SINGLE MAMA.

SINGLE MAMA.
chapter 41


__ADS_3

...Author point of view....


Belum 2 detik, Troy langsung menyambar kesenangannya'. “Kayak bayi beneran kalo gini mah.” ujar Jessie terkekeh lembut. Sambil mengusap-ngusap dahi Troy dengan ibu jarinya.


Jessie terus memandang wajah sayu Troy. Ia tahu bahwa Troy mulai mengantuk. Melihat matanya yang pelan-pelan tertutup. Jessie biarkan Troy tetap pada posisinya. Di posisi seperti ini lah dia merasa bahwa Troy sangat membutuhkannya. Jessie senang karena dapat membuat Troy nyaman saat bersamanya. Mata teduh pria itu, selalu berhasil membuatnya luluh.


Troy terlelap dalam pelukannya. Bibir pria itu sudah tidak bergerak lagi di ujung ***********. Jessie berhenti mengusap kening Troy. Ia beralih mengusap permukaan wajah Troy yang mulai di tumbuhi cambang. Cambang Troy bahkan lumayan kasar. Hingga membuat permukaan dadanya berbekas sedikit memerah.


Jessie tersenyum kecil, melihat beberapa helai rambut Troy yang mulai ber warna abu-abu. Seolah mengingatkan bahwa Troy-nya kini sudah beranjak tua.


Jessie mulai menutup matanya perlahan. Ia terlelap dengan begitu tenang, sama seperti apa yang pria di dekapannya rasakan. Bahkan derasnya hujan di luar tidak mampu mengganggu ketenangan tidur mereka berdua. Troy yang sebentar-sebentar menyeringit heran dalam mimpinya, lalu Jessie yang mulai terbiasa menerima beban berat tubuh suaminya.


Di pagi harinya.


Troy membuka kedua matanya perlahan. Tidak ada sinar matahari yang masuk. Melainkan suara derasnya hujan yang ia dengar. Dalam hatinya Troy merasa sangat senang, karena tertidur semalaman di dalam dekapan tubuh kecil Istrinya.


Jessie mulai merubah posisi, hingga kini memunggungi Troy. Troy pun sadar diri hingga membiarkan tubuh kecil itu meringkuk sambil membelakanginya. Sudah semalaman Jessie mendekapnya. Pantas saja ia merasa tidurnya malam ini begitu tenang. Troy melirik jam dinding di kamarnya.


Baru pukul lima pagi.


Troy langsung merubah posisinya hingga kini semakin dekat dengan sang istri. Ia memeluk Jessie dari belakang. Menempelkan kepala bagian belakang Jessie, hingga menempel dengan dada bidangnya. Troy usap dada Jessie yang masih terekspos. Karena semalam tak sempat ia tutup kembali beberapa kancing yang sudah terbuka.


Dengan jail tangan kiri Troy menyusup kedalam dada Jessie pada bagian kanannya. Mengusap dada sekal itu yang terasa sangat lembut di telapak tangannya yang besar. Meremasnya sedikit, karena tak ingin membangunkan istrinya.


Pada akhirnya Troy hanya bisa memainkan ujungnya saja dengan gemas. Ia merasa gemas hingga ingin sekali menggigit-gigit kepunyaan Istrinya itu.


Lima belas menit berlalu,


Troy masih dalam posisinya. Ia tidak boleh kembali mengantuk. Karena pagi nanti Efsun akan di makam kan. Dan Jessie akan ikut bersamanya. Troy bangun dari tidurnya, ia duduk di samping Jessie- masih dengan kedua kakinya yang berselonjor lurus.


Troy usap pundak Jessie. Dan sedikit mencengkeramnya.


“Jessie, bangun yuk, Sayang.”


Jessie bergumam panjang, “Hmmmm.” suasana yang sangat dingin, ditambah suara turunnya hujan membuat dirinya sulit untuk terbangun. Ia hanya ingin kembali tertidur, lalu menikmati suasana teduh ini.


“Jessie, mau jadi apa kamu hm? Jam segini belum bangun.” ujar Troy tidak selembut tadi. Ini hanya akal-akalan nya saja agar Jessie dapat terbangun lebih cepat. Lalu mereka bisa menghabiskan waktu bersama di dalam kamar mandi nantinya.


Jessie yang mendengar hal itu pun langsung saja membuka kedua kelopak matanya. Ia cemberut karena Troy bersi keras membangunnya jam segini. Jessie akhirnya merubah posisinya hingga kini terlentang di samping Troy. Menatap wajah Troy yang juga menatapnya.


Jessie tak sadar jika piyamanya sudah terbuka seluruh kancing, karena Troy yang sempat memainkannya beberapa menit lalu. Membuat hawa dingin menusuk hingga kulitnya.


“Kamu masih mau tidur? Nggak mau ikut Mas ke makam Efsun?” tanya Troy iseng. Sebenarnya ia sudah tahu jika Jessie pasti akan memaksa ikut sekalipun misalnya ia tidak boleh ikut.


“Ish, mau ikut aku Mas. Kamu sana mandi duluan.” ujar Jessie dengan wajah yang menekuk. Troy terkekeh mendengar hal itu.


“Sini mandinya barengan aja. Emang kamu ga dingin itu? Liat coba bajunya kebuka.” tunjuk Troy dengan jari yang mengarah pada dada Jessie.


Sontak Jessie menunduk kebawah. Ia terkejut melihat kondisi tubuhnya yang terekspos cukup jelas. Bahkan Troy dapat melihat sebagian dadanya. Langsung saja Jessie tarik piyamanya hingga kembali menutupi pemandangan kulitnya.

__ADS_1


“Hahahaha, ngapain di tutupin, Sayang.” Troy tersenyum miring, ia lalu beranjak turun dari kasur. Gerak-geriknya tak luput dari pandangan mata Jessie yang masih terdiam malu.


“Ehh.” Jessie merasa panik saat tubuhnya diangkat oleh Troy. Namun hanya sesaat, karena setelah itu ia kalung kan tangannya di leher Troy.


“Aku emang karung apa? Di gendongnya nggak izin-izin dulu.” Jessie mendumel.


“Badanmu gampang di angkatnya, Jessie.” jawab Troy acuh tak acuh. Bibirnya mengecup singkat pelipis Jessie.


...★★★...


Disisi lain.


Beckham menunggu kedatangan Troy di ruang tamu rumah Troy. Ia duduk dengan tenang diatas sofa. Sambil melirik sekitar yang tampak sangat sepi.


Ia memang sengaja menunggu lebih awal. Karena Beckham tahu, jika ia bangun telat sedikit saja, Troy pasti tidak akan mau menunggunya.


Selang beberapa menit, walau langit mulai cerah di jam enam pagi. Tapi tetap saja cuaca yang gelap, tak dapat membuat matahari menunjukkan wujudnya. Dengan sabar Beckham menunggu kedatangan Troy. Dan akhirnya, Troy turun juga bersama Jessie yang berada di -


“Astaga. Apa mereka tidak malu memperlihatkan hal seperti ini?!” tanya Beckham jengah dalam hatinya. Ia melihat Jessie sedang berada di dalam gendongan Troy ala bridal style.


Semakin dekat Troy menuju tempatnya. Semakin jelas ia melihat wajah Jessie yang cemberut. Beckham menghela nafas panjang, akhirnya Jessie diturunkan Troy setelah lelaki itu sampai di ruang tamu.


“Jessie, kau tertekan dengan budak cinta yang satu ini ya?” tanya Beckham datar, melirik Troy dengan pandangannya yang mengejek.


“Diam kau, Beckham. Jessie terjatuh di kamar mandi. Mana mungkin aku biarkan dia menuruni tangga dengan kakinya.” jawab Troy sewot.


Ditengah hal itu, Jessie salah fokus dengan penampilan Beckham. Yang seolah mengingatkannya pada salah seorang pria yang pernah ia temui. Tapi Jessie lupa dengan momen tersebut. Samar-samar ia hanya mengingat penampilannya.


“Ada apa, Sayang? Ada yang ketinggalan? Biar Mas yang mengambilnya.”


“Ehh, bukan, Mas. Bukan.” jawab Jessie cepat. Dia memegang lengan Troy dengan satu tangannya. Lalu mendongak kearah pria itu.


“Aku kok kayak pernah ketemu Beckham sebelum-sebelumnya ya? Apa cuma perasaanku aja. Ah, tapi nggak kok. Aku kayak pernah liat dia. Tapi dima- oh iya!”


Jessie menjentikkan jarinya sekilas. Lalu dengan matanya yang sengit, ia menatap Beckham. “Beckham, kau pria yang waktu itu di supermarket kan.” tekan Jessie mengintimidasi.


Kini tinggallah Beckham yang kebingungan. Namun dengan cepat raut wajahnya berubah. Beckham meringis pelan, ia menggeleng cepat.


“Ada banyak tempat yang aku kunjungi. Untuk apa aku mengunjungimu?” jawab Beckham realistis. Namun Jessie tetap tak mempercayainya.


“Aku yakin itu dirimu. Kamu benar-benar mirip dengan pria yang aku jumpai saat itu. Dan- ya, bahkan dia membayar belanjaan ku Mas. Memang dia pikir aku ini tidak dapat membayarnya ya?!” ujar Jessie mengadu pada suaminya. Yang kini malah meringis kecil.


“Sayang, udah ya? Kan mau ke pemakaman. Jangan ribut dulu.” Troy berusaha menenangkan Jessie. Ia lupa jika belum menceritakan yang satu itu. Tentangnya yang selalu menyuruh Beckham untuk selalu mengintai dimana keberadaan Jessie.


Jessie pun akhirnya mengangguk. Ingin rasanya Beckham pukul wajah tampan temannya itu. Padahal jelas-jelas Troy lah yang menyuruhnya untuk memata-matai Jessie.


...★★★...


Langit mendung pagi hari ini. Menyambut kedatangan Troy, Beckham, dan Jessie. Troy letakkan bunga diatas makam Efsun. Ia berjongkok, dengan tangan yang memegang batu nisan. Matanya tak lepas sedikit pun memandang tanah yang masih basah di depannya. Apalagi turun hujan deras semalaman.

__ADS_1


Jessie memandang sendu kuburan Efsun. Ia memikirkan Nessie yang mungkin akan menanyakan keberadaannya suatu hari nanti. Efsun adalah sosok Ibu asuh yang baik. Terbukti dari bagaimana cara Nessie dapat memahami materi pelajaran, dan bersikap.


Beckham hanya terdiam. Memori kemarin kembali berputar di otaknya. Ketika Efsun dengan darah dimana-mana, ditemukan tak berdaya di sebuah rumah. Beckham memejamkan matanya. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana.


Troy menolehkan wajahnya kesamping, ia memerintahkan Jessie untuk berada di sampingnya. Jessie pun berjongkok sopan di samping makam Efsun. Kakinya menutup rapat di bagian depan. Dia sengaja mengenakkan legging hitam, walau dress hitam yang ia kenakan mencapai pahanya. Jessie menoleh kearah Troy,


“Semoga dengan kejadian ini, kamu sudah dapat tertidur tenang disana. Maaf kan aku tidak ada di saat-saat terakhirmu. Aku berjanji akan menjadi Ayah yang baik untuk kedua Putriku. Terimakasih karena telah merawat Nessie dengan kasih sayangmu yang penuh.”


Jessie tersenyum simpul mendengarnya. Ia usap bahu Troy lembut. Jessie tarik tangannya, lalu mulai berdoa didalam hatinya. Berdoa untuk ketengan Efsun disana.


Setelah acara pemakaman. Beckham pun pergi untuk kembali bekerja. Situasi sudah kembali normal. Miracle sudah di penjara, ternyata wanita itu frustasi setelah kematian Ibunya. Hingga membuat wanita itu nekat membunuh Efsun yang padahal tidak mencabut biaya rumah sakit samasekali. Karena Efsun hanya mengancamnya pada saat itu. Beckham tak percaya jika dirinya akan terlibat dalam masalah keluarga yang cukup rumit.


Troy dan Jessie berada didalam mobil, hanya ada keheningan didalamnya. Namun Jessie menunduk, melirik tangannya yang di genggam oleh tangan Troy. Ibu jari pria itu bahkan sesekali mengelus punggung tangannya.


“Kamu mau sarapan dimana, Sayang? Biar anak-anak sarapan di rumah. Kita sarapan di luar aja hari ini.” ujar Troy memecah keheningan.


“Mmmm, aku nggak tau, Mas. Tapi kalau boleh, aku mau sarapan di restoran pinggir jalan aja.” ucap Jessie sambil mengarahkan jari telunjuknya ke kaca mobil bagian depan. Menunjuk beberapa space makanan di pinggir jalan.


“Oke.” Troy mengangguk. Ia pun memilih memberhentikan mobilnya disalah satu tempat makan sederhana. Yang ternyata menjual makanan seperti, Bitterballen, Pannenkoeken, dan Broodje Haring.


Setelah Troy berhasil memarkirkan mobilnya. Ia pun turun bersama Jessie. Ini seperti restoran kecil yang tak terlalu padat pengunjung. Ruangannya tidak ber fentilasi, namun terdapat kaca yang membentang indah. Terdapat pendingin ruangan juga di restoran ini. Jadi memang pintu yang cukup besar guna keluar masuknya tamu, selalu tertutup.


Desain kayu yang mendominasi, membuat Jessie merasa nyaman. Karena teringat oleh rumah Troy di hutan sana. Troy dan Jessie duduk berhadapan. Meja menjadi penghalang diantara mereka.


Setelah makan di hidangkan. Jessie memakan makanan itu dengan antusias. Troy merasa senang melihatnya. Ia ambil ponselnya. Lalu memotret Istrinya dengan perasaan bangga di hatinya. Jessie tak menyadari bahwa dirinya di potret, karena asik memakan makanan yang di hidangkan.


Troy bahkan memakan makanannya hanya sedikit. Karena merasa puas telah melihat Istrinya makan dengan lahap.


“Sayang, jangan marah sama Beckham ya? Karena dulu emang Mas yang suruh dia untuk nguntit kamu. Biar Mas tau, kalau semisal ada yang berniat macam-macam sama kamu.” Jessie mengerutkan keningnya. Hingga alisnya menyatu. Namun karena mood nya yang sedang baik, Jessie pun akhirnya mengangguk meng iyakan. Lagipula ini bukan persoalan yang besar menurutnya.


“Jadi rumah lama kamu gimana? Mau di jual aja, atau kamu bangun toko kue disana?” tanya Troy mengingat rumah Jessie yang berada di sekitar pemukiman warga.


Jessie pun tersedak mendengar hal itu. “Eh, kok keselek. Ini minum dulu cepetan.” ujar Troy cepat, segera mengambil minuman yang berada diatas meja.


“Kamu tuh, masa iya rumahku mau di jual? Banyak kenangan tau disana. Apalagi ada Lita juga 'kan. Aku jadi kepikiran sama dia, Mas.” jawab Jessie setelah tenggorokannya membaik.


Troy pun tampak memikirkan suatu hal. “Jadi kamu mau nya gimana, Sayaaaang? Mau di jadiin toko kue aja? Atau untuk adik' kamu aja rumahnya?” mata Jessie tampak berbinar, saat Troy mengusulkan hal itu.


“Ih iya. Bener kamu, Mas. Mendingan rumahnya di tempatin Lita aja. Lagian dia juga orangnya dapat di percaya, pasti rumah bakalan aman sama dia.” jawab Jessie senang. Troy pun mengangguk.


Mereka kembali menghabiskan makanan mereka. Setelah selesai sarapan. Troy dan Jessie pun kembali ke rumah. Kini, Jessie sedang duduk diatas sofa ruang tamu. Bersama Nessie dan Lauryn di depannya.


Nessie yang mulanya kaku terhadap keberadaan Jessie pun, kini mulai akrab dan ingin terus berdekatan dengan Jessie. Seperti sekarang ini, saat Nessie merengek minta di temani bermain masak-masakan oleh dirinya.


“Mama, tolong benerin tutupnyaaa.” rengek Nessie begitu manja. Dengan raut wajahnya yang cemberut. Melihat tutup panci mainannya tercopot dari asalnya.


Sedangkan Lauryn sibuk dengan buku gambar milik Kakaknya. Lauryn mencoret-coret kertas itu dengan gerakan lambat, ia takut melewati garis gambarnya. Membuat mata cantiknya harus terfokus pada kertas gambaran diatas meja, yang tadi Mamanya taruh beserta pensil gambarnya.


Troy yang tadi berada di dalam ruang kerjanya, kini keluar untuk mengambil beberapa file yang tersimpan di kamarnya. Namun gerakannya terhenti, saat melihat pemandangan sederhana di ruang tamu. Pemandangan yang ia impikan sejak lama. Melihat Jessie- yang kini sudah resmi sebagai Istrinya. Sedang bermain dengan anak-anak mereka.

__ADS_1


...Author point of view off....


__ADS_2