
...Author point of view....
Troy masuk ke dalam kamar, terdapat Lauryn, Nessie, serta Jessie yang tak menyadari keberadaannya. Jessie masih sedang merapihkan rambut Nessie yang tebal dan berwarna agak kecoklatan. Nessie merasa rasa nyaman yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya hadir. Padahal Jessie adalah orang baru untuknya.
Jessie mengusap lembut rambut Nessie, menyisirnya dengan jari-jarinya yang masuk mengusap kulit kepala Nessie.
Troy masuk lebih dalam, ia memasukkan kedua tangannya ke kantong celana yang ia kenakkan. Otomatis Jessie mendongak, melihat Troy yang berdiri di depan ranjang.
“Aku ingin tidur bersama mereka. ” tegas Troy melembut, dengan pandangan nakal yang menatap penuh mata Jessie.
Mata Jessie membulat tak terima, Jessie menggeleng, sebagai sebuah penolakan. “Aku yang tidur sama mereka.” balas Jessie tak mau dibantah. Troy memincingkan matanya.
“Tapi aku lah yang ingin tidur bersama mereka sekarang. ” jawab Troy sedikit memaksa. Karena itu adalah keinginannya. Jadi harus terpatuhi.
Jessie menggeleng, “Mereka anak-anakku. Mereka akan tidur bersama Ibunya. ” kecam Jessie tajam. Mendesis kesal. Karena Troy yang seolah sedang mempermainkan dirinya.
“Tapi aku yang membayar hotel ini Nyonya. ” Jessie terdiam. Tak ingin melepaskan wibawanya sebagai seorang Ibu yang bertekat ingin tidur bersama kedua putrinya, Jessie memasang senyum miring.
“Bagaimana jika mereka saja yang memilih? Ingin tidur bersama aku atau dirimu. Tua bangka sialan. ” sayangnya Jessie hanya mengucapkan tiga kalimat terakhir di batinnya.
“Nessie. Kamu ingin tidur bersama siapa? ” tanya Jessie dingin, Nessie mengedipkan kedua matanya, ia bingung memilih di antara keduanya.
“Bobo bersama Linlin. ” jawab Nessie menunjuk Lauryn yang sedang berbaring di atas ranjang, dekatnya.
__ADS_1
Troy tersenyum tipis, “Kalau begitu aku akan tidur di sini. Bersama anak-anakku, karena dia tidak memilih tidur bersamamu. ” ucap Troy santai, yang mana dapat membuat Jessie menentang tak terima.
“Bersama Mama juga. ” Nessie berbicara cukup cepat dan keras, sehingga Troy menahan langkah kakinya yang ingin menaiki kasur.
Jessie tersenyum puas,
Malam itu pun Troy akhirnya pasrah tidur di atas sofa panjang, sedangkan Jessie bersama kedua anaknya tidur di atas kasur, dengan posisi Jessie yang berada di tengah-tengah anaknya.
...★★★...
Pagi sekali Troy sudah terbangun dari tidurnya yang tidak nyaman. Bagaimana mau merasakan nyaman? Troy sendiri tidak pernah tidur hanya di atas sofa asing. Bukan kursi kerjanya di kantor. Troy memang sudah terbiasa bangun pagi.
Sedangkan di atas kasur, ternyata Jessie belum bangun beserta dua anaknya. Mereka masih terlelap, dengan Jessie yang tertidur lurus dan di peluk oleh kedua anaknya dari samping.
Pemandangan yang sangat menyejukkan hati Troy. Sangat membuat Troy nyaman. Sehingga tidak ingin memalingkan wajahnya sama sekali.
“Aku akan berusaha bersamamu lagi, namun sepertinya, aku tidak pantas untukmu. ” desah Troy pesimis di akhir kalimat. Ia merasa bahwa Jessie pantas mendapatkan lelaki yang sepadan dengannya. Bukan malah bersama dirinya.
Hoamm.
Jessie terbangun dari tidurnya, merasa usikan kecil yang di berikan Troy padanya. Mata Jessie menyipit, melihat wajah Troy yang gelap, karena pantulan sinar matahari yang masuk di belakangnya. Samar-samar ia dapat melihat lekukan bibir Troy yang melengkung kecil. Dan tanpa sadar juga Jessie menunjukkan senyum kecilnya yang menawan, yang tak pernah ia tunjukkan ke pria manapun.
Yang dulu Troy selalu lihat, ketika mereka berdua masih bersama, namun dengan hati yang berbeda.
__ADS_1
“Dia tersenyum padaku.” Troy terdiam di tempatnya, ia bisikkan kelimat itu dalam hatinya.
Jessie yang masih mengumpulkan nyawa, akhirnya tersadar, ia segera bangun dengan posisi duduk, lalu menengok kedua anaknya yang masih terlelap.
“Biarkan mereka tidur. Ini masih terlalu pagi untuk mereka terbangun. Sekarang cepat ikut aku keluar. ” ucap Troy datar, tanpa ingin di bantah sedikitpun.
Jessie awalnya ingin menolak, namun dengan sadar, ia segera membuntuti Troy keluar kamar. Troy membawanya ke sebuah tempat terpencil di hotel itu, yang jarang di lalui orang-orang.
Troy berdiri tepat di depan Jessie, dengan punggung yang membelakangi Jessie. Ia memasukkan kedua tangannya pada saku celana. Jessie memejamkan matanya, menikmati hembusan angin segar yang menerpa kulitnya.
“Aku sangat menyayangi anak-anakku. Aku tidak bisa melepas salah satunya. Mengertilah.” ucap Troy tegas memperjelas perasaannya. Jesssie mengerutkan keningnya tak terima.
“Aku adalah Ibunya. Aku yang melahirkannya. Sudah seharusnya anak-anakku tinggal bersamaku. ” ujar Jessie keras membuat Troy mengeraskan rahangnya.
“Lakukan lah seperti biasa. Aku bersama Nessie, dan kau bersama Laury. Jangan membantah apa yang aku katakan Jessie, atau kau akan menerima akibatnya. ” gertak Troy dingin, menunjukkan sisi kerasnya yang sedari dulu ada.
“Saya Ibunya. Saya berhak mendapatkan hak keduanya. Anda bahkan meninggalkan saya ketika mereka masih di dalam kandungan. Anda tidak pantas sama sekali disebut sebagai seorang Ayah. ” bantah Jessie tak terima.
“Lihatlah dirimu Jessie, kau miskin, tidak lagi memiliki harta yang bisa kau gunakkan sesuka hatimu. Untuk menghidupi Lauryn saja kau perlu berjualan kue. Kau pikir itu cukup? tentu saja tidak. ” ujar Troy menampar Jessie yang sadar oleh keadaan dirinya sekarang.
“Selama Lauryn tinggal bersama saya-” kedua bibir Jessie terbuka karena tidak dapat melanjutkan ucapannya. Troy membalikkan tubuhnya, mendekati Jessie yang mendongak menatapnya tajam.
“Apa?” tanya Troy dengan wajah yang menantang, memotong ucapan Jessie. Jessie menggeram kesal. “Menghidupinya dengan kasih sayang? bahkan kasih sayangmu tidak dapat memberikan hidup yang layak untuk anakku Jessie.” ujar Troy tanpa ekspresi apapun.
__ADS_1
Tangan Jessie melayang, ingin menjatuhkan sebuah tamparan keras pada Troy. Namun, tangan Troy menahan pergelangan tangan Jessie. Membawa kedua tangan Jessie kebelakang tubuhnya.
...Author point of view off....