SINGLE MAMA.

SINGLE MAMA.
chapter 40


__ADS_3

...Author point of view....


Troy berlutut di samping tubuh Efsun yang sudah kehilangan nyawa. Sebesar apapun masalah yang telah terjadi diantara mereka, tetap saja Efsun lah orang yang tinggal dengannya selama bertahun-tahun di satu atap rumah yang sama. Efsun juga yang telah merawat bayinya dengan Jessie sejak kecil.


Beckham membawa Efsun kedalam gendongannya. Troy ikut berdiri dengan wajah yang masih tercengang dan tak bisa berkata satu katapun.


Jadi ini yang Efsun maksud dengan ucapan selamat tinggalnya? Pantas saja Troy merasa bingung kala itu. Seolah wanita itu berbicara jika dirinya akan pergi sejauh mungkin dan tak akan pernah kembali lagi.


Troy yang menyetir di depan, Beckham masih diam karena shock dengan apa yang baru menimpanya. Efsun yang masih baik-baik saja setelah ia turunkan di depan rumah tua ini. Justru sekarang sudah meregang nyawa.


30 menit waktu perjalanan mereka ke rumah sakit. Para perawat sudah berjalan cepat sambil membawa tubuh Efsun yang sudah tergeletak di atas brankar rumah sakit.


Blam.


Pintu ruangan tertutup. Beckham duduk lemas diatas kursi. Masih mencerna keadaan. Sedangkan Troy sibuk dalam keterdiamannya.


“Beckham, telfon lah polisi.” ujar Troy berupa kalimat perintah. Beckham mengangguk, lalu segera menghubungi polisi.


Selama dua jam Troy dan Beckham menunggu di depan ruang rawat. Dan baru setelah itu Dokter keluar dengan wajahnya yang serius.


“Peluru itu sudah kami keluarkan. Anda bisa urus registrasinya terlebih dahulu. Kami harus melakukan otopsi lebih lanjut oleh Polisi habis ini.” jelas Dokter itu kepada Troy yang mengangguk sekilas.


“Polisi akan segera datang kesini. Apa ada kendala lain, Dok?”


Dokter itu tampak berpikir. Lalu ia melirik Beckham yang terlihat lebih jelas jika pria itu lah yang telah menyaksikan kematian pasiennya. Terbukti dari bekas darah dan kemeja Beckham yang tampak lusuh.


“Setelah ini kami butuh informasi waktu kematian korban dan dimana keluarga korban.” jawab Dokter itu masih dengan wajah seriusnya.


“Saya keluarga korban. Saya mantan suaminya.” ujar Troy cepat. Tanpa takut jika Dokter di hadapannya berpikiran macam-macam tentangnya.


“Boleh saya menemui Efsun, Dok?”


“Silahkan, Pak.” Dokter yang bernama Roland itu mengangguk meng iyakan. Ia memberi jalan pada Troy yang langsung masuk kedalam ruangan.


Troy masuk kedalam ruangan. Ia melangkah pelan dengan jantung yang berdetak begitu cepat. Tubuh Troy membeku, melihat bagaimana kondisi Efsun yang sudah di tutupi oleh kain berwarna putih hingga bagian bawah dagunya. Tanpa merasa takut, Troy pun melihat wajah Efsun seksama.

__ADS_1


Hanya 2 menit. Karena setelah itu Polisi langsung memanggilnya dari luar ruangan. Troy dan Beckham terlibat perbincangan serius di ruang khusus rumah sakit. Beckham menjelaskan kronologi yang telah terjadi beberapa jam yang lalu.


Baru setelah itu Polisi sadar. Jika dalang dibalik kematian Efsun adalah karena Miracle. Wanita yang diketahui dengan laporannya beberapa waktu lalu. Karena mengaku telah membunuh seseorang tepat di bagian dada.


Lantas hal itu langsung membuat Troy dan Beckham terkejut. Troy tak asing dengan sosok Miracle. Miracle cukup dekat dengan Efsun. Namun bagaimana mungkin Miracle dapat melakukan hal sekeji ini.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pada pintu. Ternyata itu adalah seorang perawat yang memberitahu kan jika administrasi harus segera di urus.


...*****...


Pukul 10 malam.


Jessie menunggu di dalam ruang tamu dengan gelisah. Suaminya itu tidak menghubunginya samasekali dari siang tadi. Apalagi mendengar jika Efsun terbunuh. Itu membuatnya sangat terkejut. Hari ini memang ia menghabiskan waktunya penuh dengan Nessie dan Lauryn. Walau pikirannya berkecamuk, karena Efsun yang meregang nyawa dengan begitu cepat.


Jessie menatap cuaca di luar dari jendela besar ruang tamu. Kedua telapak tangan Jessie mencengkram jendela di depannya. Tak perduli dengan rasa dingin yang menerpa kulitnya. Rasa kantuk menyerang, tapi mana mungkin ia tertidur jika Troy saja belum kembali pulang.


“Sayang.” terdengar suara bariton dari belakang. Jessie tersentak kaget, dan segera membalikkan tubuhnya.


“Mas!” Jessie berniat ingin memeluk Troy, namun Troy langsung menghindar.


“Mas langsung naik ke atas aja ya. Jessie siapin dulu air hangatnya.” ucap Jessie tersenyum manis. Troy mengangguk saja, Jessie pun langsung berlari menaiki tangga.


20 menit kemudian.


Jessie menunggu diatas ranjang dengan perasaan yang sudah tak terlalu gelisah seperti sebelumnya. Ia melirik ruangan yang baru ia berani masuki barusan, karena sedari siang ia sibuk di kamar Nessie dan Lauryn.


Jessie melirik kasur yang sedang ia duduki. Muat untuk tiga, bahkan empat orang. Kasur ini benar-benar empuk dan membuatnya nyaman. Desain kamar Troy yang sangat elegan dan juga mewah. Ada ruang ganti pakaian juga di sudut ruangan. Jika masuk kesana, maka akan ada lemari-lemari besar yang memanjakan mata.


Jessie berdiri, lalu memastikan jika pintu sudah terkunci atau belum. Tapi setelah sampai di depan pintu kamar. Justru ia dibuat terperangah oleh pintu kamar yang menggunakan kata sandi. Layaknya seperti di apartemen-apartemen mahal.


“Ehm.”


Troy berdehem hingga membuat Jessie langsung memutar tubuhnya. Kedua pipi Jessie memanas saat melihat Troy yang sudah tampan dan menawan dengan celana pendek, dan kaus hitam yang cukup ketat. Hingga menampakkan otot-otot tubuhnya.


Kedua tangan Troy merentang. Seolah meminta Jessie agar langsung jatuh kedalam pelukannya. Dengan begitu semangat Jessie pun memeluk Troy. Troy balas memeluk Jessie dengan kedua telapak tangan yang mengusap punggung wanita itu.

__ADS_1


“Bobo aja ya, Sayang? Udah malem gini. Mas mau kelonin kamu aja.” ujar Troy lembut. Tepat di samping telinga Jessie. Walau Jessie butuh penjelasan tentang kejadian yang telah menimpa Efsun. Namun karena melihat raut wajah lelah Troy, Jessie pun mengangguk.


“Nggak sabar mau ngelonin kamu.”


Sontak hal itu langsung membuat telinga Jessie memerah, hingga pipinya pun ikut memerah. Troy mengecup pipi Jessie dalam. Ia semakin menekan punggung Jessie hingga tak ada jarak sedikit pun diantara mereka.


“Yaudah, kelonin aku.” Jessie berbisik di depan dada Troy. Wajahnya mendongak.


Troy mencubit kedua pipi Jessie gemas. Ia pun langsung membawa Jessie kedalam pelukannya. Menggendong Jessie hingga kedua kaki perempuan itu bertengger di pinggangnya.


Troy turunkan Jessie ketengah ranjang. Lalu ia rebahkan tubuh Jessie hingga tertidur. Troy langsung merebahkan tubuhnya juga. Namun ia langsung menarik selimut, dengan kepala yang bersandar nyaman di atas dada Jessie. Jadilah tubuh kecil Jessie seperti sedang di jadikan guling oleh tubuh besar Troy.


Tangan Troy berada di atas perut Jessie yang datar. Jessie merasa jika perutnya ditimpa oleh sesuatu yang berat. Namun ia tidak mempersalahkan hal itu. Justru Jessie usap kepala Troy yang bersender di sekat dadanya dengan sayang.


“Ini mah aku yang ngelonin bayi besar.” ujar Jessie berupa kalimat cibiran. Namun tangannya masih dengan senang hati mengusap-ngusap lembut kepala Troy.


“Hmmmm.” Troy hanya bergumam. Karena kini mulutnya sudah berkerja diatas dada Jessie yang tertutupi piyama.


“Bagusnya kalo malem di lepas' aja, Jessie.” ucap Troy yang harus repot-repot membangunkan tubuh Jessie agar terduduk. “Sini mana punggungmu.” titah Troy seperti seorang bos. Jessie mendelik mendengar hal itu. Namun ia menurut.


Troy pun melepaskan piyama yang Jessie kenakan. Begitupun juga dengan bra yang Jessie pakai. Setelah itu, ia pasangkan lagi piyama pada tubuh Istrinya. Jessie seperti boneka yang hanya menurut. Setelah piyama sudah di kancing kan kembali. Troy pun langsung merebahkan tubuh Jessie.


“Sibuk banget ya, Pak?” goda Jessie dengan nada ejekan. Melihat tingkah suaminya yang seperti sibuk sendiri.


Troy mengacuhkan hal itu. Ia buka tiga kancing atas piyama Istrinya. Lalu ia rebahkan kembali tubuhnya di posisi semula. Namun kali ini Jessie memiringkan tubuhnya, hingga kepala Troy jatuh diatas lengannya. Jessie bantu upaya Troy dengan mengeluarkan salah satu miliknya.


Belum 2 detik, Troy langsung menyambar kesenangannya'. “Kayak bayi beneran kalo gini mah.” ujar Jessie terkekeh lembut. Sambil mengusap-ngusap dahi Troy dengan ibu jarinya.


...Author point of view off....


Serius kayaknya aku harus ngasih DISCLAIMER di bagian awal bab. Biar yang baca EKSPETASINYA ga terlalu tinggi. Karena ini cerita alur tempat diluar negri. Tapi kok manggilnya Mas Mas Mas. Macam mas mas tukang bakso.


Hahahaha.


Tapi serius aku udah nyaman juga sama panggilan Mas untuk Troy. Jadi nggak apa-apa toh 'ya?

__ADS_1


Makasih loh readers yang masih setia. Ku selalu liat komen kalian walau dikit banget yang komenn.


__ADS_2