
...Author point of view....
Efsun datang bersama Troy. Kedua orang itu berjalan menuju arahnya dengan beriringan. Tiba-tiba saja Jessie merasakan gerakan kecil pada tubuh mungil di dalam gendongannya. Ia sadar jika Lauryn mulai tak nyaman terlelap di bawah sinar matahari.
Jessie pun akhirnya memilih untuk menoleh pada Beckham. Sebelah tangannya yang bebas menyentuh lengan pria itu, menimbulkan sedikit keterkejutan dari Beckham yang sedang dilanda keterdiaman.
“Tolong antar kan aku kedalam rumah.” ujar Jessie sambil tersenyum tipis. Beckham lantas mengangguk meng iyakan.
“Biarkan aku yang menggendong Lauryn.” Beckham tidak menunggu jawaban dari Jessie. Ia langsung mengambil alih Lauryn yang kini sudah berada di dalam pelukannya.
Jessie juga tidak menolak, ia membiarkan Beckham menggendong anaknya. Tanpa mengalihkan tatapan dari Lauryn, Jessie pun mengabaikan kehadiran mereka berdua. Troy dan Efsun.
Troy merasa tak nyaman dengan interaksi diantara Jessie dan Beckham. Padahal disini ada dirinya, yang adalah suami Jessie itu sendiri. Tapi Jessie lebih memilih meminta tolong pada Beckham.
“Sa-” belum sempat Troy memanggil Jessie dengan sebutan 'sayang'. Wanita itu sudah melenggang pergi meninggalkan Troy.
Troy menoleh kearah Efsun yang masih hanya diam. Ia menuruti keinginan Efsun yang ingin bertemu dengan Jessie tadi pagi. Memang saat Efsun meminta untuk berbicara dengannya, Efsun meminta hal yang cukup aneh menurut Troy.
Bukan kah Efsun tidak menyukai Jessie? Tapi mengapa wanita itu ingin bertemu dengan Jessie? — Pertanyaan itu muncul di benak Troy, namun saat ia melihat pandangan sendu mata Efsun, Troy yakin jika Efsun tak akan berbuat hal yang tak di inginkan.
Flashback on.
Troy berdiri di ruang tamu. Ia menunggu Efsun yang kini sedang melangkah menuju kearahnya. Setiap langkah yang Efsun kerahkan, entah mengapa seolah menimbulkan rasa cemas jika akan ada suatu hal yang terjadi.
Namun Troy menepis pikiran itu, apalagi saat Efsun kini sudah berada di hadapannya.
“Sebelum aku pergi, aku ingin kau berjanji jika Nessie tidak akan merasa tak tercukupi barang sedikitpun.” ujar Efsun yang tak di sangka-sangka akan keluar dari bibir wanita itu.
__ADS_1
Troy menyeringit kan keningnya bingung. “Apa maksudmu, Efsun?” tanya Troy dengan raut wajah serius. Sekaligus kebingungan.
“Aku juga ingin kau berjanji, jika tak ada kasih sayang yang kau bedakan antara Nessie dan adiknya nanti.” kening Troy kembali menyeringit. Efsun berbicara seolah akan ada suatu hal yang terjadi.
“Aku tahu. Dan aku paham.” jawab Troy seadanya. Karena tanpa diberitahu pun, Troy akan melakukan yang terbaik untuk kedua anaknya.
“Ini.” tangan Efsun terulur, ternyata sedari tadi wanita itu menggenggam sebuah map berwarna hitam.
Mau tak mau, Troy mengambil map itu. Apalagi saat mata Efsun, tak berhenti menatapnya dalam.
“Itu adalah hak kepemilikan usaha salon dan perusahaan make-up kecil ku yang selama ini ku dirikan.” ujar Efsun dengan datar. “Bagikan sama rata, kepada Nessie dan adiknya yang akan memiliki hal itu ketika mereka sudah dewasa.” lanjut Efsun mengabaikan rasa sakit di dadanya.
“Efsun! Kau sadar dengan apa yang kau katakan? Kau hanya akan pergi dari rumah ini, bukan berarti meninggalkan Nessie. Kau masih bisa bertemu dengannya,” ujar Troy dengan intonasi nada yang meninggi.
“Aku tahu. Cukup lakukan lah, Kak. Aku mohon.” jika tadi Efsun berujar datar, kini ia mulai melemahkan intonasi nadanya.
Troy merasa bingung dengan apa yang ia lihat. Ia seperti melihat Efsun yang putus asa. Mata wanita itu meredup sendu.
Apalagi terdengar aneh, saat Efsun memanggil Jessie dengan sebutan Istrinya'. Troy tak menyangka jika Efsun akan menerima keadaan secepat ini.
“Bagaimana pun aku adalah orang yang pernah merawat Nessie sejak kecil. Aku berhak bertemu dengan Ibunya yang sesungguhnya 'kan.” mata Efsun menatap wajah Troy dalam.
Troy bahkan tak mampu untuk menjawab. Ia hanya mengangguk sekilas. Tak tahu jika keputusannya untuk membawa Efsun bertemu dengan Jessie, apakah benar atau salah.
Flashback off.
Troy pun akhirnya masuk kedalam rumah Beckham. Terlihat jika ruang tamu itu kosong. Lalu dimana kah keberadaan Jessie sekarang?
__ADS_1
Mengingat jika Beckham juga tak ada disini, seketika Troy merasa cemburu. Ia tak suka saat Jessie berdekatan dengan pria lain, sekalipun itu adalah temannya sendiri.
Dengan cepat Troy berlari menaiki tangga, meninggalkan Efsun yang kini sibuk menatap seisi rumah Beckham. Efsun berjalan menuju meja kecil. Yang terdapat kertas serta bolpoin di atasnya. Lantas Efsun tersenyum kecil, yang ia cari sudah ia dapatkan. Tinggal tangannya yang bekerja menulis beberapa pesan disana.
Disisi lain, Troy kini melangkah mendekat menuju pintu kamar yang terbuka. Ia masuk dengan langkah tegap, melihat Jessie yang sedang memainkan ponselnya di sofa, sedangkan Beckham duduk di pinggir ranjang sambil mengusap surai rambut Lauryn.
“Beckham, apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?” tanya Troy acuh tak acuh. Beckham berdiri, lalu ia mengangguk.
“Sudah.” jawab Beckham singkat. Ia juga hanya fokus menatap Lauryn. Beckham sendiri tak menyadari jika Troy sedang terbakar api cemburu. Melihat dirinya bersama Jessie.
“Aku menginginkan penjelasan mu, Beckham. Bukan hanya jawaban singkat mu.” ujar Troy seolah naik pitam. Walau nada bicaranya tak meninggi sedikit pun. Namun mengundang perhatian Jessie yang sedari tadi berusaha tak perduli pada kehadiran Troy.
“Media hari ini mengabarkan jika kau dan Efsun sudah bercerai sejak lama. Hanya saja tak ada satu orang asing pun yang tahu, karena kau dan Efsun sepakat untuk menutupinya demi menjaga privasi masing-masing keluarga. Dan media juga tahu, jika kebersamaan kalian selama ini hanyalah demi anak semata. Anda puas Tuan Troy Axel Andreas yang terhormat?” Beckham mendelik menatap wajah masam Troy.
“Apa maksud dari ucapan puas' mu itu Beckham? Kau sedang menantang ku?” tanya Troy dengan dagu terangkat.
Beckham mengerutkan keningnya bingung, hingga menimbulkan beberapa lipatan di dahinya. “Menantang mu? Untuk apa? Aku sendiri sudah dibuat pusing dengan urusan keluarga kalian.” jawab Beckham jujur. Dan sedikit tak terima.
“Itu karena aku juga telah menganggap mu keluargaku. Tapi meski begitu, bukan berarti kau bisa berdekatan dengan Istriku.” tekan Troy dengan raut wajahnya yang kesal.
“Hei bodoh, aku hanya mengantarkan anak mu kedalam kamar ini. Lagipula aku hanya ingin melihat Lauryn. Omong-omong anakmu cantik, seperti Ibunya.” Beckham mengedipkan sebelah matanya kearah Jessie, seolah sedang menggoda wanita itu. Dan itu tak lepas dari pandangan Troy samasekali.
“Tutup mulutmu. Aku tidak jadi menaruh Jessie disini, dia akan ikut bersamaku.” ujar Troy cukup keras, walau niat Beckham hanya bercanda, namun entah mengapa Troy seolah menganggap itu adalah yang serius.
Jessie merasa amarahnya menaik, setelah mendengar hal itu. Diam-diam dia mendengarkan percakapan kedua pria dewasa yang tadi sempat berdebat.
“Apa aku ini barang di matamu?? Yang bisa kamu pindahkan sesuka hati mu.” tekan Jessie merasa tersinggung. “Kamu selalu meninggalkanku, lalu kembali mengambil ku disaat kamu sedang membutuhkan ku. Tapi saat kamu tak peduli padaku. Kamu hanya tinggal menyuruh teman mu untuk membawaku ke suatu tempat yang bahkan tidak aku sukai.” ujar Jessie sambil melayangkan tatapan sengitnya pada sudut-sudut ruangan.
__ADS_1
Menyadari suasana mulai tak kondusif, Beckham pun meninggalkan kamar secara perlahan. Agar tak menimbulkan suara gangguan apapun.
...Author point of view off....