
...Author point of view....
Jessie dan Troy duduk berdampingan, sedangkan Beckham duduk di depan mereka, di pisahkan oleh meja kaca yang membentang di tengah-tengah. Jessie merasa seperti sedang di sidang sekarang. Suasananya canggung, dan hening. Terlebih lagi belum ada yang memulai pembicaraan.
Troy sengaja mengheningkan suasana, ia ingin menunggu teman karibnya saja yang memulai obrolan. Tuan Beckham memang teman dekat Troy, hanya saja, jika di depan orang, mereka terlihat sangat formal dan profesional.
Jessie merutuk dalam hatinya, ia ingin pamit undur diri, tapi takut jika malah di sangka tidak sopan. Untuk mengundurkan diri lebih dulu. Jessie melemparkan tatapannya pada Troy, Troy yang pura-pura tak tahu pun, hanya tersenyum tipis.
“Bagaimana? Apakah semuanya terkendali? Kau tahu Mrs. Jessie? Donat yang kau buat benar-benar gurih dan manis. Sangat cocok dengan lidahku.” ujar Beckham jujur, setelah mencicipi donat di belakang, barusan.
“Terimakasih tuan, terkendali? Apa yang terkendali?” Jessie menaikkan satu alisnya, Troy melemparkan tatapan tajam ke arah Beckham.
Karena Jessie yang fokus menunggu jawaban Beckham, membuat Troy yang melemparkan tatapan tajam, tidak ketahuan. Beckham langsung ber oh panjang, setelah sadar bahwa yang ia katakan terlalu buru-buru.
“Maksudku, apakah dapur dapat kau kendalikan? Semuanya bekerja sama dengan baik bukan?” jelas Beckham menjelaskan. Jessie menganggukkan wajahnya, ia tersenyum manis.
“Tentu saja. Semuanya sangat bisa di atur. Mereka baik, walau... Jarang tersenyum.” ringis Jessie di akhir kalimat, mengingat para staff yang sangat terlihat datar, seolah tak bahagia.
“Ah, mereka memang terkenal akan kedatarannya. Karena kepala dapur hotel Andreas, sejak dulu tidak pernah tersenyum.” ujar Beckham jujur, Jessie memincingkan matanya heran.
“Apakah kepala dapur itu adalah Mira?” tanya Jessie memperinci. Beckham menggeleng langsung, ia menghela nafas panjang. Membuat Jessie semakin penasaran di buatnya.
“Bukan. Mira yang kau sebut Miracle. Baru bertugas selama dua tahun.” jawab Beckham, Jessie melirik Troy yang sedari tadi hanya diam. Ternyata Troy sedang menunduk, sambil men scroll layar ponselnya asal.
“Kalian adalah seorang teman?” entah dimana rasa takut Jessie, ia berani bertanya karena memang di liputi rasa penasaran tang tinggi.
__ADS_1
Lagi-lagi Jessie hanya fokus menatap lurus pandangannya, hingga saat Troy mengangkat wajahnya, lalu menggeleng tegas dengan mata yang sedikit membesar, Jessie tak menyadarinya.
“Tidak. Dia atasanku.” ujar Troy yang menjawab dengan cepat. Walau sedikit ragu, Jessie mengangguk sebagai balasan.
Toh, tak ada hubungan dengan dirinya juga. Sekalipun Troy adalah supir pribadi Beckham, itu bukan urusannya lagi. Troy berdiri dari duduknya, di ikuti Jessie dan Beckham secara bersamaan.
“Aku harus segera bekerja Beckham. Ah, maksudku Tuan Beckham.” Troy tersenyum kikuk, walau begitu, mudah baginya untuk menyembunyikan mimik wajahnya yang terlihat gugup.
Jessie menoleh pada Troy, ia mengangkat alisnya tanda tak terima, ketika pria itu langsung menariknya keluar, dengan menggenggam tangannya. Tak memberikan Jessie waktu untuk berjabat tangan dengan Beckham.
“Dia bukan atasanmu. Tidak seharusnya kau berjabat tangan melulu.” ujar Troy jengah, sambil membuka pintu kemudi di depan. Jessie merasa Troy sedang sangat memaksa dirinya untuk masuk ke dalam jok bagian depan.
Troy memegang pundaknya, lalu Troy mendorong Jessie lembut, hingga Jessie duduk di kursi bagian depan. Troy langsung menutup pintu, ia mengitari mobil, dan masuk ke dalam jok kemudi.
“Aku tidak ingin kau menyentuh banyak pria.” ucap Troy yang kedengarannya sangat positif lewat pendengarannya sendiri. Namun tidak dengan Jessie yang menganggap bahwa Troy tengah mengungkit masa lalunya.
“Jadi? Kau menilaiku begitu? Dengan sengaja menyentuh banyak pria? Sebenarnya siapa pria' yang kau maksud Troy!” seru Jessie naik pitam, “Kau menganggapku sengaja menyentuh banyak pria? Saat aku ingin berjabat tangan kau juga menilaiku sengaja menyentuh banyak pria??” tanya Jessie tajam. Troy langsung menggeleng.
“Tidak! Aku tidak bermak-- ”
“Cukup! Walaupun aku memang bejat di masa lalu, bukan berarti anda bisa mengatakan hal keji seperti itu! Tidak seorang pun pantas untuk menilaiku. Tidak seorang pun!” desis Jessie tajam, dengan dadanya berdegup lebih kencang.
“Kau pikir kau ini hebat?? Membawa mobil mewah, berteman dengan orang kaya, lalu memerintah sesukamu. Semua orang tunduk padamu. Kau pikir kau ini hebat?!” tanya Jessie congak, dengan mata yang menatap Troy tajam.
“Kau akan tetap gagal di mataku. Tetap akan gagal. Kau bukan Troy dewasa yang aku kenal. Kau hanya pria bodoh yang tak tahu tanda pengorbanan dan perjuangan. ” ujar Jessie melemah, dengan mata yang memerah. Menahan tangisan yang ingin keluar.
__ADS_1
Ucapan Jessie barusan, terasa sangat menusuk, hingga ulu hatinya. Troy menahan nafasnya yang tercekat, Jessie memandang lurus pandangannya. Enggan menatap Troy.
“Cepat jalankan mobilnya.” ujar Jessie dingin, ia tidak ingin seperti wanita bodoh, yang mau saja di turuni di jalanan.
“Jes--”
“Jalankan atau aku pergi.” Jessie memotong ucapan Troy cepat.
Troy mengusap wajahnya kasar. Dengan terpaksa, ia segera memutar persneling mobil. Bibirnya yang ingin menjelaskan seolah terkunci, karena masih mencerna ucapan tajam Jessie, yang adalah sebuah fakta. Sehebat apapun dirinya, Troy akan tetap gagal dalam pandangan Jessie. Troy tahu, bahwa ia gagal. Ia gagal menjadi ayah yang baik. Dan Troy sadar akan hal itu.
...---------...
Troy termenung di balkon teras kamarnya. Ia sudah mengantar Jessie pulang, dan wanita itu, tetap bersi keras untuk berhenti di depan gang. Bukan langsung ke rumahnya. Troy memegang railing balkon, ia sedang menikmati udara malam yang sangat sejuk.
Tak lupa Troy memegang batang nikotin yang ia hirup setiap saat pikirannya sedang kacau. Troy merokok. Walau ia membenci rokok, dulu kala. Tapi di umurnya yang sudah menginjak kepala empat ini, Troy sangat membutuhkan zat mematikan itu, untuk pikirannya.
Terngiang-ngiang ucapan tajam Jessie saat di mobil, membuat Troy menjadi tak tenang. Bahkan kembali mengingat kejahatannya lima tahun yang lalu. Saat itu, di rumah sakit.
Troy menggelengkan wajahnya cepat, sebisa mungkin ia meyakinkan bahwa yang ia lakukan itu untuk kebaikan Jessie. Namun hatinya sendiri berteriak, menegaskan bahwa ia adalah seorang bajingan kelas kakap. Yang sangat bejat.
‘Dokter, kau harus menutup mulutmu rapat-rapat. Yang kulakukan adalah kebaikan untuk ibu dari bayi-bayiku. Jika kau mencoba untuk buka mulut, aku tak akan segan untuk menjebloskanmu ke penjara.’
Telinga Troy terasa panas, wajahnya menegang, saat bayang-bayang kejadian lima tahun yang lalu, di rumah sakit, membayangi dirinya.
...Author point of view off....
__ADS_1