SINGLE MAMA.

SINGLE MAMA.
chapter 25


__ADS_3

...Author point of view....


Hari sudah malam. Efsun menunggu kedatangan Troy di rumah. Tumben sekali pria itu tidak mengabarinya. Atau tidak menanyakan kabar Nessie padanya. Sambil Efsun menunggu kedatangan Troy, ia sedang memikirkan cara agar dapat menyingkirkan Jessie lewat Miracle.


Miracle memang bekerja dengan Efsun. Awalnya Miracle hanya lah pegawai biasa di restauran Hotel Andreas. Namun setelah bertahun-tahun bekerja, akhirnya Miracle naik jabatan. Tugas Miracle yang sedang mencari hidangan baru sebagai daya tarik pengunjung jatuh kepada makanan kue kering yang Jessie buat.


Sungguh ini hanyalah sebuah kebetulan. Miracle tidak tahu jika Jessie memilki sangkut paut dengan keluarga Efsun, istri pemilik Hotel Andreas. Ya, orang-orang memang hanya tau jika Efsun dan Troy masih lah sepasang suami istri. Padahal keduanya sudah berpisah dan itu tidak di ketahui publik sama sekali.


Saat itu, awal pertemuan Efsun dengan Jessie di restauran Hotel Andreas. Ia melihat sesosok wanita asing sedang duduk dengan putrinya, Nessie.


Efsun langsung mengambil alih Nessie. Entah apa yang membuat Efsun tak menyukai wanita itu sejak pertama kali melihatnya, itu karena rasa kecemburuan yang tanpa sengaja muncul di hati Efsun. Melihat Nessie yang terlihat nyaman berada di samping wanita asing itu.


Efsun memang langsung membawa Nessie pergi. Sehingga ia tak melihat Jessie yang pingsan, dan langsung di gendong oleh Troy, lelaki yang masih ia cintai. Mungkin jika Efsun tak langsung pergi, ia takkan membiarkan Troy membantu Jessie saat itu.


Walau Efsun pergi, namun akhirnya ia mencari tahu. Siapa nama wanita yang dengan berani duduk bersama putrinya. Penjaga Hotel yang 24 jam mengamati cctv pun memberi tahukan, bahwa wanita itu adalah Jessie. Pembuat kue yang sedang di pekerjakan oleh pihak restauran hanya untuk beberapa waktu.


Mengetahui hal itu, Efsun langsung merasa emosi dan tak tenang. Buru-buru Efsun menemui Miracle yang ia jadikan sebagai mata-mata wanita yang ia benci. Efsun butuh mengetahui seluk beluk Miracle terlebih dahulu, karena tahu bahwa wanita tua itu sulit untuk di suap dengan uang.


Mengetahui bahwa Ibu Miracle terbaring sakit. Efsun menjadikan hal itu sebagai ancaman untuk Miracle. Jika Miracle tidak ingin membantunya, maka Efsun tak segan-segan untuk memecat Miracle keluar dari Hotel Andreas.


Dengan begitu apik, Miracle menjalani tugasnya. Memberi tahukan info terbaru tentang kegiatan apa saja yang Jessie lakukan.


Seperti saat itu, saat Miracle menahan Jessie untuk menginap di Hotel Andreas.


Flashback on.


Miracle menarik sudut bibirnya, ia mengeluarkan ponselnya. Lalu mulai mengetikkan beberapa pesan, dengan senyum yang mengembang.


‘Mrs. Jessie, tidak jadi pulang ke rumahnya.’


Efsun yang di sebrang sana sedang menunggu pesan dari Miracle tersenyum puas. Ini yang Efsun inginkan. Efsun ingin kegiatan Jessie di awasi oleh Miracle. Dan jika Jessie dibiarkan pulang, maka sulit bagi Efsun untuk mencari tahu apa saja yang wanita itu lakukan.


'Awasi terus dia, Mira. Uang tambahan akan aku berikan padamu. Jangan lengah.'

__ADS_1


Efsun mengirimkan pesan itu untuk Miracle. Senyum Efsun mengembang, ia merasa puas karena bisa mengandalkan Miracle.


Flashback off.


Efsun mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada Troy. Ia ingin menanyakan dimana keberadaan pria itu sekarang.


Efsun.


Troy, kamu masih bekerja?


Tanya Efsun lewat pesan singkat. 15 menit menunggu, belum ada balasan dari Troy. Entah dimana laki-laki itu sekarang. Kenapa Troy tidak menanyakan tentang Nessie hari ini. Karena biasanya, setiap hari Troy selalu menanyakan apa yang sedang Nessie lakukan di rumah.


...★★★...


Troy merasa gugup ketika ingin berhadapan dengan Lauryn. Tidak seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya. Kali ini Troy akan mengajak Lauryn main bersamanya. Sedari siang Troy memang tidak langsung menemui Lauryn, karena tiba-tiba saja ada pekerjaan mendadak yang harus segera di selesaikan lewat jarak jauh.


Troy melangkah menuju ruang tamu. Semakin dekat langkahnya, semakin ia mendengar tawa anak kecil dan wanita dewasa yang saling bersaut-sautan.


“Hahaha, Mama gelii.” rengek Lauryn ketika Ibunya menggelitik perutnya. Jessie tak berhenti sampai disana, ia semakin menggelitiki perut anaknya karena merasa gemas.


“Rynryn yang bilang masakan Mama enak. Masakan Mama selalu enak. Nggak pernah nggak enak.” jawab Lauryn polos. Dengan kedua matanya yang berbinar indah.


“Lauryn mau jadi apa kalau sudah besar?” tanya Jessie iseng, sambil menarik Lauryn untuk duduk diam di atas sofa sampingnya.


“Ingin seperti Mama.” jawab Lauryn lugu. Tangan kecilnya membingkai wajah Jessie yang tiba-tiba saja terdiam.


Jessie ingin menjawab 'Tidak, jangan seperti Mama. Lauryn harus mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya'. Tapi lidahnya kelu, Lauryn masih terlalu kecil untuk mengerti hal itu.


“Ekhm, Lauryn lagi apa Sayang?” tanya Troy tiba-tiba saja datang memecahkan keheningan di antara mereka.


Sebenarnya Troy sudah datang sejak tadi. Namun ia menikmati pemandangan dua orang perempuan yang ia cintai, sedang bercanda ria di depannya.


“Lauryn lagi main sama Mama.” jawab Lauryn sambil merentangkan kedua tangannya. Meminta untuk di peluk.

__ADS_1


“Ayah sedang apa?” tanya Lauryn saat sudah berada di gendongan pria itu. Troy tersenyum senang, baru saja Lauryn bertanya padanya.


“Ayah sedang ingin mengajak anak Ayah main. Mau?” tawar Troy yang langsung di angguki semangat oleh Lauryn.


Troy melirik Jessie yang masih duduk di sofa. Jessie tersenyum haru melihat Lauryn yang terlihat sangat senang.


“Mama, Lauryn Ayah pinjem dulu ya? Boleh Mama? Izin dulu Sayang sama Mama.” ujar Troy melirik Lauryn dengan alis yang ia naik turunkan. Seolah memberitahu kan anaknya bahwa izin dari Jessie sangat lah penting.


Lauryn berusaha menggapai Jessie. Jessie yang menyadari hal itu langsung saja beralih menggendong Lauryn. “Yahh, anaknya enggak mau Ayah. Lauryn nya nih mau main sama aku.” ucap Jessie memasang wajah sedih yang ia buat-buat.


Troy mendelik melihat hal itu. Lauryn menatap bingung keduanya. Ia ingin bermain dengan Ayah, dan juga Mamanya. Lauryn ingin bermain bersama dua-duanya. Tapi tak tahu bagaimana cara mengucapkannya.


“Rynyn mau main sama Ayah. Tapi kalau Lauryn main sama Ayah, nanti Mama sedih. Lauryn enggak mau liat Mama sedih...” cicit Lauryn pelan. Sangat pelan, masih dengan wajah polosnya.


Troy dan Jessie mematung mendengar hal itu. Tiba-tiba saja Jessie merasa sesak pada dadanya. Sebegitu pedulinya kah Lauryn terhadap perasaannya? Padahal anak ini masih sangat kecil untuk mementingkan perasaan orang lain, dibandingkan kesenangannya sendiri.


Troy mencubit pipi Jessie gemas, “Liat deh Lauryn, Mama gemes banget kalo lagi bengong gitu. Mama mau ikut main sama kita nggak?” tanya Troy mencairkan suasana. Ia tak ingin membuat suasana menjadi memengaruhi mood hati Jessie.


Jessie yang tersadar dari lamunannya pun langsung cemberut kesal, menarik tangan Troy agar melepaskan cubitan itu dari pipinya. Lauryn terkikik geli melihat wajah Ibunya yang cemberut.


Troy menggeleng-gelengkan wajahnya melihat Jessie yang seperti anak kecil. “Mama kalah sama Lauryn ya, Nak. Masa Ayah cubit gitu aja marah.” ujar Troy semakin menggoda Jessie yang terlihat sebal dengannya.


“Ish apaan sih, Mas.” balas Jessie merajuk, mata Troy membesar mendengar panggilan Jessie untuknya.


“Lauryn tidur aja ya, Sayang? Udah malam juga. Yuk tidur sama Ayah.” ujar Troy membujuk Lauryn secara tiba-tiba.


“Kok gitu. Tadi kan Ayah ajak Rynryn main.” gerutu Lauryn tak terima. Troy menghembuskan nafasnya kasar. Ia tersenyum lebar.


“Iya, mainnya bisa besok. Ayah mau main dulu sama Mama.” bujuk Troy dengan wajah mesumnya. Sontak mata Jessie membulat.


“Lauryn tidur sendiri ya, Sayang. Kan sudah besar.” lanjut Troy mengacuhkan pandangan tajam Jessie yang terarah padanya.


Lauryn sempat berpikir sejenak, namun dengan sikap lapang dada yang sedari kecil tumbuh dalam dirinya. Akhirnya Lauryn mengangguk polos. Meng iyakan ucapan Ayahnya, Troy.

__ADS_1


...Author point of view off....


__ADS_2