
...Author point of view....
Lita dan Beckham berada di satu meja yang sama. Hmm, maksudnya dengan posisi Lita yang berdiri. Sedangkan Beckham duduk diatas kursi. Lauryn dan Nessie duduk di samping kanan kiri Beckham. Beckham tak hanya menyuapi Nessie saja, namun juga Lauryn.
Lita hanya diam karena tak tahu harus berbuat apa. Ia menatap Lauryn dan Nessie yang sangat lahap menerima suapan demi suapan dari Beckham. Sebenarnya Lita sangat takut saat ini. Berada di dekat pria tua berbadan kekar, dengan tato yang menghiasi leher dan tangan pria itu.
Beckham tampak mengerikan, sungguh.
“Aunty Loli kok hanya diam? Aunty memangnya ngga mau makan?” Nessie bertanya sambil mendongak.
“Aunty sudah makan, Gadis kecil.” jawab Lita merasa gemas.
Beckham berdehem, ia sudah selesai menyuapi Lauryn dan Nessie. Beckham melirik Lita datar, “Siapa namamu.” Lita menggigit bibir bawahnya cemas. Ia sendiri bingung dengan dirinya. Mengapa bisa takut berdekatan dengan pria di hadapannya.
“Lolita, Sir.” Lita menunduk kebawah. Ia tak berani menatap Beckham. Sungguh, baru kali ini ia menghadiri pesta pernikahan mewah. Lalu keberadaannya yang cukup dekat dengan pria ini, membuatnya minder. Dan merasa rendah diri.
Tanpa menatap mata Beckham sekalipun, Lita tahu jika Beckham sedang menatapnya. “Sudah berapa lama kamu bekerja?” Lita mengerutkan keningnya bingung, menimbulkan lipatan kecil di dahinya.
“Bekerja?” kali ini Lita mengangkat wajahnya. Dan benar saja, jika Beckham sedang menatapnya. Tatapan pria itu seolah menilai tampilannya yang cukup sederhana.
Tapi tidak dengan harga dress simplenya. Karena Jessie telah memberikannya sebuah dress, sebelum menjelang hari H.
“Saya tidak bekerja dengan siapapun.” jawab Lita mulai menetralkan degup jantungnya. Tatapan pria ini, sungguh.. mengulitinya.
“Oh,” Lita menegang, apa ia salah bicara barusan? Mendengar jawaban singkat dari Beckham membuatnya semakin merasa rendah. Lagipula memang aku siapa?, batin Lita bertanya.
Tak ada pembicaraan lagi setelah itu. Hanya ada keheningan dalam beberapa menit. Suara menguap kantuk khas anak-anak memecahkan keheningan yang sedang terjadi. Lita dengan peka semakin mendekatkan dirinya ke Lauryn.
“Sayangnya Kakak Lita mau bobo ya? Ngantuk ya?” Lita merunduk kebawah, ia sedikit membungkuk dengan wajah yang condong kearah wajah mengantuk Lauryn.
“Iya, Kak. Rynryn mau bobok.” jawab Lauryn sedikit merengek. Lita tersenyum manis, ia langsung mengusap pipi chubby Lauryn dengan sayang.
__ADS_1
“Sini sama Kakak dulu bobonya yaaa.” Lita segera mengangkat Lauryn kedalam gendongannya. Menepuk-nepuk pantat Lauryn dengan pelan. Agar anak itu semakin terlelap.
Beckham sedikit tersentil melihat pemandangan di hadapannya. Gadis yang baru ia temui beberapa menit lalu, mampu membuatnya tersenyum walau hanya sedikit. Tanpa sadar Beckham menarik sudut bibirnya. Namun pergerakan di lengannya membuat Beckham tersadar, lalu segera mengubah mimik wajahnya.
“Apa hmm?” Beckham mengangkat kedua alisnya sambil menatap Nessie.
“Nessie mengantuk juga, Uncle.” Beckham segera mengangkat Nessie kedalam gendongannya. Ia tak perlu repot-repot berdiri, dan tetap menggendong Nessie dalam keadaan duduk.
“Kalo kamu lelah, duduk saja disini.” Beckham melirik kursi di sebelahnya yang kosong. Bekas kursi yang tadi Lauryn duduki.
Lita meneguk ludahnya kasar. Sebenarnya ada apa dengan dirinya. Ia merasa daya tarik pria tua ini sangat besar. Lita tak berani menolak, ia langsung duduk di samping Beckham. Jarak duduk yang memang dekat, membuat lengannya tanpa sengaja bersentuhan langsung dengan lengan keras Beckham yang tertutupi jas hitam.
“Maaf..” Lita berucap lirih, tak berani ia menatap pria di sampingnya.
“Hmm,” Beckham hanya berdehem sebagai jawaban. Padahal Beckham tak merasa jika Lolita melakukan kesalahan padanya.
...★★★...
Troy menggenggam tangan Jessie untuk menuruni tangga mewah di gedung ini. Sebenarnya ini adalah hotel, bukan hotel Andreas. Melainkan hotel milik temannya yang sangat mewah. Troy sengaja mencari hotel terbaik untuk resepsi pernikahannya bersama dengan Jessie.
Troy tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja Istrinya ini, batin Troy berucap.
“Mas rasa Lita justru senang, karena anak kita ini anak yang ceria, Sayang. Mereka jarang merepotkan.” mendengar hal ini, membuat Jessie tenang seketika.
“Kamu benar, Mas. Aku sangat beruntung karena di karuniai anak secantik dan sepintar mereka.” Jessie tersenyum manis, Troy yang merasa gemas pun meremas pundak Jessie sayang.
“Mas juga beruntung karena bisa menikahi wanita tangguh secantik dan sepintar kamu.” Troy mengecup pelipis Jessie sekilas.
Semakin hari Troy semakin pintar merangkai kata-kata manis. Tak jarang di pagi hari yang cerah nan indah, Troy sudah menyiapkan note kecil jika saja pria itu harus berangkat kerja lebih awal, dan Jessie masih terlelap tidur.
Mereka menuruni tangga demi tangga. Namun di tangga terakhir. Jessie dapat melihat dua orang sosok paruh baya, yang sedang saling merangkul. Wanita tua itu memeluk pinggang Suaminya. Sedangkan sang suami memeluk punggung Istrinya.
__ADS_1
Nafas Jessie tercekat. Sudah bertahun-tahun dirinya tak dapat melihat kedua orangtuanya secara langsung. Selain dari televisi. Jessie meremas pinggang Troy, Troy yang sadar akan keterdiaman Jessie pun mengusap lengan Istrinya dengan lembut.
“Samperin ya, Sayang. Biar kamu tenang juga, nggak kepikiran lagi. Oke?” Jessie mengangguk perlahan, Troy tersenyum sambil melayangkan kecupan lagi pada pelipis Istrinya.
Langkah kaki mereka kian mendekat. Hingga kini Troy melepaskan tubuh Jessie dari rangkulannya. Membiarkan Jessie berdiri sendiri di sampingnya. Mata Jessie mengerjap beberapa kali.
“Jessie!” Christie langsung menghambur ke pelukan Jessie. Ia memeluk Jessie erat. Anak angkatnya yang telah ia usir beberapa tahun lalu, karena di anggap telah mencoreng nama baik keluarga.
“Mama sangat merindukan kamu.” nyonya Christie memeluk erat Jessie. Tingginya memang setara dengan tinggi Jessie. Memudahkannya untuk menatap sang anak dengan mudah.
“Mama sangat-sangat merindukan kamu. Mama mencari kamu berulang kali, namun hasilnya selalu nihil. Tidak ada yang bisa menemukan kamu.” Christie tak masalah dengan Jessie yang tak membalas pelukannya. Asal ia dapat bertemu dengan anak angkatnya, itu sudah membuatnya sangat senang.
“Penyesalan memang selalu datang di akhir. Maafkan papa, Jessie.” entah sejak kapan Chris, ayah angkat Jessie. Sudah berada di dekat mereka.
Jessie tersenyum tipis, ia memejamkan matanya erat. Chris yang sudah rentan itu pun tersenyum manis, ia ingin memeluk Jessie. Namun menyadari jika Jessie tidak mau bertemu dengannya dan Istrinya, membuat Chris urung ingin memeluknya.
Chris menunduk dalam. Ia merasa sangat bersalah. Ia merasa kesepian. Ia juga sedih melihat istri yang sangat ia cintai tidak dapat hidup dengan tenang, karena selalu merindukan anak angkat mereka. Apalagi setelah mengetahui kabar bahwa Troy (salah satu pebisnis sukses, akan segera menggelar resepsi pernikahan) beserta foto prewedding Jessie dan Troy yang terpampang di televisi dan surat kabar.
“Sudah cukup.” lamunan Chris buyar, ia menatap Jessie lemah. Menatap juga Christie yang tampak sedih karena Jessie melepaskan pelukannya.
“Papa, mendekat lah.” Chris mematung di tempatnya. Jessie tersenyum manis. Chris pun langsung mendekat. Dan Jessie langsung memeluk keduanya. Tangis Christie pecah, ia memeluk punggung Jessie dengan erat. Seolah tak ada hari esok.
“Hiks, Jessie juga sangat merindukan Mama dan Papa.” Jessie terisak kecil. Ia tak ingin membuat Mamanya semakin menangis. Namun dalam keadaan seperti ini, tangisannya tak dapat ia tahan.
Tuan Chris menatap Troy bangga, ia merasa senang karena Troy berhasil membuat ia dan istrinya dapat menemui Jessie. Anak yang sangat mereka rindukan.
Dada Troy bergemuruh. Ia merasa sesak melihat istrinya yang terisak di dalam pelukan kedua mertuanya. Troy merasa lega, karena akhirnya Jessie dapat merasakan pelukan dari kedua orangtuanya lagi. Walau sebenarnya mereka hanya orangtua angkat Jessie.
Diam-diam ada yang memotret kebersamaan Jessie dengan kedua orangtuanya. Senyuman terbit di bibir pria itu. Pria yang tak lain adalah Roy, langsung mengirimkannya pada Abigail. Putrinya.
Abigail dan Alex tidak hadir ke acara resepsi tersebut karena mereka kembali melakukan perjalanan bulan madu. Roy sendiri sudah terbiasa akan kebiasaan Putri dan menantunya yang semakin lengket saja setiap harinya. Mau tak mau anak-anak Abigail pun kini sedang berada di rumahnya. Bersama baby sitter andalan Roy.
__ADS_1
Roy pikir masa tuanya telah usai. Ia telah melihat banyak perjalanan beda generasi selama ini. Dari saat Abigail dan Alex yang menikah, lalu kini melihat Jessie dan Troy yang tengah berbahagia. Lalu melihat adik laki-lakinya, Chris, yang juga berhasil menemui kembali anak angkatnya.
...Author point of view off....