
...Author point of view....
Setelah sampai dirumah, Jessie dan Troy langsung merebahkan diri mereka di kamar. Troy membawa Jessie kedalam pelukannya. Keduanya sudah mengenakkan baju tidur. Jessie peluk pinggang Troy ringan. Tidak cukup kuat, namun dapat membuatnya nyaman.
Troy berhasil membuatnya merasa hangat. Jessie selalu merasa terlindungi ketika sedang berada di dekat Troy. Troy menunduk, tersenyum menatapnya. Jessie menghembuskan nafasnya lelah. Perlahan ia mulai memejamkan matanya. Begitu pun juga Troy, matanya perlahan juga tertutup. Tidak ada percakapan di antara mereka, hanya ada deru nafas yang beradu.
Beberapa hari kemudian...
Jessie dan Troy sedang berbelanja di pusat perbelanjaan kota. Jessie mendorong keranjangnya yang sudah terisi penuh. Jessie melirik Troy yang fokus ke ponselnya.
“Kamu dari tadi udah selesai belum sih, Yang?” tanya Troy sedikit tak sabar. Karena sedari tadi. Ia dan Jessie sudah berkeliling cukup lama. Kurang lebih 2 jam lamanya.
“Sabar dong, 'kan Jessie seneng liatin bahan makanan.” Jessie mencubit lengan Troy. Hingga pria itu mengadu kesakitan.
Jessie dan Troy pun melanjutkan kegiatan mereka. Sebenarnya hanya Jessie yang belanja, sedangakan Troy hanya menurut dengan apa yang Istrinya itu mau beli.
Dalam perjalanan pulang, Jessie terus memandang wajah Troy. Ia memiringkan posisi duduknya. Wajah Troy yang teduh, dapat membuatnya kagum. Troy semakin tampan saja setiap harinya.
“Mas, kita ke makam Efsun dulu ya?” Troy mengangguk. Setiap bulan memang mereka mengunjungi makam Efsun. Namun hari ini sedikit berbeda, karena mereka membawa surat pemberian Efsun yang belum sempat mereka baca.
Setelah sampai di pemakaman, Jessie menaruh bunga diatas makam Efsun. Troy tersenyum tipis, melihat gerak-gerik istrinya. Jessie sedang memanjatkan doa, begitu pun dirinya yang juga berdoa untuk ketenangan Efsun disana.
Setelah selesai memanjatkan doa, Jessie pun mengeluarkan satu surat pemberian Efsun padanya. Lebih tepatnya, untuk dirinya dan Troy. Troy berdiri di samping Jessie, ia merangkul pundak Jessie, semakin merapatkan jaraknya dengan Jessie. Apalagi ketika Jessie mulai membuka surat itu. Mata Troy turut bergerak membaca tulisan demi tulisan.
Hai Jessie. Hai juga Troy. Kalian sudah bahagia ya? Aku turut senang dengan hal itu. Maafkan segala kesalahan dan keegoisan ku dulu. Aku benar-benar menyesal karena telah menjadi pemicu ketidak bahagiaan kalian. Namun, aku juga merasa sangat senang, karena kejadian ini lah aku dapat mengenal gadis kecil yang akan selalu ku ingat semasa hidupku. Bahkan ketika aku tiada pun, gadis kecil ini juga yang akan selalu membuat senyuman terbit di bibirku. Setiap langkah kecil Nessie, setiap gerak-gerik Nessie, tak luput sedikit pun dari pandanganku. Aku yakin jika dia akan tumbuh menjadi perempuan yang hebat. Sama seperti Ibunya, ibu yang tangguh.
Aku sangat kagum terhadap ketangguhan mu selama ini. Kamu terpisah dari keluarga, dan bahkan hidup mandiri dengan Lauryn yang masih sangat kecil. Mengurus anak tanpa ada orang yang peduli di sekitarmu, lalu membesarkannya sendirian. Pasti sangat sulit ya?
Karena ketangguhan mu ini, Nessie dapat menemui adiknya. Walaupun aku belum pernah bertemu dengan Lauryn sebelumnya, tapi aku yakin dia sepintar dan sehebat Ibunya.
Semoga tuhan selalu melindungi keluarga kecil kalian. Semoga kalian selalu bahagia.
Salam hangat, Efsun.
Jessie menutup mulutnya setelah selesai membaca surat itu. Troy memeluk pundak Jessie dari samping. Satu tangannya beralih memegang surat itu. Troy bawa tubuh Jessie kedalam pelukannya. Jessie merasa sangat terharu setelah membaca surat dari Efsun.
__ADS_1
“Cup cup cup, jangan menangis, Sayang.” Jessie menenggelamkan wajahnya pada dada Troy. Ia merasakan punggungnya di tepuk-tepuk pelan oleh suaminya.
“Aku terharu, Mas.” Troy tersenyum simpul, ia juga sangat terharu membaca surat itu. Akhirnya segala permasalahan dapat terselesaikan dengan baik. Troy melirik makam Efsun yang berada dekat di posisi mereka.
“Efsun pasti sedang tersenyum melihat keluarga kecil kita.” Jessie mengangguk cepat, ia angkat wajahnya memandang wajah Troy.
“Aku sangat mencintaimu,” Troy tersenyum lebar, ia kecup kening Jessie lembut.
“Mas juga sangat mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu.” keduanya pun kembali berpelukan.
Pelukan mereka hanya terjadi sebentar, karena setelah itu mereka kembali membelah kota Amsterdam dengan mobil mereka. Di sepanjang perjalanan menuju rumah, tangan Jessie tak lepas sama sekali dari genggaman Troy. Troy menyetir dengan satu tangannya. Melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
...★★★...
Terhitung, sudah 3 bulan lamanya Jessie resmi menjadi istri Troy. Kebiasaan-kebiasaannya selama menjadi istri, tak lepas dari mengurus Troy dan juga anak-anak mereka. Hanya terkadang ketika Jessie merasa bosan, ia mengunjungi hotel Andreas milik Troy. Mengatur beberapa desain baru agar Hotel itu terlihat lebih menarik.
Troy sebenernya berniat ingin memberikan Restauran Andreas pada istrinya. Agar istrinya bebas mengatur, atau bahkan memiliki kegiatan lain. Namun Jessie menolak, ia hanya ingin mengurus anak-anak dan Troy saja. Tentu Troy senang dengan hal itu, ia menurut dan menghargai keputusan istrinya.
Seperti saat ini, Troy sedang menghadiri rapat penting. Dan Jessie menunggu suaminya di kantor pria itu. Para staf karyawan sangat sopan dan hormat padanya. Jessie dengan kerendahan hatinya membuat karyawan yang berlalu lalang tak segan menyapanya.
“Siang juga.” Jessie tersenyum, karyawan wanita itu pun kembali berjalan melanjutkan aktivitasnya.
Jessie berjalan menuju ruang kerja Troy, ia menunggu disana dengan bosan. Namun karena sudah terbiasa, Jessie pun memilih memainkan ponselnya. Membuka sosial media, membuka galeri fotonya, yang di penuhi oleh foto anak-anak ketika bangun tidur. Juga foto Troy sedang bertelanjang dada di pelukannya.
Jessie menggigit bibir bawahnya, tubuhnya bereaksi sendiri melihat foto tampan suaminya yang sangat laki. Terlalu larut pada foto itu. Pintu tiba-tiba saja terbuka. Sontak Jessie langsung berdiri, dan berlari memeluk Troy.
Troy mendekap tubuh istrinya. Tangannya bergerak meremas pinggang ramping Jessie. Seolah tahu keinginan suaminya, Jessie pun menghentikan hal itu. Karena ini sudah siang, dan ia membawa makanan sederhana untuk Troy makan.
“Mass, ssh. Makan dulu.” Jessie mendorong dada Troy yang menempel di dadanya. Melihat wajah memelas Jessie pun Troy langsung menghentikan kegiatannya.
Jessie meletakkan bekal di atas meja, lalu ia duduk diatas sofa. Troy menyusul dengan duduk di samping Jessie. “Kamu udah makan, Sayang?” Jessie menggeleng kecil, ia menunggu Troy untuk makan terlebih dahulu.
“Aku nunggu Mas makan, baru nanti Jessie makan.” Troy menggeleng-gelengkan wajahnya. Ia ambil bekal yang Jessie bawa, lalu ia buka sendiri.
“Kamu tinggal buka mulut aja, kita makan bareng-bareng.” ujar Troy tegas, jika sudah seperti ini, makan Jessie tak bisa menolak. Lagipula ia juga tidak ingin menolak, lantas Jessie membuka mulutnya. Menerima suapan pertama dari Troy.
__ADS_1
“Kalo masih panas dari mulut Mas dulu ya? Nanti baru ke mulut mu.” Jessie mengangguk patuh, lagipula ini memang benar masih panas.
Jessie menerima suapan demi suapan dari Troy. Troy menggunakan sendok untuk menyuapinya. Karena yang Jessie bawa adalah beef dengan kentang dan potongan sayuran kecil-kecil. Troy memotong-motong kecil beef terlebih dahulu, lalu ia masukkan kedalam mulutnya. Baru setelah itu memasukkannya ke mulut Jessie.
“Aku udahan, Mas. Sekarang kamu yang gantian makan.” Troy mengangguk, lalu ia memasukkan beef yang masih tersisa itu kedalam mulutnya. Rasanya luar biasa enak.
Setelah makan siang selesai, Troy kembali berkutat dengan pekerjaannya. Sedangkan Jessie duduk diatas sofa dengan nyaman. Melihat wajah serius suaminya yang sedang fokus ke layar macbook.
Jessie bukan hanya mencintai Troy, namun ia juga mengagumi kegigihan suaminya. Troy adalah seorang pekerja keras. Yang jarang sekali terlambat ke kantor, atau pun bolos dalam bekerja. Walaupun kantor ini milik Troy sendiri, tapi dia tak pernah main-main dalam bekerja.
Jessie jadi teringat ucapan Troy beberapa minggu lalu. Saat itu, ketika Troy mengeluh lelah di malam hari. Sebelum saat mereka terlelap tidur.
“Jessie, Mas lelah. Tadi di kantor banyak sekali pekerjaan.” adu Troy sambil sibuk membuka kancing demi kancing piyama Jessie.
“Mas istirahat dulu aja ya? Besok ngga usah ke kantor dulu.” Jessie menatap khawatir wajah Troy yang tampak sangat lelah. Ia mengusap sayang dahi suaminya.
“Mas harus bisa jadi teladan untuk mereka. Mas harus disiplin dengan pekerjaan Mas. Agar tidak ada karyawan yang berani menyepelekan pekerjannya. Mas harus bisa jadi contoh yang baik untuk mereka.” kata Troy tegas, namun setegasnya ia berbicara pada sang istri. Tetap saja kelembutan di nadanya itu terlihat.
“Hmmmm, suamiku hebat. Sekarang Mas bobo aja yaa, istirahat dulu. Besok kerjanya di rumah aja.” Troy mengangguk, ia langsung melahap buah dada istrinya yang sudah terpampang di samping wajahnya.
Jessie tersenyum mengingat hal itu, kini ia kembali memandang Troy. Semakin larut ia memandang wajah suaminya, semakin kantuk menyerang dirinya. Tanpa Jessie sadari, tubuhnya kini sudah merosot ke samping. Tertidur diatas sofa panjang yang empuk. Lalu memejamkan matanya perlahan.
Di atas kursi kebesarannya, Troy mengalihkan pandangannya dari layar di depan. Ia tersenyum lembut melihat istrinya yang tertidur. Troy beranjak bangun menuju sofa yang Jessie tiduri. Dengan sangat pelan, Troy mengangkat Jessie ke gendongannya. Ia menyelipkan tangannya di belakang lutut Jessie, lalu di punggungnya. Membawa Jessie ke kamar yang terdapat di ruangannya.
Troy turunkan Istrinya dengan lembut, ia mengusap pucuk kepala Jessie. Lalu ia membungkukkan badannya, bibirnya mengecup kening Jessie. Lalu berpindah tempat menjadi ke pipi Jessie. Melihat Istrinya yang tertidur pulas di kamar ruang kerjanya, Troy pun beralih melepaskan jas yang ia kenakan. Mengambil remot di atas nakas samping ranjang, lalu menekan tombol yang tertera. Dan yap, pintu langsung tertutup. Tirai-tirai langsung turun menutupi pemandangan yang berada di dalam kamar.
Troy lepaskan sepatu dan kaus kaki yang ia kenakan. Lalu naik ke atas ranjang, menarik tubuh Jessie kedalam pelukan. Troy usap punggung Jessie naik turun.
“I love you, Sayang.”
“Love you too, Mas.” ujar Troy seolah dirinya adalah Jessie, menirukan nada bicara istrinya jika sedang membalas ucapan cintanya. Troy terkekeh geli dengan tingkahnya sendiri.
...Tamat....
...Hahay, akhirnya selesai juga ni novel setelah satu tahun. sempet berhenti di tengah jalan soalnya, jadinya lama endingnya. makasih banyak yaa untuk yang terus support single mama. i love u guysss, hihihihi....
__ADS_1