SINGLE MAMA.

SINGLE MAMA.
chapter 26


__ADS_3

...Author point of view....


Troy membawa Lauryn ke kamar kosong. Kamar yang sudah Troy susun sejak lama. Kamar yang sudah ia persiapkan sejak lama. Namun rasanya belum lengkap, tanpa Nessie berada di sisi mereka.


Troy menidurkan Lauryn di atas ranjang kecil. Ia mengusap surai rambut Lauryn penuh kasih sayang. Mata Lauryn yang sudah terpejam, ia usap ringan dengan ibu jarinya. Troy menurunkan tubuhnya, ia kecup kening Lauryn lama.


Wajah Lauryn sangat cantik, sama seperti Nessie. Karena mereka adalah kembar. Yang lahir lebih dulu memang Lauryn, hanya berbeda 5 menit saja waktu lahir mereka. Ya, Troy mengetahui hal itu. Ia tahu semuanya. Dokter memberi tahukan informasi secara jelas dan rinci. Bagaimana Jessie mengalami kontraksi nya, jam berapa Jessie mulai pembukaan akhir, dan saat dimana Jessie melahirkan anak mereka.


“Sleep tight, Lil Princess.” ucap Troy berbisik. Setelah itu Troy langsung berjalan keluar dan menutup pintu kamar yang Lauryn tempati.


Troy kembali ke kamarnya. Ia dengan ekspresi datarnya memang tidak bisa di pisahkan. Seperti saat ini, Troy memandang Jessie datar namun penuh gairah. Jessie terduduk diam di atas kasur. Hanya dengan balutan piyama satin yang menutupi keindahan tubuhnya.


“Jessie.” panggil Troy serak. Gairahnya sudah berada di ubun-ubun. Apalagi saat melihat pucuk payudara Jessie yang tercetak jelas di balik piyama tipis itu.


Jessie langsung berdiri. Ia mengambil bantal serta guling di pelukannya. “Ini.” ujar Jessie singkat, sambil memberikan bantal dan guling itu kearah Troy.


Troy terkejut, 'Apa-apaan ini?' tanya Troy dalam hatinya. Jessie dengan wajah juteknya, langsung saja berbalik arah. Kembali memunggungi Troy, dan berjalan menuju ranjang besar yang sangat empuk dan nyaman itu.


Jessie mendudukkan tubuhnya di atas kasur. Sebelum membaringkan tubuh sepenuhnya, ia renggangkan dulu otot-ototnya, hingga membuat dadanya membusung sebentar. Hanya sebentar, karena setelah itu Jessie langsung berbaring dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Troy meneguk ludahnya kasar. Jessie menyuruhnya untuk tidur di sofa? Mengapa wanita itu kini tampak terlihat damai, dan seolah tak menganggap kehadirannya disini.


“Hey, apa yang kamu lakukan??” tanya Troy memincingkan matanya geram. Jessie tak menggubris pertanyaan Troy, ia lebih memilih untuk menulikan pendengarannya untuk menghindari perbuatan mesum pria itu.


“Jessie.” panggil Troy dengan nada rendahnya. Jessie masih tetap diam, ia mulai memejamkan matanya. Tak menggubris keberadaan Troy disini.


“Baiklah.” ucap Troy mengalah. Ia langsung membalikkan tubuhnya, melenggang pergi melewati sofa yang berada di tengah ruangan.

__ADS_1


Terdengar suara pintu yang tertutup. Sontak hal itu membuat mata Jessie membulat. Ia pikir Troy tidak akan marah. Namun yang terjadi justru sebaliknya.


Jessie tak sengaja melihat pesan masuk pada ponsel Troy. Sungguh ia tidak berniat lancang. Namun saat setelah membersihkan diri, tak sengaja Jessie melihat layar ponsel Troy yang tiba-tiba saja menyala. Menampakkan pesan yang muncul pada layar itu.


Jessie menahan matanya untuk tidak berair, ia bukan wanita yang mudah menangis. Tapi melihat nama yang Troy berikan pada kontak wanita itu, seketika membuat hatinya panas.


Buna.


Troy, kamu masih bekerja?


Jessie tahu siapa gerangan yang mengirimkan pesan itu. Terlihat sekali jika itu Efsun. Seketika Jessie membayangkan hubungan Troy dengan Efsun. Mereka tinggal bertahun-tahun di atap rumah yang sama. Tak mungkin jika tidak terjadi suatu hal diantara mereka.


Membayangkan Troy menyentuh Efsun, seketika membuat dada Jessie mencelos. Seharusnya ia tak terbuai dengan sentuhan Troy pada tubuhnya. Namun ia tak dapat membohongi hatinya, jika dirinya sangat mencintai pria itu.


“Di luar lagi dingin. Kalau dia kedinginan gimana? Mana udah tua..” cicit Jessie merasa cemas.


Jessie mengusap wajahnya kasar. Ia frustasi dengan pemikirannya sendiri. Di satu sisi ia merasa Troy tak pantas tidur dengannya, namun di sisi lain ia sadar bahwa ini adalah rumah Troy. Lagi pula siapa dirinya bagi Troy? Setelah percintaan panas mereka di ruang kerja pria itu tadi, bahkan Troy tidak mempertegas hubungan di antara mereka.


“Nggak baik tidur jam segini. Lebih baik kamu langsung tidur di kamar.” ujar Jessie acuh tak acuh. Sambil mengambil remote TV yang berada di samping pria itu.


Televisi pun berubah menjadi gelap. Televisi itu telah di matikan oleh Jessie. Bukannya menurut dengan apa yang Jessie perintahkan, justru Troy langsung mengambil posisi baring di atas sofa panjang.


“Apa yang kamu lakukan sih Mas? Tidur di kamar aku bilang.” ujar Jessie merasa gemas dengan tingkah laku Troy.


Jessie mengguncangkan pundak Troy yang tertidur membelakanginya. Jessie tahu Troy tidak benar-benar tertidur. Pria itu pasti hanya memejamkan matanya saja.


“Ih Mas! Aku kesel sama kamu.” rengek Jessie tak dapat tertahan. Jessie menutup wajahnya yang memerah menahan tangisan.

__ADS_1


Pesan dari Efsun sudah membuat Jessie cemburu, lalu sikap Troy yang mengacuhkannya membuat Jessie kesal. Emosinya bahkan tidak dapat meluap-luap, sadar jika dirinya tidak memiliki hubungan apapun oleh pria di depannya.


Troy terjengkit kaget, ia langsung membalikkan tubuhnya. Troy bangun dan menghampiri Jessie yang bergetar. “Sayang, Kamu kenapa?” tanya Troy khawatir. Jessie semakin mengeraskan tangisannya, tidak peduli dengan keadaan sekitar.


“Astaga Jessie. Sini cerita sama Mas. Mas lakuin kesalahan ya?” Troy langsung memaksa Jessie untuk duduk di atas sofa. Jessie tak menolak hal itu, hingga Troy merengkuh tubuhnya.


Punggung Jessie bergetar hebat, isak tangis tergugunya memenuhi ruang tamu rumah Troy. “Jessie, Mas nanya loh. Masa nggak di jawab.” ujar Troy sabar, ia mulai terbiasa dengan panggilan Mas' dari Jessie untuknya.


Jessie menarik tubuhnya dari rengkuhan Troy. Hingga jari telunjuknya melayang menunjuk-nunjuk dada bidang Troy.


“Mas kalo nggak cinta sama aku, jangan bersikap kalo seolah Mas ini cinta sama aku. Aku udah bukan remaja labil lagi yang bisa Mas bohongi.” ucap Jessie dengan nafasnya yang tercekat.


Troy mengerutkan keningnya bingung. Bagaimana Jessie bisa mengatakan hal ini? Jika hatinya saja hanya penuh dengan nama wanita itu.


“Apa yang kamu omongin sih? Kenapa kamu bilang kaya gitu.” balas Troy tak terima, karena cintanya telah di ragukan. Namun ia masih menstabilkan nada bicaranya, agar tak membuat Jessie semakin menangis.


“Mas harusnya nggak disini. Kasian Efsun udah nunggu Mas di rumah. Lagian Lauryn juga biasanya sama aku, aku udah biasa ngurus dia sendirian. Kasian Nessie di rumah cuma sama Buna nya aja. Mas seharusnya nggak disini. Cepet Mas bawa aku balik, aku nggak bisa tinggal disini sama Mas.” ujar Jessie panjang lebar. Matanya menatap Troy penuh kekecewaan. Namun ia berusaha menyembunyikan hal itu sebaik mungkin.


Troy menahan amarahnya mendengar hal itu. Tapi ia bisa tangkap, jika ada suatu hal yang mengganjal. Mengapa tiba-tiba Jessie membahas Efsun? Pasti ada sesuatu yang baru saja terjadi.


“Kalo kamu mau Mas tidur disini, Mas terima. Tapi kalau kamu minta Mas buat pergi, Mas nggak mau. Kamu nggak percaya-percaya sama Mas, apa yang buat kamu ragu? Padahal cuma ada nama kamu di hati Mas selama ini.” ucap Troy tajam, matanya menatap Jessie seakan ingin memakan wanita itu sekarang juga.


“Mas pembual, aku nggak bisa percaya sama lelaki buaya kaya Mas. Mas tinggal sama Efsun bertahun-tahun, nggak mungkin Mas nggak punya hubungan apa-apa sama Efsun. Mas nafsunya tinggi, nggak mungkin Mas nggak-”


Jessie menutup mulutnya refleks. Matanya membulat terkejut karena sudah banyak bicara. Seharusnya ia tak mengatakan hal itu. Sekarang jadi terlihat begitu nyata jika dirinya sedang cemburu.


Troy memejamkan matanya, kedua alisnya terangkat ke atas. Ia tak percaya jika Jessie dapat memikirkan hal itu. Troy hembuskan nafasnya perlahan, ia harus super sabar jika berhadapan dengan wanita di hadapannya.

__ADS_1


“Kita selesaikan masalah ini di kamar.” ujar Troy tegas, tangannya bergerak menarik tangan Jessie yang tak berani menolak.


...Author point of view off....


__ADS_2