
...Author point of view....
Perlahan pelukan itu merenggang. Jessie menarik tubuhnya menjauh, namun ia tetap duduk di atas pangkuan Troy. Pria itu mengusap pipi Jessie dengan tangan kasarnya. Membuat mata Jessie terpejam menikmati sentuhan Troy.
Troy taruh hasil USG itu berserta map nya ke dalam laci kembali. Lalu telapak tangan Troy mengusap pinggang Jessie yang masih tertutupi kaus putih wanita itu.
Melihat Jessie tidak menolaknya, Troy semakin berani dengan mengusap pinggang Jessie dari balik kaus wanita itu. Merasakan kelembutan tiada tara dari kulit Jessie. Troy semakin mengusap naik kulit lembut Jessie, hingga tangannya berhenti di belakang punggung Jessie.
Mata Jessie terpejam, kedua belah bibirnya terbuka. Troy melepaskan bra yang Jessie kenakan dengan satu tangannya. Menimbulkan suara desahan Jessie secara tiba-tiba.
“Ahhh.” desahan Jessie mengalun indah di telinga Troy. Lalu Troy angkat tubuh Jessie dengan mudah, menjadi sepenuhnya di atas pangkuannya. Kedua paha Jessie mengapit pinggang Troy. Karena tubuh Jessie yang kecil, memudahkan Troy mengubah posisi duduknya.
Troy mendorong posisi kursi kebesarannya ke depan, hingga punggung Jessie mengenai meja kerjanya. Tangan Troy menyingkap kaus Jessie ke atas, hingga terpampang lah kedua payudara Jessie yang masih tertutupi bra berwarna hitam.
“Sungguh tubuh mu lah tubuh yang paling indah, Jessie.” ujar Troy menatap penuh gairah ke arah buah dada Jessie yang membusung ke arahnya.
Jessie menjatuhkan tangannya ke atas pundak Troy. Ia mencengkram pundak Troy tidak terlalu kuat, karena sedang merasa lemas dan mendambakan sentuhan lebih Troy di tubuhnya.
Troy menjatuhkan satu tangannya ke atas permukaan perut datar Jessie. Telapak tangannya yang besar dan kasar mengusap kulit Jessie kasar. Sedangkan sebelah tangannya berada memeluk pinggang belakang Jessie.
“Di sini kamu sudah mengandung anakku. Lalu disini, kamu sudah memberikannya kehidupan.” ujar Troy serak, sembari mengusap permukaan perut datar Jessie, lalu merambat naik menyusup ke balik bra yang sudah terlepas ikatan belakangnya.
Mata Jessie terpejam erat. Ia menggigit bibir bawahnya kuat. Saat Troy memilin puncak ***********. “Benar-benar sangat sexy.” gumam Troy menatap penuh minat ke arah payudara Jessie.
“Aku mencintaimu.” ujar Troy tulus, sebelum akhirnya ia menyingkap lepas kaus Jessie melewati dua tangan wanita itu yang terangkat ke atas.
Troy tarik juga bra Jessie dengan cepat. “Ahh, Troy.” lenguh Jessie saat Troy menenggelamkan wajahnya pada *********** yang sangat sekal dan besar.
Orang-orang mungkin tidak menyadari keindahan tubuh Jessie, karena wanita itu selalu mengenakkan pakaian yang tertutup dan oversize. Membuat keindahan tubuhnya tertutupi.
Troy seperti bayi yang sedang menyusu dengan ibunya. Ia meremas salah satunya dengan tangannya yang lain. “Jangan di gigit.” pinta Jessie memelas, menyadari gerakan Troy yang cukup kasar.
__ADS_1
Troy langsung menjauhkan bibirnya dari payudara Jessie yang lembap akan salivanya. Troy tersenyum lebar, “Maaf, Sayang. Aku tidak bisa mengontrol keinginan ku saat bersama mu.” ujar Troy jujur, dan langsung mengangkat tubuh Jessie.
Troy bangun dari kursi kebesarannya. Ia berdiri dan langsung mendudukkan Jessie ke atas meja kerjanya. Lalu Troy dorong tubuh Jessie hingga terlentang di atas meja kerjanya yang besar. Tanpa bisa Jessie lihat Troy sudah membuka gesper yang ia kenakan. Troy turunkan resleting celananya.
“Jangan di masukkan Troy...” pinta Jessie lemas karena nafsunya. Bukan Troy namanya yang dengan mudah menuruti keinginan seseorang.
Troy menarik kedua paha Jessie, kaki Jessie yang berada di atas meja kerja Troy membuat rok wanita itu sudah tidak terbentuk karenanya. Lalu dengan mudah Troy geser underwear yang Jessie kenakan. Pekikan Jessie terdengar keras, Troy melakukan penetrasi secara tiba-tiba.
“Arghh. Nikmat banget kamu, Sayang.” ujar Troy menggeram kasar. Ia memacu pergerakannya dengan kasar dan cepat. Membuat Jessie mendesah keras di buatnya.
Jari jemari kaki Jessie menekuk di pinggiran meja kerja Troy. “Tambah binal kamu, Sayang.” lanjut Troy serak. Semakin menambah kecepatan percintaan mereka.
Tubuh Jessie terlonjak-lonjak seiring tekanan tubuh Troy di bawahnya. Pria tua ini tidak berubah, Troy tetap ber stamina. Dan justru Jessie merasa aura Troy jauh lebih matang dari beberapa tahun sebelumnya. Umur hanya lah angka untuk Troy, meski ia sudah berusia 42 tahun tapi miliknya berhasil membuat Jessie mengerang sakit dan nikmat disaat yang bersamaan.
...★★★...
Di sisi lain.
Nessie tumbuh menjadi gadis kecil yang aktif dalam berbicara, mudah bergaul, namun sedikit egois dan keras kepala. Persis seperti sikap Ayahnya, Troy.
Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka. Menampakkan sesosok wanita yang Nessie sayangi.
“Nessie.” panggil Efsun berdiri di ambang pintu. Nessie berdiri dari posisi duduknya, lalu ia membuka kedua tangannya meminta agar Efsun menggendongnya.
“Anak Buna mau makan apa?” tanya Efsun pada Nessie yang kini menyandarkan wajahnya di atas pundak wanita itu.
“Efsun mau makan pizza.” pinta Nessie kepada Efsun yang langsung mengangguk meng iyakan.
“Baiklah, Buna akan memesannya segera. Nanti Nessie di rumah main sendiri dulu ya? Buna mau pergi sebentar.” ujar Efsun lembut, seketika membuat Nessie mendadak murung.
Nessie mengangguk. Ia kemudian berusaha menurunkan tubuhnya dari pelukan Efsun. Efsun pun langsung menurunkan Nessie, namun saat wanita itu ingin segera beranjak pergi untuk mempersiapkan dirinya ke rumah sakit. Efsun melihat Nessie yang langsung berlari ke arah ranjang.
__ADS_1
Nessie menelungkup kan wajahnya di atas bantalan empuk miliknya. Efsun terkejut mendengar isak tangis Nessie yang teredam.
“Nessie? Kamu kenapa?!” tanya Efsun terkejut. Efsun langsung berlari duduk di atas ranjang. Ia tarik pundak Nessie dengan mudah.
Betapa terkejutnya Efsun melihat wajah Nessie yang sudah memerah dan basah karena air mata. “Ada yang jahat sama kamu? Siapa?! Sini bilang sama Buna!” gertak Efsun tak terima melihat Nessie menangis.
“Buna. Hiks,” cicit Nessie mengusap air matanya dengan jemari kecilnya. Punggungnya bergetar masih sesegukan.
“Buna sama Ayah jahat. Buna selalu meninggalkan Nessie sendirian. Dan Ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya! Nessie sendirian, hiks.” ujar Nessie gemetar.
Efsun terperangah mendengar ucapan Nessie. Nessie memang bukan anak kandungnya, tapi Nessie adalah alasannya bertahan di dunia ini. Hanya Nessie satu-satunya harapan Efsun.
“Buna selalu meninggalkan Nessie! Tidak pernah tidak meninggalkan. Nessie hanya bermain sendiri bersama dengan para pelayan itu!” ucap Nessie kasar sambil menunjukkan jarinya ke ambang pintu. Memandang rendah sesosok pelayan yang baru saja datang.
Pelayan itu berdiri menunduk. Efsun membesarkan matanya, “Nessie! Turunkan tanganmu! Buna tidak pernah mengajarkan mu tidak sopan seperti ini.” gertak Efsun menegur Nessie. Langsung membuat anak kecil itu menunduk dalam.
“Maaf.” cicit Nessie langsung meminta maaf. Ia merasa takut saat Efsun mulai memarahinya.
Efsun dulu bukan lah orang yang kaya. Ia hidup berkecukupan sejak kecil. Namun semuanya berubah saat pacarnya Troy menikahinya. Troy yang dulu hidup pas-pas an, menjadi bergelimang harta karena menggantikan posisi jabatan yang di berikan oleh atasannya. Troy sangat gigih saat bekerja, semakin menambah rasa cinta Efsun padanya. Namun semuanya berubah saat Efsun tahu, hati Troy sudah berpaling darinya. Hidupnya hancur seolah tidak ada harapan lain.
Dan Nessie pun hadir dalam hidupnya. Efsun sangat senang. Ia sangat egois jika mengenai Nessie. Efsun sangat mencintai Nessie daripada dirinya sendiri.
“Sekarang minta maaf juga pada Bibi.” ujar Efsun melirik pelayan yang masih menunduk.
Nessie turun dari atas kasur, lalu ia berdiri di hadapan pelayan itu. “Maafkan Nessie, Bibi.” ujar Nessie pelan. Pelayan itu tersenyum tipis, ia sedih melihat interaksi anak dan majikannya di depan.
Pelayan itu pun mengangguk, “Tak apa, Nona.” balas pelayan itu. Efsun pun menganggukkan wajahnya.
“Nessie sini, kamu mau ikut Buna ke rumah sakit?” tanya Efsun untuk pertama kalinya. Ingin mengajak Nessie untuk ikut bersamanya.
“Mau, Buna.” jawab Nessie dengan cepat. Binar matanya tadi meredup, kini sudah memancarkan semangat lagi. Efsun tersenyum lembut, pelan-pelan Efsun pasti bisa mengatakannya pada Nessie.
__ADS_1
...Author point of view off....