SINGLE MAMA.

SINGLE MAMA.
chapter 18


__ADS_3

...Author point of view....


Lima hari kemudian.


Dinginnya malam yang menusuk, membuat semua orang mengenakkan baju tebal. Cuaca benar-benar sangat dingin, langit pun begitu abu, menggambarkan suasana hati Jessie malam ini. Ia terduduk di atas tempat tidurnya, memandangi wajah Lauryn, yang sangat tenang ketika tertidur.


Jessie menghembuskan nafasnya panjang. Meratapi nasibnya yang begitu buruk, dua hari lagi Lauryn akan di jemput oleh Troy. Dan ia akan hidup dengan sendirian, tanpa seorang pun menemaninya.


“Jangan seperti Mama ya, suatu saat nanti, Lauryn akan menjadi Ibu yang baik.” ucap Jessie lembut, dengan senyum tipis di bibirnya. Karena ia sudah menandatangani berkas penyerahan hak asuh dari Troy pada hari itu.


Hari dimana Troy memasuki tubuhnya.


Tok.


Tok.


Tok.


Jessie bangun dari duduknya, ia segera ke luar kamar, namun saat beberapa langkah menuju pintu untuk membukanya, Jessie menahan langkahnya. Pelan-pelan ia mengendap dan mendengar sebenernya siapa yang datang.


Tak ada suara apapun dari sana, membuat Jessie menjadi takut, akan kedatangan orang jahat di rumahnya. Apalagi kedatangan Troy. Jessie merinding, bagaimana jika nanti Lauryn di bawa pergi sebelum waktunya?


“Buka pintumu Jessie.” suara berat itu bukan lah suara dari seora pria. Namun seorang wanita. Jessie merasakan keinginannya untuk membuka pintu tiba-tiba muncul.


Cklek.


Pintu pun terbuka, menampakkan siapa yang datang. Jessie menyeringitkan keningnya bingung. Ia seperti pernah melihat wanita di depannya, namun di mana? Jessie lupa akan hal itu.


“Efsun.” ucap wanita itu dengan mata yang menatap Jessie tajam. Seperti, ingin membunuhnya hidup-hidup. “Istri Troy, yang paling di cintai.” senyuman miring Efsun di balas oleh Jessie dengan raut wajahnya yang dingin dan datar.

__ADS_1


“Aku hanya ingin memberikanmu uang, sebagai uang muka. Karena kebahagiaanmu sanggup aku beli dengan sejumlah uang yang berada di kertas ini. Ku harap kau bukan wanita yang licik, Jessie. ” Efsun melempar check itu di depan wajah Jessie yang memerah karena merasa marah.


Efsun berbalik arah ingin pulang, dengan tubuh yang memunggungi Jessie, saat ia ingin segera pergi, tiba-tiba saja Efsun menahan langkahnya.


“Bukankah kebahagiaan seorang anak adalah kebahagiaan untuk ibunya juga? Kau nanti akan melihat kebahagiaan Lauryn saat hidupnya sudah sangat sempurna. Bersama aku, Troy, dan Nessie. Keluarga yang sangat ba- ”


“Aww!!”


Jessie menarik rambut Efsun kebelakang, ia menjambak rambut Efsun dengan keras. “Lepaskan aku Jessie.” geram Efsun dengan mata yang memerah, Jessie melayangkan tangannya ke pipi Efsun.


Plakk.


Jessie menampar Efsun keras. Baru setelah itu ia mendorong Efsun keluar, dan segera menutup juga mengunci pintunya cepat.


Brakk.


Nafas Jessie terengah-engah, punggungnya meluruh lemas bersandar pada pintu di belakangnya. Jessie tidak sanggup membayangkan bahwa Lauryn juga akan bahagia ketika tidak bersamanya. Jessie memeluk kedua lututnya yang menekuk. Lalu ia sembunyikan wajahnya yang me merah di atas dengkulnya.


Troy mengeraskan rahangnya, saat mendapati kabar bahwa ternyata Efsun pergi mengunjungi rumah Jessie. Di ruang kerjanya, Troy mondar mandir tak bisa tenang, ia takut bahwa Efsun akan berbuat hal yang tidak-tidak terhadap Jessie.


“Tuan, nyonya Efsun telah pulang.” ujar bodyguard itu dengan tegas. Troy menahan amarahnya yang akan segera memuncak.


“Tarik Efsun, dan bawa kehadapan ku. ” belum lima menit Troy memerintahkan itu, Efsun sudah di bawa paksa dengan kedua bodyguard di sisi kanan kirinya.


“Lepaskan aku bodoh!” pekik Efsun merasa jijik dengan kedua orang yang memegang lengannya untuk di bawa ke hadapan Troy. Troy pun mengangguk sekilas sebagai isyarat agar bodyguard itu pergi. Hingga di ruangan itu hanya tersisa ia dan Efsun.


“Apa yang kau lakukan Efsun. ” geram Troy merasa kesal. Efsun membuang pandanganmya ke samping. Troy menjepit dagu Efsun, lalu membawa wajah itu, untuk menatapnya.


“Katakan.” tekan Troy sangat mengintimidasi.

__ADS_1


“Memperkenalkan diriku sebagai istrimu. Sudah itu saja. Bagaimana? sebuah perkenalan yang bagus bukan. ” ujar Efsun dengan senyuman licik di bibirnya. Membuat mata Troy menajam.


“Apa yang kau katakan Efsun?” Troy mencengkram dagu Efsun semakin keras. Membuat Efsun meringis kesakitan, Troy segera melepaskan cengkramannya pada dagu Efsun.


Ia beralih menuju teras, mencengkram railing balkon yang terbuat dari besi. Troy merasa sangat kesal. Namun ia tidak bisa melampiaskan kekesalannya kepada Efsun.


“Troy..” panggil Efsun putus asa.


“Jangan buat aku membencimu Efsun. Jangan buat aku lupa atas tanggung jawabku kepada dirimu. Jangan lupakan bahwa kita sudah bercerai. Aku tidak bisa membuat dirimu berada di atas, jika kau masih saja menyakiti wanita yang aku cintai. Jangan termakan oleh masa lalumu. Jangan kau habisi egomu hanya untuk membalaskan dendam mu yang sebenarnya dia saja tidak pantas di salahkan. Jessie bahkan tidak mengetahui apapun tentang dirimu. Ia tidak memiliki kesalahan apapun terhadap kita.”


Ucap Troy panjang lebar, sambil menatap lurus pandangannya. Efsun yang melihat sisi wajah Troy dari samping, terdiam.


“Dia telah membunuh anakku. Karena dia aku kehilangan cintamu. Karena kehadiran dia hidupku hancur.” tekan Efsun dengan air mata yang mulai turun membasahi pipinya.


“Kau yang membunuh anakmu sendiri. Kau yang menyakiti dirimu sendiri, hingga kau tidak memperhatikan kandunganmu. Anak kita terbunuh karena ulahmu sendiri. Karena kau egois. Hanya mementingkan keinginanmu saja. ” balas Troy tegas. Membantah tuduhan Efsun yang terarah pada Jessie


“Kenapa kau jadi menyalahiku Troy? Bukan kah sebelumnya kau tidak pernah mengatakan bahwa ini semua salahku?” tanya Efsun tidak percaya, dengan apa yang Troy katakan.


“Selama ini, sampai saat ini, aku hanya memperhatikan kebahagiaanmu. Sampai aku lupa bagaimana caranya untuk bahagia. Kita sudah memisahkan Nessie dari ibunya, lalu kita akan segera memisahkan Lauryn juga dari ibunya.” ucap Troy tak habis pikir dengan apa yang ia sudah perbuat.


“Tapi kau Ayahnya. Kau berhak mendapatkan hak asuh kedua anakmu.” ujar Efsun berusaha memanipulasi Troy kembali, agak tidak menjadi lemah untuk Jessie.


“Tapi Jessie Ibunya, dia yang merawat kedua anakku tanpa seorang suami. Tanpa keluarga. Dan hanya sendirian.”


“Aku akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Jessie.” bantah Efsun tak ingin merasa di kalahkan.


“Kalian berbeda. Kau memiliki aku, keluarga, dan tempat berpulang pada saat itu, tapi kau tetap keras kepala dengan keinginan mu sendiri. Kau yang ingin perceraian pada saat itu. Dan semua keinginan mu terkabul. Tapi kenapa sekarang kau ingin mendapatkan diriku Efsun? Padahal kau sudah tahu bahwa hatiku hanya untuk wanita yang baru saja kau sakiti.”


Troy berlalu pergi dari hadapan Efsun, meninggalkan mantan istrinya yang terdiam sendiri di balkon ruang kerja Troy.

__ADS_1


“Itu karena aku merasa kau berkhianat. Kau berkhianat terhadap hubungan yang kita bangun. Kau telah berani mencintai orang lain, selain diriku. Bahkan menanamkan benihmu di dalam rahim wanita lain, selain rahimku. ” bisik Efsun lirih.


...Author point of view off....


__ADS_2