
...Author point of view....
Di sepanjang perjalanan hanya diisi oleh keheningan. Jessie pikir bahwa Troy kelelahan, jadi ia ikut diam saja tanpa berniat membuka obrolan. Namun karena merasa bosan, Jessie pun ingin mengajak Troy berbicara.
“Mas,”
“Hmm.”
Jessie mengerutkan keningnya bingung. Ia menatap Troy dengan seksama. Ia ingat-ingat lagi, jika ia tidak membuat kesalahan apapun.
“Mas mau aku masakin apa pas nanti sampai rumah?” tanya Jessie tersenyum manis, berusaha mencairkan suasana.
“Apa aja.” jawab Troy acuh tak acuh. Jessie menggeram kesal karena Troy yang fokus ke jalanan, tanpa ingin menatapnya barang sedikitpun.
“Mas iihh.”
“Jangan berisik, Jessie. Lauryn lagi tidur.” ujar Troy seolah mengingatkan Jessie dengan apa yang tadi ia katakan dirumah Beckham.
Jessie menyandarkan tubuhnya kembali ke jok mobil. Ia membuang pandangannya ke jendela. Lalu menghela nafas panjang.
“Mas tuh kalo aku ada salah bilang, soalnya Mas kalo ngambek nggak ketebak.” Jessie menundukkan wajahnya dalam. Ia tak mengerti dengan sikap Troy. Membuat Jessie tiba-tiba merasa bersalah.
“Jessie nggak pengertian ya?” tanya Jessie yang langsung membuat Troy me-rem mendadak mobilnya.
“Huss, kamu ngomong apa sih? Nggak gitu, Sayang. Mas cuma pengen denger kamu bales cinta Mas.” Troy mengenyampingkan gengsinya. Ia memilih jujur agar Istrinya itu tak salah paham.
“Haa...” kedua belah bibir Jessie terbuka. Jadi Troy kesal padanya karena hal itu?
“Hahahaha.” tawa Jessie meledak. Troy yang mendengar tawa itu pun merasa malu, namun ia diam dan tetap pada sikapnya yang sok stay cool.
“Kok malah ketawa. Kamu tuh ya,” Troy mencubit pipi Jessie gemas. Ia langsung menarik Jessie kedalam pelukannya.
“Kalo Jessie nggak cinta sama Mas. Nggak bakal lah Jessie mau di nikahi. Gimana sih Mas ini.” ujar Jessie masih sesekali tertawa kecil. Troy tersenyum lebar, ternyata memang sikapnya saja yang sensitif jika menyangkut soal Jessie.
“Mas kan maksa kamu dulu baru kamu mau-”
“Tapi Jessie cinta sama Mas.” potong Jessie cepat dengan wajah menekuk. Troy menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia pun mengusap-usap rambut Jessie sayang.
__ADS_1
“Yaudah Mas lanjut nyetir lagi ya?”
“Iya.”
Setelah sampai dirumahnya. Troy beralih menggendong Lauryn, sedangkan Jessie merasakan telapak tangannya di genggam begitu erat oleh pria di sampingnya. Penjaga yang berjaga di setiap sisi sudut ruangan membungkukkan tubuhnya sekilas, tanda hormat akan kehadiran Tuan nya.
Troy menepuk pipi Lauryn, agar anaknya itu terbangun dari tidurnya. Lauryn menggeliat kecil, lalu segera terlonjak setelah menyadari kehadiran Troy.
“Ayah!!”
Lauryn tersenyum lebar, Troy menurunkan tubuh Lauryn agar berdiri di tengah-tengah mereka. Jessie menatap Troy tak menentu, ia takut memulai hidup baru, ia takut menyesuaikan lingkungan baru. Namun melihat pria disampingnya, yang berjanji akan selalu menjaganya. Membuat ketakutan Jessie menjadi hilang.
Troy mendekatkan jarak wajahnya pada telinga Jessie. Mengabaikan tatapan para maid yang secara mengintip berusaha melihat mereka.
“Selamat datang di kehidupan baru, My wife.” bisik Troy begitu seksi. Jessie meremang mendengarnya. Ia mengangkat senyumannya. Jessie tersenyum bahagia.
“Dia adalah Istri saya. Jessie Andreas. Dan ini adalah anak saya. Lauryn Christina Andreas.” ujar Troy begitu tegas dan lugas. Merasa sangat bangga setelah mengenalkan Jessie dan Lauryn pada para pekerja dirumahnya.
Sontak hal itu membuat mereka terkejut. Namun ekspresi mereka tidak menunjukkan hal itu. Melainkan sebuah senyuman formal yang terlihat tipis. Zize yang adalah kepala maid disini pun, langsung mempersilahkan para pekerjanya untuk memasak hidangan spesial. Menyambut Nyonya baru mereka.
“Anak Ayah main sama Kakak dulu ya? Kak Nessie nunggu adiknya di kamar.” ujar Troy sambil menunjuk jari telunjuknya ke arah lantai dua. Lauryn mengangguk antusias. Lauryn pun berlari diikuti oleh maid di belakangnya.
“Mas, Jessie sangat mencintai Mas. Makasih ya Mas?” Jessie tersenyum lembut. Troy terkekeh mendengarnya.
“Kamu ini sama suami sendiri ngapain bilang makasih sih? Udah kewajiban Mas sebagai seorang suami bikin Istrinya bahagia 'kan.” jawab Troy mengusap-ngusap punggung Jessie. “Tapi nanti malem main kuda-kudaan ya?” lanjut Troy melemparkan tatapan mesumnya.
Pipi Jessie memerah, ia mencubit pinggang Troy. Hingga membuat pria itu mengadu kesaktian. “Ih! Liat sikon dong kalo mau mesum. Ini lagi di ruang tamu juga.” ujar Jessie cemberut.
“Gapapa dong, Sayang.”
Rrrttttttt..... Rrrttttttt.....
Ponsel Troy tiba-tiba saja berbunyi. Segera Troy melihat siapa gerangan yang dapat menelfon ponsel utamanya. Ternyata itu adalah Beckham.
Kening Troy menyeringit, ia langsung mengangkat panggilan itu dengan segera. Terdengar hembusan nafas Beckham yang tidak teratur disana.
“Troy! Efsun terbunuh!”
__ADS_1
Bagai atmosfer bumi yang tiba-tiba saja terhenti. Itu sama seperti raut wajah Troy yang langsung terdiam.
“Demi Tuhan aku tidak tahu siapa yang membunuhnya. Dia dalam keadaan baik-baik saja saat aku turunkan di rumah bibinya!” jelas Beckham masih dengan nafas yang tak teratur.
“Bibi?! Efsun tidak memiliki siapa-siapa, Beckham.” ujar Troy meluruskan. Beckham terkejut bukan main disana. Jessie mulai merenggangkan pelukannya karena penasaran dengan hal apa yang sedang suaminya perbincangkan.
“Lalu rumah siapa itu? Efsun menolak ketika aku ingin mengantarkannya ke rumah yang kau berikan. Lalu ia memintaku untuk mengantarkannya kesini. Ke rumah ini. Awalnya aku tidak ingin peduli, namun karena merasa janggal akhirnya aku kembali lagi kesini. Dengan keadaan pintu yang terbuka, aku pun memasuki rumah itu. Tidak ada siapapun disana, hanya ada Efsun dengan luka tembak di dadanya.” jelas Beckham dengan mata yang tak lepas memandang jasad Efsun di depannya.
“Dimana kau sekarang? Aku akan segera kesana.”
Beckham langsung menyebutkan alamatnya pada Troy. Sambung telfon pun mati. Troy kembali memasukkan ponsel dengan tergesa di sakunya. Mata Jessie menatap Troy bingung. Laki-laki itu memeluk Jessie erat, menumpukkan berat kepalanya di atas pundak Jessie.
Troy tegakkan tubuhnya, ia kecup kening Jessie dalam. Jessie memejamkan matanya. Ketakutan tiba-tiba saja menyerang hatinya.
“Efsun terbunuh, Jessie.”
Tubuh Jessie menegang kaku. Troy mengangkat tubuhnya menjauh dari pelukan Jessie. “Kamu urus anak-anak ya, Sayang. Mas akan segera menemui Beckham.” ujar Troy sebelum saat melenggang pergi dengan langkah kakinya yang bergerak cepat.
Disisi lain,
Sesosok wanita berdiri ketakutan. Ia merasa kacau dan tak ada harapan lain setelah apa yang ia perbuat. Wanita itu menggenggam ponselnya, terdapat banyak bukti percakapan dengan seseorang yang baru saja ia bunuh dengan sengaja.
Korbannya pun begitu pasrah saat ia tarik pelatuk itu hingga menembus tepat pada bagian dada korban. Setelah kematian Ibunya di rumah sakit, ia merasa emosinya tiba-tiba saja memuncak. Ia menyalahkan kematian Ibunya atas perbuatan Efsun yang saat itu pernah mengancamnya akan mencabut biaya rumah sakit jika dirinya tidak melakukan apa yang wanita itu perintahkan.
Tapi hal lain terjadi,
Ibunya sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
Ibunya telah pergi.
“Jika nyawa Ibuku pergi. Maka kau juga harus pergi, Efsun.” bibir pucat itu berkata dengan begitu tenang. Wanita yang tak lain adalah Miracle tersenyum tipis. Ia menekan beberapa nomor di ponselnya. Mencoba untuk menghubungi nomor darurat.
“Anda butuh polisi, pemadam kebakaran, ambulan?” ucap seorang wanita di sebrang sana.
“Polisi.” jawab Miracle singkat.
“Saya baru saja membunuh seseorang. Tangkap saya.” lanjut Miracle menimbulkan keterkejutan sang penerima telfon di sebrang sana.
__ADS_1
“Nama saya, Miracle Lui Anston. Saya menembaknya tepat di bagian dada. Saya meninggalkannya di rumah saya. Saya melarikan diri, dan sekarang, saya tidak tahu sedang berada dimana.”
...Author point of view off....