SINGLE MAMA.

SINGLE MAMA.
chapter 34


__ADS_3

...Author point of view....


Jessie menggigit bibir bawahnya keras. Ia menahan rasa sesak di dadanya setelah melihat apa yang tertera di layar ponsel. Troy sudah berkali-kali menyakitinya. Namun yang ia lakukan hanya menjauh - lalu memaafkan. Selalu saja begitu.


Jessie meremas ponselnya, ia lalu membawa Lauryn yang sudah terlelap kedalam gendongannya. Mengabaikan air matanya yang mulai jatuh karena ulah yang ia buat sendiri.


Seharusnya ia tidak termakan banyak rayuan Troy.


Seharusnya ia tidak kembali percaya pada Troy.


Seharusnya ia tidak menerima ajakan nikah Troy secara cuma-cuma.


Namun semua pikiran itu lenyap. Saat setelah matanya menangkap notifikasi pop-up yang muncul di ponselnya.


^^^Masku sayang.^^^


^^^Jangan percaya dengan apa yang^^^


^^^Media katakan. Tidak seperti itu.^^^


Jessie menghembuskan nafas gusar. Di satu sisi ia ingin percaya, namun di sisi lain logikanya menolak. Mengatakan bahwa dirinya bodoh, dan mudah terperdaya oleh pria itu.


Jessie hanya membaca pesan itu, tanpa berniat membalasnya. Namun pesan kembali masuk kedalam ponselnya.


^^^Masku sayang.^^^


^^^Mas tidak berbohong Jessie.^^^


^^^Biarkan Mas menjelaskan ini dulu ya.^^^


^^^Kita bicara dulu ya, Sayang?^^^


Jessie.

__ADS_1


bukan urusanku.


Jessie langsung melempar ponselnya keatas sofa di pojok kamar. Mengabaikan dering hp yang terdengar nyaring. Ia tahu Troy mencoba untuk menghubunginya. Namun keterkejutan masih menimpa batinnya, membuat Jessie terdiam di atas kasur, dengan tangan yang saling memeluk.


Jessie terbaring lurus di atas ranjang, namun tubuhnya ia miringkan dengan tangan yang memeluk selimut dengan begitu erat. Pikiran Jessie berkecamuk, bagaimana jika nanti Troy akan membuangnya dengan segera? Bukan kah lebih baik ia pergi sebelum di buang begitu saja.


Niat buruk itu lantas buyar, saat Jessie merasakan sepasang tangan mungil memeluk tubuhnya dari belakang. Terlalu fokus pada Troy hingga membuat Jessie melupakan keberadaan Lauryn di belakangnya. Punggungnya yang membelakangi Lauryn menghangat, merasakan hembusan nafas tenang yang menerpa kulit punggungnya.


“Mama, Lauryn nggak pernah merasa sebahagia ini. Lauryn benar-benar bahagia. Terimakasih ya Mama.” gumam Lauryn polos, di dalam tidurnya.


Tubuh Jessie menegang. Apa yang baru saja anaknya katakan? Lauryn-nya merasa begitu bahagia? Apakah karena anak itu sudah mengetahui dan merasakan bagaimana kasih sayang dari Ayahnya? Atau karena banyak mainan yang ia coba hari ini.


Jessie memutar tubuhnya pelan. Ia menarik punggung Lauryn agar tubuh anak itu semakin menempel erat di dadanya. Telapak tangannya terulur mengusap pipi chubby Lauryn yang terasa hangat, jika di bandingkan dengan tangannya yang dingin.


“Kalau Rynryn meminta 'Dunia Mama' juga pasti akan Mama berikan. Mama akan memberikan apapun yang membuat Rynryn bahagia. Mama benar-benar mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini.” bisik Jessie yang berhasil membuat Lauryn tersenyum didalam mimpinya.


...★★★...


Di sisi lain.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Troy pun membuka pintu kamar Efsun dengan kasar. Langkah kakinya semakin kedalam saat menyadari jika Efsun belum lah tertidur. Wanita itu tengah berdiri di sisi ranjang, dengan wajah yang terlihat ketakutan. Tangannya meremas ponselnya dengan gemetar, lalu ia jatuhkan kelantai karena takut Miracle bersuara.


“Apa yang kau lakukan Efsun??” tanya Troy tajam, sambil mencengkram kedua pundak Efsun kasar.


“A-apa? M-memangnya aku m-melakukan a-apa?” tanya Efsun gugup. Troy menggelengkan wajahnya tak percaya, mendengar Efsun yang malah melemparkannya sebuah pertanyaan.


“Kita sudah bercerai. B e r c e r a i. Paham?” tekan Troy tajam dengan mata yang menyalang marah. “Jangan lagi kau lakukan suatu hal tanpa seizin ku.” lanjut Troy masih merendahkan nada ucapannya. Namun tak mengurangi ketajaman matanya.


“Aku hanya memposting sebuah f-foto. Memang a-apa salahnya?” wajah Efsun terlihat semakin gugup dan ketakutan. Pundaknya terasa panas karena di cengkram begitu kuat oleh kedua tangan Troy.


“Kita sudah bercerai, Efsun. Jangan lagi kau bertingkah seolah diantara kita masih lah ada perasaan atau ikatan.” desis Troy menahan rasa amarahnya, yang ingin meremukkan seluruh benda di hadapannya.


“Tapi aku pikir kita akan kembali rujuk. Kita akan kembali rujuk untuk Nessie.” jawab Efsun mengangkat dagunya keatas, seolah menantang Troy dengan kalimat yang ia ucapkan.

__ADS_1


“TUTUP MULUTMU!” bentak Troy kasar, sambil mendorong Efsun dari cengkraman tangannya. Efsun tak sampai jatuh, hanya saja mundur beberapa langkah dengan pundak yang terasa sakit.


“Nessie bukan anak mu Efsun! Dia anak Jessie yang sudah kita rampas! Sudah terlalu banyak kebahagiaan yang aku berikan padamu hingga kau lupa bagaimana cara mengingat dirimu sendiri! Kau selalu saja playing victim dan merasa diri mu lah yang paling tersakiti disini. Kau merasa sebagai korban. Padahal kau tidak pernah tahu bagaimana perasaanku saat kehilangan anak pertamaku. Kehilangan janin mu. Aku selalu merasa bersalah hingga sampai saat ini. Aku juga yang telah memisahkan Nessie dari ibu kandungnya. Tapi kau-”


“Kau bahkan tidak pernah memberikan ku kesempatan untuk bahagia walau sedikit pun. Kau yang meminta cerai dulu, Efsun. Lalu aku menurutinya. Tapi sekarang? Apa kau pikir aku adalah sebuah mainan yang dapat kau kendalikan?”


Amarah Troy meledak, namun tersirat nada kecewa yang sangat mendalam ketika mengingat banyak kesalahan yang telah ia lakukan. Efsun sudah menangis, ia tidak sanggup melihat wajah Troy yang terlihat sangat frustasi. Efsun tak menyangka jika perbuatannya dapat membuat Troy menjadi seperti ini. Sungguh ia tidak tahu, jika kehadirannya disini dapat membuat Troy merasa tidak bahagia.


“Tidak, Kak. Sungguh Efsun tidak bermaksud begitu. Efsun minta maaf, hiks.” isakan Efsun terdengar nyaring di akhir kalimat.


Troy yang tadi di ledakkan oleh amarah, kini menatap Efsun begitu dalam. “Kau masih mencintaiku?” Troy menghembuskan nafasnya kasar. Berbeda dengan Efsun yang justru menahan nafasnya merasa tertekan.


“Aku masih mencintaimu, Kak. Aku masih mencintaimu hingga sampai saat ini. Hiks.” Efsun kembali menangis, pundaknya bergetar dengan tangisan yang terus terdengar.


Troy memejamkan matanya erat, ia mengepalkan kedua tangannya. Sebenarnya ia tahu jika Efsun masih lah mencintainya. Namun saat mendengar ucapan langsung itu dari bibit Efsun, membuat amarahnya meningkat sampai ubun-ubun.


“Jika kau mencintaiku, maka lepaskan aku. Aku sudah menikah sekarang,”


Tubuh Efsun diam membeku mendengar hal itu. Wajahnya yang tadi menunduk kini perlahan terangkat, menatap Troy yang berdiri beberapa langkah dari posisinya sekarang. Ia melihat raut wajah serius pada pria itu, dengan keringat yang menempel di sepanjang leher kekarnya.


Nafas Efsun tercekat, kedua belah bibirnya terbuka. Troy mengangkat satu tangannya ke atas, menunjukkan punggung tangan kirinya yang kini menghadap Efsun. Mata Efsun tertuju fokus pada sebuah cincin yang berada di jari manis Troy.


“L-lalu, bagaimana dengan d-diriku?” tenggorokan Efsun tercekat. Air matanya mengering seiring langkah kaki Troy yang mendekat kearahnya.


“Jangan membodohi dirimu sendiri, Efsun. Kau tahu apa yang harus kau lakukan. Kita akan sama-sama bahagia dengan orang yang kita cintai. Aku yakin kau dapat menemukan seseorang yang akan menjagamu setelah aku.” tangan Troy terulur mengusap surai rambut Efsun.


“Siapa yang menikah denganmu?” tanya Efsun berusaha tidak gemetar saat mengucapkannya. Tangan Troy berhenti,


“Jessie.” jawab Troy singkat. Ia menjauhkan tangannya, lalu memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.


“Mulai besok. Kita tinggal terpisah. Aku sudah menyiapkan rumah untuk mu. Selamat malam.” ujar Troy dingin. Ia pun membalikkan tubuhnya, berjalan menjauh meninggalkan Efsun yang masih dalam keterkejutannya.


“Malam.” cicit Efsun berupa balasan selamat malam yang telat terucap. Tubuhnya meluruh jatuh keatas lantai. Keringat dingin membasahi pelipisnya.

__ADS_1


...Author point of view off....


__ADS_2