SINGLE MAMA.

SINGLE MAMA.
chapter 38


__ADS_3

...Author point of view....


Jessie masih hanya terdiam mencerna kata-kata yang Efsun ucapkan. Efsun membalikkan tubuhnya, lalu berjalan keluar melewati pintu yang baru saja ia buka. Baru berdiri di ambang pintu, ternyata sedari tadi Troy sedang duduk di ruang tamu lantai atas rumah Beckham. Bersama dengan Beckham yang juga duduk di depan Troy.


Lantas keberadaan Efsun yang berdiri tak jauh dari mereka, membuat wanita itu menjadi sasaran mata penuh selidik dari Troy dan Beckham. Samar-samar memang Troy mendengarkan teriakan dari dalam kamar, tapi hanya samar. Karena dinding setiap ruangan Beckham yang hampir kedap suara.


“Aku pamit pulang,” ujar Efsun datar, Beckham langsung bangun dari duduknya. Ia menghampiri Efsun lalu memiliki inisiatif untuk mengantarkannya pulang, walau sebenarnya ia tak suka dengan kehadiran Efsun disini.


“Biar aku yang mengantarmu pulang.” Beckham sudah siap mengambil ancang-ancang untuk menuruni tangga. Efsun juga tampak tak menolak.


Efsun melirik Troy yang hanya terdiam, dan terkesan tidak peduli padanya. “Nessie masih sendirian di rumah 'kan? Kenapa kalian tidak pulang saja ke rumah.” titah Efsun masih dengan wajah datarnya.


“Ide yang bagus.” jawab Troy mengangguk sekilas. Dan tidak berniat memperpanjang topik obrolan diantara mereka.


Efsun menghela nafas panjang, lalu ia segera menuruni tangga. Meninggalkan lantai atas, yang kini hanya tersisa Troy, Jessie, dan Lauryn. Rumah Beckham yang cukup besar tidak meninggalkan satu bodyguard pun. Karena Beckham yang terbiasa hidup dalam kesendirian.


Troy langsung memasuki kamar. Ia menghampiri Jessie yang terdiam. Troy memegang kedua sisi pipi Jessie dengan cemas. Ia khawatir jika Efsun telah mengatakan hal yang tidak-tidak, hingga membuat Jessie melamun seperti ini.


“Jessie?” Troy menepuk pipi Jessie lembut, Jessie langsung tersentak sekilas karena merasa kaget. Ia membuang nafasnya lega, melihat jika Troy yang berada di hadapannya.


“Kamu kenapa, Sayang? Efsun nggak ngapa-ngapain kamu 'kan? Dia nggak berbuat kasar sama kamu 'kan? Dia nggak nge bentak kamu 'kan??” tanya Troy bertubi-tubi, Jessie langsung menggeleng cepat. Buru-buru ia menunjukkan kertas yang tadi Efsun berikan.


“Aku nggak tau, Mas. Tadi Efsun emang sempet marah sama aku, tapi tiba-tiba dia minta maaf. Terus ngasih surat ini.”

__ADS_1


Kening Troy menyeringit menatap surat itu. Ia menyuruh Jessie duduk terlebih dahulu, baru meletakkan dua buah surat keatas nakas kecil di samping ranjang.


Troy menuangkan air putih dari dalam teko bening, kedalam gelas kaca. Lalu ia ikut mendudukkan dirinya di samping Jessie.


“Minum dulu ya. Keliatan kamu cape gini,” ujar Troy sambil membantu Jessie meminum segelas air putih itu. Jessie tersenyum kecil dengan perhatian yang Troy berikan padanya.


“Kok malah senyum. Emang tampang Mas lucu ya?” Troy menaik turunkan alisnya menggoda Jessie. Jessie terkekeh pelan, lalu ia menyenderkan kepalanya di pundak Troy.


“Mas lucu kayak bayi.” jawab Jessie berhasil membuat Troy merenggut tak senang. Namun ia bahagia menyadari jika Jessie kembali melunak padanya.


“Mas, Efsun nggak apa-apa 'kan? Kok aku ngerasa aneh ya sama dia. Sikapnya cepet banget berubah. Aku jadi takut suatu hal terjadi.” ujar Jessie khawatir, sekaligus curiga. Troy mengangguk setuju, apa yang Istrinya katakan memang benar. Tapi, memangnya apa yang terjadi pada Efsun?


“Udah ya, Sayang. Kamu nggak perlu lagi mikirin hal ini. Masalah juga udah selesai. Sekarang Mas bisa bawa kamu ke rumah,” balas Troy sambil memeluk punggung Jessie, hingga telapak tangannya yang besar memegang lengan Jessie.


“Siapa?” tanya Troy singkat. Jessie menggelengkan wajahnya tak percaya, melihat tingkah laku Troy yang seolah cemburu lagi, dan lagi.


“Apa sih, kok mukamu jutek gitu. Orang namanya Lita kok, dia cewek. Emang kamu anggap aku wanita macam apa? Yang punya adik-adikkan cowo di rumahku sendiri.” jawab Jessie ketus, sambil melepaskan rangkulan tangan Troy.


Troy menghembuskan nafasnya kasar, “Bukan itu maksud Mas, Sayang. Maaf karena Mas terlalu berlebihan. Mas nggak suka aja liat kamu deket sama cowok, sekalipun dia temen Mas, kayak Beckham tadi.” ujar Troy sambil menggeser posisi duduknya. Hingga menempel pada tubuh Jessie yang tadi menjauh.


“Mas mikir aja sendiri, masa iya aku selingkuh. Yang ada Mas tuh-”


“Ssttt, udah ya, Sayang. Mas nggak mau berdebat lagi sama kamu. Mas minta maaf udah posesif gini. Maaf ya, Sayang.” Troy langsung memotong ucapan Jessie yang dapat memancing perdebatan kembali diantara mereka.

__ADS_1


Troy memeluk perut Jessie dengan kedua tangannya dari samping. Lalu ia senderkan wajahnya di ceruk leher Jessie.


“Ish siapa juga yang mau berdebat lagi sama Mas. Lagian Mas udah tua masih aja cemburu-cemburuan. Nggak cocok tau,” ujar Jessie mendumel pelan. Yang masih terdengar jelas oleh telinga Troy.


“Tuh kan. Kamu bawa-bawa umur. Mas kesel kalo kamu udah bawa-bawa umur. Nggak fair kalo gitu,” Troy melepaskan pelukannya di perut Jessie. Lantas ia menggeser tubuhnya, dan menyibukkan dirinya dengan cara mengusap-usap kening anaknya.


“Ih Mas jangan marah. Lagian mau umur Mas 50 tahun sekalipun, itu nggak ada bedanya untuk Jessie. Jessie tetap Istri, Mas.” ucap Jessie berusaha membujuk Troy. Dengan mudah Troy tersenyum, jarang sekali mendengar Jessie mengatakan hal manis padanya.


“Jessie, Mas cinta sama kamu.”


“Iya, Mas. Jessie tau,”


“Jessie, Mas cinta, cinta, cinta, cinta, cintaaa banget sama kamu.” Troy cukup kesal, karena Jessie tak membalas ucapan cintanya.


“Iya ih, Mas ngapain sih. Berisik banget tau, Lauryn lagi tidur juga.” Jessie mendelik, sambil menutup mulut Troy dengan tangannya.


Troy akhirnya menjauhkan telapak tangan Jessie dari mulutnya, ia beralih menatap Lauryn lagi. Lalu tersenyum kecil. Matanya melirik kearah Jessie yang tidak sadar dengan perubahan sikapnya. Troy berusaha menyingkirkan rasa kesalnya, karena tak ingin memengaruhi mood Jessie.


“Sekarang kita turun, langsung kerumah.” ujar Troy datar. Jessie mengangguk patuh.


“Mas tolong gendong Lauryn ya. Lauryn makin berat soalnya.” ucap Jessie yang di setujui Troy. Jessie mengambil surat diatas nakas, lalu memasukannya kedalam saku celana jeans-nya.


Lantas tubuhnya langsung berdiri, dan berjalan keluar duluan. Meninggalkan Troy yang masih kesal karena Jessie tak kunjung membalas ucapan cintanya.

__ADS_1


...Author point of view off....


__ADS_2