
...Author point of view....
Tok, tok, tok, tok.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Troy menurunkan kaki Jessie dari pangkuannya. “Tunggu sini aja ya.” Jessie mengangguk meng iyakan.
Troy berjalan, lalu membuka pintu kamar yang telah di sediakan di gedung mewah ini. Mata Troy menyeringit, melihat seorang perempuan yang berdiri di hadapannya.
“Saya Lolita, Pak. Lita lebih tepatnya.” kata Lita yang masih berdiri.
“Oohh, Lita. Ada Istri saya di dalam. Masuk saja.” Troy bergeser, semakin membuka pintu lebar-lebar. Mata Jessie berbinar melihat kedatangan orang yang ia tunggu-tunggu.
“Kak Jessie!” Lita refleks terlonjak semangat. Ia berjalan cepat menuju Jessie yang masih duduk diatas ranjang dengan kedua kakinya yang lurus. Untung saja gaunnya berbahan jatuh. Jadi tidak mengganggu aktivitasnya.
“Astaga Lita, akhirnya kamu dateng.” Jessie langsung membalas pelukan Lita padanya. Lita memeluk Jessie erat, ia benar-benar merindukan perempuan satu ini.
“Kakak cantik banget. Pangling banget, Kak. Lita berasa liat princess di dunia nyata.” ujar Lita ceria, dengan matanya yang berbinar senang.
“Ah kamu bisa aja. Kamu juga, tambah unyu aja nih.” Jessie mencubit pipi Lita yang gemas. Keduanya pun tertawa berbarengan.
“Sepi banget gaada Lauryn, Kak. Aku kalau ngga inget ada toko kue yang mesti aku juga pasti aku bakalan pindah. Kakak sama Lauryn baik-baik aja 'kan??” Jessie tersenyum mendengar hal itu, kepolosan serta ketulusan Lita memang dapat ia rasakan. Sejak kali pertama mereka bertemu.
“Baik-baik aja, Litaaa. Kamu lihat 'kan gimana Kakak sekarang? Tambah gemuk aja nih.”
“Makin sexy, Kak. Kaya model-model di majalah internasional.”
“Jessie dulu memang seorang model. Nggak salah kalau mirip model-model internasional.” entah kapan Troy berdiri di samping ranjang tempat Jessie duduk. Jessie merasakan usapan di pucuk kepalanya.
“Waahhh. Kakak ngga pernah ngasih tahu Lita kalau pernah jadi Model.” Jessie tersenyum simpul, ia memang memiliki bakat menjadi seorang model, sejak saat menyelesaikan pendidikannya. Namun ia berhenti setelah mengetahui bahwa dirinya hamil.
“Daripada bahas Kakak mending kamu nemenin Kakak disini.” ucap Jessie dengan alisnya yang naik turun. “Mas aku mau sama Lita dulu disini. Kamu makan dulu sana, Sayang.” lanjut Jessie lembut. Lita menjadi canggung seketika.
“Oke. Lita, tolong jaga Istri saya ya.” Lita pun mengangguk cepat. Troy keluar meninggalkan dua perempuan yang sangat akrab itu.
...★★★...
Troy tidak benar-benar makan. Ia menghampiri seorang wanita paruh baya yang terduduk rapih diatas kursi tamu. Troy memperhatikan sekitar, masing-masing tamu sibuk dengan kegiatannya. Ada beberapa yang berbincang dan juga saling bercanda.
“Dia masih tidak mau menemui ku, Troy?” Troy menggeleng tegas sebagai jawaban atas pertanyaan Christie.
“Tapi saya ingin bertemu dengannya.” Christie tersenyum kecut, ia menghembuskan nafasnya pelan.
__ADS_1
“Saya tetap akan menunggu disini. Sampai acara selesai.”
“Jangan begitu, Mrs. Christie. Anda sudah cukup tua untuk berlama-lama disini.” jelas Troy singkat, masih ada rasa hormat untuk orang yang lebih tua darinya.
“Tapi saya tidak akan pulang sebelum menemui Jessie. Lagipula suami saya juga tidak akan mau pulang dari sini.” Christie melirik sesosok pria tua berumur sekitar 70an yang sedang berbincang dengan beberapa orang disana.
Troy memutar otaknya cepat. Di satu sisi ia berpihak pada Istrinya, karena tak mudah untuk Jessie memaafkan perilaku keluarganya yang telah mengusirnya disaat-saat dia sangat membutuhkan mereka. Disisi lain ia juga memikirkan kondisi Ibu mertuanya yang sudah rentan.
Troy bingung, mengapa mereka baru datang disaat-saat seperti ini. Setelah Jessie menemukan kebahagiaannya dengan Troy. Sebuah fakta terungkap, bahwa Jessie bukan lah anak kandung keluarga Reinhart. Reinhart sendiri adalah marga dari keluarga Jessie. Nama Ibu angkatnya pun Christie Reinhart.
“Permisi Tuan Troy.” sebuah tepukan dipundaknya membuat percakapan Troy dan Christie selesai.
Ternyata ada Exel, salah satu kolega bisnisnya. Exel memberikannya ucapan selamat, hanya sebatas itu, tak ada orang yang membahas bisnis dengannya disaat-saat seperti ini. Mereka cukup tahu diri untuk membahas bisnis dengan Troy yang sedang berbahagia hari ini.
Siang pun kini berganti malam. Acara sudah usai sejak 1 jam yang lalu. Troy juga telah kembali ke kamar khusus yang sudah di persiapkan oleh pihak hotel. Dia melihat Jessie masih dengan gaun yang sama. Lita sendiri sudah keluar menemani Nessie dan Lauryn bermain di ruang khusus bermain.
“Sayang, kok belum ganti pakaian? Nungguin Mas gantiin ya?” ujar Troy dengan nada jail.
Jessie duduk diatas kasur, dengan punggung yang bersandar pada kepala ranjang. Sedangkan televisi yang menghadap kearahnya sedang menyala.
“Sayaaanggg,” tak kunjung mendengar balasan dari Istrinya. Troy pun memanggil Jessie dengan nada merajuk.
“Sssttt,”
Jessie langsung diam, Troy menghampiri Jessie yang ketengah ranjang. “Kita mandi sama-sama aja. Biar nggak lama. Pakai air dingin juga gapapa, nanti kamu tetep keringetan kok.” ujar Troy memiliki makna tersendiri di akhir kalimatnya.
“Kamu otaknya gak mikirin itu terus emang ngga bisa ya, Mas?” heran Jessie sambil menyipitkan matanya. Troy menggeleng dengan wajahnya yang datar.
“Hufts, dasar tua-tua keladi. Makin tua makin jadi.” bisik Jessie pelan. Agar Suaminya tidak tersinggung jika ia membahas soal umur.
“Kamu ngomong apa, Jessie??” buru-buru Jessie menggeleng, ia lalu tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.
...★★★...
Beckham menyatukan kedua alisnya. Ia menatap Roy datar yang sedang sibuk meneguk Tequila di tangannya. Sekarang mereka berada di kawasan tengah, tempat terjadinya resepsi tadi. Bayangkan saja, seberapa luasnya tempat ini. Tempat ini walau sudah di lalui ratusan tamu, tapi masih saja bersih. Bahkan tak ada kesan berantakan sedikit pun.
“Apa tujuanmu mendatangi Troy saat itu?” Roy menatap Beckham dengan tatapan mengejek, pria di hadapannya selalu memiliki aura intimidasi yang tinggi.
“Beckham, bisa kah kau berpikir positif pada diriku? Kau selalu menatapku seolah aku ini adalah orang yang jahat.” Beckham tertawa remeh mendengar hal itu.
“Wajahmu sendiri yang mendukung pikiranku hingga berpikir bahwa kau memang orang yang benar-benar licik.”
__ADS_1
“Berhenti berpikiran seperti itu. Kedatanganku mengungkapkan kebeneran karena adikku sendiri yang memang ingin Jessie mengetahui hal itu. Ia ingin meminta maaf, setelah sekian lama akhirnya ia mengetahui keberadaan Jessie. Sejujurnya Christie sekalipun tidak sebahagia dengan apa yang mereka lihat di televisi. Christie sudah terlalu tua, ia ingin seorang anak tetap berada di sampingnya. Lalu keberadaan Jessie dengan anak-anaknya, membuat senyum Christie kembali hadir.” jelas Roy panjang lebar.
Beckham tampak serius mengetahui hal itu. Sebenarnya ini persoalan yang cukup sederhana. Dengan Jessie mau memaafkan kedua orangtuanya itu sudah cukup menyelesaikan masalah ini.
“Baiklah, aku pikir memang kau sebenarnya bukan orang yang jahat. Tapi sungguh Roy, wajahmu seperti mafia-mafia jaman dahulu.” Beckham bergidik ngeri membayangkannya. Roy mengangkat tongkatnya, hendak memukul Beckham. Namun suara anak kecil tiba-tiba saja mengejutkan mereka.
“Uncle Beckham!!” pekik Nessie ceria, sambil berlari memeluk paha Beckham. Otomatis Roy langsung menurunkan tongkatnya yang sempat terangkat.
“Nessie jangan berlari!” teriak salah seorang perempuan dengan Lauryn dalam gendongannya.
Beckham mengerutkan keningnya, ia tampak asing dengan gadis muda di hadapannya. Siapa gadis ini sebenarnya? Ia tak pernah merasa melihat gadis ini sebelumnya. Lalu mengapa gadis ini bisa terlihat begitu akrab dengan anak dari sahabatnya?
“P-permisi, Sir.” gadis yang tak lain adalah Lita. Menundukkan wajahnya sekilas. Ia melihat wajah Beckham dengan takut, tak berani menatap pria tua itu lama-lama.
Beckham hanya menatap Lita sekilas, dengan raut wajah dinginnya. Beckham memang seperti ini, selau bersikap acuh di depan orang asing. Sedangkan Lita sendiri merutuki dirinya yang malah menyapa pria tua di hadapannya.
“Dasar sombong. Orang kaya memang sombong.” batin Lita berbicara.
Tak mau memikirkan lebih jauh, Lita pun langsung menurunkan Lauryn dari gendongannya. “Nessie ayo dong makan sama Kakak. Lauryn aja makanannya udah mau habis.” bujuk Lita lembut, dengan wajah memelas.
“No, no, no!” Nessie menggeleng, sambil mengeratkan pelukannya pada paha Beckham. Beckham yang mengetahui permasalahan kecil antara anak dan baby sitter tersebut pun, langsung tersenyum simpul. Sambil berjongkok di hadapan Nessie.
“Makan dulu ya, Sayang. Mau uncle suapin?” kelembutan Beckham sontak membuat Lita mengerjapkan matanya.
Nessie mengangguk semangat, “Mau, Uncle!” Nessie pun tersenyum lebar. Lita akhirnya ikut tersenyum, ia senang melihat senyuman anak-anak.
“Dimana makanannya?” Lita mendadak blank, ia menatap polos gerak-gerik Beckham dengan kedua mata bulatnya. “Jangan buang-buang waktu saya.” kata Beckham datar, tak menatap Lita sedikit pun.
Lita menahan kekesalannya. Jika bukan karena ini masih di kawasan orang-orang yang Kakaknya kenal, maka Lita pastikan ia akan pergi saja dari sini.
“Di ruang makan, Sir.” ujar Lita mengalihkan pandangannya kearah Lauryn. Enggan menatap Beckham lebih lama lagi.
“Sini Lauryn ikut sama uncle juga. Kamu jangan diem aja, disuruh jaga anak malah melamun seperti itu.” ujar Beckham sengit, masih berpikir bahwa Lita adalah baby sitter Lauryn dan Nessie.
Beckham pun kembali berdiri tegak, melenggang pergi dengan Nessie dan Lauryn yang masing-masing berada di genggaman tangannya. Meninggalkan Lita yang seperti orang kebingungan.
“Kamu ikuti saja dia ya. Jangan heran dengan sikapnya. Dia memang sedikit arogan dan tegas saja.” ujar Roy yang sedari tadi hanya memperhatikan interaksi Beckham pada gadis yang ia tak ketahui namanya.
Lita pun mengangguk sambil tersenyum, “Terimakasih, Tuan. Saya permisi.” Lita berjalan cepat menyusul Beckham yang sudah jauh dari posisinya.
...Author point of view off....
__ADS_1