SINGLE MAMA.

SINGLE MAMA.
chapter 37


__ADS_3

Chapter ini 1600+ words. Aku harap kalian mau meng apresiasi aku dengan cara memberikan komentar.


Thankyou,


...Author point of view....


“Kamu nggak pernah mempercayai Mas sepenuhnya, Jessie. Andai saja kamu percaya pada Mas sepenuhnya, pikiran jelekmu tentang Mas pasti nggak akan sebegitu jahatnya.” ujar Troy merengkuh pinggang Jessie untuk mendekat kearahnya.


“Dimana panggilan sayangmu untuk Mas? Berubah gitu aja hanya karena berita sampah itu. Iya?” tanya Troy congak, semakin mendorong erat punggung Jessie. Hingga dada Jessie kini dapat ia rasakan sepenuhnya.


“Kamu nggak pantes dapetin panggilan itu. Selagi kamu belum bisa lepas dari bayang-bayang mantan mu itu.” Jessie membuang pandangannya kesamping.


“Udah berapa kali Mas bilang kalau nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Efsun. Tapi kamu tetep nggak percaya.”


“Gimana aku mau percaya, Mas?! Kalau apa yang aku lihat itu bener. Sekarang Mas malah bawa dia kesini. Pergi semalem sama dia, terus ke rumah Beckham pun barengan. Serasi sekali kalian ini.” Jessie tersenyum miring, ia menatap Troy remeh. Seolah sedang mengejek pria itu dengan tatapannya.


Troy menghembuskan nafas kasar, ia lepaskan rangkulan tangannya pada Jessie. Lalu balik membelakangi Jessie.


“Mas nggak bisa ngelak 'kan? Iya kan?!” sengit Jessie merasa kesal. Troy membalikkan badannya, lalu ia bawa tubuh Jessie kedalam pelukannya dengan erat. Hingga membuat Jessie merasa sesak.


“Diam, Jessie! Diam.” tekan Troy berbisik. Ia berusaha menahan emosinya sekeras mungkin. Agar tak menumpahkannya pada Jessie.


“Mas, hiks. Selingkuh.” wajah Jessie terkulai lemas di atas dada Troy. Bibirnya bergetar karena berusaha menahan suara isak tangisnya agar Lauryn tak terbangun.


Troy merenggangkan pelukan tubuhnya pada tubuh Jessie. Ia pegang kedua lengan Jessie dengan tangan besarnya. Wajahnya menukik kebawah, memperhatikan dengan jelas wajah Jessie yang memerah.


“Sssttt. Harus Mas bilang berapa kali lagi agar kamu percaya? Mas hanya cinta sama kamu. Yang berita kabarkan tidak benar, Jessie.” ujar Troy tegas, matanya masih fokus menatap kedua pipi Jessie yang basah.


Bibir Troy mengecup kedua pipi Jessie, otomatis membuat perempuan itu memejamkan matanya. Tubuh Jessie mulai relaks, saat Troy kembali memeluk tubuhnya. Kedua telapak tangan Troy mengunci punggung Jessie, hingga tubuh Jessie menempel erat di dadanya.


“Aku cengeng ya, Mas.” cicit Jessie hampir tak terdengar. Karena suaranya yang benar-benar kecil. Troy memegang dagu Jessie, ia bawa wajah itu mendongak. Kepala Troy mengangguk.


“Iya. Kamu lebih cengeng dari Lauryn dan Nessie.” balas Troy dengan senyuman di wajahnya. Membuat Jessie menarik kedua sudut bibirnya kebawah, membentuk seulas senyum kekecewaan.


“Jangan panggil aku kalau bukan dengan sebutan Mas'. Itu terasa beda untukku.” ujar Troy kembali menegaskan intonasi nadanya.


“Tapi Mas selingkuh,” cicit Jessie pelan, dengan binar matanya yang berkaca-kaca, sisa menangis tadi. Troy menggeleng lemah, seolah ia mulai tunduk dengan wanita di hadapannya.

__ADS_1


“Mas berani bersumpah, Jessie. Mas nggak selingkuh. Kemarin memang Efsun memeluk Mas, Efsun juga memegang tangan Mas dua kali. Mas nggak menolak karena...... Kamu tahu apa jawabannya 'kan?” ujar Troy menggantungkan ucapannya.


“Jessie nggak tau.” entah kenapa, setelah penjelasan Troy barusan, tidak membuat dirinya merasa cemburu. Melainkan merasa lega karena Troy mau jujur padanya.


“Karena Mas hanya menganggap Efsun sebagai seorang wanita yang pernah merawat anak Mas. Nggak lebih. Kamu boleh kecewa sama Mas, tapi jangan lagi kamu nggak percaya sama cinta yang Mas berikan padamu.” titah Troy jujur, sulit memang mengerti sikapnya. Namun ia hanya mengikuti kata pikirannya. Dan jika bersama Jessie, barulah ia mengikuti kata hatinya.


Jessie menatap Troy dengan tatapan menelisik. Berusaha mencari kebohongan dari pria di hadapannya. Namun Jessie tak menemukan arti tatapan apapun, selain mata Troy yang menatapnya penuh kelemah lembutan dan penuh permohonan.


“Mas hanya nggak mau Nessie kecewa kalau wanita yang udah merawatnya. Justru malah Mas kasari. Tapi ternyata Efsun semakin menyalah artikan sikap Mas selama ini. Semalam, Mas pun berterus terang pada Efsun. Mas jujur kalau Mas sudah menikah dengan kamu. Dan tadi pagi, Efsun-”


Ucapan Troy terhenti, saat pintu kamar terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu. Efsun berdiri di setengah badan pintu. Walau hanya setengah saja tubuhnya berdiri, namun matanya bisa melihat jelas apa yang sedang terjadi di depannya. Efsun meneguk ludahnya kasar, melihat keintiman diantara Troy dan Jessie yang sedang berpelukan. Bahkan setelah kehadirannya saja, Troy samasekali tak berniat menjauhkan kedekatan diantara dirinya dan Jessie.


Tangan Efsun yang masih berada di engsel pintu, kini mendorong engsel itu diikuti oleh pintu yang terbuka semakin lebar. Kedua telapak tangan Jessie berada di atas dada Troy, ia terdiam melihat kehadiran Efsun yang sangat tiba-tiba. Bahkan Jessie masih belum sempat menjauhkan pipinya yang juga menempel pada dada Troy, karena kepalanya yang menoleh.


“Dan tadi pagi Efsun ingin berbicara denganmu, Sayang. Itu yang tadi Mas ingin katakan.” ujar Troy yang tadi sempat terpotong karena kehadiran Efsun.


Efsun berdiri di ambang pintu, matanya menatap lurus kearah Jessie. Bukan kearah Troy. Ia menatap Jessie dalam, dengan bibir yang terkatup rapat.


Jessie mendorong pelan dada Troy, pelukan diantara mereka berdua pun terlepas. Jessie melangkah hingga ia berdiri di hadapan Efsun. Efsun melirik Troy yang masih berdiri di sisi ranjang.


“Aku hanya ingin berbicara dengan Jessie, Kak. Hanya berdua.” ujar Efsun masih memanggil Troy dengan sebutan 'Kakak'.


“Mas tunggu di luar ya, Sayang. Jangan bicara terlalu keras, nanti Lauryn bisa terbangun. Paham?” ujar Troy lembut, setelah tubuhnya berdiri di samping Jessie.


Jessie mengangguk dengan berat hati, “Paham, Mas.” sebenarnya Jessie merasa malu. Ketika Troy mengecup pipinya lagi. Kecupan itu pun cukup dalam. Sebenarnya Troy tidak memiliki niat lain, selain karena gemas dengan pipi Jessie.


Troy pun lantas keluar. Pintu kamar kembali tertutup. Menyisakan Jessie, Efsun dan Lauryn yang masih terlelap disana. Efsun menyusuri lantai dengan kakinya, ia berjalan menuju kasur di tengah ruangan. Pantatnya mendarat di sisi ranjang, menatap Lauryn yang sedang terlelap disana.


Jessie mendekati ranjang karena takut Efsun akan melakukan suatu hal yang tidak di inginkan. Namun ia hanya melihat senyum lembut Efsun ketika sedang menatap anaknya. Tangan wanita itu juga terulur, mengusap pipi chubby Lauryn.


“Cantik seperti Kakaknya. Nessie sangat menyayangi kamu. Kalian akan menjadi kakak adik yang saling menjaga satu sama lain.” ujar Efsun sambil terus menatap wajah Lauryn.


“Aku ingin melihat kalian bermain bersama suatu hari nanti.” Efsun pun berdiri setelah mengatakan hal itu.


Efsun berdiri di hadapan Jessie. Keduanya berdiri berhadapan. Mata mereka saling mengunci satu sama lain. Wajah mereka datar, tanpa ekspresi apapun. Hanya ada keheningan yang melanda keduanya, sebelum akhirnya Efsun membuka suara.


“Aku masih cukup muda ketika mengenal Kakak dulu. Aku sudah mencintainya sejak kali pertama kita bertemu. Kak Troy adalah pria yang sangat baik, yang pernah aku kenal. Aku mencintainya, dan dia mencintaiku. Sebelum akhirnya kau datang, dan dia sadar jika cintanya bukan lagi untukku.” ujar Efsun sambil menyembunyikan senyuman mirisnya, dengan membuang wajahnya kesamping.

__ADS_1


“Salah kah jika aku berharap padanya? Aku sangat mencintainya. Kita menikah karena cinta. Tapi ternyata dia mengkhianati ku. Aku sedang mengandung anaknya saat itu, dan aku mengalami keguguran karena kecewa padanya! Salah kah aku, Jessie?!” seru Efsun menekan pertanyaan di akhir kalimat. Air matanya mengalir deras, dengan wajah yang bergetar.


Lantas Jessie hanya memandang wajah Efsun. Sedetik kemudian ia menggeleng. Lalu tersenyum kecil, membalas tatapan tajam Efsun padanya.


“Sebenarnya apa yang spesial dari dirimu. Aku masih muda, aku juga cantik. Aku yang menemani dia dari nol. Aku yang mencintainya sejak dulu. Sedangkan kau-”


“Kau bahkan baru hadir diantara kita! Kau baru hadir ketika Troy dan aku sudah lama bersama. Apa yang membuat Troy mencintaimu Jessie?!!” tanya Efsun sengit, dengan wajah yang sudah penuh akan air mata.


“Kamu bisa menilai sendiri Efsun. Kamu hanya mencintai Troy. Sedangkan aku,” Jessie menatap Efsun tak percaya, ia pikir Efsun sudah berubah walau hanya sedikit. Tapi ternyata tidak.


“Bahkan aku tidak pernah berharap sedikit pun jika Troy akan membalas cintaku. Hanya anakku lah yang aku cintai setelah itu. Aku di usir dari rumah, aku di asingkan dari keluarga ku sendiri. Lalu aku berjuang hidup sendirian hanya untuk memberikan kehidupan yang layak bagi anakku. Memberikannya makanan yang sehat, menyekolahkannya di taman kanak-kanak. Lalu memperhatikan setiap gerak-geriknya dalam tidur jika sudah terlelap. Hanya untuk memastikan jika dia tertidur nyenyak dalam mimpinya.”


“Saat aku hamil pun, aku memilih diam. Kamu tahu karena apa?” tanya Jessie menggantungkan kalimatnya. Jessie tersenyum kecut mengingat memori lama yang kembali hinggap dalam pikirannya.


“Karena aku tahu kalau dia sudah menikah. Dan istrinya juga sedang mengandung.” ujar Jessie tegas. Efsun nampak terkejut mendengar hal itu,


“Aku dulu pernah menjadi orang yang jahat, aku dulu pernah memiliki niat licik pada saudari ku sendiri. Namun akhirnya aku sadar, jika kelak aku akan menjadi seorang Ibu yang akan menjadi panutan bagi anak-anaknya.” lanjut Jessie tersenyum simpul. Mengingat perjuangannya selama ini. Ia merasa bangga pada dirinya sendiri.


“Jadi mulai sekarang. Berhenti menyalahkan diriku dengan kesalahan yang telah kamu perbuat sendiri. Dan stop membandingkan diriku dengan dirimu. Karena kita berada di level yang berbeda.” tekan Jessie menumpahkan segala kekesalan hatinya selama ini.


Efsun diam tak bergeming. Kata-kata yang Jessie ucapakan menembus tepat ke ulu hatinya. Namun entah mengapa, kalimat itu justru membuat dirinya tenang. Karena ia percaya jika Jessie bisa menyayangi Nessie, lebih dari apa yang ia berikan selama ini pada anak itu.


Perlahan tangannya bergerak mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Jessie hanya memperhatikan gerak-gerik Efsun tanpa ada niat mengucapkan sepatah katapun.


“Maaf.”


“Aku memang gagal menjadi seorang Istri, sekaligus Ibu untuk anakku sendiri. Tapi aku berharap jika aku telah berhasil menjadi seorang Ibu yang baik untuk Nessie.” ujar Efsun dengan matanya yang meredup sendu.


“Ini untuk anakku_____ maksudku, ini untuk Nessie, anakmu.” Efsun mengulurkan tangannya yang menggenggam sebuah surat yang terlipat dua bagian.


“Berikan ini ketika ia sudah pandai membaca. Percaya padaku, jika isi di dalamnya tidak samasekali menjatuhkan siapapun.”


Akhirnya Jessie menerima surat itu, isinya tidak nampak karena memang terlipat. Jessie menatap Efsun bingung, saat gerak-gerik Efsun yang berubah begitu pesat. Tidak seperti beberapa menit lalu yang meneriakinya.


“Dan ini untukmu.” Efsun kembali mengeluarkan sebuah surat. “Untukmu dan Troy.” ujar Efsun semakin menimbulkan tanda tanya dalam benak Jessie.


“Aku pamit, sampai jumpa, Jessie.”

__ADS_1


...Author point of view off....


__ADS_2