SINGLE MAMA.

SINGLE MAMA.
chapter 28


__ADS_3

...Author point of view....


Pukul 2 dini hari Troy terbangun dari tidurnya. Sebenarnya ia memang tak benar-benar tertidur. Hanya saja Troy menidurkan Jessie yang sudah terlelap di sampingnya. Jessie tertidur dengan tenang, ber bantalkan lengan besar Troy di belakang kepalanya.


Troy menatap langit-langit kamarnya. Ia merasakan pergerakan kecil di sampingnya, dan ternyata Jessie mengulet kecil seperti anak bayi, wanita itu semakin memeluk perut Troy dengan wajah yang dekat sekali dengan ceruk lehernya.


Troy tak bisa bergerak, namun tangannya yang bebas kini meraih benda pipih yang tergeletak di atas nakas. Troy membuka aplikasi chat, lalu ia menekan salah satu kontak disana.


Beckham.


Karena salah satu tangannya yang dijadikan bantalan untuk kepala Jessie, Troy tak bisa mengetik pesan dengan leluasa. Jadilah ia nyalakan voice note.


“Beckham, datang sekarang ke rumahku yang berada di hutan, persiapkan pendeta dan sepasang gaun untuk pengantin besok pagi. Kabari Alex dan Istrinya agar datang, jangan lupa hias rumahku bagian depan dengan arsitekmu.” bisik Troy dalam voice note yang sedang menyala itu.


Ia mencuri pandang ke arah wanita yang masih terlelap damai dalam tidurnya. Melihat Jessie tak terganggu samasekali dengan suaranya.


Voice note pun terkirim. Tak butuh waktu lama untuk Troy menerima balasan pesan dari Beckham. Karena pria itu sama seperti pebisnis pada umumnya. Jarang sekali tertidur di malam hari. Troy tebak pasti sekarang Beckham sedang berada di kelab malam. Bujang tua itu pasti sedang menikmati suasana malam untuk menyegarkan otaknya.


Beckham.


Untuk apa?


Balasan singkat itu membuat Troy geram. Segera Troy rekam kembali suaranya di voice note yang baru menyala.


“Tentu saja untuk pernikahan bodoh. Kau pikir apa yang akan aku lakukan dengan semua hal itu.” ujar Troy mendelik kesal lewat nada bicaranya.


Voice note pun terkirim kembali. Lagi-lagi tak butuh waktu lama untuk Beckham membalas pesannya. Balasan pesan Beckham seketika membuat Troy ingin melempar ponselnya kesal.

__ADS_1


Beckham.


Aku tau untuk pernikahan, tapi siapa yang akan menikah? Apa ada karyawan yang meminta mu untuk mengatur pernikahan di rumah jelek mu itu?


Troy kembali nyalakan voice note nya. Ia sedikit panik saat melihat Jessie bergerak tak nyaman dipelukannya. Troy sampai harus menahan nafas agar tak bergerak dan mengganggu tidur nyenyak wanita itu sekarang.


Ternyata Jessie hanya membalikkan tubuhnya. Jessie memunggungi Troy, masih dengan posisi tak nyaman. Jika tadi ada dada Troy yang bisa dijadikannya tempat sandaran, kini tak ada.


“Hey hey Sayang apa yang kamu lakukan. Pakai bantal saja ya.” ujar Troy sembari bangun dari posisi tidurnya. Otomatis pergerakan tangannya pada ponsel itu terlepas. Begitu pun dengan voice note yang terkirim.


Jessie hanya mengangguk berat. Ia benar-benar mengantuk saat ini. Troy menarik bantal di sisi kiri agar lebih dekat dengan posisi bantalnya. Kepala Jessie ia posisikan nyaman di atas bantal itu. Jessie hanya menurut karena sedang dalam posisi tak sadar.


Jessie pun sudah kembali tenang dalam tidurnya. Troy bernafas lega, ia kembali mengambil ponselnya yang tergeletak di atas pinggiran kasur. Geser sedikit saja, otomatis ponselnya akan terjatuh ke atas lantai. Masih dengan posisi duduknya, Troy melihat pesan Beckham yang masuk begitu banyak.


Beckham.


Siapa yang sedang bersamamu?


You are crazy, bung.


Baru aku tinggal sehari, kau sudah bersama perempuan lain.


Lalu bagaimana denganku?


Troy berdecih merasa jijik dengan pesan yang ia baca. Di balik sikap dingin Beckham, pria yang berusia 4 tahun lebih tua dari umurnya itu, memiliki sikap yang dramatis. Tak jarang Beckham membuat suasana menjadi cair lewat sikapnya. Dengan tak sabar Troy kembali membalas pesan Beckham lewat pesan suara.


Kali ini Troy bangun dari tidurnya, dan langsung beranjak pergi dari ranjang. Troy membuka pintu yang terhubung ke balkon kamarnya. Udara dingin langsung menyambut Troy, angin menerpa wajahnya. Lokasi rumahnya yang berada di hutan, semakin menambahkan kesan dingin di tubuhnya.

__ADS_1


“Aku akan menikah dengan Jessie besok. Bawa Alex dan Istrinya sebagai saksi. Kau ini jangan banyak bertanya. Aku tak ingin menjadi bujang tua seperti dirimu.” ujar Troy di voice note itu. Troy terkekeh jahat dengan ucapannya yang cukup menohok.


Beckham hanya membaca pesannya, karena setelah itu panggilan telfon masuk ke ponselnya. Beckham menelfon Troy dengan segera, di ujung sana ia sangat terkejut dengan berita yang baru saja Troy sampaikan.


“Kau gila Troy? Aku tahu kau pasti menyekap perempuan itu di rumahmu. Lalu memaksa dia agar mau menikah denganmu. Troy kau benar-benar tidak waras. Bagaimana jika nanti wanita itu jadi gila karena paksaanmu. Dasar keparat.” umpat Beckham di ujung sana.


Troy tak bisa menahan tawanya mendengar hal itu. Ia tertawa cukup keras dengan suara lakinya. “Hei aku serius bodoh. Kau pikir aku tidak tahu jika kau pasti memaksa perempuan itu agar mau menikah denganmu.” ujar Beckham masih tak percaya dengan Troy.


“Apa yang kau katakan, Beckham. Aku sangat mencintai Jessie. Tentu aku akan menikahinya. Aku yakin Jessie memiliki perasaan yang sama sepertiku, hanya saja dia malu untuk mengatakannya.” balas Troy tak terima dengan tuduhan Beckham.


Terdengar helaan nafas disana. Beckham tak dapat bertindak apapun selain menerima keinginan Troy. Tapi ada satu hal yang mengganjal di benaknya.


“Lalu bagaimana dengan Efsun? Bagaimana kau akan menghadapinya, Troy. Kau tahu bahwa wanita itu masih mencintaimu.” tanya Beckham ikut merasa pusing dengan percintaan sahabatnya.


“Aku sangat menghargai Efsun sebagai wanita yang pernah aku cintai, Beckham. Tapi aku juga tidak bisa menahan perasaan ku lebih jauh lagi terhadap Jessie. Sulit untukku membuatnya percaya, aku tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini. Sejak saat aku melihat Jessie setelah sekian lama tidak bertemu dengannya, tekad ku sudah bulat jika aku akan menikahinya sesegera mungkin.”


Jawab Troy serius. Ia jujur terhadap keinginannya yang ingin menikahi Jessie dari jauh-jauh hari. Bahkan Troy berniat ingin menculik wanita itu, jika Jessie bersi keras untuk menjauh darinya. Namun takdir berkata lain. Jessie yang berniat ingin kabur darinya, dengan cepat Troy temukan. Lalu Troy bawa ia ke rumah kayu ini. Rumah yang ia bangun sejak lama.


“Baiklah, Troy. Ingat satu hal, jika aku akan selalu membantu mu dalam keadaan apapun. Jangan pernah lupakan aku setelah kau menikah ya.” ujar Beckham dengan nada sedih yang ia buat-buat.


“Aku akan menendang mu jika kau berada disini, Beckham.” tawa Beckham pun pecah mendengar ucapan Troy, sahabatnya. Suara Troy memang terdengar datar, namun Beckham tahu jika Troy merasa kesal di ujung sana.


Telefon pun mati. Troy kembali masuk kedalam kamarnya. Beruntung Jessie tak terusik samasekali dengan suaranya yang cukup besar dari luar. Troy kembali menaruh ponselnya di atas nakas. Lalu ia tidurkan tubuhnya di samping Jessie yang kini menghadapnya. Posisi tidur wanita-nya memang selalu berubah-ubah.


Wajah Jessie bagaikan sinar rembulan yang sangat terang di antara remang-remang cahayanya kamar. Tangan Troy terulur mengusap pipi Jessie naik turun.


“Aku tidak sabar menunggu pagi tiba, Sayang.” ucap Troy pelan. Suaranya yang serak-serak basah mengalun indah di telinga Jessie.

__ADS_1


...Author point of view off....


__ADS_2