
...Author point of view....
Jessie menghembuskan nafasnya perlahan. Wajah Troy yang berada sangat dekat dengannya, semakin menambah kecepatan degup jantungnya. Jessie mengalihkan pandangannya ke samping, memutuskan kontak matanya dengan Troy.
“Jaga dirimu baik-baik.” ujar Jessie pelan. Sangat pelan. Namun berhasil membuat Troy terenyuh saat mendengarnya.
Troy menarik satu sudut bibirnya keatas. Ia tersenyum miring memandang wajah Jessie yang sangat dekat dengannya.
“Aku akan menjaga diriku untuk kalian. Tunggu aku ya, Sayang. Aku akan sering berkunjung kesini nantinya.” ucap Troy sambil membawa pipi Jessie kedalam rengkuhannya.
Troy mengecup bibir Jessie singkat. Lalu ia ******* bibir Jessie hingga masuk tahap french kiss. ******* yang bergairah dan sangat berarti penting untuk keduanya.
Troy melepaskan ciuman itu. Lalu ia bawa Jessie kedalam pelukannya. Ia merengkuh tubuh kecil Jessie yang membuatnya merasa nyaman. Sedangkan Jessie, wanita itu kini begitu merasa aman saat Troy berada di sisinya.
“Aku mencintaimu.” ucap Troy dengan raut wajahnya yang serius. Manik mata Jessie berbinar, ia membalas dengan senyuman manis di bibirnya.
Troy tidak perlu mendengar Jessie membalas ucapan cintanya. Jessi berada di sisinya, itu sudah cukup. Selebihnya Troy akan berusaha untuk membuat Jessie nyaman bersamanya. Ia bukan lagi remaja labil yang memberikan kode-kode murahan, ia seorang pria yang sudah berkepala empat. Sudah mengalami asam manis kehidupan. Troy akan membuktikan cintanya lewat usaha yang nyata.
“Sekarang kita kembali ke bawah. Kasian anakku bermain sendirian disana.” ujar Troy sambil menggeleng-gelengkan wajahnya tak percaya.
Jessie terkekeh geli mendengar ucapan Troy yang terdengar lucu di telinganya.
“Bagaimana dengan Nessie? Apa Nessie baik-baik saja?” tanya Jessie cemas dengan wajah yang sedikit ia miringkan. Menunggu jawaban pria di hadapannya.
“Dia baik-baik saja, Jessie. Jangan khawatir pada Nessie. Efsun menjaganya dengan baik.” jawab Troy sambil mengusap pundak Jessie lembut.
Jessie mendadak terdiam. Troy tidak menyadari ucapannya yang dapat membuat hati Jessie terluka. Jessie merasa terluka karena Nessie lebih dekat dengan perempuan lain yang bukan dirinya. Bahkan Troy sendiri mengakui hal itu, jika Efsun menjaganya dengan baik.
Melihat Jessie yang terdiam. Troy menahan nafasnya. Ia sudah salah bicara, dan seharusnya ia tidak membicarakan tentang Efsun di hadapan Jessie. Namun Troy berusaha untuk menjadi se terbuka mungkin dengan Jessie. Ia tak ingin kesalah pahaman terjadi di antara mereka.
“Jessie, aku tidak ingin menyembunyikan apapun darimu. Aku akan jujur dengan apa yang terjadi. Tapi bukan berarti tidak ada harapan untuk membuat Nessie dekat denganmu.” ujar Troy menjelaskan.
__ADS_1
Troy selipkan helaian rambut Jessie yang berantakan. Ke belakang telinga wanita itu. “Aku akan menunggu mu di bawah. Persiapkan dirimu dulu ya? Aku tidak ingin Lauryn melihat wajah Ibunya yang tegang seperti ini.” Troy tersenyum tipis, Jessie tak bisa membalas senyuman Troy karena perasaannya yang sedang runyam.
“Kenapa keadaan menjadi begitu sulit Ya Tuhan.” ujar Jessie dalam hatinya. Ia langsung masuk kedalam kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin.
...★★★...
Disisi lain.
Nessie mengerjapkan mata bulatnya polos. Ia melihat sekeliling ruangan yang sangat bersih dan asing di matanya. Nessie di tinggalkan di ruang Dokter hanya dengan seorang perawat yang sedang istirahat.
“Tante.” panggil Nessie memecahkan keheningan di antara mereka. Perawat itu menghampiri Nessie, lalu duduk di atas sofa di samping gadis kecil itu.
“Apa, Sayang? Pipi kamu chubby banget.” ujar perawat itu, sambil sesekali mencubit pipi bulat Nessie yang hampir tumpah.
Nessie hanya diam, ia sudah biasa seperti ini. Setiap bertemu orang, pasti orang-orang selalu mencubit pipinya.
“Buna kenapa lama sekali keluarnya? Apa Buna sakit?” tanya Nessie pelan. Perawat itu menegang seketika. Ia tidak mungkin memberitahu kan kebenaran tentang penyakit yang sedang di dera oleh Ibu si anak kecil ini.
Efsun duduk di depan kursi Dokter. Nessie menumpukkan kedua tangannya yang terlipat di atas meja dingin Dokter itu.
“Gimana, Dok?”
“Ibu baik-baik aja.”
Efsun tersenyum kecil. Ia paham maksud Dokter di hadapannya. Tatapan Dokter itu jatuh pada mata Nessie yang sedang berada di pangkuannya.
“Nessie pasti bangga dengan Ibunya ya, Nak?” tanya Dokter itu tersenyum lebar. Nessie mengangguk semangat.
“Nessie harus bangga. Ibunya Nessie sangat-sangat kuat. Pasti Nessie bakalan terus sayang sama Ibunya.” ujar Dokter itu sambil mengusap rambut pendek Nessie penuh kasih sayang.
Efsun menunduk. Ia mencium pucuk kepala Nessie yang wangi shampo strawberry. “Nessie sayang Buna. Nessie sayang banget sama Buna.”
__ADS_1
Suara kecil itu yang tidak mereka sangka-sangka akan keluar dari bibir mungil Nessie. Efsun tidak ingin menangis. Jika saja Nessie mengetahui bahwa sebenarnya ia bukan lah Ibu kandung dari anak itu, apakah Nessie akan membencinya?
Efsun menghela nafas panjang. Ia yakin Nessie akan tetap menyayanginya. Ia yakin akan hal itu. Troy selalu mengajarkan Nessie kasih sayang, dan dirinya selalu memberikan kasih sayang yang penuh pada Nessie.
Selesai berkunjung ke rumah sakit. Efsun langsung mengantarkan Nessie kedalam kamar. Ia menidurkan Nessie dengan usapan kecil pada paha gadis itu. Efsun kembali mengingat ucapan Dokter padanya.
“Stadium 3?”
“Tenang, Efsun. Saya yakin kamu bisa melewatkannya. Itu hanya angka, bukan berarti hidupmu akan berakhir sebentar lagi. Pengobatan yang suami mu berikan pasti akan segera membuatmu pulih.”
Efsun menunduk lemas. Ia melirik Nessie yang berada di pelukannya. Efsun tahu bahwa itu bukan hanya sekedar angka. Namun juga berpengaruh penting dengan hidupnya. 4 tahun terakhir dirinya mengidap kanker serviks. Dan itu sudah lebih dari cukup membuat Efsun lelah, hingga harus bolak balik rumah sakit untuk pengobatan.
Seketika Efsun mengingat Miracle. Wanita itu belum mengabarinya sama sekali soal perkembangan Jessie. Wanita yang paling ia benci, dan ia anggap sebagai simpanan Troy sejak dulu.
Efsun pun menarik dirinya menjauh dari Nessie. Ia hubungi Miracle dengan segera.
“Mira, bagaimana perkembangan Jessie disana?” tanya Efsun tanpa basa-basi.
“Hari ini Jessie tidak datang ke hotel, Nyonya.” jawab Miracle jujur.
“Apa maksudmu? Kau sudah berusaha mengubungi nya?” tanya Efsun naik pitam. Namun ia masih mengontrol kan nada bicaranya.
“Sudah. Tapi ponselnya tidak bisa di hubungi.”
“Bagaimana ini bisa terjadi, Mira!”
“S-saya tidak tahu. Bahkan temannya yang biasa ikut bersamanya kesini juga tidak datang.”
“Astaga.”
Efsun melempar kasar ponselnya ke atas sofa. Ia mengurut keningnya yang terasa pusing. Efsun memang baru melihat sesosok Jessie beberapa minggu lalu. Saat ia melihat Nessie duduk bersama sesosok wanita asing di restoran hotel milik Troy.
__ADS_1
...Author point of view off....