SINGLE MAMA.

SINGLE MAMA.
chapter 23


__ADS_3

...Author point of view....


Troy meregangkan otot-otot tangannya yang menegang sesaat setelah mencapai pelepasannya. Troy menumpahkan seluruh cairannya ke dalam rahim Jessie. Tubuh Jessie terkapar lemas tak berdaya saat Troy sudah dua kali menggagahinya barusan.


Troy lalu menarik tubuh Jessie yang berada di atas meja kerjanya. Jessie duduk di atas meja dengan kedua tangan yang berada di pundak Troy. Troy mengambil baju serta bra yang tadi ia lepaskan.


“Aku yang pakai kan atau kamu mau memakainya sendiri?” tanya Troy dengan nada bicaranya yang terdengar licik.


Jessie masih merasa lemas, “Pakein.” cicit Jessie di antara rasa malunya yang sudah hilang entah kemana.


Troy tersenyum puas di dalam hatinya. Ia langsung pakaikan kembali bra itu, tubuhnya harus memeluk Jessie agar bisa melihat kaitan bra di belakang. Tubuh Jessie kembali menegang menyadari bahwa tubuh Troy kembali menusuk-nusuknya. Walau Troy sudah kembali memakai celananya sejak tadi.


“Kamu ingin lanjut ronde berikutnya Jessie?” tanya Troy menaikkan satu alisnya ke atas. Sontak pertanyaan itu membuat Jessie mendorong bahu Troy ke belakang.


“Dasar mesum!” pekik Jessie tak dapat tertahan. Troy tertawa keras mendengar suara lantang Jessie.


Setelah selesai memasangkan bra wanita itu, kini Troy memasangkan kembali kaus Jessie dengan rapih. Ia lalu bergerak menunduk dengan gerakan seduktif, sambil kembali merapihkan underwear yang Jessie kenakan. Hingga semuanya telah rapih. Jessie ia turunkan ke bawah.


“Buatkan aku makanan, Jessie.” ujar Troy tepat di samping telinga Jessie yang berdiri di sebelahnya.


Mata Jessie menyipit. Troy meminta dirinya untuk memasak?


“Aku lapar, Sayang. Berolahraga bersamamu di pagi hari juga mengeluarkan banyak energi.” ujar Troy lagi. Berhasil membuat Jessie memalingkan wajahnya ke samping. Menyembunyikan semburat kemerahan yang muncul di pipinya.


“Sudah tua juga. Tidak ingat umur apa ya?!” sentak Jessie mendorong pinggang Troy ke samping, agar menjauhinya.


Wajah Troy berubah masam. Jika Jessie sudah membawa-bawa umur, ia bisa apa? Eh, tapi Troy bisa mengatakan sesuatu.


“Tua-tua begini juga kamu mendesah hebat tadi.” jawab Troy datar, dengan bibir yang kembali tersenyum miring.


Jessie tidak bisa mengelak hal itu. “Aku ingin segera memasak, tunjukan aku dimana dapurnya. Lalu, dimana keberadaan Lauryn?” ujar Jessie mengalihkan topik pembicaraan Troy. Ia bertanya sedikit cemas di akhir kalimat.

__ADS_1


“Lauryn sedang tertidur. Nanti kita bangunkan ketika kamu sudah selesai memasak.” ujar Troy yang langsung di angguki oleh Jessie.


Troy dan Jessie pun berjalan keluar dari dalam ruangan. Troy membawa Jessie ke ruang tamu. Jessie merasa tidak nyaman dengan beberapa orang penjaga yang tampangnya menyeramkan. Sudah lama ia tidak melihat penjaga-penjaga yang di kerjakan untuk menjaga keamanan. Padahal dulu Jessie selalu di jaga oleh bodyguard di samping kanan kirinya.


“Kamu takut dengan mereka?” tanya Troy berbisik di samping telinga Jessie.


Mendengar pertanyaan Troy, Jessie mengangguk kecil. Ia memang takut melihatnya. Jessie merasa tidak nyaman dengan keberadaan mereka. Yang seolah sedang mengawasi pergerakannya.


“Aku akan menyuruh mereka keluar dari rumah ini.” titah Troy dapat merasakan ketidak nyamanan Jessie.


“Kalian semua keluar. Jaga rumah ini dari luar saja.” perintah Troy datar, tanpa ekspresi apapun. Namun kini sorot matanya menajam. Tidak selembut saat ia menatap wanita di sampingnya.


Bodyguard itu mengangguk dengan berat hati. Karena keamanan Troy adalah yang utama. Tapi melihat Troy yang bersi keras, membuat mereka mau tidak mau harus keluar. Meninggalkan Jessie dan Troy di dalam rumah ini hanya berdua.


“Disana dapurnya. Masak kan aku sesuatu, lalu aku akan ke atas untuk membangunkan Lauryn. Oke?” tanya Troy sambil menunjuk ke arah dapur yang terlihat kosong. Jessie mengangguk dengan senyuman di bibirnya.



Jessie memutuskan untuk memasak Pannekoeken dan Stamppot. Ia bergerak sangat lincah di dapur bak chef profesional. Padahal Jessie hanya ingin menghidangkan makanan untuk Troy dan Lauryn. Seketika Jessie berperang dengan pikirannya. Apa hubungannya dengan Troy setelah ini? Apa pria itu benar-benar akan menikahinya?


Jessie menggeleng-gelengkan wajahnya. Bukan itu yang harusnya ia pikirkan sekarang. Troy dan dirinya baru saja memulai sebuah hubungan baru, walau tanpa status apapun. Lebih baik Jessie menikmati proses hubungannya dengan Troy.


Troy datang dengan Lauryn di gendongannya. Lauryn masih lah mengantuk, namun karena hari sudah menjelang siang. Troy pun membangunkannya.


“Ini.” ucap Jessie singkat sambil menaruh piring di atas meja. Jessie tersenyum lebar melihat anaknya yang berada di pangkuan Troy.


“Mama, kangen.” Lauryn merengek manja. Membuat Jessie dan Troy merasa gemas. Jessie langsung saja beralih memangku Lauryn di atas pangkuannya.


“Mama suapin ya, Sayang.” ujar Jessie lembut, Lauryn mengangguk dengan semangat.


“Mama, Rynryn kangen sama Kak Lita. Kapan kita ketemu sama Kak Lita lagi?” tanya Lauryn dengan wajah polosnya.

__ADS_1


“Kak Lita sedang berada di rumah temannya, Rynryn. Nanti kita pulang lalu bertemu Kak Lita.” jawab Jessie sambil menyendok kan Pannekoeken itu ke mulut kecil Lauryn.


“Aku tidak bilang kamu akan pulang. Kamu harus tinggal disini.” ujar Troy santai. Sambil memasukkan makanan yang menurutnya sangat enak.


Mata Jessie membesar, “Kamu gila?” tanya Jessie kasar. Troy langsung menutup mulut Jessie dengan tangannya. Ia tidak ingin Lauryn mendengarkan Ibunya berbicara kasar.


“Sstt. Lauryn, enak makanannya?” setelah Troy berbisik ke arah Jessie. Ia mengalihkan perhatiannya pada Lauryn. Lauryn terdiam bingung atas interaksi kedua lawan jenis di dekatnya.


“Enak. Masakan Mama selalu enak.” jawab Lauryn sambil sesekali memakan makanan itu sendiri. Jessie menghela nafas, beruntung Troy langsung menghentikannya yang ingin memulai perdebatan.


Selesai makan, Lauryn langsung Troy dudukkan di atas karpet berbulu tebal. Lauryn ia berikan ponsel untuk dimainkan. Karena Troy belum sempat membelikan mainan untuk anak itu mainkan.


Troy membawa Jessie kedalam kamarnya. Jessie berdiri beberapa langkah dari posisinya.


“Kamu akan tinggal disini demi keamanan mu, Jessie. Bukan karena aku ingin mengurung mu.” ujar Troy datar, dengan tangan yang ia masukkan ke saku celana.


“Aku bisa menjaga diriku dan Lauryn. Kenapa harus aku di amankan disini? Aku tidak melakukan hal apapun.” jawab Jessie tidak terima.


“Untuk sekarang dirimu sedang tidak aman. Aku akan menyelesaikan masalahku yang berada di kota.” balas Troy jujur. Ia melakukan hal ini memang untuk keamanan Jessie yang sedang terancam.


“Tapi bagaimana dengan Lauryn? Ia harus sekolah. Lalu bagaimana dengan pesanan kue ku di Hotel Andreas? Aku masih harus bekerja. Aku- aku tidak bisa bergantung pada dirimu.” ujar Jessie menolak. Ia menggelengkan wajahnya enggan.


Troy menghembuskan nafasnya kasar, ia menghampiri Jessie dan berdiri di hadapannya. Wanita ini benar-benar keras kepala.


“Cepat atau lambat kamu akan bergantung pada diriku, Jessie. Kamu akan bersamaku. Sama-sama kita akan mengurus Nessie dan Lauryn. Paham?” jelas Troy dengan suara seraknya.


Perasaan Jessie tiba-tiba saja menghangat. Ada desiran aneh di tubuhnya setelah saat mendengar kalimat itu terucap dari bibir Troy. Jessie menatap mata Troy dalam. Pria itu sedari tadi ternyata lebih dulu menatapnya.


“Trust me, I won't let anyone hurt you, Jessie.” bisik Troy lirih. Ia tahu, tak mudah bagi Jessie untuk mempercayainya.


...Author point of view off....

__ADS_1


__ADS_2