
...Author point of view....
Perlahan Jessie membuka kedua kelopak matanya yang terasa berat. Entah kenapa tidurnya malam ini terasa begitu nyenyak. Seperti tidurnya di beberapa tahun lalu saat dirinya masih lah menjadi ratu di rumahnya. Namun Jessie tak mau mengingat hal itu, ia bersyukur dengan Lauryn yang selalu berada di sampingnya sekarang.
Mengingat anak itu, Jessie pun menoleh kesamping. Tak mendapati Lauryn di sisinya. Mungkin saja dirinya lupa, jika semalam ia tertidur lelap di samping Troy. Entah kemana keberadaan pria itu sekarang. Jessie bangunkan tubuhnya dalam posisi duduk.
Cklek.
Pintu tiba-tiba terbuka. Refleks Jessie langsung menolehkan wajahnya ke samping, menatap arah sumber suara. Kedua belah bibirnya terbuka, terkejut dengan apa yang ia lihat. Disana, di ambang pintu. Berdiri sesosok perempuan muda yang masih ia kenali.
Abigail.
Wajah cantik Abigail tidak berubah, masih sama seperti 5 tahun lalu saat ia terakhir menatapnya. Senyuman manis Abigail membuat suasana hati Jessie yang tadinya tegang, kini mulai meluruh lemas. Ia mulai tenang saat perempuan itu kembali menutup pintu, lalu berjalan kearahnya.
“Good morning, Jessie.” sapa Abigail dengan suara lembutnya. Abigail berjalan lebih cepat menuju ranjangnya. Lalu perempuan itu duduk di pinggir kasur.
Suasana tampak canggung untuk Jessie, tapi lagi-lagi suara Abigail terdengar. “Abi bantu siap-siap ya. Calon pengantin wanita engga boleh telat dateng.” ujar Abigail seolah tak ada permusuhan apa-apa diantara mereka.
Memang benar tak ada permusuhan apapun diantara mereka. Tapi sikap Jessie dulu yang ingin memerasnya, dan iri pada Abigail seolah terlupakan. Abigail kini berada di sampingnya seperti seorang teman untuk Jessie. Jika kalian ingat, Abigail adalah istri Alex. Mantan suaminya dulu.
“Abi, bagaimana kamu mengetahui hal ini?” tanya Jessie mulai membuka suara. Mata indah kedua wanita itu saling berpandangan.
Abigail tersenyum lebar, binar matanya yang memancarkan keceriaan seolah menyambut pagi hari Jessie yang akan menyenangkan. “Abi bahkan tahu kalau kamu dan Troy tidur sekamar tadi malam.” jawab Abigail terkikik geli.
Mata Jessie membulat, melihat hal itu buru-buru Abigail langsung menggeleng cepat. “Engga, Abigail cuma bercanda. Hubby cuma ngasih tahu Abigail kalau kamu sama Uncle Troy mau menikah.” ujar Abigail menjelaskan.
Abigail memanggil Troy dengan sebutan Uncle karena umur Troy yang sudah cukup tua. Sebagai tanda menghormati pria itu, jadilah Abigail memanggil Troy, Uncle. Walau mereka tidak memiliki hubungan keluarga apapun.
Abigail sebenarnya tak benar-benar bercanda. Abigail tahu kalau Jessie tidur sekamar dengan Troy karena Beckham yang menunjukkan rekaman suara Troy di pagi hari tadi. Ya, Beckham memang datang kerumahnya pagi buta. Bahkan suaminya sempat dibuat kesal oleh pria itu karena telah menganggu kegiatan mereka sehabis melakukan hubungan suami istri.
“Sekarang Jessie mandi dulu ya, biar Abi yang nanti make-up in kamu.” ucap Abigail dengan raut wajah polosnya, yang segera Jessie balas anggukan patuh.
__ADS_1
Flashback on.
Alex mengecupi bahu Abigail yang polos. Ia memeluk tubuh istri mungilnya dari belakang. Mata Abigail hampir terpejam karena ini sudah pukul 4 pagi. Namun suaminya itu seakan tak puas dengan apa yang mereka sudah lakukan ber jam-jam lamanya.
“Ish, Hubby. Bubu lelah.” cicit Abigail diantara kantuknya yang melanda. Ia biarkan Alex yang sibuk meremas dadanya dari belakang. Mulutnya mengeluarkan lenguhan, namun Abigail tetap ingin tertidur.
“Tubuh kamu candu banget, Bubu.” suara serak Alex membalasnya. Ia tak tinggal diam, ia masih ingin mencicipi tubuh Istrinya.
Melihat tak ada penolakan dari Abigail, Alex langsung kembali memasuki Abigail dari belakang. Pekikan polos terdengar nyaring di telinganya. Seolah lupa bahwa ia telah menggagahi Abigail berulang kali, Alex kini tetap menggempur Abigail dengan miliknya.
“Ahhh,” desahan Abigail terdengar keras. Abigail meremas seprai kasur dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya berada di atas tangan Alex yang melingkar di atas pinggangnya.
Alex mempercepat gerakannya. Ia semakin memacu adrenalin nya. Tubuh Abigail bergerak sesuai dengan irama gerakan adik kecil Alex di bawah sana. Abigail mendapatkan pelepasannya lebih dulu, baru setelah 30 menit kemudian. Alex mengeluarkan miliknya penuh di dalam rahim Abigail.
Suara ponsel berbunyi. Sontak suara itu membuat Alex geram bukan main. Bukannya ponsel itu selalu dalam keadaan mode silent sejak tadi malam? Tapi kenapa masih ada dering ponsel juga saat ini.
Abigail langsung membalikkan tubuhnya, ia ikut terbangun duduk dengan selimut tebal yang ia peluk erat. Alex yang berniat ingin mematikan ponselnya menjadi urung, saat melihat nama yang tertera.
“Kenapa Beckham menelfon pagi buta begini?” gumam Alex yang dapat Abigail dengar.
“Angkat dulu, Hubby. Pasti penting.” ucap Abigail sambil menaruh satu telapak tangannya di atas otot besar Alex.
“Halo?”
“Ada apa, Mr. Beckham.” tanya Alex datar, tanpa basa-basi. Ia malas jika Beckham nantinya akan membahas pekerjaan.
“Aku berada di depan rumahmu. Cepat buka pintunya. Penjaga melihatku seperti seorang penipu.” jawab Beckham cepat. Di ujung sana ia mendelik menahan marah melihat tatapan tajam yang terlempar untuknya.
“Bawa Istrimu juga. Lebih baik kalian segera bersiap-siap. Bantu aku untuk menyiapkan pernikahan Troy dengan Jessie.” lanjut Beckham segera menutup sambungan telfon itu.
__ADS_1
Alex dan Abigail saling bertatap-tatapan. Mereka terkejut bukan main dengan apa yang baru saja mereka dengar.
“C-cepet!” sergah Abigail langsung bangun dari kasur. “Ish cepet Hubby! Ayo mandi berdua aja!” pekik Abigail sambil berlari dengan tubuhnya yang polos, mengabaikan tatapan Alex yang kembali lapar memandangi tubuh istrinya.
Sudah bukan rahasia umum lagi di antara Alex dan Abigail jika tahu bahwa Troy mencintai Jessie. Awalnya Alex hanya menaruh curiga saja, namun kecurigaan nya terbukti benar. Saat tahu bahwa Troy berusaha keras untuk mencari keberadaan hilangnya Jessie.
20 menit waktu yang cukup untuk keduanya bersiap. Alex dan Abigail langsung menghampiri Beckham yang tidak di persilahkan masuk. Beckham dengan wajah masamnya memandang kesal penjaga yang berjaga di depan pintu utama rumah Alex.
“Bagaimana ini bisa terjadi? Jelaskan pada kami, Mr. Beckham.” ucap Alex cepat. Tangannya merengkuh pinggang Abigail erat.
“Masuk lah ke mobilku, lalu setelah itu kalian dengarkan pesan suara dari Troy pagi tadi.” jawab Beckham tak ingin mengulur-ngulur waktu.
Akhirnya Alex dan Abigail pun ikut masuk kedalam mobil Beckham. Mereka mendengarkan penuh voice note yang Troy kirim pada Beckham. Termasuk voice note saat Troy sedang berucap,
“Hey hey Sayang apa yang kamu lakukan. Pakai bantal saja ya.”
Ketiganya mendengar takjub dengan nada suara Troy yang sangat berbeda. Tanpa menunggu banyak waktu lagi, akhirnya ketiganya menyiapkan perlengkapan untuk acara pernikahan Troy. Walau sebenarnya Alex dan Abigail di bawa hanya untuk menjadi saksi. Namun melihat Beckham yang kesulitan, keduanya pun tanpa segan untuk ikut membantu.
Flashback off.
Selesai Jessie membersihkan tubuhnya, ia segera berganti pakaian yang juga di bantu oleh Abigail. Jessie menyesal karena dulu sempat berbuat jahat kepada Abigail, jika kenyataan sekarang bahwa Abigail lah yang membantu Jessie untuk pernikahannya. Bahkan keluarganya saja tak ada disini. Justru Abigail lah yang malah membantunya.
“Abigail, maafkan aku.” ujar Jessie di tengah keheningan yang melanda. Karena Abigail yang sibuk merias wajahnya.
Pergerakan tangan Abigail pun terhenti. Ia berdiri di belakang tubuh Jessie yang duduk memunggunginya. Jessie menatap pantulan kaca di depannya, yang memperlihatkan seberapa anggun wajahnya yang telah Abigail rias. Matanya ikut menatap Abigail yang terlihat mempesona, wajah gadis itu terlihat natural dengan makeup tipisnya.
“Abi udah memaafkan kamu jauh-jauh hari. Jadi jangan di ingat lagi ya. Uncle Troy pasti seneng banget liat kamu nanti. Jessie benar-benar cantik.” puji Abigail menyunggingkan senyum tulusnya.
Jessie hanya membalas pujian Abigail dengan senyum tersipu. Pipinya memerah mengingat Troy. Lelaki yang akan segera menjadi suaminya.
...Author point of view off....
__ADS_1