SINGLE MAMA.

SINGLE MAMA.
chapter 30


__ADS_3

...Author point of view....


Troy menunggu kedatangan Jessie di altar. Mereka tidak jadi menikah di depan rumah Troy yang minimalis. Karena Beckham berhasil mencari gereja yang tak jauh keberadaannya dari pemukiman warga. Warga yang Beckham maksud bukan lah warga-warga kota. Tapi warga yang terkesan damai dan tak suka mencampuri urusan orang lain.


Jessie datang menuju gereja dengan mobil Troy, bersama Abigail yang berada di sampingnya. Sempat Jessie bertanya dimana keberadaan anaknya, namun Abigail menjawab jika Lauryn sudah bersama Troy dan para lelaki disana.


Jessie cukup kesal dengan hal itu. Karena ia ingin Lauryn juga ikut menemaninya. Namun sesaat Jessie bingung, siapa nanti yang akan menuntunnya ke altar. Hati kecil Jessie menginginkan Ayahnya berada disana, namun itu hanya seperti mimpi untuknya.


Abigail memegang punggung tangan Jessie, Abigail tahu jika Jessie sedang gugup sekarang. “Nanti Pendeta pasti akan curiga pada Uncle Troy, karena pengantinnya begitu tegang dan gugup. Pasti Pendeta akan mengira kalau Uncle Troy telah memaksa kamu untuk mau menikah dengannya.” Abigail terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.


Sontak Jessie langsung menyemburkan tawanya, sekejap Abigail terdiam melihat tawa renyah Jessie yang lepas. Ini kali pertama dirinya melihat Jessie tertawa lepas. Entah darimana sikap sok akrab Abigail datang, padahal ia termasuk orang yang tak pandai bergaul, apalagi di kalangan istri-istri pebisnis besar, yang sering kali berusaha untuk berteman dengannya. Namun saat bersama Jessie, keinginan untuk menghibur wanita itu ada. Karena Abigail dapat merasakan pancaran kesedihan dari mata Jessie.


Perjalanan tak butuh waktu lama, hanya 10 menit saja. Supir membuka kan pintu mobil untuk Jessie yang turun bersama Abigail. Jessie berjalan pelan di susul oleh Abigail di belakangnya. Pintu gereja terbuka lebar, baru setelah itu Abigail merapihkan dress yang Jessie kenakan pada bagian belakang.


Suasana gereja sangat sepi, hanya ada orang-orang yang ia kenali. Seperti Beckham, Alex, dan Putrinya. Lauryn. Jessie tersenyum lebar melihat Lauryn sudah rapih dan cantik dengan gaun mungilnya. Sesaat Jessie tak sadar, jika Abigail sudah berpindah posisi menjauh darinya. Abigail menghampiri Alex, lalu berdiri di sampingnya. Tinggal lah Jessie berdiri sendiri, di antara pintu besar yang terbuka lebar.


Troy menatap Jessie penuh rasa cinta, tak dapat di pungkiri jika ia sangat bersyukur dengan jalan takdir yang ada. Akhirnya, saat yang ia tunggu-tunggu datang juga. Dirinya akan segera menikah dengan wanita yang ia cintai.


Jessie tak berbohong, jika hatinya sedikit sesak. Karena tak ada Ayah atau sanak keluarganya yang berada disini. Namun tiba-tiba Jessie merasakan kehadiran seseorang. Jessie menoleh kesamping, matanya membulat terkejut melihat siapa yang datang, lalu berdiri di sampingnya.


“Uncle Roy...” Jessie menatap tak percaya dengan sesosok yang ia lihat. Roy adalah Ayah dari Abigail.


“Walaupun Uncle tidak tahu hubungan apa yang terjadi denganmu dengan pria tua itu, tapi Uncle tetap akan hadir menemani mu.” bisik Roy menyadari keterkejutan Jessie. Keponakannya.


Akhirnya Jessie dan Roy pun berjalan menuju altar. Roy melangkah menjauh saat Jessie sudah berada di atas altar. Tubuh mereka saling berhadapan, menyisakan dua langkah yang memisahkan jarak di antara mereka. Pendeta berdiri di tengah-tengah.


Janji suci terucap dari bibir keduanya. Hingga akhirnya Pendeta meresmikan mereka sebagai sepasang suami istri. Walau hanya ada beberapa orang, mereka tetep bertepuk tangan. Riuhnya suara tepuk tangan membuat senyum lebar Jessie terbit, di susul oleh senyum Troy yang jarang pria itu tunjukkan.


Selesai acara pernikahan, mereka kembali ke rumah kayu milik Troy. Bodyguard masih saja berdiri di halaman depan rumah Troy, mereka mengetahui hal yang bahkan tuan-nya itu tidak katakan. Namun mereka tetap tutup mulut karena itu bukan lah urusan mereka.

__ADS_1


Troy mengusap pundak Jessie yang terbuka karena gaunnya. Jessie menoleh kesamping, terlihat binar kesenangan nampak dari mata Troy. Kini keduanya sedang berada di kamar, meninggalkan Beckham yang sedang menjaga Lauryn di ruang tamu bersama Alex, Abigail, dan juga Roy.


“Apa yang akan Mas lakukan setelah ini?” Jessie menatap penuh wajah Troy yang terlihat tampan. Troy tersenyum, lalu mendaratkan satu kecupan singkat di rambut Jessie.


“Mas akan kembali hari ini. Pekerjaan sudah menunggu disana, Sayang. ” Jessie terkejut saat mendengar hal itu. Ini memang pernikahan yang mendadak, namun salah kah dia jika menginginkan hal yang lebih?


“Mas akan menghubungimu selalu. Rabu nanti Mas pasti pulang.” Jessie menghela nafas lelah, ia kecewa dengan hal itu. Dirinya ingin menjadi egois, ingin menahan Troy agar tetap berada disisinya.


Hari ini masih hari minggu, berarti 3 hari Troy baru akan datang menemuinya kembali. “Nggak mau. Nggak usah nikah kalau begitu.” Jessie menggeleng, ia jauhkan tubuhnya dari hadapan Troy.


Troy menghembuskan nafas kasar, ia tak menyesal sama sekali telah menikahi Jessie secepat ini. Troy tidak ingin Jessie pergi, walau akhirnya ia yang akan meninggalkan rumah ini selama 3 hari.


“Jessie, mengerti lah.” tangan Troy menarik pundak Jessie agar kembali berhadapan dengannya.


“Mas yang harus mengerti.” Jessie enggan menatap balik mata Troy, ia alihkan tatapannya pada jendela kamar yang tak memiliki aksen buka tutup.


“Kita kan udah omongin ini sebelumnya. Dan kamu setuju untuk tinggal disini, sedangkan Mas masih harus mengurus pekerjaan di kota.” ujar Troy menjelaskan, ia sedikit kehilangan kesabaran.


Mendengar suara Jessie yang sangat pelan itu, seketika membuat Troy menegang. Bagaimana ia bisa membawa Jessie ke kota? Jika disana saja masalahnya belum kelar, apalagi berita perceraiannya dengan Efsun belum di ketahui oleh publik.


“Kamu mau dikira media masa Istri kedua Mas. Iya?” tanya Troy lewat tatapan matanya yang menelisik. Jessie lantas terdiam, setengah detik kemudian ia menggeleng.


“Jangan membantah. Ikuti apa yang Mas katakan. Kamu akan aman disini.” ujar Troy datar. Ia membawa Jessie kedalam pelukannya, mengusap punggung lembut Jessie yang masih mengenakkan gaun secara naik turun.


Jessie terdiam, ia tidak boleh egois, namun siapa kah disini yang sebenarnya egois? Jessie hanya ingin hidup normal bersama Troy, sebagai pasangan suami istri. Walau mereka masih dilingkari oleh masalah.


Disisi lain.


Beckham sedang duduk bersama dengan Roy, Lauryn berada di dalam pangkuannya. Anak kecil itu tampak anteng dengan ponsel Beckham yang berada di genggamannya.

__ADS_1


“Apakah keluarga Jessie tidak akan mengetahui hal ini?” tanya Roy berpikir kedepan.


“Keluarga Jessie tidak akan tahu jika Troy tidak segera memberi tahu.” jawab Alex sekenanya. Ia mengusap kepala Abigail yang sedang bersender di atas dadanya. Istrinya itu sedang terlelap dengan begitu mudahnya.


“Troy masih lah suami Efsun di mata publik. Jika Troy memberi tahukan pernikahannya dengan Jessie dalam waktu dekat, publik pasti akan menggunjing Jessie abis-abisan.” ujar Beckham menimpali.


Mengingat ada Lauryn disini, Beckham pun menyuruh anak itu untuk pergi ke kamarnya.


“Sayang, ke kamarmu dulu sana. Istirahat lah.” Beckham melirik Lauryn yang berada di pangkuannya. Lauryn mengangguk nurut, ia mudah di atur. Membuat Beckham mudah menanganinya. Lauryn pun pergi, meninggalkan ponsel Beckham yang sudah kembali di tangan pemiliknya.


“Aku heran kenapa Jessie bisa dibuang begitu saja hanya karena kehamilannya. Lalu sekarang keluarganya seolah tak menganggap ia ada.” Roy terheran-heran dengan jalan pikir adiknya itu. Yang tak lain adalah Ayah dari Jessie.


“Jika kau lupa, kau juga memiliki hubungan dengan Jessie, Tuan Roy yang terhormat.” ujar Beckham dengan nada sarkas. Roy tergelak, ia tertawa keras mendengar ucapan Beckham.


Alex menyeringit, mendengar tawa mertuanya. Tak biasanya Roy seperti ini. Sama seperti Beckham, ia juga merasa aneh dengan tawa Roy. Padahal tak ada yang lucu dari ucapannya barusan.


“Apa yang lucu, Papa?” tanya Abigail saat tersadar dari tidurnya. Ia terganggu dengan gelak tawa Ayahnya.


Roy buru-buru menggeleng sekilas, raut wajahnya berubah datar. Memancing rasa penasaran yang Beckham miliki.


“Tak ada yang aku tutupi, Beckham. Berhenti lah menatapku begitu.” Roy membuang wajahnya ke arah Beckham.


“Aku curiga padamu.” Beckham mengedikan bahunya acuh. Ia mengatakan hal itu sama datarnya dengan raut wajahnya sekarang.


“Lebih baik kau mencari seorang Istri sekarang. Hanya tinggal kau saja yang belum menikah.” Roy tersenyum miring, pria tua itu lantas berdiri dari duduknya. “Aku harus pulang sekarang. Alex, antar kan Istrimu ke rumah. Ia terlihat sangat lelah.” lanjut Roy menatap putri satu-satunya.


“Tentu, Ayah.” ujar Alex singkat sambil mengangguk. “Ayo kita temui mereka dulu.” ajak Alex dengan tangan yang menggenggam jari jemari Abigail. Abigail lantas mengangguk, dan berjalan membuntuti suaminya.


Tinggal lah Beckham dan Roy yang tersisa di ruang itu. “Apa yang kau sembunyikan, Roy.” tanya Beckham datar, Roy tersenyum tipis. Ia menepuk pundak Beckham sekilas.

__ADS_1


“Tidak ada yang aku tutupi, Beckham. Aku sudah tua, tidak mungkin bertingkah. Lebih baik kau pikirkan baik-baik saran ku untuk segera menikah. Sayang jika kejayaan mu hanya kau nikmati sendirian.” ujar Roy membalas pertanyaan penuh selidik dari Beckham.


...Author point of view off....


__ADS_2