SINGLE MAMA.

SINGLE MAMA.
chapter 42


__ADS_3

...Author point of view....


Jessie meregangkan otot-otot tangannya. Ia menoleh kesamping, mendapati sisi sebelah yang kosong. Jessie melirik jam dinding di kamarnya. Sudah pukul 2 pagi. Tapi kenapa suaminya belum masuk juga kedalam kamar. Jessie memutuskan untuk bangun dari tidurnya. Ia beranjak dari atas ranjang. Mengambil selimut tipis yang tak terlalu panjang, lalu ia pakai untuk menutupi punggungnya, hingga bagian dadanya.


Jessie berjalan keluar kamar. Menuju sisi terdalam, yang terdapat ruang kerja Troy disana. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Jessie mendorong pintu itu. Terpampanglah perawakan suaminya yang masih berkutat dengan pekerjaannya. Membuat Jessie merasa sedih, karena melihat guratan lelah Troy di wajah pria itu.


Jessie melangkah lebih dekat, setelah ia tutup pintu itu kembali. Jessie langsung memegang pundak Troy, dan duduk keatas pangkuan pria itu. Membuat Troy terkejut, sekaligus tersenyum simpul.


“Kamu kok belum tidur?” tanya Troy beralih menatap Jessie sepenuhnya. Jessie menggeleng kecil, lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Troy. Hingga Troy bisa merasakan hembusan nafas Jessie.


“Males, nggak ada yang meluk.” ujar Jessie manja. Troy terkekeh kecil, ia tarik paha Jessie, hingga semakin menempel pada tubuhnya.


Jessie terduduk miring diatas paha Troy, tangannya berada di leher Troy, memeluk pria itu ringan, agar tubuhnya tak terjatuh. Walau sebenarnya telapak tangan Troy sedang berada di sisi pahanya, membuat tubuhnya tak akan bisa menggelinding jatuh kebawah.


“Jadi kamu pengen Mas kelonin? Iya?” tanya Troy menaik turunkan alisnya. Jessie mengerucutkan bibirnya sebal.


“Nggak tuh, aku cuma pengen nemenin Mas aja disini. Dari tadi sibuk aja sama kerjaan. Emang nggak kangen aku apa.” titah Jessie dengan wajah sewot. Troy merasa terhibur sendiri dengan ucapan Istrinya.


“Ngapain kangen kamu, tinggal jalan beberapa langkah. Langsung bisa masuk kamar. Kalo udah di kamar. Langsung buat bayi deh.” balas Troy tersenyum miring, matanya menatap Jessie mesum.


“Ish! Kebiasaan. Emang nggak bisa apa pikirannya gak mikir itu terus? Ituuu mulu yang dipikirin.” ujar Jessie merasa gemas. Sambil mencubit sebelah pipi Troy yang tersenyum padanya.

__ADS_1


“Loh ini jam 2 pagi, kamu nyamperin Mas, langsung duduk diatas Mas. Siapa yang nggak mikir aneh-aneh? Kamu nya aja mancing mulu.” Troy menyentil dahi Jessie pelan. Namun cukup menimbulkan rasa sakit. Jessie usap dahinya sekilas.


“Yaudah jangan ngomong aja dong. Masa udah begini, masih aja di anggurin.” Jessie melirik kebawah sekilas. Troy pun mengikuti arah pandang Istrinya. Dan benar saja, bahwa Jessie mengenakkan baju tidur tak berlengan, yang panjangnya hingga satu sentimeter diatas paha Istrinya.


“Mau di sini, apa di kamar?” Troy menatap nakal Jessie. Ia mengusap-ngusap lengan Jessie dari luar selimut tipis yang masih berada di pundak wanita itu.


“Mau di kamar aja ah. Biar bebas. Hehehe.” Jessie tersenyum manis. Menunjukkan wajah lugunya, yang keibuan. Matanya tak lepas menatap mata suaminya yang hitam legam.


Jessie mengusap dada bidang Troy secara seduktif. Troy berdiri dengan Jessie yang berada di gendongannya. Jessie mendongak menatap sisi wajah suaminya yang sangat laki. Telapak tangannya yang tadi berada diatas dada Troy, kini mengusap jakun pria itu naik turun.


“Mas kalo capek mending istirahat aja ya? Dari pagi soalnya kamu kerja terus, nggak berhenti-henti.” ujar Jessie begitu lembut.


Wajah Jessie memerah malu. Tak disangka, Troy sudah membawanya kedalam kamar. Pria itu yang juga sudah menimbulkan suara decitan pintu, tanda bahwa pintu kamar telah kembali tertutup.


Troy menurunkan Jessie keatas sofa panjang di sisi ruangan. Jessie terduduk diatas sofa itu. Troy berdiri di depannya. Tangannya bekerja melempar selimut tipis yang tadi melingkar di punggung Jessie. “Mau pemanasan dulu?” Troy bertanya serius, tangannya kembali bergerak memegang ujung gaun tidur Jessie, membuat Jessie harus mengangkat tubuhnya perlahan. Lalu Troy baru berhasil melepaskannya.


“Cium aku, Mas.” Jessie mendongakkan wajahnya. Troy mengusap rambut Jessie penuh kasih sayang. Lalu ia tundukkan wajahnya, merengkuh wajah Jessie dengan tangannya. Lalu ******* bibir Jessie penuh kelembutan.


“Mas,” rintihan Jessie tertahan dalam ciuman yang mulai menggebu itu. Troy menarik lepas bra yang Jessie kenakan, lalu melemparnya.


Kini Jessie hanya mengenakkan underwear saja, sedangkan dirinya masih lengkap dengan pakaian dan celana santainya. Jessie mendongak, saat Troy semakin menunduk lalu menciumi lehernya. Meninggalkan jejak basah disana.

__ADS_1


Troy mendorong tubuh Jessie agar terbaring miring, lalu ia dorong pundak Jessie agar rebah diatas sofa. Troy menaikkan dirinya keatas sofa itu. Ia berada diantara posisi paha Jessie yang terbuka.


Kecupan-kecupan lembut Troy berikan kepada Jessie. Ia menjelajahi kulit tubuh Jessie dengan lidahnya yang bergerak lincah. Mengundang suara-suara erangan Jessie yang tak dapat tertahan.


Troy buka bajunya, lalu ia jatuhkan kausnya asal keatas lantai. Troy merunduk, kembali meraih dada Jessie. Troy bukan resleting celana bahan yang ia kenakan. Lalu ia geser underwear yang Jessie pakai.


Jessie mengerang, ini bukan kali pertama untuk mereka. Namun sensasinya terasa berbeda. Troy mendorong kepemilikannya dengan kuat. Menyentak masukkan miliknya, lalu tersenyum miring.


“Enak, Sayang?”


Jessie mengangguk cepat. Ia menggigit jarinya sendiri, lalu kembali mendesah kan nama Troy. “Pelan-pelaann.....” ujar Jessie susah payah. Saat Troy menarik masukkan miliknya cukup kuat. Troy pun merubah ritmenya agar memelan.


“Mas cinta banget sama kamu, Jessie. Terimakasih karena sudah mau kembali kedalam kehidupan Mas lagi ya? Janji sama Mas kalo kamu nggak akan ninggalin Mas. Jangan pergi kemanapun. Karena sekarang, keberadaan kamu yang menentukan bahagia atau tidaknya Mas.”


Troy berucap dengan mata yang berkaca-kaca. Jessie bahkan terhenyak seketika. Desahannya terhenti walau Troy masih menggerakkan kepemilikannya dibawah sana. Jessie langsung memeluk leher Troy erat. Memejamkan matanya kuat, dengan bibir yang bergetar.


“Jangan nangis dong, masa lagi nyatu kamu nangis. Mas jadi merasa seorang predator kalo gitu.” ujar Troy di akhiri oleh tawanya yang renyah. Mau tak mau Jessie terkekeh pelan, ia tak bisa menahan tawa kecilnya.


Jessie memukul punggung Troy dengan telapak tangannya. Troy kembali menggerakkan miliknya. Bercinta dengan Jessie tak cukup satu atau dua kali. Troy terus membawa Jessie terjaga hingga menjelang matahari terbit.


...Author point of view off....

__ADS_1


__ADS_2