
...Author point of view....
Pelayan itu sudah keluar, dan Jessie masih terpaku memandang bocah kecil di depan pintu yang tertutup. Jessie menunduk, melihat bahwa yang ternyata berada di pangkuannya bukanlah Lauryn. Melainkan anaknya yang ia baru ketahui keberadaannya.
Yang membuat Jessie bingung, mengapa wajah mereka sangat mirip, apakah karena mereka adik kakak? Ah, pertanyaan bodoh apa itu Jessie. Mereka adalah adik kakak, namun siapa yang lahir terlebih dahulu?
Jessie mengusap pucuk kepala Nessie yang tenggelam pada dadanya. Jessie merentangkan kedua tangannya, memberikan instruksi agar Lauryn segera menghampiri mereka. Namun yang terjadi justru sebaliknya, Lauryn malah berbalik arah, dan berusaha membuka engsel pintu dengan sedikit susah.
Jessie belum bisa mengatakan apa-apa, ia tidak bisa bergerak, karena tubuh yang kini sedang memeluknya, seakan tak membiarkannya beranjak pergi.
Lauryn yang sedang berusaha membuka pintu dengan begitu lugu, kini sedikit terdorong kebelakang, karena pintu yang tiba-tiba saja terbuka sedikit.
“Apakah membutuhkan waktu lama untuk dirimu terbangun Jessie? Hmmm?” Troy menatap tajam Jessie, tangannya jatuh di atas pucuk kepala Lauryn. Lauryn merasa risih akan perlakuan pria yang ia anggap asing di hadapannya.
“Ayo cepat ikut Ayah sekarang.” Lauryn terperangah, Troy langsung menggenggam tangannya. Sebelum beranjak Troy mengangkat dagunya, sebagai instruksi agar Jessie cepat bangun dan mengikutinya ke bawah.
Dan benar saja, Jessie langsung turun dari ranjang bersama dengan Nessie dalam pelukannya. Nessie meletakkan dagunya bersandar manis di atas pundak Jessie. Ia merasakan nyaman luar biasa, yang tak ia dapatkan dari Efsun, yang ia kira adalah ibunya sendiri. Ibu yang melahirkannya.
Jessie membuntuti Troy dari belakang, merasa geram akan sikap Jessie, Troy berhenti sejenak, hingga Jessie juga ikut berhenti secara refleks.
“Kau membawa anakku. Tidak pantas jika kau berada di belakangku.” Troy merangkul pinggang Jessie hingga mendekat padanya. Jessie merapatkan bibirnya keras.
“Fokus kedepan, jangan melihatku begitu.” ujar Troy dengan kepala yang memandang lurus, Jessie otomatis langsung berpaling dan sibuk mencari-cari pandang ke arah lain.
Tiba di restaurant, Jessie dibawa duduk disebuah meja yang sepertinya sangat expensive. Terlihat sangat elegant. Namun Jessie bukanlah seorang wanita norak yang akan sangat terperangah. Jessie tidak boleh lupa, jika yang sedang bersamanya adalah seorang bajingan.
__ADS_1
“Pilih pilihanmu Jessie.” ujar Troy acuh tak acuh, duduk di salah satu kursi yang berhadap bersama Jessie. Sedangkan kedua anaknya berada di samping kanan kirinya.
Jessie yang hanya duduk sendiri di tengah-tengah kedua kursi yang kosong, tidak sadar. Bahwa Troy membawa Nessie dan Lauryn duduk di samping kanan kirinya sendiri. Membuat jarak di antara mereka yang hanya terpisah karena sebuah meja, menjadi Jessie yang duduk sendirian.
“Kamu ingin menu yang seperti apa darling?” tanya Troy dingin, menatap menu dengan pandangan yang tajam dan menusuk. Jessie menggelutukan giginya sekilas.
“Aku ingin kedua anakku.” rahang Troy mengeras. Wajahnya menampilkan mimik tak senang, namun Troy segera mengubah mimik wajahnya kembali.
Dengan senyum smirk di bibirnya. “Ah ya kamu sangat menyukai waffle bukan? Tenang saja, aku akan menyuruh mereka membuatnya tanpa ice cream, dan gula yang berlebihan.” seolah tau isi kepala Jessie, Troy ingat menu kesukaan Jessie, yang dulu Jessie sering pesan, ketika makan bersamanya.
“Berhenti bermain-main bersamaku Troy.” ujar Jessie merasa gemas, lewat batinnya, menatap tajam mata Troy yang tak kalah tajam menatapnya.
“Aku tidak minat bermain denganmu, sayang.” balas Troy dalam batinnya, sambil menggeleng pelan.
Seolah sedang bertelepati, kegiatan mereka yang saling melemparkan tatapan tajam terhenti. Ketika pelayan sudah membawakan menu makanan, yang sudah Troy pesan sebelum seharusnya mereka tiba di sini.
Makan malam pun dimulai, dengan Troy yang bisa mencairkan ketegangan di antara Nessie dan Lauryn. Kini keduanya tengah makan bersama. Kembar yang sempat berpisah lima tahun lamanya. Keduanya cepat sekali akrab. Apalagi dengan sikap Nessie yang mudah untuk berbicara.
Posisi duduk pun telah berubah. Bukan lagi Troy yang di tengah, melainkan di pinggir, tempat Lauryn duduk tadi. Duduknya agak menyerong kepada kedua buah hatinya. Jessie fokus menatap interaksi antara Lauryn dan Nessie. Yang saling mencicipi makanan masing-masing.
Sedangkan Troy, pria berumur 42 tahun itu diam-diam mencuri pandang ke arah Jessie, bibirnya membentuk senyum tipis, melihat mata Jessie yang memancarkan sinar kebahagiaan.
“Ayaahhh!!!” seru Nessie cukup keras, ketika ia memanggil Troy sejak tadi, namun tak pria itu dengar.
Troy langsung menatap wajah anaknya, dengan kedua alis yang terangkat, karena kaget akan Nessie yang membuyarkan fokusnya menatap Jessie. Jessie mengalihkan perhatiannya dengan mengusap sisa saus di bibir Lauryn menggunakan tysu.
__ADS_1
Troy yang ketangkap basah telah memperhatikan Jessie pun hanya bersikap sebiasa mungkin.
“Ayah bilang mau nemenin Nessie malem ini keluar. Iya kan Yah??” tanya Nessie penuh semangat. Troy menggeleng, mendadak membuat Nessie menjadi lesu.
Troy membawa Nessie ke atas pangkuannya.
“Cuaca sangat dingin Nessie. Tidak baik untukmu keluar. Lebih baik sekarang kamu dan adikmu pergi ke atas, karena ayah akan berbicara padanya.” Troy melirik Jessie, Nessie pun mengikuti arah pandang ayahnya.
“Dia Bunda Nessie juga kan Ayah? Dia adalah bunda kedua Nessie. ” pekik Nessie girang, sambil melompat ke dalam pelukan Troy dengan tiba-tiba.
Troy menjadi kaku seketika. Jessie menahan nafasnya yang tercekat. “Bagaimana bisa Nessie menyebutnya Bunda kedua sayang?” tanya Troy lembut, berusaha memperbaiki ucapan Nessie.
Yang ia yakini, membuat Jessie tersinggung. “Karena dia bunda Lauryn juga Ayah. Lauryn mirip sama Nessie, pelayan tadi bilang kami adalah adik kakak! Jadi kalau dia Bunda Lauryn, dia Bunda Nessie juga kan, Ayah?” celoteh Nessie yang lebih bawel dan cerewet dari anak se usianya.
“Ahhh, Nessie kangen Bunda..” suara Nessie berubah menjadi sendu.
“Nessie mau pulang ketemu Bunda.”
“Boleh kan, Yah? Ayah..”
“Nessie mau ketemu Bun-”
Troy mengeram marah saat Nessie merengek. Ia ingin menjaga perasaan Jessie, namun Troy juga tidak bisa menyalahkan Nessie. Karena anak itu tidak tahu bahwa siapa yang sebenernya Ibu kandungnya. Dengan suasana hatinya yang sedang tidak baik, Troy pun membentak Nessie.
“Nessie!”
__ADS_1
...Author point of view off....