SINGLE MAMA.

SINGLE MAMA.
chapter 20


__ADS_3

...DISCLAIMER!!...


Banyak perubahan dari chapter 1 sampai 19. Buat yang baru baca hari ini tandanya kalian udah baca versi setelah revisi. Sebelum baca chapter 20 baca dulu chapter sebelumnya ya. Ada scene tambahan soalnya di chapter 19 yang baru aku perbaruin.


...Troy. (42 tahun)...



...Jessie. (29 tahun)...



...Author point of view....


Troy meletakkan Lauryn di atas kasurnya. Ia membawa Jessie serta Lauryn ke markas perdagangan gelap yang ia lakukan. Troy memang tidak melakukan bisnisnya secara bersih, namun ia tetap merasa tenang karena Troy sanggup mengatasinya.


Alex lah yang mengajarkannya bermain bisnis. Jadi lah ia terjun ke dunia bisnis lebih dalam. Hingga Troy sendiri melakukan banyak kelicikan untuk lawan bisnisnya.


Mengingat Alex, Troy jadi merasa iri dengan hubungan rumah tangga Alex dan istrinya yang sangat rukun dan bahagia. Bahkan Alex sudah memiliki 3 orang anak. Troy lalu menutup pintu kamarnya, ia berjalan menghampiri kamar yang menjadi tempat Jessie singgah sekarang.


Perlahan Troy membuka pintu dengan kunci yang ia bawa. Troy melihat wajah Jessie yang terlihat frustasi. Troy kembali menutup pintu dengan cepat, lalu menguncinya.


Ia menghampiri Jessie yang terduduk di atas pinggiran kasur. Troy berlutut di hadapan Jessie. Ia bawa tangan Jessie ke atas paha wanita itu sendiri, dengan tangannya yang melingkupi tangan kecil Jessie.


“Jessie, tenang lah. Aku tidak akan menyakiti kalian. Aku akan menjaga Lauryn, dan aku akan menjagamu.” ujar Troy jujur, dengan wajah yang berusaha meyakinkan Jessie.


Jessie yang tadinya merasa marah, kini berubah menjadi lesu. Matanya meredup melihat wajah Troy dari dekat. Mata yang bisa membuatnya mencintai pria itu hingga begitu lamanya. Jessie tak pernah mencintai seseorang sebelumnya, karena ia tidak percaya dengan hadirnya cinta. Namun kehadiran Troy di hidupnya, merubah segala keadaan yang Jessie telah jalani.


Troy mengusap pipi lembut Jessie. Troy memajukan wajahnya, “Jessie, percaya lah padaku. Dengarkan penjelasan ku.” ujar Troy lembut, sangat lembut, hingga dapat membuat Jessie mengangguk meng iyakan.


Troy tersenyum kecil, ia senang karena Jessie mau mendengarkannya. Troy masih mengusap pipi Jessie. Namun kini posisinya berubah, ia menjadi duduk di samping Jessie.

__ADS_1


“Aku kehilangan arah saat kamu meninggalkan ku tanpa kabar apapun. Saat itu aku berusaha sebisa mungkin untuk menemukan mu. Namun tidak ada tanda apapun dari keberadaan mu.” jelas Troy menghembuskan nafasnya kasar.


“Aku putus asa saat itu. Ada Efsun yang akan segera menikah denganku, dan ia juga mengandung. Aku senang, namun rasa cemas terhadap keberadaan mu jauh lebih besar.” lanjut Troy jujur dari hatinya yang paling dalam.


Troy memegang leher belakang Jessie, lalu ia arahkan agar wajah Jessie mau menatapnya. Jessie bagaikan boneka hidup yang sangat rapuh, hingga menurut dan menatap wajah Troy.


“Aku mencari mu, aku sangat merindukanmu. Aku selalu berpikir tentang mu, dan bagaimana cara agar aku bisa kembali bersamamu.”


“Tapi sepertinya saat itu takdir tidak ingin aku menemukan mu. Hingga tiba saatnya Efsun dan aku menikah. Baru dua bulan kita bersama, aku bertengkar hebat dengannya. Dia tahu bahwa aku memiliki perempuan lain selain dirinya. Dia tahu kalau hatiku bukan lagi untuknya. Dan saat itu juga, dia marah.”


Jessie terperangah. Kedua belah bibirnya sedikit terbuka.


“Aku tahu aku egois, aku sadar akan hal itu. Tapi aku tidak memiliki pilihan lain selain terus menggerakkan orang-orang ku untuk mencari mu. Aku hanya memikirkan mu saat itu. Hingga aku mulai lengah, dan menghentikan pencarian mu.”


Nafas keduanya bertemu, keadaan menjadi begitu hening. Jessie tidak menemukan setitik kebohongan apapun lewat mata Troy.


“Dua bulan mencari mu, aku berhenti. Aku merasa kamu sudah pergi sangat jauh dariku. Tapi di bulan ke empat justru Beckham, membawa kabar baik dengan mengatakan bahwa dia melihat mu di Amsterdam. Begitu bodohnya aku hingga tidak sadar jika kita masih di kota yang sama. Beckham tak hanya bilang itu, ia juga bilang jika perutmu membesar. Dan kau sedang hamil.”


“Di sisi lain, Efsun masih lah marah denganku. Aku berusaha untuk memperbaiki hubungan ku dengannya. Tapi ia menolak keras saat salah satu orang kepercayaan ku membocorkan keadaan mu yang telah aku temukan. Dan Efsun pun tahu jika kamu juga sedang mengandung.”


Mata Jessie membulat. Troy membawa dagu Jessie agar lebih dekat dengannya. Wajah mereka tidak saling bersentuhan, namun ke intiman di antara keduanya terlihat begitu nyata adanya.


“Efsun frustasi dan tidak memperhatikan kandungannya. Berkali-kali aku membujuknya untuk cek up, makan, dan melakukan aktifitas normal ibu hamil pada umumnya. Namun Efsun menolak keras, hingga janin itu hilang.”


Nafas Troy tercekat, “Efsun keguguran.” ujar Troy dengan pandangannya yang meredup sendu.


“Efsun menggugat cerai ku, dia ingin segera berpisah dari ku. Menyadari bahwa tak ada harapan lain untuk Efsun padaku, aku pun melepaskan nya. Aku menurutinya yang ingin segera berpisah. Kita masih tinggal di satu atap yang sama, karena aku merasa tanggung jawabku pada Efsun masih lah ada.”


“Setelah perceraian itu. Aku tetap tidak bisa menemui mu. Aku memang keparat, aku terlalu bajingan untuk di sebut sebagai ayah yang baik. Namun aku tak bisa melakukan hal lain, selain memantau mu dari kejauhan.”


Troy melepaskan jarinya dari dagu Jessie. Ia melihat binar mata Jessie yang sama sendunya dengan dirinya.

__ADS_1


“Troy..”


Troy terkekeh sejenak, ia menggeleng lemah. “Aku akan tuntaskan ceritaku, Sayang.” ujar Troy begitu lembut, hingga jantung Jessie semakin berdetak begitu cepat.


“Aku menemui Dokter setiap kali kamu keluar dari ruangannya. Aku tahu jadwal cek up mu dari Dokter itu. Itu memang sebuah tindak kejahatan, apalagi dengan cara cukup kasar aku membuat Dokter itu harus jujur tentang perkembangan kandungan mu setiap kamu cek up.” ujar Troy mengingat saat-saat tersulit dari hidupnya.


“Tiba dimana saat kamu melahirkan. Disitu lah aku menggunakan cara kotor. Aku salah, Jessie. Aku tahu aku salah, tapi aku tetap melakukannya. Itu karena aku tahu kamu tidak lagi tinggal bersama keluargamu, dan kamu tinggal hanya dengan kecukupan yang ada. Aku ingin meringankan bebanmu.”


“Walaupun caraku salah. Aku tidak seharusnya mengambil Nessie dari dirimu.”


“Maafkan aku.”


Troy menunduk dalam. Jessie menangkup kedua rahang Troy dengan telapak tangannya. Lalu ia bawa wajah Troy agar terangkat menatapnya.


“Aku membencimu, Troy.” ujar Jessie pelan. Troy merubah raut wajahnya menjadi datar.


“Aku mencintaimu, dan akan selalu begitu. Hingga akhir hayat ku. Hanya akan ada namamu di hatiku.” balas Troy jujur hingga berhasil membuat Jessie terdiam karenanya.


“Berikan aku satu kesempatan, Jessie. Menikahlah denganku, lalu kita akan hidup bahagia.” ujar Troy serius.


Mata Jessie melotot kaget. Ia jauhkan tubuhnya dari Troy. Tangannya juga melepaskan pipi Troy.


“Kamu gila. Kamu tidak waras. Kamu badebah. Kamu bajingan. Kamu-”


“Sstt.”


Troy membungkam bibir Jessie dengan satu jarinya yang berada di atas mulut wanita itu.


“Aku melakukan hal yang menurut ku benar. Dan hanya ini yang menurut ku benar. Kamu harus menikah denganku, tidak perduli dengan perasaanmu padaku. Atau rasa kebencian mu terhadapku.” ujar Troy dengan matanya yang setajam elang. Menatap Jessie dalam, hingga membuat wanita itu terperangah gugup.


...Author point of view off....

__ADS_1


__ADS_2