.”


Penggalan kalimat itu, membuat Troy segera mengurungkan niatnya. Troy memejamkan matanya rapat-rapat. Bibirnya yang tipis dan seksi, mengatup rapat. Seolah kepedihan yang tengah Jessie rasakan, ikut ia rasakan.


“A-”


Tenggorokan Troy tercekat. Ia tak bisa mengatakan hal apapun, hal yang sangat berat, benar-benar berat. Punggung Troy terdorong maju. Wajah Troy menunduk dalam hingga berada di atas dada Jessie. Keningnya menempel erat tepat pada hati Jessie. Wajahnya bergetar karena sebuah tangisan.


Tangisan yang telah Troy tahan bertahun-tahun lamanya. Tangisan karena sebuah penyesalan, dan permintaan maaf. Tangisan yang lama kelamaan mulai bersuara, membuat kesadaran Jessie yang tadi hilang, kini mulai membuka matanya.


“Aku telah berusaha sebisa mungkin. Sebisa mungkin untuk menjadi. Ayah yang baik s-sayang. Apapun aku berikan untuk Nessie. Aku, aku ingin meringankan bebanmu. Bebanmu sebagai seorang wanita. Wanita yang sangat, ” kepala Troy bergetar, matanya basah,


“Yang sangat aku cintai.”


Troy langsung mengangkat wajahnya, ia balikkan punggungnya yang terbiasa tegap, namun tadi meluruh seperti seorang anak lelaki, yang sedang berlindung terhadap kekasihnya.


...Author point of view off....

__ADS_1


__ADS_2